MH 44

1134 Words

* Dalam perjalanan, Dwika teringat akan janjinya sama Moody. Seketika dia menepuk dahinya, merasa t***l. Dia berpikir mungkin efek hilang ingatannya yang membuat dia menjadi pelupa. Namun saat ia akan menghubungi Moody, dia tak menemukan ponselnya. "Pur, liat ponselku nggak?" tanyanya. Puri celingukan, mencari di bawah kakinya tak ada, di atas dashboard juga tak ada. "Di tas mungkin, Mas." Dwika membuka tasnya. Nihil. "Ah, ini pasti ketinggalan di kantor!" serunya kesal. "Bisa jadi Mas. Terus gimana, puter balik nih?" Puri balas tanya. "Nggak usah, kita lanjut aja." Telanjur! Dwika pasti dapat masalah nanti. Namun ini memang dalam keadaaan urgen. Orang yang biasa menangani dan bernegosiasi dengan pihak bea cukai beberapa hari ini sakit. "Pak Sambas gimana kabarnya, Pur?" tanya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD