6

1025 Words
"Kita mampir ke rumah Bima dulu ya? Aku mau kasih sarapan buat mereka," pinta Aquila. "Pacar sendiri nggak dibuatin sarapan," sindir Regan. Aquila memilih untuk diam, tidak mau membalas sindiran Regan. Ini masih pagi, jadi harus menghindari hal-hal yang merusak mood-nya. Selama perjalanan menuju rumah Bima, keduanya hanya diam. Tidak ada suara sedikitpun kecuali suara ponsel Aquila yang beberapa kali berbunyi karena ada pesan masuk. "Ayo, turun," ajak Regan ketika mereka sudah sampai dan Aquila masih sibuk dengan ponselnya. Baru akan mengetuk pintu, ternyata sudah terbuka dulu. Terlihat Bima sudah siap dengan karung yang biasa dibawa untuk pergi memulung. "Bima mau kemana?" tanya Regan. "Bima mau cari rongsokan kak, buat makan hari ini," jawab anak itu, wajahnya terlihat biasa saja dan tersenyum. Regan memegang dadanya yang terasa sesak, ia benar-benar merasa bersalah dan kasihan pada Bima. Anak seusia ini seharusnya sedang asyik bermain dan belajar. "Ini kakak udah bawain makanan, kamu jangan kerja dulu ya. Soalnya kaki kamu kan masih sakit," kata Aquila. Bima menggeleng, kepalanya mulai tertunduk dan air mata mulai berjatuhan membasahi pipinya. "Hei? Kenapa nangis?" tanya Regan, seraya menepuk pelan pundak Bima. "Bima malu sama kakak," jawabnya dengan suara serak. "Kenapa harus malu? Kita gak pernah memandang rendah kamu kok. Lagian kita kesini karena udah kewajiban, karena kamu sakit seperti ini gara-gara kakak. Ayo, sekarang kita masuk ke dalam," ajak Regan. Mereka masuk ke dalam rumah Bima, terlihat sepi seperti kemarin. Bibi tampak masih tidur lelap di atas alas karung. Pemandangan yang benar-benar miris bagi Regan dan Aquila yang selama ini tinggal berkecukupan di rumah yang layak. "Bibi, ayo bangun," panggil Bima sambil menggoyang-goyangkan badan adiknya. "Euh, masih ngantuk," lenguh anak itu. "Bangun, ada kakak cantik," bisik Bima, membuat Bibi langsung membuka kedua matanya lebar. Anak itu langsung tersenyum lebar saat melihat keberadaan Aquila dan Regan. "Haii," sapa Aquila sambil melambaikan tangannya. Bibi langsung beranjak dan menghampiri Aquila, anak itu tersenyum ceria melihat kedatangan Aquila dan Regan. Setelah Bibi membersihkan diri, Aquila menyajikan makanan yang ia bawa untuk keluarga kecil itu. Ia cukup senang karena kejadian kemarin bisa membuatnya sadar, jika masih ada banyak orang yang memiliki hidup lebih menderita dari dirinya. Sekarang Aquila juga lebih banyak bersyukur dengan hidupnya yang selama ini selalu ia pikir banyak kekurangan. "Kakak harus pergi ke sekolah dulu, nanti kapan-kapan kita ke sini lagi. Kakak pamit ya," ujar Regan seraya mengelus pelan puncak kepala Bima dan Bibi bergantian. "Iya, makasih banyak ya kak," ucap kedua anak itu. Rumah Bima cukup jauh dari sekolah mereka, dan jalanan hari ini cukup padat. Alhasil membuat Regan dan juga Aquila terlambat, membuat keduanya harus mendapatkan hukuman. "Kalian bapak hukum membersihkan taman belakang sekolah," kata guru piket. "Baik pak, terima kasih," ucap Regan. Guru laki-laki itu cengo dengan ucapan terima kasih Regan, bisa-bisanya murid mendapatkan hukuman malah berterima kasih. Biasanya mereka akan menawar. "Kok terima kasih, biasanya kan kamu nawar?" tanya Pak Bambang heran. "Pak, yang itu Regan. Revan belum datang," beritahu Aeleasha. "Oh, Regan. Pantesan sopan banget, ya udah sana kamu sama pacar kamu bersihkan taman belakang," kata Pak Bambang. Regan dan Aquila segera pergi ke taman belakang, mereka tidak diawasi oleh OSIS seperti murid yang lainnya. Karena keduanya anak baik, sudah pasti akan menjalankan hukuman dengan baik. Taman belakang sekolah cukup luas, namun tidak terlalu banyak tanaman. Di sana hanya ada satu pohon besar, sedikit semak-semak, dan tanaman bunga. Sisanya hanya rerumputan hijau yang cukup luas, tak lupa ada satu bangku panjang. Regan begitu rajin menyapu dedaunan yang berserakan, sedangkan Aquila menata pot-pot bunga yang tidak tertata. Ia juga membuang daun-daun kering yang ada pada batang bunga. "Cie yang pertama kali dihukum, malu ya pasti," ejek seseorang. "Iya, percaya deh sama yang tiap hari dihukum. Pasti udah gak punya malu ya," balas Regan sinis. "Ck, sialan lo bang," dengus Revan. Plakk! "Disuruh bersihin gudang sekolah malah ngejek abang lo. Gak malu lo, hah?" semprot Aeleasha setelah memukul belakang kepala Revan. "Ck, iya-iya," dengan kesal Revan segera pergi ke gudang dengan menggandeng tangan Aeleasha. "Gara-gara nurutin lo, gue jadi telat," celetuk Regan. "Ya maaf, kan aku juga kan tahu kalau kita bisa telat. Orang niatnya cuma nganterin makanan," ujar Aquila. "Untung pacar, kalo bukan udah gue tinggal masuk kelas lo," kata Regan sambil menyapu sisa-sisa daun yang belum ia sapu. "Pacar-pacar, pacar pura-pura ya," peringat Aquila. Regan langsung menghentikan gerakan sapunya, menatap datar Aquila yang sibuk dengan bunga. "Ya udah, lo aja yang selesaikan semua ini. Kan gue telat gara-gara lo, PACAR PURA-PURA!" kata Regan dengan menekan kalimat akhirnya. "Eh, jangan gitu dong. Kan kita telat bareng jadi harus dihukum bareng kan, pacar," ujar Aquila. "Tau ah, gue jadi bad mood," Regan melepaskan sapu yang ia pegang, lalu hendak beranjak pergi. Aquila panik saat Regan semakin menjauh, ia langsung berlari dan memeluk Regan dari belakang. Membuat cowok tinggi itu berhenti berjalan dan tersenyum. "Jangan tinggalin aku, aku takut di sini sendirian. Gimana kalo nanti ada yang gangguin?" ujar Aquila pelan. Regan berbalik, lalu berbalas pelukan Aquila dengan begitu erat. Gadis mungil di depannya ini benar-benar membuatnya merasa nyaman. Tidak seperti perasaannya pada gadis-gadis lain yang sedikitpun tidak ada rasa. "Ehem, malah peluk kaya Teletubbies. Itu hukuman belum selesai," itu suara Aeleasha, selaku OSIS yang bertugas mengawasi murid-murid yang dihukum. "Ck, ganggu!" dengus Regan, dengan berat hati ia melepaskan pelukan Aquila karena harus melanjutkan hukuman. Pagi ini Aquila menjadi perhatian seluruh sekolah, pasalnya ia sudah tidak berdandan seperti biasanya lagi. Kecantikan yang dimiliki benar-benar membuat semua orang terpana, apalagi senyum manis di wajahnya sangat mengagumkan. Tapi meskipun sudah cantik tetap tidak akan ada cowok mendekatinya, karena mereka tidak mau berurusan dengan Regan. Lagian Aquila pasti akan menolak yang lain karena sudah memiliki Regan yang sempurna. "Ih, jadi tontonan seantero sekolah, aku malu," cicit Aquila. Grepp! Tanpa basa-basi Regan langsung merangkul Aquila, perlakuan Regan tentunya tidak lepas dari tatapan orang yang ada di sekitar mereka. Ada teriakan dan bisikan yang dilontarkan para siswi, terutama pada Aquila. Tak sedikit juga yang menghina gadis itu karena dirangkul oleh si most wanted. Regan tak berhenti melepaskan rangkulannya pada Aquila sampai mereka tiba di kelas Aquila. Dia juga tidak keluar dari sana karena belum bel masuk, seperti janjinya di awal jika akan menjaga Aquila dengan baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD