“Mau yang itu!”
“Oke.”
“Itu juga, Pak!”
“Biru atau pink?”
“Biru!”
“Tidak mau pink?”
“Norak. Saya nggak mau, Pak!”
Pak Frivan singgah di stan yang menjual gantungan kunci. Pria itu berinteraksi dengan penjualnya lalu membeli dua gantungan kunci yang berbentuk huruf V.
Pria itu menatap ke depan dan langsung geleng-geleng kepala. Vella sudah berada jauh di depan melihat pernak-pernik lainnya. Pak Frivan memutuskan untuk menyusul gadisnya itu sembari berdoa semoga saja pulang dari sini dompetnya tidak kosong.
Mereka kini berada di pantai. Anggap saja ini kencan pertama. Pak Frivan memutuskan untuk memilih pantai untuk kencan pertamanya dengan sang mahasiswi di malam hari karena jarang mahasiswa HU yang ada di sekitar sini. Lokasinya pun juga jauh dari hiruk-pikuk kota. Membutuhkan waktu dua jam lebih untuk sampai di pantai itu. Mereka berdua tadi berangkat jam setengah empat sore karena Vella ingin menikmati sunset.
Jam setengah delapan, mereka makan malam. Setelah makan malam di restoran seafood dengan pemandangan malam pantai, Pak Frivan mengajak gadis itu jalan-jalan di pinggir pantai sembari melihat barisan stan pernak-pernik yang berjejer agak jauh dari bibir pantai.
Sepatu putih Vella sudah basah dan dimasuki pasir karena gadis itu keras kepala tak ingin melepas sepatunya saat main di pinggir pantai padahal Pak Frivan sudah memperingatkannya. Asyik bermain, Vella tak sadar debur ombak lumayan keras hingga menghantam sepatunya.
Pak Frivan yang memperhatikan gadis itu sampai panik ketika mendengar teriakan lantang dari Vella.
“Tuhkan! Saya, ‘kan, sudah bilang kalau mau main di bibir pantai, tuh, sepatunya dilepas!” kesal Pak Frivan sembari membuka sepatu gadis itu.
Vella mencebik. “Kaos kaki kesayanganku,” gumamnya menatap kaos kaki birunya yang sudah berwarna kehitaman karena pasir.
“Ish, anak ini! Malah perhatiin kaos kakinya!” gerutu Pak Frivan.
Pria itu menyeret Vella ke penjual sandal jepit. Bahkan proses membelinya pun Pak Frivan harus bersabar.
“Sendalnya sisa warna pink aja, Novella. Pakai yang itu memangnya kenapa, sih?” tanya Pak Frivan mengambil napas panjang.
“Udah saya bilang, Pak, warnanya norak!” Vella masih keras kepala.
“Masalahnya cuma warna ini yang tersisa. Stan yang jual sendal juga cuma ini,” ucap Pak Frivan gemas.
Vella mencebik menatap sendal berwarna pink itu dan bergidik ngeri. Dia menatap model sendal lainnya. Semuanya sama saja. Sama-sama warna pink. Vella jadi kesal sendiri. Kenapa tak ada yang menyisakan warna lain padanya? Sudah cukup warna kamarnya yang pink, barang-barang yang nempel di tubuhnya jangan.
“Yang ini aja, ya?” bujuk Pak Frivan.
Belum sempat Vella membantah, bapak penjual sendal langsung menyeletuk.
“Mas ini bapaknya cewek ini, ya? Awet muda, ya. Rahasianya apa, sih, Mas?”
Keduanya langsung mengangkat alis aneh.
“Kami ini pacaran!” ujar Vella dan Pak Frivan bersamaan.
Giliran penjual sendal yang mengangkat alis.
===
Vella masuk ke kamarnya dengan senyum yang terus terpatri di bibir mungilnya. Dia meletakkan tasnya di atas meja riasnya dan langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Mata gelapnya menatap langit-langit kamarnya. Gadis itu mendengus tersenyum, teringat dengan perdebatannya dengan Pak Frivan mengenai sandal pink. Omong-omong, sendal itu Vella taruh di lantai bawah karena pasir pantai masih menempel di sana.
“Sepatu gue!”
Vella langsung terbangun kala mengingat nasib malang sepatunya itu. Astaga, sepatunya itu sekarang ada di mana? Seingatnya, tadi Pak Frivan yang membukakan sepatunya lalu mereka langsung membeli sendal.
“Mungkin Pak Frivan bawa. Moga aja,” gumam Vella.
Gadis itu beringsut dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi, membasuh wajahnya dan mengganti pakaian.
Setelah itu, Vella mengambil ponselnya dari dalam tas yang dibawanya tadi. Sembari mengoleskan krim malam di wajahnya, Vella mengambil charge dan menyambungkannya ke ponsel dan stopkontak.
Layar ponselnya langsung menyala dan menampilkan angka 25% sedang mengisi di bagian sudut kanan atas.
Namun, tampilan notif yang sempat muncul di bagian atas menarik perhatian Vella. Berhubung karena dia tetap menyalakan data ponselnya, semua pesan w******p tetap masuk.
Vella membuka grup Lambe HU yang sepertinya sangat ramai.
Jasmine: Potek hati gue?
Yeri: Udah sold out, ya?
Mira: Gue nggak terima pokoknya!
Della: Pak Fri gue?
Melihat nama Pak Frivan tertera di sana, Vella kembali men-scroll ke atas. Sebuah kiriman foto dari Unkyong.
Unkyong: *foto
Unkyong: Guys, apakah arti dari insta story ini T_T
Vella membuka foto itu dan langsung menahan senyum. Dia baru tahu kalau ternyata Pak Frivan sembunyi-sembunyi memotret dirinya saat sunset.
Sebuah foto yang menampakkan wajah Vella dari samping. Wajah Vella tak terlihat karena kamera berfokus pada matahari. Pak Frivan juga sepertinya sengaja karena ingin privasi untuk hubungan mereka. Anak rambut Vella yang berkibar karena semilir angin memperindah tampilan foto itu.
Jantung Vella berdegup kencang ketika melihat caption yang ditaruh Pka Frivan di sudut bawah.
To be my wife.
Vella menutup mulutnya tak menyangka. Apa Pak Frivan serius? Vella bahkan belum berpikir sejauh itu.
“Ahh!” ringis Vella tak sanggup menahan rasa aneh dalam dadanya
Gadis itu mengipasi wajahnya yang serasa dijalari hawa panas. Vella menatap wajahnya di cermin. Dia menangkup pipinya dan tersenyum sendiri.
Yeri: Beruntung banget, tuh, cewek.
Mira: Mukanya nggak kelihatan aja, gue udah bisa ngerasain kalo tu cewek cantik banget.
Jasmine: Nggak peduli cantik atau nggak. Kalau gue ketemu sama cewek itu, bakal gue labrak abis-abisan. Berani-beraninya mengambil apa yang menjadi milik bersama!
Unkyong! Gue dukung, Mi!
Della: Btw, gue udah ngerti kenapa nama Ig Pak Frivan gitu.
Jasmine: napa?
Della: Kemungkinan si Vel itu inisial pacarnya Pak Frivan.
Jasmine: Bakal gue cari dia sampai ke ujung bumi!
Vella menatap ponselnya dengan horor. Dia meletakkan ponselnya itu ke meja dan bergidik ngeri. Astaga, Jasmine dan konco-konconya di grup Lambe emang barbar bener. Dia nggak tahu saja kalau orang yang mau dilabrak habis-habisan adalah temannya sendiri.
Vella teringat perkataan Pak Frivan beberapa hari yang lalu saat menyatakan perasaannya. Pria itu bilang sudah menyukai Vella sejak ketemu. Mungkin itu penyebab dari nama i********: Pak Frivan sekarang.
‘Vel' adalah singkatan dari namanya.
Semoga saja Jasmine tidak menyadarinya.
Beberapa saat kemudian, Vella kembali mengecek ponselnya. Dia suka melihat fotonya dijadikan story oleh Pak Frivan. Ketika membuka beranda Instagramnya, tampak ada DM yang baru saja masuk.
Vella tersenyum senang ketika itu DM dari Pak Frivan.
vanxvptrvel: *foto
“Lah, sepatu gue!” pekik Vella, “untung aja dibawa sama Pak Frivan,” sambungnya lega.
nov_starillo: Makasih, Pak. Untung saja bawa. Kaos kaki saya juga ada, kan?
vanxvptrvel: Tidak. Saya buang soalnya bau.
nov_starillo: PAK!
vanxvptrvel: Bercanda. Ada di sini, kok, sudah saya cuciin.
nov_starillo: Makasih, Pak?
vanxvptrvel: Btw, saya serius dengan caption di insta story saya?
Vella langsung mematikan ponselnya. Dia kini disibukkan dengan cetakan jantung yang menggila.
===
Vella menunduk menahan senyum ketika Pak Frivan beserta rombongan dosen lainnya melewati mejanya dan teman-temannya. Masuk jam istirahat, dia dan genk-nya langsung ngacir ke kantin. Yaya masih sementara memesan makanan ketika Pak Frivan lewat. Pria itu hanya menatap Vella sekilas lalu meneruskan langkahnya.
Tatapan sejenak saja sudah membuat Vella harus menopang senyum, bagaimana kalau pria itu menatapnya lama. Vella langsung ambyar di tempat. Rasanya juga masih seperti mimpi. Dosen yang paling sering dikata-katainya kini jadi pacarnya.
“Senyum-senyum sendiri lo. Ada apa?” tegur Sheva.
Vella langsung mendongak. “Ng? Nggak, kok. Mikirin sesuatu aja, kebetulan lucu,” dalihnya.
“Apa? Ceritain, dong! Gue lagi butuh lawakan, nih,” ucap Jasmine tak bersemangat.
“Napa lo?” tanya Aldo melirik Jasmine.
Jasmine tak langsung menjawab. Gadis itu menatap Pak Frivan yang duduk di meja agak jauh dari mereka. Helaan napas gadis itu terdengar kasar. “Pak Frivan udah sold out,” ujarnya lemah.
“Lah, lo kira Pak Frivan barang apa? Pake kata sold out segala!” cibir Bian.
“Kemarin gue lihat insta story Pak Frivan. Foto cewek. Hati gue sakit lihatnya,” ujar Jasmine tak menghiraukan Bian.
Aldo geleng-geleng kepala menatap Jasmine dengan simpatik. Tangannya bergerak menepuk pundak Jasmine dengan pelan.
“Lo, sih. Kalau nge-fans sama orang, tuh, jangan terlalu diresapi juga kali! Gini, kan, hasilnya. Lo malah galau,” komentar Haira.
“Ck, lagipula Pak Frivan itu dosen sementara kita mahasiswa,” decak Sheva.
Vella hanya diam menunduk. Gadis itu masih menahan senyumnya sembari memainkan sendok.
“Lo yang udah punya pacar enak ngomong gitu,” cemberut Jasmine.
“Lah? Apa hubungannya?” tanya Sheva heran.
“Yaa ... pokoknya ada!”
“Yaudah, cari aja pacar sana!”
“Males!”
“Ngapain mau nyari lagi? Lo tinggal pilih, Aldo atau Bian?” tawar Haira usil.
Jasmine langsung bergidik ngeri. “Kalau mereka berdua, gue rela perawan seumur hidup.”
“Ngehina banget lo!” teriak Aldo dan Bian bersama.
Semuanya tertawa melihat wajah dua cowok itu. Hanya Vella yang tetap sibuk memainkan sendok dan senyum-senyum sendiri.
“Senyum mulu, Vel. Lo lagi mikirin apa?” tegur Yaya yang sudah datang dengan satu bakul. Pelayan lain datang membawa satu bakul lagi.
“Eh?” Vella mengerjap bingung.
“Iya, Vel. Mikirin apa, sih? Dari tadi juga diam-diam aja,” tegur Jasmine kepo.
“Nggak apa-apa, kok.”
“Jangan-jangan lo udah pacar?” tuding Sheva.
“Apaan, sih?”
“Siapa? Kak Agam?” tanya Haira menggebu-gebu.
Vella lantas berdecak. “Gue nggak punya pacar.”
Yaya yang baru saja ingin menahan bola bakso masuk dalam mulutnya langsung menahannya. Gadis itu menatap Vella datar.
“Lo yakin?” tanyanya dengan suara dalam.
Vella melirik ke arah lain sembari menggaruk ujung alisnya. “Yakin,” ucapnya kikuk.
Yaya mengangguk pelan dan memasukkan bakso ke dalam mulutnya.