Kenangan-kenangan yang beku

2410 Words
"Kamu baru pulang sekolah, Ar?"   Ardi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Ferdian—Papanya yang baru saja membuka matanya, laki-laki itu tadi sedang tertidur.   Ardi dengan seragam yang masih lengkap itu lalu meletakkan tas ransel hitamnya di atas sofa.   "Papa udah makan?" tanya Ardi dan mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ferdian yang sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit.   Sebelum menjawab, Ferdian bergerak untuk bangkit. Dengan cepat Ardi membantunya—menyangga punggung Ferdian dengan bantal, sekarang Papanya sudah duduk dengan nyaman. "Papa baru aja makan dibawain tante Seren tadi."   "Tante Seren ke sini sendiri?" tanya Ardi dan ia memilih untuk bersandar pada tembok di dekat jendela. Memperhatikan Papanya yang sekarang sedang menekan tombol power pada remot di tangannya, seketika TV flat di depannya menyala.   "Sama suaminya, mereka nitip salam buat kamu." Ferdian menoleh ke Ardi di samping kirinya sebentar, lalu beralih ke arah TV yang menayangkan acara kuliner.   "Oh. Nanti malem aku telpon mereka," sahut Ardi dan tangannya membuka sedikit gorden jendela di dekatnya. Dari penglihatannya di sore hari ini langit terlihat mendung.   Tak beberapa lama terdengar Ferdian berdeham pelan. Ia melihat ke arah putra semata wayangnya itu. "Kamu udah makan, Ar?" tanya Ferdian kemudian.   "Nanti aja, Pa." Saat mengatakan itu Ardi belum mengalihkan pandangannya dari jendela.   "Kamu selalu gak merhatiin jam makan kamu. Mau gantiin Papa di sini?"   Mendapat pertanyaan seperti itu dari Ferdian, lantas kepala Ardi langsung menoleh ke arahnya. "Aku gak mau lah," jawab Ardi. Ya, tentu saja. Siapa juga yang ingin terbaring di ranjang rumah sakit.   "Yaudah cepetan makan. Tante Seren kebetulan bawa makanan banyak." Ferdian membuka suaranya kembali, tatapannya melihat ke arah nakas dan beralih ke arah TV lagi.   "Iya, nanti Ardi makan kok," sahut Ardi dan menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Memperhatikan Ferdian lagi. Papanya sudah dua bulan ini keluar-masuk rumah sakit, Ardi mengingat.   "Apa perlu Papa yang suapin kamu?"   "Boleh," jawab Ardi dengan senyum kecilnya yang berusaha ia sembunyikan.   Ferdian bergerak sedikit untuk menghadap ke arah Ardi. "Sini," pinta Ferdian agar putranya itu mendekat ke arahnya.   "Enggaklah, aku cuma bercanda tadi." Dengan cepat Ardi menyahut.   "Sama, Papa juga."   Ardi terkekeh pelan mendengar itu. Dan seharusnya juga Ardi-lah yang menyuapi Papanya, bukan sebaliknya.   "Papa udah bosen banget di sini. Papa pengen cepet-cepet pulang."    "Makanya cepet sembuh dong, Pa. Ardi juga udah bosen banget bolak-balik ke sini. Papa kan tau, Ardi paling gak suka bau rumah sakit."   Pernyataan Ardi barusan memang benar. Jika bukan karena harus menjaga Papanya, Ardi tidak pernah ingin menginjakkan kakinya ke tempat yang membuatnya pusing.   "Beda banget sama Elara ya."   Kening Ardi langsung mengernyit saat mendengar Papanya menyebutkan nama gadis itu. "Kenapa jadi dia?"   "Karena cuma Elara yang Papa inget selalu seneng banget ke sini," jawab Ferdian.   Ardi memang sering sekali mengajak Elara untuk menjenguk Papanya. Tetapi, akhir-akhir ini sudah jarang.   "Itu mah bukan karena rumah sakitnya kali," sangkal Ardi. Jeda sebentar. "Tapi.. emang bener juga sih, dia suka banget bau rumah sakit." Ardi ingat betul bagaimana Elara mengatakan padanya, bahwa gadis itu sangat menyukai bau khas rumah sakit.   "Terus kenapa kamu gak ajak dia ke sini? Papa kangen lho," ujar Ferdian. Merasa aneh juga melihat beberapa minggu ini Ardi tidak pernah lagi mengajak Elara untuk menjenguknya.   "Sengaja gak ngajak dia."   "Iya, kenapa?"   "Ya gak kenapa-kenapa. Papa mau makan buah?" tanya Ardi, lalu kakinya mendekat ke arah Ferdian dan berhenti di dekat nakas.   "Apel boleh juga."   "Oke, Ardi kupasin kulitnya dulu. Tapi anggurnya semuanya buat Ardi ya?" Dilihatnya Papanya mengangguk dan Ardi langsung memasukkan satu buah anggur ke dalam mulutnya. Kemudian, laki-laki itu meraih pisau buah dan mulai mengupas kulit dari apel yang berada di tangan kirinya. Papanya memang tidak pernah suka memakan apel langsung dengan kulitnya.   Belum selesai kulit apel itu terkupas semua, ponsel yang berada di sakunya  Ardi rasakan bergetar. Dan benar saja, saat ia mengerluarkan ponselnya itu nama Elara tertera di sana. Ia beralih melihat ke arah Ferdian. "Papa mau ngobrol sama Elara lewat video call?" tanya Ardi.   Ferdian mengangguk. Tangannya terulur, meminta ponsel itu. "Mana? Sini."   Di layar ponsel Ardi kini sudah terlihat wajah Elara. Ferdian tersenyum sumringah, Ardi yang melihatnya juga ikut tersenyum. "Halo, Elara Cassandra."   "OH. HAI, OM FERDIAN ALIAS CALON MERTUA AKUUUUUUU!!!"   ...   Saat dirasakan ponsel di saku seragamnya bergetar, Litha cepat-cepat mengeluarkan benda pipih putih itu. Di sana ada satu chat dari Elara yang mengatakan gadis itu hanya ingin menitip untuk dibelikan air mineral.   Litha menggetikkan balasan untuk mengiyakan permintaan Elara tadi seraya berjalan ke lantai dua, tempat kantin berada. Dan saat di belokkan tubuhnya limbung—ada seseorang yang mendorongnya ke belakang, beruntung ia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya.   "Ah, sori-sori," ucap Litha dan melihat ke depannya. Di sana sudah ada kakak kelasnya, yang baru Litha ketahui akhir-akhir ini bernama Ardi.   "Gak apa-apa kok, Li—"   "Litha," sahut Litha cepat saat mengetahui Ardi yang sepertinya lupa akan namanya. Dilihatnya Ardi yang tesenyum kikuk.   "Oh, ya si anak baru," balas Ardi dan mulai menarik langkah menjauh dari gadis itu tanpa mengatakan apa-apa lagi.   Litha yang melihat itu menghela napas pelan seraya memutar-mutarkan ponselnya dengan tatapan yang masih saja tak lepas dari punggung Ardi yang kini sudah lenyap saat di persimpangan.   Ardi menggulung buku LKS Matematikanya. Pak Seno tidak bisa masuk ke kelasnya di jam kedua ini. Hanya memberikan tugas yang harus dikumpulkan sebelum bel istirahat. Ardi sudah menyelesaikan soal Pilihan Ganda—yang sialnya harus ia sertakan juga dengan cara penyeselaiannya.   Kedua sahabatnya bisa Ardi pastikan sedang tenggelam dalam mimpi-mimpi mereka. Ya, apalagi jika bukan tertidur. Guru yang tidak masuk. Mempunyai teman yang bisa diandalkan untuk mengerjakan tugas. Dimas dan Reza benar-benar merasa bebas kali ini.   Dan saat Ardi sudah berada di lantai satu, laki-laki itu memperlambat langkah kakinya. Kedua matanya menangkap sosok gadis yang sekarang sedang berdiri di dekat tiang bendera. Ardi mendengus. "b**o emang elo, Ra."   Tidak memikirkan hal yang lain lagi, Ardi langsung merubah haluan—mendekat ke arah Elara.   Dengan tidak berperi, Ardi langsung melayangkan buku LKS yang ia gulung ke kepala Elara. Buku itu mendarat dengan manis di sana. Elara mengaduh. "Lo kenapa sih dateng-dateng bukannya nyapa dulu atau apa ini maen pukul-pukul aja," sungut Elara dan mengusap-usap kepalanya.   Ardi tidak ingin membalas perkataannya itu. Mata Ardi sekarang melihat ke arah seragam bawah Elara yang ia yakini sudah digunting oleh guru BK. "Lo bawa jaket?" tanya Ardi tiba-tiba.   "Hah?"   "Lo bawa jaket gak?" tanya Ardi mengulang. Jika tidak pun, Ardi akan meminjamkan jaketnya pada gadis itu.   "Iya, tadi gue bawa sweater kok."   Ardi diam-diam bernapas dengan lega. Laki-laki itu memilih duduk di dekat tiang bendera. "Jadi, gimana?" tanya Ardi dengan sedikit mendongak agar dapat melihat wajah Elara.   "Lo itu kalo ngomong bisa gak, gak setengah-setengah kayak gitu? Gue gak ngerti lo nanya apa, Kak."   "Gimana rasanya berdiri di sini? Kan gue udah bilang sama lo kemaren, hari ini ada razia."   Elara memang merasa bodoh sekali tidak mempercayai ucapan Ardi kemarin. Gadis itu pun meringis. "Yaaa kemaren gue kira lo cuma boongin gue," ujar Elara dan menggigit bagian dalam pipinya seraya menekuri kedua sepatu putihnya itu.   "Lo tau kan, Ra gue gak pernah bohongin lo. Gak pernah pengen juga sebenernya. Seharusnya lo dengerin kata-kata gue kemaren."   "Iya-iyaa ini salah gue." Elara memilih untuk tidak memperpanjang masalah itu.   "Mana temen-temen lo yang laen?"   "Gue sama Litha doang yang kena. Tiffany sama Fanya gak masuk."   Kemarin malam, sebenarnya Elara diajak juga untuk tidak masuk di hari Selasa ini. Ada event di salah satu mal di pusat kota yang menampilkan band indie yang Tiffany dan Fanya sukai. Tentu saja Elara langsung menolak. Selain karena ia tidak mengetahui band yang mereka maksud, kelompoknya di jam ketiga nanti akan melakukan presentasi.   Dan yang terpenting sebagian dari tugas presentasi itu, Elara yang mengerjakan.   "Kok Litha malah ke kantin?" tanya Ardi. Benar ternyata, yang ia temui beberapa saat lalu di kantin adalah Litha.   "Tadi Bu Lira ngizinin buat dia beli minum kok. Gue mah boro-boro, duduk aja gak dibolehin. Tuh guru kesel banget kali ya sama gue." Ocehannya itu hanya ditanggapi dengan anggukkan kepala oleh Ardi. "Terus lo ngapain ke sini?"   Ardi berdeham pelan. "Nemenin lo?"   "Di kelas lo gak ada guru?"   "Iya, enggak ada."   Mereka berdua lalu terdiam. Elara memperhatikan Ardi yang kini memejamkan kedua matanya. Hanya sebentar. Beruntung, wajah damai laki-laki itu bisa langsung Elara simpan dalam ingatan. Mengingatkan gadis itu pada masa-masa dulu yang mudah sekali untuk Elara memandangi wajah itu dari jarak dekat.   Dan saat mata Ardi melihat ke arah matanya, Elara terkesiap. Ia mundur selangkah. "Kak Dimas sama Kak Reza mana?" tanya Elara dengan mengusap-usap tengkuknya.   Mendengar pertanyaan Elara itu, Ardi justru terkekeh pelan. Elara mengernyit, apa yang salah dengan ucapannya. "Kenapa lo malah ketawa?" tanya Elara dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.   "Kenapa lo jadi kayak gugup gitu?"   "Gue gak gugup." Tentu saja jawaban Elara itu tidak benar.   Tidak ingin menyahuti perkataan Elara, Ardi memilih diam. Sengaja. Masih memperhatikan Elara di hadapannya dengan tatapan yang anehnya bisa membuat seorang Elara jadi salah tingkah sendiri. Benar-benar tidak biasa.   Elara memang senang saat perhatian Ardi hanya tertuju padanya.    Tetapi, tidak lama Elara sudah tidak tahan dengan keheningan. Hanya beradu tatap-tatapan seperti ini. "Oke, bisa gak kita ngobrol aja? Jangan diem-dieman kayak gini?!"   Kepala Ardi terlihat mengangguk dua kali.   Melihat reaksi Ardi yang hanya seperti itu, Elara berdecak. "Lo kek yang duluan ngomong, gue gak ada bahan pembicaraan nih."   Sebenarnya di kepala Ardi banyak sekali yang ingin ia utarakan kepada Elara. Sampai ia bingung sendiri mana yang harus ia sampaikan terlebih dahulu.   Dan Ardi lebih memilih untuk mengeluarkan pikirannya tentang ucapan Dimas yang masih saja mendesak dirinya itu hingga sekarang. "Dimas bilang—"   "Ah ya, ngomongin Kak Dimas. Tega ya lo, Kak sama gue. Lo sengaja kan pengen comblangin gue sama dia? Tapi sori. gue gak suka sama cowok macem Kak Dimas," ujar Elara langsung memotong ucapan Ardi yang belum selesai itu.   "Gue tau apa yang lo maksud, tapi Dimas gak kayak gitu."   "Dimas gak kayak gitu." Elara mengikuti ucapan Ardi dengan nada yang mengejek. Lalu, gadis itu berdecak. "Lo belain aja terus tuh sahabat lo! Gue ngomong gini juga berdasarkan fakta kali. Pertama, Kak Dimas itu masih PHP-in sabahat gue Tiffany. Tuh anak udah baper duluan setiap hari di chat sama Kak Dimas, tapi tuh cowok malah gak ada pergerakan sama sekali," ujar Elara menggebu-gebu.   "Mungkin—"   "Kedua, setiap kali gue ikut ke tongkrongan kalian mata tuh cowok jelalatan terus. Godain cewek-cewek mulu! Sok ganteng!" Walaupun emang sih. Lanjut Elara dalam hati, lagi-lagi memotong ucapan Ardi.   "Ketiga, Kak Shinta si anak padus. Yang katanya bakalan ditembak Kak Dimas hari ini." Suara Elara di akhir kalimat memelan, saat dilihatnya Ardi berdiri dan berjalan ke arahnya.   Tanpa diduga Elara sebelumnya, Ardi malah mengusap pelipis kirinya dengan lengan seragam laki-laki itu. "Lo keringetan. Udah mulai panas sekarang," kata Ardi dan melihat ke arah matahari di atas sana. Perkataannya sama sekali tidak ada kaitannya dengan ucapan-ucapan Elara beberapa menit yang lalu.   Litha mana ya? Lama amat beli minum doang!   "Lo dihukum sampe jam berapa?" Ardi menunduk sedikit.   Elara menghela napas pelan. "Sampe bel istirahat. Ar, lo dengerin gue ngomong kan tadi?"   Ardi hanya mengangguk. Ia melihat jam di tangan kiri Elara. Sepuluh menit lagi bel istirahat akan berbunyi. Kemudian, Ardi membuka LKS Matematikanya. Meletakkan buku tipis itu di atas kepala Elara—menghalau sinar dari matahari agar tidak terkena gadis itu. Ya, setidaknya. "Gue takut lo pusing, terus pingsan."   Kepala Elara sedikit mendongak, melihat wajah Ardi yang kini yang seakan tersiram oleh sinar matahari di wajahnya. Rambutnya juga terlihat lebih cokelat. Elara mengangkat sedikit kedua sudut bibirnya. "Jangan pernah coba-coba deketin gue sama cowok lain selain lo ya, Ar. Karena gue gak akan pernah mau nerima mereka."    Ardi diam beberapa saat setelah mendengar penuturan itu. Ardi bodoh. Ardi egois. Ardi yang tidak pernah ingin tahu semua yang berhubungan dengan gadis yang tersakiti sama seperti dirinya.   Dan saat Elara tahu Ardi tidak ingin membuka suaranya, ia diam-diam mengembuskan napas beratnya. "Lo kenapa sih selalu begini? Selalu bersikap lo gak pengen padahal lo mau banget? Selalu bersikap nolak kesempatan yang ada?!" Momen seperti ini sudah lama Elara nantikan, ia akan mengeluarkan apa yang ia rasakan kepada Ardi sekarang.   "Mimpi-mimpi yang pernah kita buat ke mana perginya? Kenapa lo lepasin gitu aja di saat gue pengin banget wujudtin semua itu bareng-bareng sama lo?"   Ardi masih saja bungkam.   "Kenapa di saat gue percaya banget kita bisa ngelewatin semuanya bareng-bareng, lo malah bersikap seharusnya emang yang terbaik kita gak lagi sama-sama."   Ya, emang yang seharusnya kayak gitu, Ra! batin Ardi kali ini menjawab.   "Kenapa juga lo malah mikir kalo kita putus semua bakalan jadi baik-baik aja? Tapi yang harus lo tau gue malah yang gak baik-baik aja, Ar. Semuanya malah tambah gak sesuai keinginan lo itu."   Seenggaknya, nanti, kita gak terlalu jatuh banget kan, Ra?   "Gue kayak dipaksa ngelupain lo pas gue lagi sayang-sayangnya sama lo dan bersikap semua emang kayak gini seharusnya. Gue kayak dipaksa buat ngelupain semua yang kita lewatin sama-sama, buat ngelupain apa-apa yang kita punya dulu. Tapi, apa hasilnya? Gue gak bisa."   "Lo belum bisa," sahut Ardi akhirnya. Ia melihat ke arah Elara yang lebih dulu memandangnya.   "Apa lo udah bisa?"   "Lo ngomong kayak gini, karena lo belom bisa nerima kenyataan, Ra. Mau sampe kapan lo pura-pura buta?"   "Justru elo yang gak mau ngadepin kenyataan itu. Gue ada di pihak lo kalo lo emang gak kuat buat ngelawan itu sendiri. Lo juga yang malah seolah-olah langsung nyerah gitu aja."   "Harapan aja sekarang kita udah gak punya, Elara." Ucapannya barusan Ardi beri senyuman kecut di akhir. Karena itulah yang memang benar adanya.   "Ke mana Ardi yang selalu perjuangin apa yang dia punya? Ke mana Ardi yang selalu gak gampang nyerah? Ke mana Ardi yang gue tau gak bakalan mau menghindar dari masalah?" Elara masih saja terus mendesaknya.   Tak lama, tatapan Ardi berubah menerawang. "Gue sempet mikir; kalo kita udah tau akhirnya kita gak mungkin sama-sama, jadi untuk apa memulai sesuatu yang sia-sia?"   Elara tidak menyangka bahwa Ardi akan berkata seperti itu. Ardi tahu apa tentang mereka yang akan berakhir bersama atau tidak. Ardi terlalu takut untuk menghadapi semuanya. "Dan apa kita harus berkorban sama perasaan kita juga buat orang lain?" tanya Elara pelan.   Ardi sangat tahu apa yang berusaha Elara jelaskan padanya. Tak lama ia bisa rasakan telapak tangannya menghangat—tangan mungil Elara yang menggenggamnya.   Elara membasahi bibir atasnya yang terasa kering. "You can't run away from your problems or your feelings!"   "Dan lo selalu bilang lo gak mau ini. Lo gak mau itu. Padahal lo inginin sebaliknya. Berenti kenapa sih, Ar buat boongin diri lo sendiri!"   "Yaudah, ayo balikan sama gue!"  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD