Karena jam masuk masih cukup lama, Aquila memilih membaca novel yang ia beli beberapa hari lalu. Biasanya ia akan membaca novel di perpustakaan agar tidak ada yang mengganggu, tapi sekarang ada Regan duduk di sampingnya. Semuanya pasti aman terkendali dan ia akan aman sampai guru datang nanti. Selama Aquila menyibukkan diri dengan membaca novel, Regan hanya duduk diam dengan bersedekap d**a. Sangat cocok disebut bodyguard, karena wajahnya yang datar sangat mendukung akan hal itu. Sesekali ia melirik pada Aquila yang tiba-tiba tersenyum, terkekeh, dan bergumam pelan karena kesal terhadap tokoh dalam novel yang ia baca.
Tak lama kemudian bel masuk berbunyi tapi Regan tidak kunjung pergi ke kelasnya, sampai datang seorang guru laki-laki ke dalam kelas Aquila. Barulah Regan keluar dari sana menuju ke kelasnya yang sudah pasti ada guru. Guru yang mengajar di kelasnya selalu datang lebih awal dibandingkan guru-guru di tempat lain. Mungkin karena kelas unggulan jadi para guru sudah berada di luar kelas dua menit sebelum bel masuk.
"Tumben telat?" tanya Arnold.
"Dari kelas Aquila," jawab Regan singkat.
"Kayaknya lo beneran suka deh sama tuh cewek, gak mungkin kalau nggak," kata Arnold berubah serius.
"Mungkin," singkat Regan.
Arnold hanya bisa menghela nafas kasar mendengar jawaban sahabatnya, selalu singkat dan cuek. Padahal ini masalah hati tapi Regan tetap bersikap cuek tentang hal itu. Beberapa kali Arnold pernah bercerita bagaimana rasanya mencintai seseorang yang bukan suara dari keluarga, tetapi pada lawan jenis. Tapi Regan tetap tidak peduli, alasannya hanya karena ingin fokus dengan pendidikan dan keluarganya saja.
Ketika jam istirahat Regan segera pergi ke kelas Aquila, biasanya ia akan pergi ke kantin bersama Arnold. Tetapi sekarang ia harus pergi bersama Aquila untuk menjaga gadis itu. Beruntung kelas Aquila baru saja selesai pelajaran dan guru baru saja keluar dari kelas.
"Hai Regan," sapa seorang gadis yang baru saja keluar dari kelas.
Bukan Regan jika tidak mengacuhkan seseorang yang menyapa dirinya, lelaki seperti Regan yang terkenal dingin tentu saja akan tetap pada pendiriannya. Dia tidak akan berdekatan dengan gadis manapun, kecuali Aquila. Itupun karena dirinya simpati pada gadis yang selama ini hanya diam meskipun selalu diganggu oleh gerombolan siswi nakal. Lagi pula dia tidak akan pergi meninggalkan sahabatnya jika pada akhirnya akan mendapat gangguan. Tujuannya meninggalkan Arnold untuk menjemput Aquila, jadi tidak ada lagi yang akan dia lakukan selain menjemput gadis yang sudah menjadi pacarnya.
“Regan,” panggil Aquila, gadis itu baru saja keluar dari kelas.
“Sudah? Ayok, kita ke kantin.” Regan meraih tangan Aquila dan menggandengnya. Mereka berjalan bersama menuju kantin, menjadi pusat perhatian seluruh murid di sepanjang koridor sekolah.
Di sepanjang jalan menuju kantin Aquila kembali menjadi perbincangan banyak orang karena bersama Regan. Bisikan jahat dan iri dengki terdengar di telinga Aquila juga Regan, mereka selalu berbicara secara terang-terangan. Kebencian yang mereka berikan pada Aquila semakin diperlihatkan. Bahkan mereka juga tidak segan untuk melemparkan candaan untuk mengejek Aquila, yang dianggap tidak sadar diri, karena berani berjalan bersama Regan.
"Hai Aqua, lo cantik banget deh. Pantesan tuh para nenek lampir pada bergosip ria," kata Ali.
"Lo buta atau gak bisa baca?" tegas Regan.
"Aelah si abang mulai ngegas, dasar bucin," goda Revan sambil memainkan sebelah alisnya.
"REVAN!"
Merasa namanya dipanggil, Revan mengalihkan pandangannya pada seorang gadis yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Bisa dilihat wajah cantiknya memancarkan kemarahan, tangan kanannya sudah membawa sapu untuk memukul.
"Eh cantik sini duduk," kata Revan cengengesan.
"Heh lo gak usah pura-pura b**o, sekarang lo ikut gue ke ruang BK. Gara-gara lo tadi naik pagar gue jadi harus berurusan sama guru BK, sini lo," teriak gadis itu.
Dengan cepat gadis itu menarik telinga Revan agar tidak kabur lagi, sebagai anak OSIS dan sahabat dari Revan dia selalu berhadapan dengan guru BK karena ulah sahabatnya itu. Sering kali Revan membuat masalah dan Aeleasha, gadis itu yang harus membantu guru BK untuk memberikan hukuman. Belum lagi jika satu geng yang membuat ulah seperti tawuran atau bolos.
"Ahh sakit sakiiit jangan dijewer entar kuping gue lepas," ringis Revan.
"Gue gak peduli, ayo cepetan jalannya jangan lelet," dengus Aeleasha.
"Gini amat gue punya sahabat osis, gak pernah ada dispensasi kalo ngelakuin kesalahan," Aeleasha tidak memperdulikan ocehan dari Revan karena itu sudah biasa.
Setelah mengantarkan Aquila pulang dengan selamat Regan segera pergi ke tempat latihan, ia akan mengikuti turnamen karate dalam waktu dekat. Jadi akhir-akhir ini ia harus pulang terlambat karena harus latihan terlebih dulu. Seperti biasa Arnold sebagai sahabat baiknya selalu menemani Regan dalam hal apapun, sampai dia rela ikut bergabung dengan pelatihan bela diri untuk menemani Regan. Persahabatan keduanya benar-benar kuat meskipun banyak yang berusaha merusak kedekatan mereka.
"Ahh capek banget gue, gue numpang aja pulangnya sama lo. Biar motor gue di sini, gue gak sanggup nyetir kayaknya capek banget," kata Regan dengan nafas tersengal-sengal ia duduk bersandar pada pundak Arnold.
"Ya udah temenin gue ke mall dulu entar gue langsung anterin pulang. Gue mau beli pesenan Mama," ujar Arnold.
"Oke," setuju Regan.
Mereka segera pergi ke mall untuk mencari apa yang Mama Arnold butuhkan, seperti biasa saat memasuki mall banyak yang memperhatikan keduanya. Apalagi style yang cool dengan masker hitam yang tidak pernah ketinggalan.
"Sialan, cewek-cewek ganjen banget," dengus Arnold, ketika ada seorang gadis sengaja berjalan dengan jarak yang sangat dekat.
Bukan kali pertama para gadis sengaja berjalan sangat dekat dengan mereka, setiap kali pergi ke mall dan beberapa tempat lainnya. Regan tetap bersikap santai berjalan tanpa peduli padahal mereka, tapi tidak untuk Arnold yang mudah risih jika ada yang berusaha mendekati dirinya di depan umum.
"Eh itu cewek lo sama siapa?" Regan mengalihkan perhatiannya pada sosok gadis yang tengah tertawa dengan seorang laki-laki.
Tanpa disadari ia mengepalkan tangannya kuat-kuat lalu berjalan menjauh dari sana. Arnold yang menyadari hal itu segera berlari ke arah Regan, ia tahu Regan kesal melihat gadis itu bersama lelaki lain. Apalagi mereka tampak akrab dan tertawa bersama.
"Gue tau lo suka sama dia, tapi lo gak mau ngaku," sindir Arnold.
"Gue cuma jagain aja gak lebih, lagian dia bukan tipe gue. Udah cepet cari barang pesenan Mama lo."
Arnold menggelengkan kepalanya acuh, percuma bicara dengan Regan yang keras kepala dan tidak mau memperdulikan apapun kecuali keluarganya. Antara gengsi atau tidak tertarik pada gadis, Regan selama ini selalu menolak saat ada gadis yang mendekatinya.