Jatuh untuk kesekian kali

1989 Words
Malam ini udara lebih dingin dari biasanya. Ardi mengendarai motornya dengan kecepatan rata-rata dan memasuki gerbang rumah mewah itu. Setelah mematikan mesin motor, ia membuka helm full face-nya.   Sebenarnya Ardi tidak pernah ingin menginjakkan kakinya di rumah ini lagi. Jika bukan karena ada barang-barangnya yang akan ia ambil. Tanpa mengucapkan apa pun, laki-laki itu membuka pintu putih gading di depannya dan melangkah masuk.   Masih terasa asing semua yang berada di hadapannya sekarang. Memaksa otaknya untuk mengingat betapa tidak betahnya ia tinggal di rumah besar ini. Karena memang begitu memuakkan untuk dirinya. Rumah yang bukan seperti arti rumah yang sebenarnya.   "Mas Ardi pulang? Saya panggilin Mba—" Lin, pembantu rumah tangga di sini. Tiba-tiba muncul di hadapan Ardi.   "Lin, gue cuma mau ngambil barang gue yang ketinggalan. Gak usah lo panggil siapa-siapa ya," potong Ardi cepat dan menaiki anak tangga. Menuju kamarnya yang berada di lantai dua.   Tangannya dengan pelan memutar kenop pintu. Ardi tidak tahu pasti sudah berapa lama ia meninggalkan kamarnya ini. Terlihat masih sama, seperti ia pertama kali meninggalkan tempat ini. Tidak berubah. Semua berada pada tempatnya.   Dan satu pigura berhasil menarik perhatiannya. Foto keluarganya yang utuh. Ia lalu meraih pigura itu. Mengamati dengan baik-baik foto di tangannya. Semuanya terasa sempurna dulu. Hingga Ardi berpikir tidak akan ada celah yang menghancurkan segalanya. Ardi mendengus.    Dulu.   Matanya juga melihat foto Elara dengan dirinya. Terlihat mereka begitu bahagia di foto itu. Ardi terlalu bodoh ingin sekali mengulang semuanya dari awal. Bertemu dengan Elara. Menjadi pacarnya dan tidak pernah ada kata putus di antara mereka. Apakah bisa? Jawabannya pasti tidak dan tidak mungkin iya.   Jika saja semuanya terasa mudah untuk hubungannya dengan Elara, mungkin Ardi adalah laki-laki yang paling bahagia sekarang. Bagaimana tidak, ia mendapatkan satu-satunya gadis yang masih diinginkan hatinya.   Dan mengapa juga semua yang dulu-dulu lebih terasa membahagiakan?   Ardi mengerjapkan matanya. Ia seakan lupa niat awalnya berada di rumahnya ini. Maka, diambilnya semua novel-novel yang ia koleksi dan langsung keluar dari kamarnya.   "Lin," panggil Ardi. Ia sudah di depan pintu utama saat ini.   "Ada apa, Mas?"   "Ambilin gue plastik, cepetan ya," ujar Ardi dan melihat arloji hitam di pergelangan tangannya.   "Yang putih atau item?"   "Yang merah kalo ada," jawabnya dengan nada serius. "Warna apa aja. Cepetan."   Lin mengangguk dan langsung berlari kecil menuju ke arah dapur. Tidak lama ia kembali dengan membawa satu kantong plastik yang diinginkan Ardi. "Ini plastiknya, Mas." Ardi langsung saja memasukkan buku-buku itu ke dalam plastik putih yang Lin berikan.   "Jangan bilang siapa-siapa kalo gue ke sini," kata Ardi dan melangkahkan kakinya menuju motornya yang terparkir. Setelah menyangkutkan plastik di motornya, Ardi merasa ada yang ganjal. Ah, kunci motornya hilang.   "Hei, Jerk! Lo lagi nyari ini?" Dan inilah jawabannya.   Ardi sangat mengenali suara perempuan yang berteriak itu. Sebelum berbalik, laki-laki itu mengembuskan napas pendek. Seharusnya ia tahu, bahwa kunci motornya yang hilang tiba-tiba, itu semua karena Elara.   Di luar gerbang, di dalam mobil hitam itu, Elara memegang kunci motor yang Ardi yakini memang miliknya—terlihat dari gantungan tengkorak yang sangat Ardi kenali itu. "Lempar cepetan. Gue mau balik!" balas Ardi tak kalah berteriak.   Elara menggeleng dan dengan polosnya ia malah melempar kunci motor Ardi ke jok penumpang. "Ambil sendiri!"   Ardi sudah mengetahui jalan pikiran Elara. Laki-laki itu mencoba untuk bersabar, meskipun sabarnya sudah setipis kertas sekarang. Elara memang senang sekali membuat Ardi mengelus d**a sendiri.   Dengan terpaksa, Ardi mendekat dan berdiri di depan jendela mobil Elara. "Mana? Siniin!" pintanya langsung. Ardi sudah mengulurkan tangannya.   "Kan gue udah bilang, ambil sendiri." Elara menahan tawanya saat dilihatnya raut wajah Ardi yang kini sudah benar-benar kesal.   Dari penglihatan Ardi, kuncinya berada di jok sebelah. Arah pandang laki-laki itu beralih ke arah jendela mobil Elara yang tertutup. "Buka pintunya!"   "Dengan senang hati," balas Elara dan membuka pintu samping. Ardi masuk dan Elara kembali mengambil kunci motor itu. "Tapi gak segampang itu, Kak. Sori." Elara dengan cepat menyembunyikan kunci motor Ardi di belakang punggungnya.   Elara 1. Ardi 0.   Dan Elara juga sudah dapat membaca pergerakkan Ardi yang akan mengambil kunci di balik punggungnya, langsung saja ia mendekat ke arah Ardi dan memiringkan wajahnya hingga posisinya sekarang laki-laki itu mencium pipinya.   Score sekarang;   Elara 2. Ardi 0.   Ardi sudah mulai geram dengan sikap Elara sekarang. Sementara gadis di sampingnya malah tersenyum sumringah. "Santai dikit kenapa sih! Gue cuma kangen sama elo, Kak. Sebentar aja kita berdua di sini," sahut Elara.   Memang ini yang ia inginkan. Berdua dengan Ardi. Melihat wajah laki-laki yang tak pernah absen muncul di dalam mimpinya. Memandangnya dari jarak dekat. Seperti ini. Elara tersenyum tipis saat Ardi beralih melihatnya juga.   Lalu, Ardi yang lebih dulu memutuskan untuk berpaling. Ia merasa tidak bisa untuk lebih lama memandang wajah gadis yang ada di samping itu. Terasa makin sulit untuk melepaskan. Lebih sialnya, Ardi merasakan hal yang sama dengan Elara.    Kemudian, suara rintik-rintik hujan yang turun kini mulai terdengar. Semakin lama semakin deras.   Tebak, siapa yang paling senang hujan datang? Yep, Elara. Ia semakin memperlihatkan senyuman lebarnya. Setidaknya ia bisa lebih lama dengan Ardi di dalam mobil. "Lo mau ngejauh dari gue juga gak bakalan bisa, kalo takdir maunya kita sama-sama." Suara Elara terdengar. "Kayak sekarang. Lo stuck di sini sama gue."   Ardi mendengus mendengar kata Takdir yang Elara ucapkan barusan. Takdir. Kata itu seakan mempermainkannya akhir-akhir ini. "Biar gue koreksi, elo yang buat gue stuck di sini sama lo."    "Tapi lo juga seneng, kan?"   Ardi tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Kepalanya ia hadapkan ke arah gadis di sampingnya. Melihat Elara dari atas sampai bawah. Gadis itu sedang menggunakan mini dress berwarna hitam super ketat tanpa lengan. "Abis dari mana lo?" tanya Ardi dengan mata yang menyipit.   "Hang out sama temen," jawab Elara santai.   "Tiffany sama Fanya?" Seharusnya Ardi tidak perlu bertanya lagi. Mereka berdua memang benar-benar mempunyai pengaruh buruk untuk Elara. Jelas saja Ardi tidak suka.   "Ya sama siapa lagi?"   "Pake baju kayak begitu? Lo hang out ke mana?" tanya Ardi lagi dengan cepat.   "Lo tau ke mana," jawab Elara dan merasakan kedua tangan Ardi memengang pundaknya yang terbuka. Wajah Ardi kini sudah berada persis di depan wajahnya. Mata laki-laki itu menyorot tajam. Elara menahan napasnya. "Lo mau ngapain?"   "Lo minum?" Mengabaikan pertanyaan Elara, Ardi bertanya balik.   Yang ditanya malah memperlihatkan senyum tipisnya. "Lo mau tau?" Tangan Elara sudah ada di belakang leher Ardi.   "Ra!"   Elara diam sebentar, kemudian kepalanya mengangguk. Dan tangannya meraih botol air mineral di dashboard dan memperlihatkannya ke Ardi. "Iya, gue minum kok tadi. Nih buktinya."   "Nggak usah sok b**o!"   Elara memutar kedua bola matanya. Susah memang berbohong pada laki-laki di depannya ini. "Oke, iyaa. Dikit doang." Gadis itu mengakui dengan jujur, ia hanya minum sedikit.   Ardi melepaskan kedua tangannya, ia menggelengkan kepalanya pelan. "Lo minum terus lo nyetir? b**o banget sih lo, Ra! Gimana kalo lo nabrak tadi di jalan?! Gimana kalo tadi lo—"   "Ar, gue gak mabok. Dan lo liat sendiri kan gue baik-baik aja. Gue selamet," tukas Elara.   Ardi masih menatap gadis di depannya ini dengan tajam. Memberitahukan Elara dari tatapan, bahwa ia tidak main-main dengan ucapannya. "Awas aja sampe gue tau lo minum lagi!"   "Iya. Gak lagi-lagi." Elara menjawab dengan memutar kedua bola matanya setelah itu. Sikap Ardi memang terlalu berlebihan semenjak putus dari dirinya. Gadis itu melihat Ardi yang kini menyandarkan kepalanya di jok. Tangannya dengan lembut mengusap dahi laki-laki itu hingga ke rambut Ardi.   "Nyokap lo nanyain lo terus, Ar." Suara Elara terdengar begitu pelan.   "Oh," sahut Ardi kelewat singkat.   Elara mendengus. Sikap cuek Ardi sudah kembali ternyata. "Lo balik kek ke rumah, kasian nyokap lo. Dia nanyain lo terus ke gue," kata Elara masih terus dengan kegiatannya itu.   Ardi kini memandang lawan bicaranya. "Ra, elo tau kan semua hal tentang gue. Gak pernah gue nutup-nutupin apa pun dari lo. Jadi lo tau jawaban gue apa, kan? Gue gak mau balik ke sana! Dan lo tau karena apa," balas Ardi. Rahangnya sudah terlihat mengencang. "Gue gak akan pernah mau. Jangan pernah lo nyuruh gue lagi!" lanjutnya.   Belum apa-apa Ardi sudah terlihat kesal. Tetapi, Elara membenarkan ucapan Ardi. Gadis itu juga bisa merasakan apa yang Ardi rasakan. "Lo mau gue peluk?" tanya Elara dengan polosnya. Gadis itu sudah merentangkan kedua tangannya. "Lo selalu minta dipeluk sama gue kalo lo lagi merasa kayak gini."   Ardi menggeleng. "Semua gak sam—" Elara telah lebih dulu memeluk erat tubuhnya sebelum sempat Ardi menyelesaikan ucapannya.   "Nggak ada yang berubah, Kak. Cuma status aja yang beda. Selebihnya, semua masih sama." Lalu, Elara menjauh. "Gue baru inget. Ada sesuatu yang gue gak tau dari lo sampe sekarang."   "Hah?"   "Apartemen lo di mana? Gue mau tau."   Ardi menggeleng. "Sori. Tapi sekarang itu bukan jadi urusan lo lagi. Lo gak perlu tau," jawab Ardi. Terlebih sekarang sudah ada Sydney di sana. Jika Elara tahu, Ardi tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.   "Gue bakalan cari tau sendiri."   "Jangan pernah lo coba-coba." Peringatan Ardi ini pasti tidak mempan untuk seorang Elara.   Elara ingin membalas ucapan Ardi tertunda dengan adanya deringan ponselnya. Ada panggilan masuk di sana. Elara langsung mematikan ponselnya tanpa ingin mengangkat panggilan tersebut.   "Siapa? Kok lo gak angkat?" tanya Ardi.   "Kak Dimas."   Ardi menghela napas pelan. Ia membasahi bibir atasnya yang terasa kering. "Denger nama Dimas, gimana perkembangan lo sama dia?"   Mood Elara langsung berada dilevel paling bawah mendengar pertanyaan itu. "Nggak usah bahas yang gak penting bisa?"   "Enggak. Itu penting buat gue," jawab Ardi. Ia berdeham pelan. "Lo harus bisa buka hati lo buat dia."   Elara merasakan ucapan Ardi tidak sepenuhnya laki-laki itu inginkan. "Tapi sayangnya hati gue udah ada yang punya. Lo mau tau siapa?" tanya Elara.   Ardi tidak ingin menjawab, ia mengeluarkan seringainya. Melihat itu, Elara ingin menciumnya sekarang juga.   Lalu, dengan pelan tangan kanan Elara sudah berada di rahang laki-laki itu. Membawanya mendekat ke arahnya. "Namanya Ardi, dia anak SMA Pertiwi kelas dua belas IPS lima, tuh cowok ganteng banget pokoknya dan yang paling penting.... I love him. Still," bisiknya dan semakin mendekat. Elara melihat mata cokelat terang milik Ardi lalu beralih ke arah bibir laki-laki itu. Dan sedikit lagi Elara menjangkaunya sentakan Ardi terdengar.   "Ra!"   Shit!   Elara menjauh sedikit. Ia tertawa sebentar. "Ketakutan banget lo, anjir! Gue cuma mau cium pipi lo juga yee!" Dan benar saja, Elara langsung mencium pipi Ardi. Lama. Ardi menyesal menyukai hal itu. Terlebih, yang menciumnya adalah Elara. Mantannya yang belum sepenuhnya ia lupakan.   "Sama yang ini juga sekali ya!" Ardi tidak mengerti maksud dari perkataan Elara sampai akhirnya Ardi merasakan kecupan dan gigitan di lehernya. Ardi hanya memegang pinggang gadis itu. Antara berusaha untuk menjauhkan Elara dari dirinya atau membuatnya semakin mendekat.   Dan yang Ardi pilih adalah tidak kedua-duanya. Laki-laki itu memilih untuk diam. Ardi merindukan saat-saat bersama Elara. Dan lagi-lagi, keinginan Ardi untuk mengulang semuanya semakin besar.    Tetapi, tidak lama Ardi menjauhkan gadis itu.   "Elara!" sentakan Ardi terdengar untuk kedua kalinya.   "Iya. Iya. Udahan. Udahan. Kaku banget lo sekarang. Sumpah!" balas Elara dan memeluk leher Ardi dengan erat. Menenggelamkan wajahnya di sana seraya menutup kedua matanya. Masih tersimpan dalam memori, wangi parfum Ardi. Masih sama. Dan Elara sangat merindukan saat-saat seperti ini.   "Gue bukan cowok lo lagi."   "Jangan ngomong kayak gitu ah! Gue tetep nganggep lo pacar gue, terserah lo mau ngomong apa," sahut Elara masih dengan posisinya.   "Lo juga jangan bersikap kayak gini dong. Jadi makin susah gue ngelepas lo," bisik Ardi di telinga Elara. Ardi merasakan gadis itu mengeratkan pelukannya.   "Then don't, Jerk." Elara dengan berbisik juga membalas perkataan Ardi. "Jangan pernah lo lepasin gue," lanjutnya.   Kalo aja gue bisa! batin Ardi menyahut.   Elara bergerak sedikit. "Ar?"   "Hm?"   "Pantesan! Udah gue duga."   "Apaan?"   "Gue suka bau sampo lo yang baru. Stoberi. Meskipun baunya kayak cewek tapi tetep gue suka."   Sampo stoberi milik Sydney yang gadis itu beli kemarin di supermarket tidak sengaja Ardi pakai.   Dan beberapa saat kemudian, di dalam mobil itu dan hujan yang masih tujun dengan derasnya, tawa mereka berdua terdengar.   Sialnya hanya Elara yang bisa membuat Ardi tertawa, seperti tidak ada beban di dalam diri laki-laki itu. Terdengar begitu ringan. Ardi bisa melupakan segala macam masalah yang menggelayutinya.   Ya, sialnya hanya Elara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD