Keinginan terbesar hati

2392 Words
"Mau minum s**u cokelat sambil ngobrol di balkon?"   Mendengar pertanyaan Ardi barusan, kepala Sydney mengangguk pelan. s**u cokelat panas memang pilihan paling tepat, dikarenakan juga suhu udara yang menurun malam ini dari sisa hujan beberapa jam lalu.   "Mau aku bantu?" tanya Sydney saat Ardi mulai mengeluarkan dua mug berukuran sedang dari rak. Mereka saat ini memang berada di dapur.   Kepala Ardi menggeleng. "Ini kerjaan gampang, Sydney. Gue gak perlu bantuan. Kalo mau lo ke balkon duluan aja," jawab Ardi dan mulai menuangkan s**u cokelat bubuk itu ke dalam mug di atas meja.   "Oke, aku tunggu di sana."   Ardi hanya mengangguk, ia melihat pergerakan Sydney yang mulai melangkahkan kakinya menjauh dari dirinya, dan beralih melihat ponselnya yang menyala di atas meja—menandakan ada chat masuk di sana.   Dengan kedua tangannya, Sydney menggeser kaca besar yang menghubungkan kamar dengan balkon. Telapak kakinya ia rasakan mendingin saat gadis itu melangkah mendekat ke pagar pembatas. Lalu, tangannya gadis itu tumpukan.   Jalanan di depan apartemen yang berada di pusat kota ini memang tidak pernah sepi. Sydney memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana. Ia kemudian memejamkan matanya sebentar. Terpaan angin ia rasakan berkali-kali. Lalu, embusan napas berat lolos dari mulutnya.   "Jangan ngelamun."   Suara Ardi di belakangnya membuat Sydney terkesiap. Gadis itu beralih menggenggam erat pagar besi. "Kamu buat aku kaget tau, gak?!" sungut Sydney dan mencoba menetralkan degupan jantungnya yang masih terasa cepat.   "Maaf ya, bukan maksud gue buat ngagetin lo. Nih," sahut Ardi dan memberikan mug putih di tangan kanannya kepada Sydney yang langsung diterima baik oleh gadis itu.   Dan rasa hangat di telapak tangannya sekarang Sydney rasakan. Ia menoleh ke sampingnya—melihat Ardi yang memperhatikan jalanan di bawah sana. "Jadi, Dimas sama Reza bener tadi sore ke sini?" tanya Ardi tiba-tiba dan memutar tubuhnya untuk melihat ke arah Sydney sepenuhnya.   Cepat-cepat, Sydney alihkan pandangannya pada mug di tangannya. Jarinya memutar di bibir cangkir itu. Kepalanya mengangguk dua kali. Walaupun sudah beberapa kali menatap netra cokelat milik Ardi, Sydney merasa ada sesuatu yang membuatnya gugup.   "Mereka ngapain aja?" tanya Ardi lagi. Berbeda dengan Sydney, Ardi malah tidak mengalihkan pandangannya ke mana pun. Dilihatnya Sydney yang sekarang sedang meniup-niup s**u cokelatnya yang masih terlihat mengepul.   "Ngajakin aku nonton," jawab Sydney. Ia melihat ke arah Ardi yang mengkerutkan keningnya. "Di sini," kata Sydney melanjutkan.   Ardi menganggukkan kepalanya mengerti. Kemudian, laki-laki itu menyesap s**u cokelat panasnya. "Gue kira kalian keluar malah," balas Ardi mengusap ujung bibirnya.   "Tadinya emang mereka ngajakin aku keluar, tapi aku gak mau." Sydney menggigit bibir bawahnya.   Ardi sangat tahu apa alasan mengapa Sydney tidak mau meninggalkan apartemennya ini. Takut. Terlihat jelas juga dari raut wajah gadis itu. Ardi kemudian menghela napas pendeknya.   Cepat atau lambat, mereka harus berpisah kan? Sydney tidak mungkin berada di apartemen Ardi dalam jangka waktu yang lama. Walaupun awalnya—saat pertama kali Ardi bertemu dengan Sydney ia masih ragu, apakah ia harus membawa gadis itu ke apartemen miliknya atau ke tempat lain.   Dan saat Ardi mengetahui bahwa memori gadis itu hilang dan tidak adanya keluarga di sini, Ardi memutuskan untuk membawanya ke apartemennya. Terlebih gadis itu takut akan sesuatu dan Sydney seseorang yang menyelamatkan Ardi.    Jadi, tidak ada salahnya kan Ardi membalas Sydney kali ini?   Untuk sekedar menjaga gadis itu.   "Lo tau, Sydney. Seharusnya gue yang bilang makasih sama lo," kata Ardi. Tatapannya memandang ke arah langit bersih. Ia mengangkat sedikit kedua sudut bibirnya. "Jadi, makasih ya." Lanjutnya yang kali ini melihat ke sampingnya. Sydney mengangguk kaku.   "Lo masih belum inget apa-apa ya?" Ardi mulai mengeluarkan suaranya kembali. Laki-laki itu meletakkan cangkir yang berisikan s**u cokelat yang tinggal setengah ke atas meja kecil di dekatnya, lalu melihat kembali ke arah Sydney.   Sydney menjawab dengan gelengan kepala.   Ardi mengusap lehernya dengan gerakan lambat, berkali-kali. "Lo mau jalan-jalan sama gue? Atau enggak kita nonton? Nonton yang bener-bener nonton. Di bioskop?" tanya Ardi. Sydney melihat ke arahnya. "Gue tau lo bete banget di sini. Mau ya?" Lanjut Ardi.   Sydney melihat ke bawah sana lagi. Ia menggigit bagian dalam pipinya. "Aku—"   "Sama gue, Sydney. Lo jalan-jalan sama gue. Jadi, gak ada yang perlu lo takutin."   ...   "Muka lo kenapa, Dim?"   Reza yang lebih dulu memperhatikan wajah Dimas yang kini dipenuhi luka lebam di pelipis dan pipi kanannya. Bisa dipastikan laki-laki itu berkelahi entah dengan siapa.   Sebelum menjawab, Dimas mendudukan bokongnya di rerumputan dan menyandarkan punggungnya pada batang pohon. Taman belakang sekolah yang selalu sepi memang sering menjadi tempat mereka untuk berkumpul di jam istiharat kedua ini.   Entah untuk sekedar mengobrol atau merokok.   "Gue kena tawuran dadakan di deket rumah gue, Za." Dimas langsung menyambar minuman kaleng di tangan Reza dan menegaknya cepat.   Jika saja bukan karena buku tugas Matematikanyaㅡyang sangat penting untuk memperbaiki nilainyaㅡtidak tertinggal di rumah, bisa dipastikan Dimas tidak akan mendapatkan pukulan di wajahnya.   Pak Setyo memang telah berbaik hati untuk menyuruhnya mengambil buku Matematikanya yang tertinggal, dengan syarat harus ada di mejanya sebelum bel istirahat berbunyi. Nilai itu sangat penting untuknya mengingat ia sudah berada di kelas XII, dan lagi-lagi, jika bukan karena hal itu ia tak akan bersedia mengambil buku Matematikanya. Tetapi, sayangnya Dimas telat.   Dan yang membuat Reza kini mengkerutkan keningnya bukanlah jawaban yang diberikan Dimas tadi namun, senyum tertahan yang berusaha Dimas sembunyikan. "Lo ditonjok siapa sih? Kok kayaknya seneng banget? Gue curiga," kata Reza dan mendekatkan wajahnya pada Dimas yang memang duduk di sampingnya.   Ardi yang sedang bermain dengan ponselnya melirik ke arah Dimas sebentar. Benar, anehnya Dimas yang baru saja terkena tawuran—yang laki-laki itu bilang dadakan, justru terlihat senang.   Dimas yang menyadari wajah Reza yang sudah mencapai wajahnya itu langsung saja melempar kaleng soda yang telah kosong itu ke kepala Reza. "Anjir, sakit b**o!" Reza mengaduh dan mengusap keningnya itu.   "Lah elo kayak pengen nyipok gue, b*****t! Ngeri kan gue!" Dimas bergidik.   "Gue juga gak pengen, monyet!" balas Reza dan tangannya yang terkepal menjitak kepala Dimas. Biar tau rasa!   "Jadi lo ngapa, njir?" tanya Reza. Tingkat penasarannya sudah tidak terbendung lagi. Ia mendekat ke arah Dimas.   Dimas menjauh. "Kepo lo, bangkai!"   "Si anju, gue nungguin juga!"   "Lo masih inget Shinta?"   Shinta. Anak padus. Mana mungkin Reza bisa lupa dengan gadis itu. Gebetan Dimas dari kelas sepuluh. Kepala Reza mengangguk dua kali. "Jadi dia yang nonjok lo?"   "Bukan, pinter! Gue dapet ID-Linenya." Dimas memperlihatkan layar ponselnya pada Reza.   Ardi yang mendengar itu hanya bisa mendengus keras dan menghancurkan rokoknya dengan cara menginjaknya hingga hancur.   "Oh ya, Ar lo udah pikirin omongan gue semalem?" tanya Dimas. Fokusnya kini sudah ke Ardi yang duduk di hadapannya.   Belum sempat Ardi menjawab, terdengar suara adik kelas laki-laki yang memanggil nama Dimas. Dengan badge bertuliskan Herdian Mahesa di sana. "Kak Dimas!" panggilnya dengan napas yang tidak beraturan akibat acara berlarinya tadi.   Dimas mengumpat tertahan. "Ada apaan?"   "Gue... gue disuruh kepala sekolah buat manggil lo. Lo harus ke ruangannya sekarang juga!"   "Anjir ngapa dah?!" Dimas tentu saja bingung. Ia merasa hari ini tidak membuat ulah—kecuali melupakan buku tugas Matematikanya. Tetapi, pasti bukan karena itu.   "Gue liat pemilik sekolah juga dateng!" Si Herdian itu membuka suaranya kembali.   Reza yang sekarang menahan tawanya. Dipukulnya pundak Dimas sekali. "Pantesan gue ngeliat ada mobil bokap lo, Dim. Kakek lo ngajak bokap lo juga ke sini ternyata. Mampus!"   Iya, mampus! Dengan keadaan babak belur seperti ini, Dimas harus menemui Kakek serta Ayahnya yang—entahlah, Dimas juga tidak tahu mengapa mereka memanggilnya.   "Gue minjem dasi lo, Za. Pakein gue juga biar rapi!" Ucapan Dimas seperti kalimat perintah di telinga Reza.   "Nih, pake ah sendiri. Manja banget jadi cowok!" sahut Reza dan melempar dasinya ke muka Dimas.   "Gue mana bisa sih, Za pake beginian. Yaudah, Ar cepetan pakein gue!"   "Gue mendadak lupa cara pake dasi," ujar Ardi dan bangkit dari persinggahannya.   "Lo mau kemana, Ar?" tanya Reza yang juga ikut berdiri.   "Kamar mandi."   "Ikut!"   ...   "Lo ngerokok, kan?!"   Elara bersedekap d**a melihat Ardi yang berada di depannya. Laki-laki itu sedang menyeruput minuman berwarna soft pink di tangannya yang Elara yakini adalah minuman rasa jambu.   Elara sengaja menemui Ardi di jam istirahat kedua ini. Dan tidak salah memang gadis itu memilih ke taman belakang sekolah. Kebetulan juga ia berpapasan dengan Ardi di sana.   Mengabaikan pertanyaan Elara tadi, Ardi malah mengulurkan gelas plastik di tangannya ke depan Elara. "Mau?" tawar Ardi dengan sebelah alis terangkat tinggi.   "Ini minuman bikin batuk tau gak? Kenapa gak minum air putih aja sih? Besok-besok mau gue bawain minum dari rumah?" tanya Elara berkali-kali dan menyingkirkan gelas plastik itu dari hadapannya.   Ardi mengembuskan napas pendek. Pertanyaan laki-laki itu simpel dan Elara membalasnya dengan pertanyaan bertubi-tubi. "Gue lagi pengin minum yang manis-manis," jawab Ardi dan kembali menyeruput minuman itu hingga tandas. Lalu, melempar gelas plastik itu ke tempat sampah.   "Jadi, bener kan lo tadi ngerokok?" tanya Elara lagi. Yang Ardi kira bahwa gadis itu sudah lupa. Lalu, Elara mendekat ke arah Ardi dengan mata yang menyipit dan benar saja ia dapat mencium aroma tembakau di dekat Ardi.   "Mana rokok lo?!" pinta Elara. Tangannya sudah terulur di depan Ardi, sedang Ardi memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Melihat Elara dengan pandangan yang sedikit jengkel.   Tetapi yang perlu diketahui, Ardi tidak pernah bisa untuk marah pada Elara semenjengkelkan apa pun sikap gadis itu padanya.   Kemudian, Ardi berdeham. "Elara, gue gak ngerokok. Cuma temen-temen gue doang tadi," sangkal Ardi dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Selain mata Elara.   "Gue bakalan aduin ke nyokap lo ya, Kak. Jadi, mana rokoknya?!"   Mendengar ancaman itu, Ardi memutar kedua bola matanya. Selalu saja dengan embel-embel seperti itu. Memberitahukan Mamanya perihal tingkah laku Ardi yang salah di mata Elara.   "Lo udah janji juga, Kak sama gue. Inget, gak?" tanya Elara dengan wajah yang kini ia buat seserius mungkin.   Ardi mengangkat kedua bahunya tak acuh.   Melihat itu, Elara langsung saja mengambil kotak rokok berwarna putih yang ia lihat berada di saku seragam Ardi dan langsung menyembunyikannya di balik punggungnya. "Bener kan punya lo. Mau ngelak lagi?"   "Udah gak sesering dulu. Siniin rokoknya bahaya kalo elo yang megang."   Elara menggeleng. Ardi mendekat, gadis itu menghindar. "Gue mau ke kelas sekarang. Ah iya, gue nemenuin lo cuma mau bilang besok mama lo pulang. Tante Reika baru aja ngabarin gue. Lo juga pulang ya?"   "Yang jadi anaknya sebenernya gue atau elo sih?" Ardi tersenyum kecut.   "Salah sendiri hape jarang diaktifin, nyokap nelpon aja lo gak tau, kan?!"   Ardi membenarkan kata-kata Elara tadi dalam hati.   "Jangan kebanyakan bengong lo, Kak. Gue ke kelas. Dah!" Setelah mengatakan itu, Elara pergi.   Tetapi Ardi langsung menghentikan langkahnya. "Ra."   Merasa dipanggil, Elara memutar tubuhnya ke arah Ardi lagi. Terlihat sekarang laki-laki itu sedang bersandar pada tembok di belakangnya. Elara menyipitkan matanya. "Apaan lagi?"   Sebelum menjawab, Ardi membasahi bibir atasnya. Ia berdeham pelan. "Lo mau tau... rahasia?" tanya Ardi yang sekarang mengangkat salah satu alisnya tinggi.   Rahasia? Elara langsung memperhatikan Ardi di depan sana. Lalu, tangannya bersedekap di depan d**a. "Lo main rahasia-rahasian sekarang?"   "Lo mau tau atau enggak?" tanya Ardi lagi.   Kepala Elara kemudian mengangguk pelan. Melihat itu, Ardi mengangkat sudut kiri bibirnya. "Sini deketan lagi sama gue, gue bisikin."   "Kenapa gak lo aja yang ke sini?"   "Dan kenapa gak lo aja yang ke sini?"   Elara memutar kedua bola matanya. Tetapi tak berapa lama gadis itu melangkah mendekat ke arah Ardi.   "Gue gak bisa bisikin lo kalo lo masih aja jauh dari gue. Deketan lagi sini," ujar Ardi dan melihat Elara mendekat lagi ke arahnya dengan langkah pelannya.   "Awas lo macem-macem!"   Ardi mengkerutkan dahinya mendengar itu. "Kenapa jadi lo yang takut? Bukannya elo yang sering macem-macemin gue?" tanya Ardi.   Mendengar itu, Elara mendengus. "Apaan sih rahasianya?"   Ardi memperhatikan kedua mata Elara di depannya dengan lekat. Diselipkannya senyum tipis sebentar, lalu Ardi menunduk dan sedikit memiringkan kepalanya. Elara bisa merasakan lehernya mendingin, tangan kanan Ardi memang sudah berada di sana. "Besok pagi sebelum istirahat pertama bakalan ada razia," bisik Ardi.   "Hah?"   "Dengerin gue dulu, gue belom selesai ngomong. Mending besok lo pake seragam yang biasa-biasa aja kalo gak mau seragam lo di gunting," kata Ardi dan menegakkan tubuhnya kembali. Laki-laki itu tersenyum tertahan sekarang.   Melihat seragam Elara yang terlalu ketat tidak bisa terelakkan lagi bahwa besok gadis itu pasti akan terkena hukuman.   "Gue tau dari anak OSIS." Ardi memperhatikan Elara yang kini terlihat bingung.   "Kak Reza?"   Kepala Ardi mengangguk.   "Jadi, ini rahasianya?"   "Jangan salah dulu, ini penting buat lo. Besok ganti jangan lupa," ucap Ardi dan perlahan meninggalkan Elara yang sekarang terlihat agak kesal.   "Ah ya, Ra."   "Apaan lagi?"   "Pulang sekolah bareng sama gue. Gue tunggu di parkiran."   Elara tidak menjawab, karena yang lebih menarik perhatiannya adalah Ardi memasukkan sebuah kotak berwarna putih ke dalam saku celananya. Seketika, mata Elara membulat. "Tadi bukannya gue pegang tuh rokok ya?" tanyanya pada dirinya sendiri.   Jadi, Ardi tadi yang mengambil rokok itu dari tangannya? Tetapi, Elara tidak merasakan apa-apa.   Bego banget lo, Ra! batinnya dan menghentakkan kakinya sekali. Lalu, berjalan ke kelasnya.   Ardi memasukkan rokoknya ke saku celana dan laki-laki itu memelankan langkahnya. Ia teringat pembicaraan dia dengan Dimas kemarin malam.   "Lo seharusnya jujur aja sama diri lo sendiri, Ar. Gak perlu lo sok-sokan pengen ngejauh tapi diri sama hati lo masih inginin yang sebaliknya." Mereka sedang berada di tongkrongan mereka malam itu. Ardi yang duduk di depan Dimas menghela napas pelan.   "Gue fine-fine aja kalo lo masih mau sama Elara." Lanjut Dimas. Kedua kaki yang ia naikkan ke atas meja, laki-laki itu turunkan. Dimas mulai menatap serius Ardi depannya.   "Jadi, bulan apa?" tanya Dimas. Ardi pasti sudah tahu maksud dari pertanyaannya itu, tanpa perlu lagi Dimas menjelaskan secara detailnya.   Sebelum menjawab, Ardi menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya. "Kemaren gue liat—mm, bulan Januari."   "Lo masih punya banyak waktu, Nyet. Ini masih bulan Maret," sahut Dimas. Ia merasa bingung sendiri dengan sahabatnya yang satu ini. Jelas saja, Ardi masih mempunyai banyak waktu untuk bersama dengan Elara.   Melihat Ardi yang diam saja, Dimas mulai menegakkan tubuhnya. "Dan lo tau? Lo itu kayak berubah, Ar semenjak putus sama Elara." Dimas mengeluarkan suaranya kembali. "Lo keliatan lebih... murung. Beda banget pas dulu lo masih pacaran. Pasti juga lo ngerasain itu, kan?"   Ardi masih memilih untuk diam. "Balikan aja, Ar." Dimas dengan sungguh-sungguh berkata seperti itu.   "Kalo gue balikan sama Elara, apa itu gak semakin susah buat gue ngelepas dia nanti?"   "Dan apa lo mau sia-siain waktu yang gak pernah dateng dua kali?"   Ardi mengerjap dan menolehkan kepalanya ke belakang sana, memperhatikan punggung Elara yang masih bisa dilihat olehnya.   Sekali lagi, ucapan Dimas terngiang di kepalanya.   "Apa lo mau sia-siain waktu yang gak pernah dateng dua kali?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD