12

1577 Words
Hari ini rencananya mereka akan bermain game truth or dare karena malas pergi ke pantai. Regan sudah duduk anteng di sebelah Aquila, tak berniat ikut bermain. Di depan keduanya, Vernan terus menatap tak suka pada Regan yang membatasi Aquila berdekatan dengan dirinya. Sungguh, Regan menghancurkan kesenangan mereka karena Aquila terus berada di samping cowok dingin itu. "Sini, biar gue aja yang muter botolnya," Cherly sangat bersemangat dengan permainan ini. Semua tampak fokus menatap arah botol yang terus berputar dan mulai melambat, tapi tak kunjung berhenti, membuat semuanya jengkel. "Waaa, Alina!" teriak keempat gadis itu heboh. "Yesh, gue mau kasih pertanyaan," Louis sedikit maju dengan tak sabaran. "Heh, milih dulu, b**o," dengus Aquila. Cup Regan mencium kepala belakang Aquila, sengaja saat Vernan tertawa ke arah Aquila karena gadis itu berkata kasar. Tapi senyumnya hilang karena perlakuan Regan yang tampak sengaja mencium Aquila. "Jangan ngomong kasar, Sayang. Gak baik," kata Regan, tersenyum miring pada Vernan yang kesal. "Wehh, percaya sama yang udah punya pacar," heboh Louis, diikuti Cherly dan Alina. "Eh, udah ayo lanjut," kata Yolanda. "Oke, gue pilih tantangan aja. Gak mau pertanyaan gak jelas," kata Alina enteng. "Oke, makan pete lima biji," Louis mengeluarkan pete yang sengaja ia bawa. Ia sangat suka pete. Itu sebabnya saat pulang ke Indonesia akan membeli banyak pete untuk dibawa ke Singapura. "Gak mau, ih, bau! Gue gak suka," tolak Alina sambil bergidik ngeri melihat mangkuk kecil berisi pete. "Ini enak, anjir. Lo gak bakal bisa makan di luar negeri. Mumpung di Indonesia lo makan, cepet," Louis menyodorkan satu pete pada Alina. "Aaaaa, gak mau. Oke, lo mau tanya apa sama gue?" Akhirnya Alina memilih mendapatkan pertanyaan. Louis bersorak riang mendengar perkataan Alina. Sekarang giliran Aquila yang mengeluarkan barang kesukaannya, yaitu lie detector, agar permainan lebih seru. "Tangan lo sini, gue mau tanya," kata Louis, memasangkan alat pendeteksi kebohongan pada Alina. "Gue tanya, sebenernya lo suka sama gue? Dan pas gue pindah ke Singapore, lo nangis, kan?" tanya Louis dengan tersenyum jahil. Alina tampak menelan ludahnya sendiri sebelum menjawab pertanyaan dari Louis. Bisa-bisanya ia mendapat pertanyaan yang begitu ia hindari selama ini. Mungkin ini sudah waktunya ia memberitahu yang sebenarnya, toh tidak akan ada masalah. "Oke, gue jawab jujur. Gak perlu alat kayak gini," Alina melepaskan tangannya dari alat pendeteksi. "Gue ngaku kalau emang bener gue suka sama lo, dan yang lo omongin emang bener. Tapi gue juga gak mau kita punya hubungan lebih dari sekadar teman, karena itu bisa menghancurkan persahabatan kita. Selesai," jelas Alina jujur. Semua tampak melongo mendengar pernyataan dari Alina, terkecuali Regan yang terus menampakkan wajah datarnya. "Oke, lanjut. Gue yang puter," seru Alina lalu memutar botol penuh semangat. "Yee, Aquila!" teriak Cherly. "Yey, ini yang gue tunggu-tunggu," sorak Felicia. "Kejujuran atau tantangan?" tanya Yolanda semangat. "Tantangan," jawab Aquila ragu-ragu. "Cium cowok lo," tantang Louis. Aquila melotot kaget dengan tantangan Louis yang benar-benar kurang ajar. Aquila melempar snack yang ada di tangan Felicia karena kesal. "Tadi cowok lo aja cium lo, masa lo gak berani cuma sekali aja," Vernan ikut bicara. Dari nada bicaranya, ia kesal tapi juga ingin melihat Aquila menolak untuk mencium Regan. Lagipula, Aquila tidak akan melakukan itu, pikirnya. Aquila tetap diam, tidak melakukan tantangannya. Itu sungguh membuat Vernan tersenyum remeh pada Regan yang menatap dirinya dingin. "Louis, ganti tantangan lo, cepet!" teriak Aquila kesal. "Kenapa? Kan dia cowok lo, kok gak mau? Jangan-jangan lo pacaran sama dia karena terpaksa, karena dia maksa lo?" Vernan masih menatap Regan remeh. Cowok itu tahu jika Aquila tidak akan melakukan hal seperti itu. "Sayang, ini tantangan yang kamu pilih. Cium aku, kayak semalam pas kamu jemput aku di bandara," Regan menarik badan Aquila agar sejajar dengan dirinya. Sebelum mencium Aquila, ia tersenyum miring pada Vernan yang merubah wajahnya jadi kesal. Regan benar-benar mencium Aquila tanpa ragu, membuat Cherly dan Alina teriak. Maklum, Cherly dan Alina yang paling muda dan polos di antara mereka. Cherly melihat keduanya tepat di depan matanya tak berkedip. "Heh, bocil. Lo kenapa pentelengin orang lagi ciuman?" Felicia menutup mata Cherly dan segera membawanya pergi dari sana. "Astaghfirullah, mereka malah gak inget kita masih di sini," kata Louis mengusap dadanya pelan. "Lo Kristen, b**o," sergah Vernan jengkel. Kini tinggal Regan dan Aquila yang masih saling memagut satu sama lain. Regan sengaja mencium Aquila lama karena kesal melihat Vernan yang terlihat memiliki perasaan lain pada Aquila. Ia juga tidak akan membiarkan Aquila berdekatan dengan cowok yang menjadi teman dari pacarnya itu. "Kamu makin lama makin m***m, ish," kesal Aquila. "Itu pilihan kamu kan? Harusnya kamu pilih kejujuran, bukan tantangan. Lagian, aku cuma bantuin kamu buat menyelesaikan tantangannya," Regan membela diri. "Tau deh, aku mau pergi," Aquila beranjak dari duduknya, diikuti Regan yang siap siaga menjaga Aquila agar tidak berdekatan dengan Vernan. Regan akan siap siaga untuk menjaga kekasihnya agar tidak digoda oleh cowok lain. Aquila terpaksa pergi hanya berdua dengan Regan, karena teman-temannya menghilang entah ke mana, padahal ia ingin pergi ke pantai untuk mengambil gambar dan video. Sekarang ini ia tengah berjalan bersama Regan menyusuri pantai, layaknya pasangan pada umumnya. Regan terus menggandeng tangan mungil Aquila. Dengan jahil, Regan membungkuk, menggerakkan tangannya di air agar terkena pada Aquila. "Regaaan," teriak Aquila, terkejut karena cipratan air pada wajahnya. Aquila melipat sedikit lengan jaket jeans miliknya lalu membalas Regan. Akhirnya mereka saling bermain cipratan air di pinggir pantai. Mereka tertawa lepas di sana, dengan terus saling mencipratkan air satu sama lain. Suasana yang hampir sore begitu mendukung canda tawa Aquila dan Regan. Grepp Regan memeluk Aquila erat dari belakang dengan napas terengah-engah karena lelah berlarian. Aquila juga lelah terus mengejar Regan untuk membalas cipratan air yang Regan lakukan. Pelukan Regan begitu nyaman, Aquila sangat suka dipeluk oleh Regan. Terlebih lagi, badannya yang mungil bisa pas dalam pelukan Regan yang memiliki badan tinggi dengan d**a bidang. Benar-benar tubuh idaman para gadis, bukan? "Bentar lagi mataharinya tenggelam, mau di sini aja atau cari tempat lain?" tanya Regan. Sekarang mereka berdiri menatap matahari yang akan tenggelam. "Masih lama, kita cari tempat lain aja. Aku pengen lihat sunset sambil duduk, terus ada jus juga," ajak Aquila. Regan menuruti Aquila untuk mencari tempat yang menyediakan minuman dengan pemandangan sunset. Kebetulan ada kafe cukup bagus untuk melihat sunset, dan mereka duduk di lantai atas agar bisa melihat sunset lebih jelas. "Regan, tolong fotoin aku. Satu, tapi harus bagus ya," pinta Aquila, menyodorkan ponselnya pada Regan dengan tersenyum manis. "Satu, dua, tiga. Udah," kata Regan lalu menyodorkan ponsel milik Aquila dengan hasil foto. "Wah, bagus banget hasilnya," riang Aquila. "Sekali lagi ya, pakai kacamata, hehe," Aquila kembali menyodorkan ponselnya pada Regan. "Udah. Sekarang copot kacamatanya, aku mau fotoin lagi," kata Regan. Setelah mendapat beberapa foto Aquila yang bagus, Regan juga mengambil foto Aquila bersama dengan dirinya. Dan langsung saja ia posting di i********: pribadi miliknya. Sengaja ia tidak mematikan komentar seperti biasanya karena ingin memancing seseorang untuk datang berkomentar di sana. Regan.Malik (i********:) Disukai oleh Renatha Disukai oleh Renatha.Malik dan 120.969 lainnya Regan.Malik 💥 Revan_AdlMalik: Kapan pulang, bang? Bunda @Renatha.Malik gak ada yang bantuin masak. Ali_pern: Anjirr, bulan madu. Cherrrr: Asekk, rencana liburan bareng sahabat malah berduaan sama pacar. @pellicciaa @yolanda_yoo @Louis_ou @Alina.putri @Vernn coba liat noh si @Aqqlll RainnanAM.Malik: Bang, cepet pulang, siapin kaos kaki gue kayak biasanya. Seragam gue juga kurang licin kalo si @Revan_AdlMalik yang setrikain. Yolanda_oo: Bagus, pacaran terus. Louis_ou: Cie jomblo @yolanda_oo, ngiri. Vernn: Jaga diri baik-baik, cantik. Jangan terlalu percaya sama cowok yang baru deket sama kamu @Aqqlll. Revan_AdlMalik: Heh @RainnanAM.Malik, gak tau diri lo, udah gue seterikain juga. Regan.Malik: @vernn Lo gak perlu khawatir, gue bakal jaga PACAR gue dengan sangat baik kok. Ali_pernn: Cie, Regan ada saingan. Revan_AdlMalik: Jangan kasih kendor, bang. Kalo perlu langsung nikah aja. Rakaaa: @Revan_AdlMalik Lo kira kolor pake acara kendor segala 😂 Regan tersenyum tipis melihat beberapa komentar dari orang-orang. Yang paling ia suka adalah komen dari Vernan. Tapi ia tidak mau membalas komentar lagi. Sekali saja membalas sudah cukup baginya. "Kamu post foto kita?" tanya Aquila, yang masih fokus pada ponselnya. "Iya, cantik kan?" Seketika Aquila tersenyum mendengar jawaban Regan. Pipinya memerah seperti tomat, dadanya berdetak lebih cepat dari biasanya. Bukan hanya kata “cantik” yang membuat Aquila salah tingkah, tapi juga tatapan Regan yang dalam. Tatapan itu sangat bermakna, rasanya ada kupu-kupu menggelitik di dalam dirinya hanya karena tatapan itu. Mata tajam yang biasanya dingin kini berubah lembut dan teduh. "Makin lama, rasanya makin nyaman saat bersama kamu. Kadang aku juga merasa takut kehilanganmu," ujar Regan lembut. Oh, ayolah. Kenapa Regan tidak bisa diam sebentar saja? Aquila masih merasakan detak jantungnya yang sangat cepat. Belum lagi wajahnya yang semakin memerah padam karena perkataan Regan. "Wajah kamu merah, kamu baper ya?" Regan tersenyum jahil pada Aquila yang kini menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Enggak, siapa bilang aku baper? Aku cuma sedikit malu aja," elak Aquila. "Cie, baper ciee," goda Regan sambil menoel-noel pundak Aquila. "Ck, Regan, diem deh," Aquila memilih untuk pergi, meninggalkan Regan yang masih mentertawakan dirinya. Aquila terus berjalan sendiri, tidak memperdulikan Regan yang mengikutinya di belakang. Sesekali gadis itu melihat Regan yang tak sengaja tertangkap basah memotretnya. Tapi cowok tampan itu malah menunjukkan senyum manis pada Aquila. "Aquila, ayo foto bareng," ajak Regan. "Bayaar!" ujar Aquila. "Bayarnya pakai mas kawin dan seperangkat alat salat, mau?" tawar Regan sambil menaik-turunkan sebelah alisnya. Aquila membuang napas lelah. Ia benar-benar merasa tidak aman saat bersama Regan sekarang. Hatinya sangat kacau karena kata-kata yang dikeluarkan kekasihnya. Regan kali ini benar-benar berbeda, dan itu sangat tidak baik untuk kesehatan jantung. "Nggak dulu, makasih. Bye!" Aquila berlari menjauhi Regan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD