bc

Kubunuh Kewarasan Ibu Mertuaku

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
second chance
heir/heiress
drama
bxg
like
intro-logo
Blurb

Laura Anindita membalas dengan cukup brutal perbuatan ibu mertuanya di masa lampau saat dirinya masih menjadi anggota baru dalam keluarga suaminya dulu. Membalas setelah dua belas tahun mentalnya dirusak habis-habisan nyaris kehilangan kewarasan.

chap-preview
Free preview
Bab 1
"Tolong, Ibu, Lau! Jangan sakiti ibu lagi, demi apa pun, Ibu sudah tidak sanggup." Laura hanya tersenyum sinis mendengar raungan dari sosok wanita angkuh yang telah berhasil membuat mentalnya rusak lantaran penindasan selama mendedikasikan diri menjadi seorang menantu. Suaranya benar-benar terdengar miris menyiratkan sebuah keputusasaan setelah selama setahun dibelenggu dalam tekanan dan siksaan Luara. "Lepaskan, Ibu. Ibu Mohon." Alih-alih mendekat lalu memberikan pertolongan. Laura memilih tetap bergeming menikmati tontonan ironis di depan mata. Ternyata melihat wanita pongah yang sombongnya tiada tara berekpresi menyedihkan seperti ini, adalah hal paling menyenangkan dan menghibur. "Pukul dia lagi!" Dua orang algojo yang berada di belakang punggung wanita itu mengangkat cambuk rotan lalu memecut punggung ringkih tersebut sebanyak dua kali. "Sakiiit! Tolong hentikan! Laura ibu mohon!" Semakin kencang jerit yang mengudara, tetap Laura tetap apatis. "Kalian ikut aku sekarang! Gembok jerujinya dan matikan lampu!" Dua orang algojo itu mengangguk patuh dan menyimpan cambuk mereka di lantai lalu mengikuti apa yang diperintahkan oleh wanita tersebut. "Babe ..." Laura menghentikan langkah, kemudian mengangkat pandangan pada sosok pria berkemeja hitam lengan panjang di hadapannya, aura dominan tercetak jelas dari pancaran mata pria yang menyebutnya 'Babe' barusan. "Mas Eliezer?" "Bagaimanapun? Udah puas setelah melihat keadaannya untuk hari ini?" "Sangat puas, terima kasih, Mas. Aku senang melihat ekspresi kuyunya." "Sama-sama, Cantik." **** Dua belas tahun silam ... "Apa? Hamil? Baru empat bulan nikah masa sudah hamil?" Titi– mertua Laura, menunjukkan ekspresi tidak suka setelah Laura baru saja menyampaikan berita gembira ini. "Memangnya kenapa, Bu? Apa kehamilanku adalah sebuah kesalahan?" "Tentu saja iya. Memang siapa yang menyuruhmu hamil? Hmm? Bisa-bisanya nggak pakai kontrasepsi, biar apa?" "Bu, janin ini hadir karena kehendak dari Tuhan, tidak boleh berkata seperti itu." "Diam kamu! Tidak usah bawa-bawa nama Tuhan kalau kamu sendiri tidak tahu apa itu artinya dosa." "Maksud Ibu apa? Aku nggak ngerti." Kedua ujung alis Laura menyatu mempertanyakan maksud dari ucapan sang mertua yang terdengar ambigu. "Heleh ... sok polos kamu. Kamu pikir saya nggak tahu ya bagaimana cara kamu bisa mendapatkan hati anak saya? Hmm? Seharusnya kamu sadar dan tahu diri kalau Andre itu sudah punya pacar, kamu malah kegatelan deketin Andre dan minta dinikahi. Dasar nggak tahu malu!" "Ibu masih mau membahas persoalan ini? Bukannya saya sudah menjelaskan berkali-kali kalau saya tidak pernah merebut mas Andre dari siapa-siapa." Tidak terima lantaran mendapat tudingan tidak senonoh, Laura memberikan pembelaan pada diri sendiri. "Itu kan menurut prespektif kamu? Bagaimana dengan sudut pandang Ayu?" Laura menghela napas, moodnya sedang tidak baik-baik saja karena mengalami perubahan hormon pad trimester pertama, tetapi Titi seakan tengah menguji emosinya dengan menyeret nama mantan kekasih suaminya. "Bu, Mas Andre dan Mbak Ayu itu sudah selesai sebelum saya datang ke kehidupan Mas Andre. Tolong berhenti memberikan tuduhan seperti itu! Walau bagaimana pun posisi saya sekarang menantu Ibu." "Cih ... najis saya punya menantu sepertimu, sudah jangan banyak bicara kalau sama saya! Lebih baik kamu ambil tindakan untuk menggugurkan bayi itu, karena apa? Saya tidak sudi punya cucu yang dilahirkan dari rahim wanita sepertimu." Usai mengatakan kalimat eksplisit itu, Titi pergi membawa langkahnya meninggalkan Laura yang masih bergeming di tempatnya, jujur saja terbesit rasa nyeri dalam rongga d**a ketika Titi memintanya untuk melenyapkan bayi tidak berdosa ini. Tanpa terasa air matanya tumpah tanpa bisa ia kendalikan, perasannya benar-benar buruk, bercampur aduk sekarang. Buru-buru Laura pergi ke kamarnya untuk melanjutkan isak tangis yang tertunda. Laura menghela napas mengingat penggalan memori yang pernah terjadi dalam hidupnya, sakit, ia sangat sakit! Seandainya saja Titi tidak seegois itu, mungkin saat ini dia telah memiliki seorang anak berusia belasan tahun yang pastinya berwajah cantik sepertinya. "Stop sad! Ayo, hapus air matamu!" Selembar tisu disodorkan oleh Eliezer ke arahnya, tanpa menunggu lama Laura menerima tisu itu lalu mengusap pada area kelopak mata yang basah. "Jangan kamu ingat lagi luka itu, Laura! Aku sudah bersusah payah membuatmu bangkit dari rasa sakit dan kamu punya kewajiban untuk menghargai upayaku dengan cara berbahagia tanpa bayang luka lama. Jadi please jangan lakukan apa yang baru aja kamu lakukan." Laura tidak menyahut, ia justru menjatuhkan pandangan pada kedua tangan yang berada di atas pangkuannya. "Aku minta maaf kalau ternyata nggak semudah itu menghapus sebuah rasa sakit yang terjadi begitu panjang. Dua belas tahun bukan waktu yang singkat, Mas. Butuh waktu lama bahkan seumur untuk menyisihkan luka itu dari ceruk hatiku." Terdengar suara hela napas dari pria yang duduk di sebelah Laura. Hening, ruangan yang menjadi tempat di mana mereka duduk berdampingan menjadi sangat dingin untuk beberapa saat. "Nggak cuma kamu, Lau. Aku juga sama sakitnya, bahkan sejak aku kecil, aku udah merasakan bagaimana pedasnya mulut tante dan gimana kasarnya sikap tante. Lebih dari dua belas tahun," ungkap pria itu. Eliezer Samantha, merupakan keponakan dari Fahri–suami Titi. Karena sudah kehilangan orang tuanya sejak kecil, Fahri sebagai kakak dari ayah Eliezer akhirnya berinisiatif mengangkat Eliezer sebagai putra kedua. Andre yang mengetahui hal ini, menerima dengan sangat baik kehadiran sepupunya itu dalam rumah mereka, tetapi ada yang tidak senang dengan keputusan yang diambil sepihak oleh Fahri, dan rasa tidak senang itu berubah menjadi rasa benci yang tidak ada habisnya. Siapa lagi kalau bukan Titi. Barulah Laura mengangkat pandangan setelah Eliezer menunjukkan sisi rapuhnya, ternyata bukan hanya dia yang tersiksa, banyak orang yang mengalami hal serupa oleh perlakuan penuh ego dari seorang perempuan angkuh bernama Titi. "Mas ..." "Jangan merasa kamu tidak mampu, lihat aku! Aku bisa mengubur rasa sakit itu. Kalau aku aja bisa, kenapa kamu enggak? Please, Laura, end your sadness!" Laura mengangguk, kemudian bergerak maju untuk memeluk Eliezer yang kini berstatus menjadi pria terdekatnya, Laura merasa sangat beruntung bisa dipertemukan oleh Eliezer di detik-detik kematian Andre dan kehancurannya saat itu, kalau tidak ada Eliezer, mungkin mentalnya sudah jauh semakin jatuh oleh penindasan Titi yang semakin menggila karena telah kehilangan putra semata wayang. Eliezer datang bagai pahlawan, menawarkan seberkas cahaya setelah dua belas tahun lamanya terkunci dalam sarang kegelapan seorang iblis berwujud manusia. "Makasih, Mas. Kamu sudah menyelamatkan aku, memberikanku support yang baik, dan selalu menjagaku." Tangis Laura semakin pecah, kepalanya kian menyuruk pada d**a bidang Eliezer. "Sama-sama, kita luka dan tujuan yang sama, jadi ketika kamu senang melihat wanita itu menderita, aku pun sama."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Putri Korban dan Janji Gelap Sang CEO

read
5.0K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.5K
bc

Tersesat yang Nikmat

read
22.8K
bc

Beautiful Pain

read
13.7K
bc

Revenge

read
35.8K
bc

Marriage of Revenge

read
29.4K
bc

I Love You Dad

read
294.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook