Aquila tengah ada acara berkumpul bersama teman-temannya di salah satu café. Sudah lama sekali tidak bisa berkumpul lengkap, apalagi Vernan dan Louis. Mereka sekolah di Singapura karena orang tua keduanya harus mengurus bisnis di sana.
"Gue tuh males banget sebenernya tinggal di sana, cuma gara-gara nyokap gue aja bela-belain ikut tinggal di sana," keluh Vernan.
"Gue juga males banget, njirr. Apalagi di sana gue ketat banget, gak bisa keluar terlalu malam," sahut Louis malas.
"Tapi gue liat postingan lo kaya bahagia semua tuh, seakan-akan lupa sama kita," celetuk Aquila.
"Iya, masa kemarin gue liat lo posting foto lagi nongkrong happy banget," cerca Cherly.
"Si bocil suka ngeselin, diem lo bocah," dengus Louis kesal.
"Sialan gue udah gede, iiihhh," Cherly dengan cepat beranjak dari duduknya untuk memukul Louis.
Karena Louis duduk tepat di sebelah Cherly dan Aquila, dia terdorong ke samping Aquila. Menyebabkan Aquila yang sedang berhadap-hadapan dengan Vernan ikut terdorong, alhasil Aquila hampir terjatuh. Untungnya Vernan dengan cepat menangkapnya agar tidak jatuh ke lantai.
Tidak jauh dari tempat duduk mereka, terlihat Regan yang sejak tadi menajamkan matanya karena keakraban Aquila dengan Vernan. Ia datang ke café bersama Arnold untuk membicarakan tentang olimpiade matematika. Tapi mata tajamnya menangkap sosok gadis yang sangat dikenalnya sejak tadi. Tanpa mengatakan apapun, Regan mendekati Aquila dan segera menarik tangannya.
"Heh, lo apa-apaan si?" bentak Vernan tak suka.
Regan tak memperdulikan teriakan Vernan dan terus membawa Aquila bersama dirinya. Karena tak didengar, Vernan menarik tangan kiri Aquila agar tidak pergi dari sana.
"Lepas," dingin Regan.
"Lo yang lepas," suruh Vernan.
"Dia pacar gue, jadi lepas tangan Aquila sekarang," geram Regan.
Aquila merasa genggaman tangan Regan semakin kuat mencengkram tangannya. Ia juga tak berani meminta Regan melepaskan tangannya, karena Regan terlihat begitu marah saat ini.
"Vernan, gue harus pergi sekarang, maaf ya," kata Aquila pada akhirnya.
"Kenapa kamu mau pergi sama dia? Dia kasar dan gak berperasaan. Harusnya kamu jangan pergi sama dia demi kebaikan kamu," Vernan terlihat kecewa dengan Aquila yang lebih memilih Regan.
"Dia baik kok, lo nggak perlu khawatir," Regan tersenyum menang mendengar pembelaan dari Aquila.
Perlahan genggaman Vernan terlepas dari pergelangan tangan Aquila. Tanpa basa-basi, Regan membawa Aquila pergi dari sana. Tanpa berpamitan pada Arnold yang sejak tadi menatap mereka.
Saat sudah di dalam mobil Regan, Aquila memijat tangannya yang merah karena ulah cowok itu. Regan saat marah benar-benar menakutkan, bukan hanya menggunakan wajah dingin tapi juga otot.
"Udah dikasih tau jangan terlalu akrab sama cowok lain," desis Regan masih dengan suara dingin.
"Dia sahabat aku," singkat Aquila.
Ia sangat kesal dengan Regan yang semakin seenaknya pada dirinya, bahkan Regan juga menyakitinya. Ingin sekali ia menangis dan marah pada Regan karena terlalu posesif, tapi ia tidak bisa melakukan itu.
"Coba lihat tangannya," pinta Regan, nadanya masih sama dingin.
"Gak perlu," Aquila memilih untuk memunggungi Regan dengan menatap jendela mobil.
Mereka masih berada di parkiran, Regan ingin memastikan Aquila baik-baik saja. Tidak seperti biasanya Aquila sampai semarah ini, biasanya gadis itu hanya diam menatap ke depan.
Perlahan Regan menarik tangan kanan Aquila yang tadi ia genggam terlalu keras. Tangan putih Aquila terlihat sangat merah dan sedikit memar. Regan menyesali kebodohannya yang membuat Aquila terluka karena ulahnya sendiri.
"Maaf," ucap Regan pelan.
"Gue kelepasan, maafin gue, Aquila," ucap Regan lagi dengan suara yang lembut.
Ini kali pertama Aquila mendengar Regan berbicara dengan begitu lembut padanya. Tidak ada aura dingin seperti biasanya. Akhirnya Aquila menoleh pada Regan. Benar saja, bukan hanya suaranya yang melembut tapi juga tatapan mata tajamnya melembut.
"Yaudah gue maafin, tapi jangan diulang. Sakit tau," Aquila sedikit memanyunkan bibirnya lucu.
Cup.
Bukan pertama kalinya Regan mencium Aquila, tapi kali ini ia mendaratkan bibirnya pada bibir mungil sang gadis. Dan ini kali pertama Aquila mendapatkan ciuman di bibirnya, tentu ia terkejut terlebih lagi itu ciuman pertamanya.
"Aaaaaaa Regan, kok lo cium gue sembarangan sih?" teriak Aquila.
Cup.
Bukannya menjawab, Regan malah kembali memberikan kecupan pada bibir Aquila, yang membuat gadis itu semakin ingin berteriak. Meskipun bukan ciuman yang sesungguhnya tapi bagi Aquila kecupan di bibir adalah ciuman. Dan itu yang pertama untuk dirinya.
"Jangan panggil 'lo gue'. Tetep pake 'aku kamu' kaya biasanya, atau gue bakal kasih tau ciuman yang sesungguhnya," kata Regan dengan suara lirih.
"Loh kenapa? Katanya mau aku lebih akrab ke kamu. Kalo pake 'lo gue' aku ngerasa lebih akrab," jelas Aquila.
"Nggak buat gue, jadi jangan panggil 'lo gue' lagi ke gue. Kalo gak mau gue cium di depan umum," ujarnya santai.
"Harusnya kamu juga ubah dong, jangan 'lo gue' juga. Biar kita imbang," Aquila berbicara dengan menundukkan kepalanya.
"Oke," satu kata dari Regan membuat Aquila mengangkat kepalanya menatap cowok itu.
Regan menyetujui permintaannya dengan begitu mudah. Astaga, mimpi apa dia semalam? Apa iya Regan sekarang sudah berubah menjadi cowok penurut dan lembut dalam sekejap? Aquila mengerjapkan matanya beberapa kali karena masih terkejut dan tidak percaya.
"Mau sampai kapan liatin aku terus kaya gitu, hm?" Regan sengaja mendekatkan wajahnya pada wajah Aquila.
"Eh, em mau kemana kita?" tanya Aquila gelagapan.
Regan tersenyum geli melihat Aquila gelagapan seperti itu, gadis yang selama ini sudah mencuri perhatiannya. Sangat tidak disangka-sangka jika sekarang ia bisa sedekat ini dengan Aquila. Meskipun masih belum mengerti tentang perasaannya sendiri pada Aquila, tapi Regan berusaha untuk terus berada di samping gadisnya.
"Mau ke taman?" tawar Regan.
Maklum Regan belum pernah dekat dengan seorang gadis, ini pertama kalinya ia bisa sedekat ini. Jadi jangan salahkan Regan jika masih kaku untuk pergi bersama. Aquila gadis yang pendiam dan tidak terlalu banyak bicara, berbeda dengan Shereena yang cerewet. Anak itu yang akan menginstruksikan kemanapun mereka akan pergi.
"Em, oke."
Pov Aquila
Astaga, Regan kenapa harus ke taman siang-siang gini? Di sana pasti sepi lah, orang panas gini. Duh, tapi gimana nolaknya dia tuh kaku banget jadi cowok gak kaya yang lain.
Tuh kan sepi banget, mana ada orang mau pacaran di tempat panas gini. Bener-bener deh salah dapat pacar nih aku, harusnya pacar pertama ku cowok yang romantis. Masa pengalaman pertamanya punya pacar gini banget sih.
"Regan, kayaknya kita jangan ke sini deh," kata ku.
"Tadi bilang oke, sekarang mau kemana? Ke mall aja?" tanyanya.
"Pulang aja, aku mau rebahan hehe," jawab ku cengengesan.
Dia hanyalah mendengus kecil karena permintaan ku, mau gimana lagi. Aku tiba-tiba pengen rebahan sambil nyemil atau nonton Drama China. Tapi nanti Regan pulang dong, duh kenapa aku jadi pengen bareng sama dia sih. Ingat Aquila jangan terlalu berharap sama Regan, dia selalu bilang cuma menjaga aja gak lebih. Tapi dia udah cium-cium aku sesuka hati, apa ia dia gak ada perasaan apapun sama aku? Aku bingung harus gimana sama Regan, dia posesif tapi ah udah lah dia gak bisa ditebak.
"Ayo turun, kenapa malah ngelamun," ajaknya.
Aku segera keluar dari mobil Regan, dia gandeng tangan ku lembut banget. Apa ini bisa dikatakan sebatas menjaga aja? Dia sering bertindak layaknya pacar sesungguhnya.
"Aku mau ganti baju dulu, kamu duduk dulu biar aku minta Bibi buatin minum," kata ku lalu pergi dari hadapan Regan.
Aquila, kamu harus sadar diri, jangan terlalu berharap sama Regan. Intinya dia cuma menjaga nggak lebih, jadi jangan pernah menganggap dia lebih dari sekedar teman.
Karena dia anaknya religius, aku gak boleh pakai baju sembarangan di depan dia, bisa-bisa diceramahi. Kaos longgar aja biar simpel, lagian cuma mau liat drama aja. Nanti juga pakai tanktop doang pas Regan udah pulang.
"Astaga," pekik ku.
Regan tiba-tiba aja udah di depan kamar sambil bawa nampan minuman, kenapa dia malah kesini?
Pov author
Regan langsung masuk ke dalam kamar Aquila tanpa permisi, lalu duduk di karpet bulu yang ada di depan TV Aquila. Tanpa berkata apapun, Regan menepuk tempat kosong di sebelahnya, agar Aquila duduk bersamanya di sana.
Aquila sengaja duduk sedikit berjarak dari Regan, tidak tahu kenapa suasana malah menjadi canggung. Keduanya hanya diam tak bersuara satu sama lain, Regan juga hanya diam.
"Kamu gak pulang?" tanya Aquila hati-hati.
"Ngusir?" Regan balik bertanya.
"Enggak, cuma nanya aja. Lagian kamu main masuk kamar tanpa izin," Aquila sedikit gelagapan karena Regan yang tiba-tiba menatapnya dengan jarak begitu dekat.
"Ih jangan deket-deket, aku mau nonton drama. Kalo kamu bosen nunggu pulang aja gapapa," sedikit mendorong bahu Regan agar tidak terlalu dekat dengannya.
Segera Aquila berdiri dan menyiapkan beberapa camilan, minuman, dan laptop untuk mulai menonton. Drama cinta satu ini sangat ia suka, dari semalam ia rela bergadang demi melihat keseruan kisah cinta si perempuan.
"Nonton Penthouse aja seru atau Vincenzo. Jangan drama cinta, nanti kalau ceweknya tersakiti ikut nangis," sindir Regan.
Memang benar jika nonton drama cinta pasti ikut baper, bahkan bisa menangis jika si tokohnya utama tersakiti. Semalam saja Aquila hampir menghabiskan separuh tisu yang ada di kamarnya karena kesal.
"Nggak, ini nanggung tinggal beberapa bab aja," tolak Aquila.
Film sudah dimulai, awalnya memang menyenangkan. Aquila juga asik memakan camilan yang sudah disiapkan dengan mata yang fokus pada laptop. Saat beberapa kali ada adegan ciuman, Aquila sedikit malu karena di sebelahnya Regan juga menonton. Karena filmnya sudah ditonton sejak semalam dan konfliknya sudah dilewati, sekarang hanya adegan romantis yang keluar dan beberapa adegan ciuman tentunya. Bahkan di akhir film ditutup dengan ciuman mesra pasangan itu.
Tiba-tiba Regan menangkup wajah Aquila untuk menghadap pada dirinya, seperti biasa tanpa mengatakan apapun. Regan mencium bibir mungil Aquila, bukan kecupan seperti sebelumnya, tapi benar-benar ciuman seperti yang dilihat dalam drama.
Awalnya Aquila hanya diam tak membalas ciuman Regan, tetapi lama-kelamaan dia juga mulai menikmati dan membalas Regan. Hingga keduanya benar-benar larut dalam suasana yang cukup mendukung.
Cklek.
Pintu kamar Aquila dibuka oleh seseorang yang membuat keduanya menghentikan aktivitas. Ternyata Cherly dan Felicia, keduanya tampak tercengang melihat apa yang dilakukan Aquila dan Regan barusan.
"Eh maaf ya, waktunya gak tepat. Lanjutin aja, kita mau keluar kok," kata Felicia kikuk.
"Iya, lanjut aja, kita mau keluar," Cherly dengan cepat menutup kembali pintu kamar Aquila.
Setelah kedua sahabatnya keluar, Aquila menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia sangat malu sekarang, bisa-bisa kelepasan sampai seperti ini. Untung tadi bukan kakaknya yang memergoki, jika sampai sang kakak bisa habis dia diomeli sampai di-diamin berhari-hari.
"Ck, ganggu aja," dengus Regan.
"Ih untung ada mereka, coba kalo enggak pasti kamu gak akan berhenti," dumel Aquila dengan wajah datar kesal.
"Gak usah cemberut gitu, tadi aja kamu juga bales ciuman aku. Ayo turun, sebelum teman-teman kamu berpikir kita lanjut lagi," ajak Regan lalu membantu Aquila berdiri setelah mematikan laptop.