Chapter 5 - Pagi yang Indah Bersamamu

2500 Words
Suara kicauan burung yang terdengar bak nyanyian indah di pagi hari membangunkan Serena dari tidur lelapnya. Serena mengerjap-ngerjapkan matanya sejenak, lalu beralih meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku setelah semalaman tertidur pulas. Begitu terbangun dari tidur lelapnya, Serena langsung membuka selimut putih tebal yang menutupi seluruh tubuhnya. Serena langsung menghela napas lega begitu tahu dirinya masih berpakaian lengkap. Ya, itu artinya hanya satu. Erick benar-benar tidak jadi menyentuhnya kemarin malam. “Selamat ..,” ucap Serena lega. Dengan sigap, Serena langsung bangkit dari atas ranjang empuknya lalu berjalan santai menuju sebuah kaca besar yang terletak di belakang meja rias di dalam kamar tidurnya. Serena menyisir rambut tebal nan halusnya perlahan, sambil terus memperhatikan pantulan dirinya yang tercermin melalui sebuah kaca besar di hadapannya. Kedua mata indah Serena langsung terpana begitu melihat beberapa tanda kebiruan yang menghiasi leher mulusnya. “Eh?” kata Serena bingung. Dengan perlahan, Serena membuka kancing piyama tidurnya satu per satu. Begitu sudah terbuka setengah sampai ke bagian gundukan ranumnya, kedua mata Serena tambah membulat. Beberapa tanda kebiruan menghiasi mulai dari leher hingga turun ke bagian gundukan ranumnya. Sebuah kissmark. Hasil cumbuan panas bibir Erick semalam. Pipi Serena langsung merona padam begitu dirinya teringat kembali betapa panas dan menggairahkannya cumbuan bibir Erick tadi malam. Masih teringat jelas dalam benak Serena, betapa lembutnya sapuan bibir Erick di atas tubuhnya. Betapa memabukannya remasan tangan itu di atas kedua gunung kembarnya. Betapa menggairahkannya tatapan kedua mata seorang Erick Navarro. Dengan cekatan, Serena langsung mengancing kembali piyama tidurnya dengan rapih lalu beralih merapihkan ranjang tempat tidurnya sejenak. Tak lama setelahnya, Serena langsung beranjak keluar dari kamar tidurnya. Perutnya mulai keroncongan, sudah berteriak minta makan. Serena langsung tertegun begitu pintu kamar tidurnya sudah terbuka. Ya, Serena baru ingat kalau dirinya sama sekali tidak mengunci pintu kamar tidurnya tadi malam. Erick bisa saja diam-diam memasuki kamar tidurnya. Lalu dalam gelap dan temaramnya lampu kamar tidurnya, Erick mulai mencumbu sekujur tubuhnya. Menindih tubuh mungilnya. Bercinta dengannya saat dirinya sedang lelap tertidur .. Tapi Erick tidak melakukan itu semua. Seketika, Serena langsung menggelengkan kepalanya. Tidak, Serena tidak boleh memikirkan Erick barang sepersekian detik pun. Begitu keluar dari kamar tidurnya, Serena mendapati wangi harum masakan dan bunyi berisik orang yang sedang sibuk masak dari arah dapur di rumah Erick. Begitu sampai di dapur, Serena mendapati Erick sedang asik berkutat dengan wajan penggorengan dan spatula di tangan kanannya. Erick langsung menoleh dan tersenyum begitu mendengar suara langkah kaki Serena, “Pagi.” Serena membalas senyum Erick, “Pagi.” Serena berjalan perlahan mendekati Erick, “Kamu lagi masak apa?” “Telur mata sapi sama roti panggang. Kamu mau?” jawab Erick. Bukannya menjawab, Serena malah jadi gagal fokus pada tubuh laki-laki tampan yang badannya tinggi semampai di hadapannya ini. Bagaimana tidak? Erick Navarro masih topless. Otot-otot tubuhnya yang terbentuk nyaris sempurna dan sangat minim lemak itu terlihat sedikit mengkilap di bawah pantulan lampu yang menerangi dapur rumahnya. Rambut hitam kecoklatannya yang begitu tebal itu masih sedikit acak-acakan. Hanya sebuah boxer hitam yang menggantung asal di pinggang Erick, menutupi daerah keperkasaannya yang terlihat begitu menonjol dari balik celana boxer nya. Pipi Serena langsung merona padam. “Oh ..,” kata Serena malu-malu. Erick langsung tertegun begitu melihat pipi mulus Serena yang berubah merah padam. Erick tersenyum geli, “Ups, sorry. Aku memang selalu cuman pakai boxer kalau lagi di rumah.” Erick lanjut bicara sambil menatap tajam kedua mata Serena, “Kamu nggak merasa terganggu kan?” Serena hanya mengangguk perlahan. Wajahnya masih berpaling, menatapi sebuah piring kristal yang tergeletak di atas meja makan besar di dekatnya. Serena masih enggan menatap Erick. Serena merasa malu setengah mati. Erick menyeringai puas, “Good.” Serena terdiam sejenak sebelum kembali bicara. “Kamu .. marah soal semalam?” tanya Serena takut-takut. Wajahnya masih berpaling, enggan menatap tubuh Erick yang nyaris telanjang itu. Erick mengerutkan dahi mulusnya, “Soal semalam?” Serena hanya mengangguk sambil menatapi jari-jari tangannya yang lentik. Erick terdiam sejenak untuk berpikir, “Oh, soal itu ..” Erick tersenyum geli, “Buat apa aku harus marah?” “Tapi perjanjiannya ..” “Shh .. Please, Serena, lupakan soal perjanjian itu sejenak.” Erick beralih menyentuh dagu Serena dengan jari-jari tangannya, membuat kedua matanya dan kedua mata indah Serena akhirnya kembali bertemu, “Mulai detik ini, aku mau kita menjalin hubungan tanpa harus memikirkan soal perjanjian itu. Boleh?” Serena terdiam sejenak, memperhatikan sorot kedua mata Erick lalu mengangguk perlahan, “Baik, kalau itu mau kamu.” Erick tersenyum lebar, “Bagaimana tidur kamu semalam? Nyenyak kan? Kasurnya empuk kan? Oh, dan AC nya nggak kedinginan kan?” Serena tersenyum manis, “Tidur aku nyenyak kok. Ranjangnya empuk. Selimutnya juga hangat, jadi aku nggak merasa kedinginan.” Erick tersenyum hangat, “Bagus kalau begitu.” Tiba-tiba, wangi gosong masakan tercium di udara. Serena langsung memalingkan pandangannya pada sebuah telur mata sapi yang tergeletak di atas wajan penggorengan, yang sayang sekali ternyata sudah gosong. Begitu pula dengan roti panggang yang dibuat Erick, yang sudah berubah jadi roti bakar alias gosong. Serena langsung membulatkan kedua matanya, “Oh astaga, Erick! Makanannya gosong!” Erick langsung kalang kabut mematikan wajan penggorengan dan alat pemanggang rotinya. Untuk sejenak, Erick hanya terdiam sambil menatapi telur mata sapi dan roti yang sudah gosong dan menghitam bak arang itu. Erick menghela napas, “Aku memang nggak pintar masak.” Serena tersenyum geli, “Sini, biar aku saja yang masak.” “Nggak apa-apa?” tanya Erick ragu-ragu. Serena mengangguk sambil tersenyum, “Nggak apa-apa. Kamu tunggu saja di ruang makan.” Tak sampai setengah jam kemudian, Serena akhirnya kembali menghampiri Erick, yang masih setia menunggunya sendirian di ruang makan. Kedua mata Erick langsung terpana pada dua buah piring kaca yang dibawa Serena. Wangi harum masakan yang begitu menggugah selera langsung menyerebak ke seluruh penjuru ruangan. Dengan perlahan, Serena meletakkan piring kaca berisi nasi goreng ayam buatannya itu di atas meja kaca besar di hadapan Erick. “Maaf, aku cuman bisa masak ini. Habis aku bingung mau masak apa,” kata Serena.  Ya, Serena memang sempat merasa kebingungan begitu melihat bumbu-bumbu masakan di dapur rumah Erick yang kebanyakan pakai bahasa Jerman dan Perancis itu. “Nasi goreng?” kata Erick bingung. Serena hanya mengangguk. Tanpa menunggu lama, Erick langsung mencicipi nasi goreng ayam buatan Serena. Kedua matanya langsung membulat begitu nasi goreng ayam buatan Serena yang begitu harum itu menyentuh indera pengecapnya. Erick tak kuasa menahan betapa nikmatnya masakan buatan perempuan cantik yang sedang duduk di hadapannya ini. “Enak nggak?” tanya Serena takut-takut. “Jujur, ini nasi goreng terenak yang pernah aku makan sepanjang hidup aku,” jawab Erick. Serena langsung tersenyum lebar, “Serius?” Erick tersenyum dan mengangguk, “Terima kasih kamu sudah bersedia masak buat aku. Tadinya aku sempat berpikir mau delivery order saja.” Serena membalas senyum di wajah ganteng Erick, “Sama-sama.” “Selamat makan.” Belum sempat Serena menyelesaikan sarapan paginya bersama dengan Erick, ponsel jadul milik Serena yang diletakkannya di dalam saku celana piyama tidurnya itu, tiba-tiba bergetar. Serena langsung mengambil ponselnya dan menjawab panggilan masuknya. Ternyata yang menelepon adalah sang dokter, yang juga merawat dan mengoperasi ayah Serena. “Ada apa, dok?” tanya Serena penasaran. Sang dokter tersenyum hangat, “Serena, saya punya kabar baik buat kamu. Ayah kamu sudah pulih. Dia bilang mau bertemu sama kamu sekarang.” Sebuah senyum lebar langsung menghiasi wajah cantik Serena. Rasa bahagia yang tiada terkira langsung memenuhi benaknya, “Baik, saya akan segera ke rumah sakit sekarang. Terima kasih banyak, dokter.” Panggilanpun terputus. Erick, yang saat ini masih menikmati nasi goreng ayamnya tepat di hadapan Serena, langsung bertanya. “Ada apa, Serena?” tanya Erick penasaran. “Ayah sudah pulih. Dokter bilang ayah mau bertemu sama aku sekarang,” jawab Serena semangat. Tanpa sadar, begitu melihat betapa bahagianya raut wajah Serena, Erick jadi ikut tersenyum juga, “Bagus kalau begitu.” Erick langsung bangkit berdiri dari kursinya, “Kalau sudah selesai makan, kamu langsung mandi ya? Biar aku yang antar kamu ke rumah sakit.” Serena langsung tertegun, “Tapi ..” Erick tersenyum hangat, “It’s okay. Kebetulan aku juga harus ke rumah sakit, ada hal penting yang harus aku urus hari ini.” Serena membalas senyum Erick, “Thanks, Erick.” ***** Sesampainya di rumah sakit, Serena langsung dihadapkan dengan senyum hangat di wajah sang dokter. Untuk sesaat, sang dokter yang rambutnya sudah nyaris memutih semua itu beralih memandangi Erick dengan tatapan sedikit bingung. “Saya boleh jenguk ayah saya kan, dok?” tanya Serena dengan begitu semangat. Sang dokter beralih menatap Serena lagi lalu tersenyum dan mengangguk, “Tentu. Ayah kamu pasti sudah sangat rindu melihat wajah putrinya yang cantik ini.” Serena beralih bicara pada Erick, “Kamu mau ikut?” Erick tersenyum hangat dan menggeleng. Erick menangkupkan wajah Serena dengan satu tangannya sambil sesekali mengusap pipinya yang terasa halus itu, “Kamu jenguk ayah kamu saja dulu, ada hal yang harus aku urus sebentar. Habis ini aku ke sini lagi, oke?” Serena hanya menganggguk dan tersenyum. Tanpa menunggu lama, Serena langsung membuka pintu kamar pasien tempat ayahnya dirawat dengan perasaan yang begitu bahagia. Dengan langkah pelan dan sebuah senyum yang tak pernah lepas dari wajah cantiknya, Serena menghampiri ayahnya, yang kini masih berbaring di atas ranjangnya sambil menonton TV. Wira Tarendra langsung tersenyum haru begitu akhirnya dirinya bisa melihat lagi wajah cantik putri semata wayangnya itu, “Serena?” Serena menarik kursinya lalu duduk persis di samping tempat ayahnya berbaring, “Ayah sudah sehat?” Wira mengangguk perlahan, “Sudah. Kamu sudah makan?” Serena tersenyum, “Sudah.” Wira menghela napas lega, “Syukurlah. Ayah juga sudah makan barusan, tapi rasa masakannya hambar.” Wira beralih memegang tangan Serena lalu tersenyum hangat, “Ayah rindu rasa masakan kamu yang enak itu.” Serena tersenyum manis, “Setelah ayah keluar dari rumah sakit, aku janji akan masak masakan kesukaan ayah setiap hari.” Wira terdiam sejenak sebelum kembali bicara. Wajahnya yang sudah renta itu seketika dipenuhi oleh rasa bersalah, “Maafkan ayah, Serena. Ayah pasti sudah merepotkan kamu.” Serena mengerutkan dahinya, “Ayah jangan pernah bilang begitu. Kan sudah tugas aku untuk menjaga dan merawat ayah.” Wira menghela napas sejenak, “Bagaimana soal pembayarannya?” Serena menggenggam tangan ayahnya yang sudah renta itu dengan erat, “Ayah tidak usah khawatir soal biaya rumah sakitnya. Yang terpenting sekarang, ayah sudah lebih baik.” Serena lanjut bicara setelah terdiam sejenak. “Aku janji akan sering-sering menemani ayah di sini. Ayah nggak usah khawatir. Hanya ayah yang aku miliki sekarang ..,” lirih Serena. Begitu mendengar apa yang baru saja keluar dari bibir putri semata wayangnya itu, hati Wira Tarendra langsung merasa terenyuh, “Terima kasih banyak, nak.” ***** Begitu keluar dari kamar tempat ayahnya dirawat, Serena mendapati Erick sudah tidak ada. Erick sudah pergi duluan. Entah ke mana perginya cowok ganteng blasteran Jerman itu. Tanpa menunggu lama, Serena langsung beranjak menuju bagian administrasi rumah sakit. Serena ingin sesegera mungkin melunasi biaya operasi ayah tercintanya. Ya, meskipun dirinya sendiri sebenarnya merasa tidak yakin apa bisa melunasinya atau tidak. Serena bahkan belum sempat bercinta dengan Erick. “Permisi, mbak. Saya mau mengurus pembayaran atas nama bapak Wira Tarendra. Apa pembayarannya bisa dicicil?” tanya Serena ragu-ragu. Sang mbak-mbak administrasi langsung mengecek berkas dokumennya sebentar, “Wira Tarendra yang baru selesai operasi transplantasi jantung?” Serena mengangguk, “Iya.” “Oh, baru saja dilunasi tadi.” Seketika, Serena langsung tertegun. Kedua matanya langsung membulat, “Benarkah?” Sang mbak-mbak administrasi mengangguk, “Iya. Baru saja dilunasi oleh bapak Erick Navarro.” Sebuah petir di siang bolong langsung menyambar kepala Serena. “Erick Navarro?” kata Serena yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Sang mbak-mbak administrasi hanya mengangguk. “Jadi .. semua biaya operasi ayah saya sudah lunas?” “Sudah, mbak.” Serena menghela napas, “Baik, terima kasih kalau begitu.” Begitu kembali, Serena mendapati Erick sedang duduk dan menunggu sendirian di ruang tunggu persis di depan kamar ayahnya dirawat. Begitu melihat Serena, Erick langsung bangkit berdiri dan berjalan cepat menghampirinya, lalu memegang kedua lengannya dengan lembut. “Kamu darimana, Serena?” tanya Erick dengan raut wajahnya yang terlihat sedikit khawatir. Serena terdiam sejenak sambil memperhatikan sorot kedua mata Erick, “Tadi kamu bilang ada hal penting yang mau kamu urus. Apa hal itu .. tentang ayah aku?” Erick menghela napas sejenak, “Kita bicara di dalam mobil saja.” Sesampainya di dalam mobil, tanpa menunggu lama, Serena langsung angkat bicara, “Barusan aku ke bagian administrasi, dan mereka bilang biaya operasi ayah sudah dilunasi oleh kamu.”  “Ya, memang aku yang melunasinya,” jawab Erick sembari memperhatikan kaca mobilnya yang terlihat begitu licin itu. Serena terdiam sejenak sambil menatapi jalanan beraspal yang ada di hadapannya. Masih teringat betul dalam benaknya berapa jumlah uang yang harus dikeluarkannya untuk biaya operasi ayahnya. Ya, 400 juta, bukan biaya yang sedikit. “Tapi itu bukan jumlah uang yang sedikit ..” Serena memalingkan wajahnya, beralih menatap kedua mata Erick dengan tatapan yang begitu nanar dan bingung di saat yang bersamaan, “Mengapa kamu melakukan ini semua, Erick?” Erick balik menatap Serena dengan tatapannya yang begitu serius, “Aku hanya ingin membantu kamu, Serena. Aku tulus melakukan semua ini.” “Tapi kita bahkan belum sempat melakukan ‘itu’ ..,” lirih Serena. Erick mengerutkan dahi mulusnya, “Maksud kamu?” Serena tersenyum kecut, “Tadinya aku sempat berpikir kalau kamu baru mau membantu ayahku setelah kita tidur bersama.” Erick langsung tertegun. Dahi mulusnya tambah mengkerut, “Kamu berpikir seperti itu?” Serena hanya mengangguk pelan. Dengan lembut, Erick menangkupkan wajah Serena dengan kedua tangannya, “Bukankah aku sudah bilang untuk melupakan soal perjanjian itu? Dan lagi, aku sudah bilang kan kalau aku nggak mau memaksa kamu melakukan ‘itu’ jika kamu belum siap?” Erick menatap kedua mata Serena dalam-dalam, “Aku mau kita bercinta, Serena, bukannya sekadar tidur bersama saja ..” “Tapi ..” Erick memotong ucapan Serena, “Shh ..” Perlahan, Erick mendekatkan wajah gantengnya pada wajah cantik Serena. Wajah keduanya berada begitu dekat, sampai-sampai keduanya bisa merasakan hembusan napas masing-masing. “I’m sorry ..,” bisik Erick. Setelahnya, Erick langsung mencium lembut bibir Serena. Tidak ada paksaan sama sekali. Demikian pula dengan Serena, yang sama sekali tidak menolak ciuman bibir Erick yang terasa begitu lembut itu. Serena merasa begitu terbuai, seolah-olah dirinya terbawa hanyut oleh cumbuan bibir Erick yang terasa begitu memabukkan. Setelah sekian lama merasakan lembutnya ciuman bibir masing-masing, Erick akhirnya melepas ciumannya. Erick mengelus perlahan pipi Serena dengan ibu jarinya, “Nanti malam aku antar kamu pulang ke rumah. Tapi aku mau kita makan siang dulu setelah ini. Is that okay?” Serena mengangguk dan tersenyum, “Okay.” Erick membalas senyum manis Serena lalu mulai menyalakan mobil jaguar hitamnya. Hari ini untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Serena merasa begitu nyaman berada di dekat seorang Erick Navarro. ❤❤TO BE CONTINUED❤❤
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD