9

1896 Words
Setelah beberapa hari lalu Aquila bermain dengan Shereena, ia dan Regan sedikit lebih dekat. Meskipun terkadang, Regan suka bersikap cuek seperti awal. Tapi perlakuan Regan yang berubah-ubah membuat Aquila sering kali ragu untuk melakukan sesuatu. Seperti yang terjadi tadi pagi saat ia dan Regan saling tidak bicara satu sama lain. "Jadi kangen Shereena, biar Regan bisa banyak ngomong," gumamnya pelan. "Dor!" Andre terkikik geli melihat sang adik terkejut karena perbuatannya. "Ish! Kaget tau," dengus Aquila kesal. Andre duduk di sebelah adiknya, merangkul pundak Aquila pelan. Ia tidak suka melihat wajah sang adik cemberut seperti itu. Apalagi karena dirinya. "Maaf, deh. Kakak nggak sengaja," ucap Andre merasa bersalah. Aquila mengangguk, lalu memeluk sang kakak erat. Ia juga jadi merasa bersalah karena sang kakak terlihat menyesal. "Maaf juga. Aquila tadi lagi nggak mood," ucap Aquila merasa bersalah. "Mau jalan-jalan?" tawar Andre semangat. "Kakak nggak kerja?" Aquila bertanya seperti itu karena ia tahu, sang kakak adalah orang yang sangat sibuk. Jadi akan sangat sulit untuk pergi jalan-jalan. "Hari ini kakak free, jadi ayo kita jalan-jalan!" Andre mengangkat Aquila, lalu berlari ke kamar sang adik. Aquila tertawa senang dalam gendongan sang kakak, akhirnya ia akan memiliki waktu berdua dengan sang kakak lagi setelah sekian lama. Salah satu kebahagiaan Aquila adalah saat ia bisa menghabiskan waktu bersama Andre, satu-satunya keluarga yang ia miliki selama ini. Hari ini Andre membawa sang adik jalan-jalan keliling Jakarta untuk menikmati pemandangan dan jalanan macet. Mungkin saking bahagianya bisa menikmati waktu berdua dengan sang adik, jadi ia rela terjebak dalam kemacetan yang cukup membosankan. "Baru kali ini ada macet malah santai," celetuk Aquila. Andre terkekeh mendengar celetukan sang adik, mungkin bagi sang adik sangat membosankan. Tapi bagi Andre tidak masalah asal bisa menikmati waktu berdua dengan sang adik. "Huaah, kakak panas," rengek Aquila. "Haha, bentar lagi. Mall udah lumayan dekat," Andre terkekeh geli melihat adiknya cemberut. Sejak Aquila kecil, ia sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya karena kecelakaan pesawat. Di situ, ia harus menjadi kakak yang dewasa untuk menggantikan posisi kedua orang tuanya. Karena posisinya sekarang sebagai kakak sekaligus orang tua bagi Aquila, Andre berusaha keras untuk menjaga sang adik sebaik mungkin. "Huaah, mau ice cream," pekik Aquila. "Mau rasa apa?" tanya Andre. "Coklat, strawberry sama vanilla!" Andre membeli ice cream yang sama dengan milik adiknya. Sudah cukup lama tidak makan ice cream karena terlalu sibuk bekerja. Jika ia sering menghabiskan waktu bersama sang adik, pasti ia akan lebih sering makan ice cream. "Kak! Ayo makan di sana. Mumpung ada promoan," ajak Aquila dengan semangat. "Kenapa harus makan yang promoan? Selama kakak bisa belikan kamu makanan apa saja tanpa promo," tanya Andre. Aquila terkikik geli mendengar pertanyaan sang kakak. Andre tidak tahu saja jika Aquila cukup sering makan makanan yang sedang promo. Apalagi jika makanan yang dipesan dari aplikasi, dan gratis ongkir. "Biar hemat, makanya harus makan yang ada promoan. Ayo cepetan!" Aquila segera menarik lengan kakaknya. Dari arah berlawanan, cukup jauh dari tempat Aquila dan Andre, terlihat seorang cowok tampan mengeratkan genggaman tangannya dengan wajah mengeras. Rumah Regan tengah ramai karena ada acara makan-makan dan kumpul bersama teman-temannya. Sebenarnya teman Regan hanya Arnold. Yang banyak teman-temannya sebenarnya Revan, karena teman Regan hanya Arnold. Malam ini mereka mengadakan acara bakar-bakar seperti yang biasa dilakukan setiap satu bulan sekali. Suasananya sangat menyenangkan penuh canda tawa karena Ali terus membuat lelucon dan sering kali mengganggu Arnold. Dari semua remaja yang ada di sana, Arnold adalah orang yang paling sensitif. Dia tidak suka diganggu sedikitpun, jika ada sedikit saja yang mengganggunya ia tidak segan-segan marah dan bahkan sampai memukul orang itu. Sejak tadi Regan hanya memfokuskan tatapannya pada Aquila yang sibuk memanggang daging. Padahal ada hal lain yang bisa dilakukan, tapi Regan tak berhenti menatap Aquila. Membuat Aquila merasa tidak nyaman karena terus diperhatikan, apalagi tatapan Regan yang selalu datar. "Heh Gan, pacaran mulu sini bantuin kek!" teriak Ali. "Males," sahut Regan tanpa melihat Ali. "Gini kalo udah bucin, gak bisa mengalihkan sedikitpun pandangan," celetuk Vito. "Bucin banget sama Aquila lo sekarang?" tanya Raka. "Padahal bilangnya cuma mau jagain, eh malah bucin," ejek Gilang ikut-ikutan. Aquila yang mendengar itu hanya diam, entah apa yang harus ia rasakan. Pasalnya Regan memang selalu berbuat baik padanya seperti seorang pacar sungguhan. "Apa si kalian, gue tuh cuma jaga Aquila. Nggak lebih," tekan Regan, kemudian pergi ke dalam rumah. Semua diam mendengar jawaban Regan, begitu juga dengan Aquila yang semakin diam dan fokus pada daging yang dipanggang. Arnold mendelik pada teman-teman Revan yang membuat Regan berkata seperti itu. Ia tidak suka jika harus membahas hubungan Regan dan Aquila, pasalnya Regan pasti akan menjawab dengan enteng tanpa tahu perasaan Aquila. "Gue tabok juga lo pada," desis Arnold pelan. Gara-gara jawaban Regan tadi, suasana jadi sunyi. Bahkan Shereena yang sejak tadi berisik juga diam, ia menatap Aquila yang terlihat biasa saja dengan ucapan Regan tadi. Arnold berjalan mendekat pada Aquila, dia tahu gadis itu pasti sedih dengan ucapan Regan. Apalagi sekarang ini sedang banyak orang yang ikut berkumpul bersama. "Aquila, gue mau satu dong," pinta Arnold. "Emang gapapa? Kan harus makan bareng-bareng nanti," kata Aquila tidak enak hati. "Gapapa sini satu aja, lo kan temen gue. Masa tega biarin gue nahan sampai nanti," paksa Arnold. "Eh, sejak kapan kita jadi teman?" Tanya Aquila heran. "Sejak hari lo duduk berdua sama gue nungguin Regan latihan," jawab Arnold dengan senyum sumringah. "Pasti karena ada maunya aja ngaku jadi teman, ya udah ini," Aquila memberikan tiga potong daging di piring yang Arnold bawa. "Wah, temen gue baik deh," kata Arnold sambil mengacak rambut Aquila pelan. Senyum Arnold saat mengacak rambut Aquila sangat manis, membuat Aquila terpana dengan senyuman indah itu. Arnold yang sadar Aquila terus menatapnya langsung mengedipkan sebelah mata. Membuat Aquila sadar dari lamunannya menatap Arnold. "Jangan kebiasaan natap gue gitu," peringat Arnold. "Kenapa?" Tanya Aquila tanpa menatap Arnold. "Takut jatuh cinta, haha," jawabnya. Aquila mendelik dengan jawaban Arnold, ia tak menyangka jika Arnold yang memiliki kepribadian sama seperti Regan bisa bercanda seperti itu. Bahkan yang lain juga menatap heran karena Arnold tertawa lepas di depan Aquila. Keduanya berlanjut memanggang daging bersama dengan bercanda tawa. Sedangkan di balkon terlihat Regan tengah mengamati Aquila yang asik dengan Arnold, ia tak pernah melihat gadis itu tertawa riang saat bersama dirinya. Tapi ketika bersama Arnold, Aquila terlihat asik dan nyaman ketika berbicara. "Sini duduk samping gue," ajak Arnold. Aquila yang akan duduk di sebelah Regan ditarik oleh Arnold, kini mereka sudah mau makan setelah perjuangan lama dalam memasak. Regan hanya diam saat Arnold terus berusaha mengajak Aquila bicara, entah ia bingung apa yang harus dilakukan melihat keduanya. "Arnold kenapa sih, tumben banget ganjen sama pacar orang," batin Regan. Ia sangat kesal melihat Arnold bersikap sangat akrab pada Aquila, padahal ia sendiri tahu jika Arnold malas berbicara dengan lawan jenis. Tapi kenapa sekarang malah asik bicara berdua dan melupakan semua yang ada di sana. Bahkan piring milik Aquila juga diambilkan makanan oleh Arnold. "Heh yang bener dong lo, itu pacar abang gue. Kok lo ganjen banget," peringat Revan karena melihat perlakuan Arnold pada Aquila. Revan juga kasihan melihat sang kakak karena tidak bisa menegur Arnold, sejak tadi Revan memperhatikan wajah datar Regan. Ia tahu jika kakaknya merasa kurang suka dengan perlakuan Arnold. "Untungnya gue punya adek yang peka," seru Regan dalam hati. "Apa sih lo, orang Regan sendiri yang bilang dia cuma jagain Aquila. Gak lebih, jadi gak salah dong gue bersikap manis sama teman gue," sergah Arnold. "Ya tapi kan abang gue lagi masa pendekatan, lo gak boleh nikung langsung di depan mata dia gitu," sungut Revan. "Heh udah, gak baik berantem di depan makanan. Kalian tuh harus hormat sama makanan, kalau ada di depan mata langsung dimakan. Biar makanannya nggak nunggu," lerai Ali. "Huu lo mah emang selalu gitu kalau ada makanan," sorak Vito. "Ali bener, mending kita langsung makan. Gak baik berisik di depan makanan, ayo makan keburu malam. Kasian nanti Aquila pulang kemalaman." Regan terlihat tenang saat berbicara. Tapi tanpa sepengetahuan siapapun sejak tadi tangan kirinya menggenggam tangan kanan Aquila di bawah meja. Sebenarnya Aquila berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Regan, tapi Regan terus menggenggam tangannya semakin erat. "Aquila kok lo gak makan?" Tanya Raka yang sadar Aquila belum memasukkan sesuap makanan ke dalam mulutnya. "Eh iya, ini mau makan kok," jawab Aquila canggung. "Gimana mau makan, orang tangan ku terus digenggam sama si tukang PHP," batin Aquila. Saat tangannya sudah terlepas dari genggaman Regan, Aquila segera makan dengan sedikit jengkel. Regan tersenyum tipis melihat Aquila sengaja memperlihatkan kekesalannya. Mungkin hobinya akan bertambah dengan mengganggu Aquila, karena wajah jengkel gadis itu sangat menggemaskan saat kesal. Tepat jam sepuluh malam Regan mengantarkan Aquila pulang dengan mobil sport miliknya. Sebelumnya ia akan memakai motor lagi saat bepergian dengan Aquila, karena saat naik motor Aquila akan memeluknya. Mengingat hari sudah cukup malam, Regan pikir tidak baik jika naik motor bersama seorang gadis. "Kayaknya deket banget sama Arnold, lo suka sama dia?" Tanya Regan. Suasana mobil sangat sunyi karena Regan tiba-tiba mematikan musik, jadi tidak mungkin jika Aquila pura-pura tidak dengar. Mau pura-pura tidur sudah terlambat karena sejak tadi ia bermain ponsel. "Arnold itu teman, jadi wajar dong kalau aku akrab sama dia," jawab Aquila berusaha santai. "Gue juga temen lo, tapi kok lo selalu diem pas sama gue. Padahal gue lebih dulu kenal sama lo," pungkas Regan. "Ya karena Arnold kan orangnya menyenangkan, dia bisa membangun suasana biar gak canggung," sanggah Aquila. "Dia itu punya sifat yang hampir sama kaya gue, gak mungkin lah kalau sama dia lo bisa akrab bahkan sampai bercanda ria di depan orang-orang. Tapi sama gue lo gak bisa, malah lo terkesan menghindar dari tatapan gue," Regan terlihat geram karena Aquila tak mau menatap dirinya saat bicara. "Ya aku nggak tau, intinya kalian beda. Dia lebih bisa menghidupkan suasana—" perkataan Aquila terhenti saat Regan meminggirkan mobilnya dan berhenti. Regan mendekatkan dirinya pada Aquila, membuat sang empu mundur hingga mentok di pintu mobil. Aquila memberikan diri mendorong d**a bidang Regan agar menjauh darinya. "Diem atau gue cium," ancam Regan. "Kamu kenapa jadi m***m gini sih, awas aja aku laporin sama bunda Renatha," Aquila balas mengancam dengan menutup mata. "Ya gapapa, paling nanti langsung dinikahin sama Bunda. Gue sih gak masalah nikah sama lo," tantang Regan. "Regan please jangan kaya gini," mohon Aquila pada akhirnya. Mendengar permohonan Aquila membuat Regan tersenyum menang, ini saatnya ia memanfaatkan keadaan. Ia kembali duduk di tempatnya dengan menatap Aquila yang masih menutup matanya rapat. "Pokoknya gue gak suka kalau lo lebih deket sama Arnold dibanding gue, jadi kalau lo bisa bersikap santai sama Arnold, ke gue harus lebih santai. Intinya pas sama gue lo harus lebih dibanding sama Arnold," papar Regan. "Ih, emang kamu siapa? Jangan ngatur deh, lagian kan kita gak setiap saat barengan, mana mungkin bisa langsung akrab banget. Dan kalau kita terlalu akrab bisa-bisa dikira pacaran beneran, Regan," dengus Aquila. "Gak, lo gak boleh pacaran, awas aja kalau pacaran gue bakal hajar cowoknya. Kalau ada yang deketin lo bakal gue bikin mereka gak berani deketin lo, intinya gak ada yang boleh dekat sama lo selain gue," sergah Regan. "Kok kamu semena-mena sih, anterin aku pulang sekarang. Aku capek ngomong sama kamu," Aquila sudah lelah dengan sikap Regan. Cowok itu kadang memperlakukan dirinya seperti seseorang yang sangat berharga, kadang menjadi seorang pacar dan juga seperti orang yang hanya menjaga. Aquila bingung harus menanggapi Regan seperti apa, karena ia sendiri tidak tahu Regan sebenarnya menganggap dirinya apa. Dia terlalu misterius dan banyak sekali sifat Regan yang belum Aquila ketahui.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD