Regan menatap lembut Aquila yang masih menangis di sebelahnya. Wanita itu benar-benar terlihat kacau, dengan wajah memerah karena terlalu banyak menangis. Bahkan dia menolak untuk makan siang karena tidak mau berpisah dari Regan. "Aquila, nih makan. Kasihan anak lo, dia pasti laper." Arnold datang dengan makanan yang ia beli sebelum kerumah Regan. "Sayang, makan ya? Anak pasti laper." pinta Regan, seraya mengelus pelan pipi Aquila. Mendengar perkataan Regan begitu lembut membuat Aquila mengangguk. Arnold membuang nafas kesal, pasalnya ia terjebak sendirian menyaksikan keromantisan Regan dan Aquila. Namun ia masih sabar menemani keduanya di dalam ruangan itu, dengan berpura-pura tidak terjadi apapun. Regan terus menatap Aquila yang sibuk makan dengan lahap. Padahal tadi wanita itu menol

