bc

Gairah di Balik Naskah

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
revenge
contract marriage
family
heir/heiress
drama
tragedy
city
office/work place
lies
like
intro-logo
Blurb

“Menangislah yang cantik, Hanaelle. Kamera sedang merekam kita.”

Napas Nathaniel menyapu telinganya, sementara tangan pria itu merengkuh pinggangnya dengan posesif. Sempurna. Satu ciuman kilat di depan wartawan, dan saham perusahaan mereka kembali melonjak.

Terikat dalam kontrak pernikahan rahasia, Hanaelle pikir, bertahan dalam pernikahan tanpa cinta bersama aktor papan atas Nathaniel Wiraatmaja adalah bentuk pengorbanan terbesarnya. Semua ia lakukan demi melunasi hutang mendiang ayahnya. Di luar, ia dipuja sebagai The Nation's Sweetheart. Di rumah, ia tak lebih dari properti hidup yang harus menoleransi sikap dingin suaminya dan asisten pribadi sang suami yang bertingkah bak nyonya rumah.

Sampai sebuah dokumen usang dari masa lalu mengungkap kebenaran yang mengerikan. Perusahaan ayahnya tidak bangkrut. Ayahnya dihancurkan, didorong menuju kematian, dan dalang di balik semua itu adalah keluarga pria yang setiap malam memeluknya.

Hanaelle memutuskan untuk tidak lari. Sebaliknya, ia memoles senyum termanisnya dan mulai bermain api. Ia akan menggodanya, memanipulasinya, dan menghancurkan Nathaniel tepat di puncak kejayaannya.

Namun, saat sang suami menyadari perubahan istrinya, pria itu tidak marah... ia justru semakin menuntut dan mengurungnya dalam gairah yang menyesakkan. Di panggung sandiwara berdarah ini, siapa yang akan hancur lebih dulu?

chap-preview
Free preview
1. The Nation's Sweetheart
PLAK! Suara tamparan itu memutus kebisingan red carpet, membungkam sorak-sorai ribuan penggemar dalam sekejap. Kepala Nathaniel terlempar ke samping. Rambutnya yang tertata rapi berantakan menutupi mata, dan kulit rahangnya yang tegas perlahan memerah hebat. Hening. Ribuan penggemar menahan napas. Kamera paparazzi yang biasanya berisik kini hanya mematung, merekam momen paling skandal tahun ini. Hanaelle tidak langsung meracau. Ia berdiri di sana, telapak tangannya masih terasa panas dan berdenyut—sebuah sensasi kepuasan yang terlarang. Ia menatap suaminya dengan binar mata yang terlalu liar, ada benci yang tumpah di sana. Nathaniel tidak bergerak selama lima detik. Ia hanya diam, membiarkan rasa sakit itu menjadi tontonan nasional. Lalu, perlahan, Hanaelle mulai gemetar. Bukan gemetar kemarahan, tapi ketakutan yang mencekam. Matanya melotot, menyapu kerumunan fotografer seolah-olah ada monster yang bersembunyi di balik lensa mereka. “Dia di sini...” bisik Hanaelle parau, nyaris tak terdengar namun tertangkap jelas oleh mikrofon di kerah gaunnya. “Dia datang untuk membunuhku! Nathan, dia ada di sana!” Hanaelle mencengkeram jas mahal Nathaniel, meremasnya hingga kusut, sementara air mata mulai menggenang di sudut matanya. Tepat saat seorang penjaga keamanan hampir melompat ke panggung, seorang asisten berlari mendekat dengan langkah anggun, menyodorkan sebuah botol parfum kaca berwarna hitam legam dengan aksen emas yang mewah. “Cut! Perfect!” Teriak suara sutradara dari pelantang suara, memecah ketegangan yang hampir meledak itu. “The Fragrance of Obsession—Wangi yang menghantui hingga kewarasanmu hilang. Ambil shot wajah Nathaniel saat memerah tadi, itu sangat nyata! Golden moment!” Tepuk tangan meledak. Sorak-sorai kembali membahana, lebih keras dari sebelumnya. Publik tertipu mentah-mentah oleh sebuah promosi parfum yang dikemas dalam drama kegilaan sang aktris utama. Hanaelle memejamkan mata, mengatur napasnya yang masih memburu. Namun, hanya dalam hitungan detik, aura gelap itu menguap. Ia membuka mata, dan yang tersisa hanyalah binar lembut. Dengan gerakan yang sedikit kaku karena malu, Hanaelle menundukkan kepala—memberikan 90-degree bow yang sopan berkali-kali ke arah kerumunan. Ia menyatukan kedua telapak tangannya di depan d**a, lalu melambaikan tangan kecil ke arah penggemar dengan senyum simpul yang tampak sedikit canggung, seolah ia baru saja tersadar bahwa ribuan pasang mata sedang menonton kegilaannya. Publik kembali menjerit histeris. Mereka memuja kontras itu—bagaimana seorang wanita selembut Hanaelle bisa berakting sebuas itu demi sebuah karya. Genggaman Nathaniel di pinggang Hanaelle terasa dingin, seolah sedang menyentuh marmer. Di bawah ribuan flash kamera wartawan dan sorakan histeris para penggemar yang terus membanjiri karpet merah, Hanaelle, sang The Nation's Sweetheart, tersenyum lebar. Senyum itu sempurna, hasil latihan berjam-jam di depan cermin, dirancang untuk memenangkan hati publik dan yang lebih penting, menjaga saham agensi raksasa di mana ia terikat. Gaun couture berwarna safir yang memeluk tubuh rampingnya terasa seperti jubah pengekang—indah di luar, namun menyesakkan di dalam. “Mereka pasangan serasi tahun ini!” jerit seorang reporter wanita dengan mikrofon berlapis emas. “Nathaniel terlihat sangat posesif dan mencintai Hanaelle!” timpal yang lain. Nathaniel, aktor berbakat dengan reputasi dingin namun dikagumi karena bakat aktingnya yang brutal. Lelaki itu, menunduk sedikit, bibirnya membentuk senyum tipis—eksklusif, seolah hanya diperuntukkan bagi Hanaelle seorang. Di bawah tatapan publik, mereka adalah couple goals, pasangan impian yang membuat jutaan manusia percaya pada dongeng Hollywood. Namun, hanya Hanaelle yang melihatnya ketika otot rahang Nathaniel mengeras di balik senyumnya setiap kali kilatan kamera mengambil jeda. Genggaman posesif di pinggangnya adalah sebuah penanda wilayah bisnis—bukan sentuhan penuh kasih dari seorang suami. Nathaniel tidak sedang melindunginya—dia sedang menjaga aset bernilai miliaran rupiah milik keluarganya. Di pinggir karpet merah, sedikit tersembunyi dari kerumunan utama, Vivian berdiri. Asisten pribadi Nathaniel—sekaligus sutradara bayangan di rumah mereka—mengawasi dengan mata elang. Ekspresinya netral, tapi Hanaelle bisa menangkap kilatan kepuasan di matanya setiap kali Nathaniel berakting mesra. Vivian adalah penjaga gerbang, memastikan sandiwara ini berjalan sesuai naskah. Seorang wartawan menyodorkan mikrofon. “Nyonya Hanaelle! Apa rahasia pernikahan bahagia Anda dengan Tuan Nathaniel yang terkenal dingin? Anda berhasil meluluhkan hatinya!” Hanaelle tertawa kecil, “Nathaniel sebenarnya sangat perhatian. Dia hanya... menjaga privasinya dengan baik.” Sebuah kalimat klise yang ia hapal di luar kepala. Nathaniel yang seolah mendapat isyarat, dia merespons dengan anggukan kepala dan tatapan mata yang dalam ke arah Hanaelle, persis seperti adegan di drama romantis terbarunya. Publik bersorak, akting mereka sempurna. Beberapa menit kemudian, mereka dipisahkan oleh arus kerumunan. Hanaelle sempat bertemu dengan seorang produser lama yang menanyakan kondisi ayahnya, sebuah ingatan pahit yang berhasil ia tepis dengan senyuman. Di sisi lain, Nathaniel tampak menerima telepon. Wajahnya yang dingin semakin membeku. Dari jarak beberapa meter, Hanaelle bisa mendengar nada perintah dari seberang saluran. Rosalind, ibu Nathaniel sekaligus CEO agensi, pasti sedang memberikan instruksi. Tidak ada kehangatan keluarga di sana, hanya urusan bisnis yang dingin. Momen puncak pun tiba. Pembawa acara mengumumkan pemenang kategori Pasangan Paling Berpengaruh Tahun Ini. “Dan pemenangnya adalah... Nathaniel Wiraatmaja dan Hanaelle Chandra!” Lampu sorot tunggal menghantam mereka berdua. Sorak sorai membahana. Mereka berjalan ke panggung. Nathaniel meraih tangan Hanaelle, kali ini dengan sedikit lebih banyak tekanan, memastikan cincin berlian di jari manis Hanaelle terlihat jelas oleh kamera. Tepat sebelum mikrofon dinyalakan, saat kepala mereka berdekatan untuk pose, Nathaniel berbisik dengan desisan rendah yang hanya didengar Hanaelle, “Aktingmu malam ini meyakinkan. Saham kita naik dua poin.” Hanaelle merasakan perutnya melilit. Ia membalas bisikan itu dengan senyum yang dipaksakan, “Aku senang bisa melayani perusahaanmu dengan baik, Tuan Wiraatmaja.” Di panggung, mereka berterima kasih kepada penggemar, sponsor, dan keluarga tercinta. Semua naskah sempurna, semua kebohongan terindah yang pernah diucapkan di televisi nasional. Begitu pintu mobil limusin hitam tertutup rapat—memutus kontak dengan dunia luar, keheningan mematikan langsung mengambil alih. Topeng mereka jatuh. Hanaelle segera menarik tangannya dari genggaman Nathaniel. Ia mengambil tisu dari konsol tengah dan menyeka bekas ciuman pipi paksa dari Nathaniel. Gerakannya cepat, jijik, seolah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor. Nathaniel tidak peduli. Ia menyalakan iPad-nya, cahaya biru dari layar memantul di wajahnya yang tanpa ekspresi, “Gaunmu tadi terlalu terbuka di bagian punggung. Lain kali minta Vivian pilihkan yang lebih tertutup. Kita menjual citra istri yang anggun, bukan vamp.” Hanaelle menatap pria di sebelahnya dengan tatapan kosong, “Setidaknya kau bisa menunggu sampai aku tidur sebelum membawa asisten pribadimu itu ke kamar kita semalam.” Suaranya tenang, tapi ada amarah yang tertahan di sana. Nathaniel mengangkat pandangannya dari layar, alisnya terangkat, “Vivian adalah aset perusahaan, pengatur jadwalku, bukan selingkuhan murahan seperti yang ada di kepalamu. Dia memastikan jadwal kemesraan kita berjalan optimal. Jangan berfantasi berlebihan.” “Dia tidur di kamar tamu, tepat di sebelah kamarku, Nathan!” “Itu permintaan Rosalind untuk efisiensi waktu,” potong Nathaniel dingin, “Lagipula, kita ini terikat kontrak, Hanaelle. Jangan lupakan batasan. Kau melakukan tugasmu sebagai istri kontrak, aku melakukan tugasku sebagai suami kontrak. Sesederhana itu. Jangan melibatkan perasaan konyol.” Hanaelle merasakan dadanya sesak. Ia memegang dadanya sejenak, mencoba mengambil napas dalam-dalam. Tangannya sedikit tremor saat ia mencoba membuka botol air mineral. Hal kecil yang ia sembunyikan dari semua orang, tanda awal dari tekanan saraf yang mulai menggerogoti, “Aku tahu batasan itu, Nathaniel! Aku hanya lelah berakting dua puluh empat jam sehari.” “Itu bayaranmu,” jawab Nathaniel datar, ia kembali fokus pada iPad-nya. Rumah mereka bukanlah sebuah rumah. Itu adalah sebuah museum megah, atau lobi hotel mewah tanpa jiwa. Dekorasi minimalis bernilai jutaan dolar, tapi tidak ada satu pun foto masa kecil Hanaelle, bahkan tidak ada kenangan yang dipajang. Semuanya steril, dingin, dan dikontrol ketat oleh Rosalind. Vivian menyambut mereka tepat di depan pintu utama. Sebuah power move yang menunjukkan bahwa dia adalah pemilik rumah yang sebenarnya, sementara Hanaelle hanya tamu VIP yang menginap. “Selamat, Tuan Nathaniel, Nyonya Hanaelle. Penghargaan ini akan mendongkrak saham kita di kuartal depan,” kata Vivian dengan profesional. Ekspresinya merendahkan, meskipun dibalut dengan keramahan palsu. “Terima kasih, Vivian,” jawab Nathaniel. Vivian kemudian menyodorkan sebuah binder tebal, “Jadwal untuk besok, Nyonya. Sesi pemotretan Pasangan Paling Romantis dimulai tepat pukul tujuh pagi. Fitting busana pukul lima pagi.” Hanaelle menatap jadwal padat itu dengan nanar. Mereka baru saja bertengkar hebat, dan besok pagi harus berakting mesra lagi. Dunia ini gila, “Baik.” “Oh iya, Tuan Nathaniel, Nyonya Rosalind meminta Anda untuk menemaninya makan malam pribadi. Jam sembilan malam di ruang makan utama,” tambah Vivian, kali ini fokus pada Nathaniel. Hanaelle merasa muak dengan kontrol ini, dengan jadwal yang diatur, dengan Vivian yang selalu ada di mana-mana. Tapi ia harus tetap berakting di depan Vivian. Ia hanya mengangguk, pamit undur diri ke kamarnya—kamar tidurnya yang terpisah, sebuah detail penting dari kontrak pernikahan palsu mereka. Di dalam kamar, Hanaelle melemparkan gaun safirnya ke lantai. Ia masuk ke kamar mandi, membersihkan riasan tebal di wajahnya, membiarkan air mata bercampur dengan maskara dan foundation. Setelah merasa sedikit tenang, ia kembali ke kamar tidurnya. Kamar itu rapi, dan bersih. Ia duduk di meja rias antik peninggalan pemilik rumah sebelumnya, satu-satunya benda yang terasa memiliki sejarah. Tangannya meraih laci untuk mengambil krim malamnya. Namun, sesuatu yang bukan miliknya terselip di sudut belakang laci. Sebuah amplop kecil berwarna cokelat, yang sudah usang. Hanaelle mengerutkan kening, ini pasti milik Rosalind yang tertinggal saat mengecek kamar ini. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Hanaelle membuka amplop itu. Isinya bukan surat cinta, bukan pula kontrak bisnis. Namun, secarik foto lama dan secarik kertas dari laporan polisi. Foto itu adalah foto ayahnya—terlihat tersenyum bahagia di depan sebuah pabrik kecil. Laporan polisi itu berisi detail tentang kecelakaan yang menimpa pabrik ayahnya, kecelakaan yang merenggut nyawa ayahnya tepat sebelum agensi milik keluarga Nathaniel mengakuisisi perusahaan ayahnya dengan harga murah. Hanaelle membandingkan tanggal di laporan dan tanggal akuisisi. Ada kejanggalan besar di sana. Sebuah firasat dingin merayap di tulang punggungnya, kematian ayahnya mungkin bukan kecelakaan biasa.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
200.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.1K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
42.7K
bc

Kali kedua

read
220.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
20.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook