Regan dan Aquila pun masuk mengikuti Bima. Rumah itu sangat kumuh, dan ada bau seperti bahan bakar. Keduanya melihat sekeliling, ada tiga lampu yang dinyalakan dengan minyak tanah.
Tak berselang lama, seorang anak kecil berusia sekitar sepuluh tahun keluar. Anak itu tampak kaget melihat Bima dengan kaki yang diperban.
"Kakak kenapa?" tanya anak itu dengan suara bergetar menahan tangis.
"Kakak nggak apa-apa kok, ini cuma luka sedikit saja," jawab Bima dengan tersenyum agar adiknya tidak khawatir.
"Bima adik kamu di sini sendirian?" tanya Aquila.
"Enggak, Kak. Bibi sama ayah. Ayah Bima sakit dari dua minggu lalu, jadi Bima kerja sendirian nggak sama Bibi," jawab Bima.
Aquila terdiam, ia sedikit melirik Regan yang terlihat diam dengan mata memerah.
"Ayah kamu sakit apa?" tanya Regan, suaranya begitu pelan.
"Nggak tahu, Kak. Bima nggak bisa bawa ayah ke dokter. Soalnya kita nggak punya uang, dan uang yang Bima punya setiap harinya cuma cukup buat makan ayah sama adik Bima. Kalau Bima sendiri makan dari warung setelah bantu cuci piring," jelas anak itu.
Mata Regan semakin merah dan memanas mendengar cerita dari Bima. Anak yang masih begitu kecil namun sudah harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup.
"Kakak mau bawa ayah Bima periksa ke dokter, boleh?" tanya Regan dengan tatapan hangat.
Anak itu menggeleng pelan, lalu tersenyum sebelum akhirnya menjawab, "Jangan, Kak, Bima nggak mau merepotkan kakak."
"Gak papa kok, kakak nggak merasa direpotkan. Kakak ikhlas mau bantu kamu dan ayah kamu, siapa tahu setelah ayah kamu sembuh nanti, kamu sama adik kamu bisa sekolah lagi," jelas Regan.
Mendengar kata sekolah membuat Bima tak bisa menahan air matanya lagi. Anak itu mendekati Regan dan memeluknya erat. Regan membalas pelukan Bima dengan sayang.
"Kakak bawa ayah Bima ke rumah sakit dulu ya?" tanya Regan sekali lagi. Bima pun mengangguk dengan air mata yang masih menetes deras.
"Kamu ke rumah sakit sendiri ya? Aku mau di sini jagain Bima sama adiknya," ujar Aquila.
Regan mengangguk. "Sekalian bersih-bersih ya sayang, biar nanti kalau aku pulang bisa langsung istirahat," kata Regan sembari mengeringkan matanya genit.
"Ish, apa-apaan sih," dengus Aquila.
Regan pergi ke rumah sakit hanya berdua dengan ayah Bima. Sedangkan Aquila membantu membersihkan rumah yang begitu berantakan dan kotor. Dengan telaten, Aquila menyapu dan mengepel lantai dengan kain.
Setelah semuanya dirasa bersih, Aquila mengajak Bibi untuk pergi belanja bahan makanan. Karena tidak ada minimarket terdekat, akhirnya mereka pergi ke sebuah warung yang tak jauh dari sana.
"Eh, Bibi, mumpung kamu di sini, bilang sama bapak kamu utangnya buruan dibayar," kata ibu penjaga warung dengan wajah tak suka.
"Ayah Bibi lagi sakit, Bu," kata Bibi dengan kepala tertunduk.
"Ck, ya sudah bilang sama kakak kamu. Suruh lunasi utang bapak kamu, saya tuh butuh uang buat beli barang yang kurang di warung," kata ibu itu mulai ketus.
"Eh, ibu jangan gitu dong sama anak kecil," ujar Aquila.
"Jangan kayak gitu, jangan kayak gitu. Kalau nggak gitu uang saya nggak akan balik, Mbak," sentak ibu itu.
"Ya sudah ibu, tinggal sebutin berapa hutangnya biar saya bayar langsung sekarang," kata Aquila mulai kesal.
"Dua ratus tiga puluh lima ribu lima ratus, cepetan sini bayar," kata ibu pemilik warung ketus.
Aquila langsung mengeluarkan dompetnya dari dalam tas. Mengambil uang seratus ribuan delapan, lalu segera diserahkan sama ibu.
"Ini, sisanya tolong kasih bahan makanan ya," kata Aquila dengan sopan.
Ibu pemilik warung langsung mengambil uang itu dengan cepat, lalu segera memberikan belanjaan dengan bahan makanan cukup lengkap. Ada beras, mie instan, telur, kecap, garam, dan macam-macam bumbu lainnya.
"Kakak maafin ya, tadi kakak dimarahin sama ibu warung," ujar Bibi merasa bersalah.
"Gak papa kok, sudah jangan sedih. Ayo cepetan jalannya biar nanti kita bisa masak bareng," ajak Aquila dengan wajah ceria.
Saat sampai di rumah Bibi, Aquila segera masuk dan duduk di lantai. Berjalan dengan membawa belanjaan cukup menguras tenaga, belum lagi sinar matahari hari yang cukup terik.
"Capek ya?" tanya Regan yang baru keluar dari kamar ayah Bima.
Aquila mengangguk pelan. Regan tersenyum tipis lalu mendekati gadis itu. Regan sudah mendengar cerita tadi dari Bima kalau Aquila membersihkan seluruh rumah.
"Gue masak dulu, setelah itu kita pulang ya? Lo istirahat aja di sini," kata Regan lembut seraya mengelus pelan puncak kepala Aquila.
Niat Regan masak gagal, karena kompor di rumah Bima sudah tidak ada. Mereka terpaksa menjual kompor untuk kebutuhan sehari-hari. Jadinya Regan memilih untuk membeli makanan di luar.
"Makannya dimakan ya, besok kalau ada waktu kakak kesini lagi buat jenguk kalian. Ayah kalian lagi tidur, nanti kalau sudah bangun suruh makan dan minum obat ya? Kakak harus pulang dulu," kata Regan.
"Iya kak, terima kasih banyak ya kakak sudah mau bawa ayah ke rumah sakit," ucap Bima.
"Bibiii, sini peluk. Kakak mau pulang," panggil Aquila.
Bibi langsung merentangkan tangannya untuk memeluk Aquila. Anak itu terlihat sangat senang saat bersama Aquila.
"Kakak cantik, makasih banyak ya. Bibi sayang sama kakak cantik," ucap Bibi dengan tulus.
"Sama-sama sayang, kakak juga sayang sama Bibi. Kakak pulang dulu ya? Kapan-kapan kakak kesini lagi," kata Aquila begitu lembut.
Dalam perjalanan pulang, Regan sedikit gelisah karena bundanya terus mengirim pesan. Bahkan setelah mengantarkan Aquila pulang, Regan masih belum bisa tenang. Ia lupa kalau hari ini tidak pergi ke sekolah bersama-sama Aquila. Pasti kedua adiknya sudah melaporkan hal yang tidak-tidak, terlebih Rain. Anak itu pasti menghasut bundanya untuk memarahi sang kakak.
"Kenapa bolos? Kamu ini, bolos sekolah malah asik pacaran kamu ya?" tanya Renatha dengan wajah garang.
"Pasti pacaran tuh Bun, kan bolosnya bareng Aquila," celetuk Rain.
"Iya Bun, pasti pacaran tuh makanya nggak sekolah. Wah ini namanya Abang memberikan contoh tidak baik untuk adik-adiknya," ujar Revan memanas-manasi.
"Bun, tadi Regan nggak niat mau bolos—"
"Gak niat bolos, cuma niat nggak masuk sekolah aja," potong Rain, membuat Regan mendelik memperingati adiknya itu.
"Tadi Regan sudah jalan ke sekolah kok Bun, cuma di perjalanan terjadi suatu musibah. Jadi Regan nggak bisa lanjut pergi ke sekolah," ujar Regan.
"Musibah apa?" tanya Renatha ketus.
"Regan nggak sengaja nyerempet seseorang. Jadi Regan bawa dia ke rumah sakit dulu. Terus abang anterin pulang, dan ternyata di rumahnya ayahnya dia juga lagi sakit. Jadi abang bawa ke rumah sakit juga, soalnya kasihan mereka nggak punya biaya buat berobat. Di sana Aquila juga bantuin mereka beres-beres rumah yang kotor dan berantakan. Terus Regan juga beli makanan dulu buat mereka, soalnya Bima anak yang Regan serempet nggak bisa cari uang," jelas Regan panjang lebar.
Mendengar penjelasan dari Regan membuat Revan dan Rain buru-buru kabur ke kamar masing-masing. Sedangkan Renatha sudah meneteskan air mata terharu.
"Anak bunda yang paling ganteng, sini peluk," kata Renatha.
Regan langsung memeluk sang ibu. Regan tahu ibunya pasti juga merasa kasihan pada Bima jika ia menceritakan semuanya.