Perasaan-perasaan semu

1387 Words
 "Sydney."   Sydney langsung mengalihkan pandangannya dari TV di hadapannya, gadis itu tidak sepenuhnya fokus ke acara yang berlangsung. Matanya melihat Ardi dengan plastik putih di tangan kiri. Laki-laki itu lalu duduk di sampingnya.   "Kamu abis dari mana?" tanya Sydney dan menaikkan kedua kakinya ke atas sofa, duduk bersila menghadap ke arah Ardi.   Ardi mengalihkan pandangannya ke depan sana, pura-pura tertarik untuk menonton TV yang sekarang sedang menayangkan film action. "Lo lagi nonton apa?" tanya Ardi. Tentu saja hanya untuk mengakhiri pembicaraan awal mereka.   Dan Sydney tahu, Ardi hanya mengalihkan pertanyaannya. Gadis itu mengerti. Ardi masih terlalu tertutup. Sydney bahkan belum tahu siapa Ardi sebenarnya, tetapi satu yang ia yakini—Ardi adalah laki-laki yang baik. Jika bukan, Sydney tidak mungkin ada di sini sekarang. "Kamu abis pergi sama pacar kamu ya?"   Mendengar pertanyaan itu, Ardi langsung melihat ke arahnya lagi. Salah satu alis laki-laki itu terangkat tinggi. Sydney menahan senyumnya. "Apa?" tanya Ardi.   "Kamu abis jalan sama pacar kamu?" tanya Sydney mengulang.   "Kok lo nanya gitu?"   "Kamu senyam-senyum terus dari tadi. Gak kayak biasanya aja. Kalo bukan karena pacar, kamu abis ngapain?"   Ardi menggigit bagian dalam bibirnya. Ia tersenyum tipis. "Masa sih?" Ardi malah tidak percaya bahwa sedari tadi ia terus-terusan tersenyum. Penyebabnya hanya satu. Elara yang masih berada di pikirannya hingga saat ini.   "Iyaa. Jadi bener?"   "Apa?" tanya Ardi. Laki-laki itu langsung lupa apa yang tadi ditanyakan oleh Sydney. Lagi-lagi karena Elara. Pergi kek lo, Ra dari pikiran gue!   "Kamu abis pergi sama pacar kamu?"   Oh. Kepala Ardi menggeleng. Ia tersenyum kecut. "Pacar? Gue gak punya pacar sekarang ini," jawabnya dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, matanya masih fokus ke arah Sydney di sampingnya. Gadis itu membiarkan rambutnya tergerai malam ini.   "Jadi, gebetan kamu?"   "Gebetan dari mana coba?" Senyum Ardi benar-benar terlihat sekarang. Elara, hanya mantan pacarnya.   Sydney hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Mm, bekas di leher kamu tuh keliatan banget."   Ardi mengernyit. Ia memengang lehernya. "Leher gue kenap—ah ini digigit serangga. Gede banget tadi. Anjir banget kan ya?!" Ardi mengusap-usap lehernya. Stupid Elara. Laki-laki itu baru menyadari efek dari gigitan serangga di lehernya.   Sydney menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga. Senyumannya juga terlihat. Memangnya Ardi bisa membodoh-bodohinya? Jelas saja itu bukan gigitan serangga seperti yang Ardi bilang tadi. "Wow, serangganya pasti suka banget sama kamu. Banyak banget gitu bekasnya." Gadis itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah TV lagi.   Jika saja Sydney masih memperhatikan Ardi mungkin gadis itu bisa dengan jelas melihat pipi laki-laki itu yang memerah sekarang. "Iya, pasti dia suka banget sama gue," balas Ardi pelan, tangannya masih saja berada di lehernya.   Lalu, tidak ada lagi yang bersuara kecuali suara tembakan dari film action yang mereka tonton—yang Sydney tonton, karena Ardi malah fokus melihat gadis itu dari samping. Gadis yang menemaninya selama sebulan ini, Ardi mengingat.   Jika bisa Ardi ingin menanyakan banyak hal kepada Sydney, tetapi semua itu harus ia pendam dalam-dalam. Karena bisa dipastikan Sydney juga tidak mengetahui jawaban dari pertanyaannya.   Dan terkesiaplah Ardi, saat tiba-tiba Sydney melihat ke arahnya sebelum Ardi sempat menoleh. Ardi tertangkap basah memperhatikan gadis itu. Maka, laki-laki itu tidak mengalihkan pandangannya ke mana pun.   Sama halnya dengan Sydney, ia juga sedikit terkejut melihat tatapan Ardi itu. Netra miliknya bersirobok lama dengan netra cokelat milik Ardi. Ia merasa dunianya hanya terfokus ke laki-laki itu. Dan jangan lupakan juga jantungnya yang berdegup cepat.   Tersadar, Sydney berdeham pelan. "Kamu belum mau tidur? Ini udah jam dua belas lho. Emangnya gak takut besok pagi telat?" Suara Sydney terdengar gugup.   Mendengar itu, Ardi mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia lalu mengubah posisinya dengan nyaman. "Gue belom ngantuk. Lo juga kenapa belom tidur?"   "Sama. Aku juga belum ngantuk. Dan karena ada film yang aku suka juga," jawab Sydney. Tatapan gadis itu memang ke arah TV, tetapi pikirannya melayang entah ke mana.   "Yaudah gue temenin deh di sini."   Lagi. Mereka menutup mulut mereka masing-masing. Sekarang yang terdengar adalah sirene dari mobil polisi yang sedang mengejar si pemeran utama.   "Ar?" Kali ini Sydney tidak memandang lawan bicaranya.   "Ya?"   "Makasih ya," ujar gadis itu.   "Untuk apa?"   "Untuk semuanya," jawab Sydney. Jeda sejenak dan gadis itu melanjutkan, "Aku janji, kalo semuanya udah kayak semula. Aku bakalan bales kebaikan kamu."   Ardi langsung menegakkan tubuhnya. Laki-laki itu menghadapkan dirinya ke arah Sydney sepenuhnya. "Sydney, gue ikhlas. Gak perlu lo bales apa pun ke gue. Yang terpenting, gue harap lo cepet sembuh deh ya."   Sydney tidak langsung menyahut. Gadis itu diam sebentar. Helaan napas pelannya terdengar. "Aku ngerasa bener-bener kosong banget, Ar."   Dilihatnya Ardi sekarang. Laki-laki itu menampilkan senyum tulusnya, walau hanya beberapa kali Sydney melihat senyum itu—karena Ardi menunjukkannya tidak sesering mungkin, tetapi itu berhasil membuat Sydney memfavoritkan senyuman laki-laki itu. Senyum Ardi memang benar-benar contagious.   Dan semakin lebarlah senyuman Sydney saat Ardi berkata, "Seenggaknya, lo masih punya gue."   ...   "Helm lo rusak ya, Kak? Susah banget nih dibukanya elah!"   Dimas malah tidak terganggu sama sekali dengan rengekkan Elara di sampingnya. Gadis itu terlihat kesusahan membuka pengait helm cadangan milik Dimas yang sengaja laki-laki itu bawa untuk Elara.   Ya, pagi-pagi sekali Dimas ke rumah gadis itu. Akhirnya setelah sebulan masa pendekatannya dengan Elara, ia bisa menjemputnya. "Ngekode minta dibukain sama gue?" tanya Dimas dengan cengirannya dan turun dari motornya yang sudah terparkir.   "Ini beneran, g****k! Bukain kek. Cepetan, plis." Permintaan Elara malah terdengar seperti perintah.   Dimas maju satu langkah mendekat ke hadapan gadis itu. Dengan menundukkan kepalanya sedikit, ia membukakan pengait helm itu dengan sekali sentakan. "Udah tuh!"   Tetapi, Elara masih berada di tempatnya, mematung. Dari jarak sedekat ini, Elara bisa melihat dengan jelas lesung pipi milik laki-laki itu. Hanya di pipi kirinya yang terlihat. Dan jentikan dari Dimas membuat Elara tersadar. Duh, Ra! Fokus. Fokus. Fokus.   Apa Dimas merasa diperhatikan olehnya tadi? Elara harap tidak. Meskipun Dimas bisa dibilang cukup tampan—Elara bahkan tidak bosan untuk memandangnya, tetapi... tidak boleh.   Dan ya, Ardi dengan cepat menguasai pikirannya.   "Ngapain bengong? Ayo cepetan tuan putri."   Tangannya ditarik tanpa paksaan oleh Dimas yang sekarang juga sedang mensejajarkan langkahnya dengan Elara. "Ngapain sih gandeng-gandeng gue? Kayak mau nyebrang aja!" Sikap ketus gadis itu telah kembali. Elara melihat tangannya yang digenggam oleh Dimas, lalu beralih ke laki-laki itu.   "Biar orang-orang pada tau," sahut Dimas dengan santai. Senyum lebarnya belum juga hilang dari wajahnya. Seakan mengatakan pada orang-orang betapa bangganya ia sekarang.   Murid-murid Pertiwi melihat pemandangan yang akan menjadi hot news sebentar lagi. Mereka berbisik-bisik, mengejek lebih tepatnya. Elara, yang mereka tahu masih berstatus manjadi pacar seorang Ardi, malah terlihat menggandeng laki-laki lain. Sahabat pacarnya pula. Kurang buruk apa reputasi Elara sekarang.   "Tau apa? Gue itu sama Kak Ardi—"   "Udah putus?" Pertanyaan Dimas langsung memotong ucapannya. Makin terdengarlah bisik-bisik murid-murid perempuan saat mereka sudah berada di koridor lantai satu.   "Anak-anak kan belom pada tau! Makanya gak usah gandeng gue, nanti gue dikira apaan lagi!" Elara menunjukkan ekspresi super bete-nya sekarang. Ia melirik dengan tatapan tajam yang ia miliki ke arah adik kelas yang terang-terangan memperhatikannya.   "Sejak kapan seorang Elara peduli sama pendapat orang-orang?"   Elara lantas langsung mendongak sedikit, melihat Dimas yang juga melihat ke arahnya. "Nyebelin lo, Kak. Sumpah!"   Dimas terkekeh pelan. "Lo emang harus bener-bener lupain Ardi, Ra."   "Iya. Nanti kalo gue amnesia," sahut Elara asal. Bagaimana mungkin bisa ia melupakan seseorang yang sangat berpengaruh terhadap hidupnya? Seperti sebagian dirinya berada pada genggaman laki-laki itu.   "Gue ngomong serius. Elo kan udah jadi mantannya sekarang. Jadi, lo harus move on." Suara Dimas memang benar-benar terdengar begitu bersungguh-sungguh.   Elara memutar kedua bola matanya. Genggaman tangan Dimas semakin mengerat, gadis itu bisa merasakan. "Kalo ngomong emang gampang. Ngelakuin yang susah," sahut Elara dan lagi-lagi melihat ke arah sampingnya, bisik-bisikkan itu makin memuakkan. Kemudian, Elara memperhatikan mereka satu-satu dengan pandangan seakan mengatakan apa-lo-liat-liat!   "Nggak susah kalo lo emang serius mau move on, gak ngomong di mulut doang. Lo pasti bisa," kata Dimas dengan matanya yang penuh harap. Jeda sebentar, laki-laki itu menunggu sahutan dari Elara. Tetapi, gadis itu hanya diam saja. "Kalo lo mau gue bisa bantu lo."   Tepat saat Dimas berkata seperti itu, mata Elara tidak sengaja melihat ke depan sana. Di koridor lantai satu, bersamaan dengan Ardi yang berjalan berlainan arah dengannya. Elara melihat laki-laki itu sedang memainkan ponselnya. Lalu, di detik ke lima barulah Ardi melihat ke arahnya juga.   Dari penglihatan Elara, Ardi tidak menunjukkan ekspresi apa pun saat melihat mereka berdua. Elara buru-buru melepaskan genggaman tangan Dimas.   Tuh kan, pasti marah lagi!   Itu yang dipikirkan Elara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD