2. Sutradara Iblis

1576 Words
Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu kamar Hanaelle tepat pukul 04.30 pagi bukan sekadar pengingat waktu—melainkan bunyi lonceng eksekusi. Di rumah ini, privasi adalah kemewahan yang tidak tertulis dalam kontrak. Tanpa menunggu jawaban, Vivian melangkah masuk dengan tablet di tangannya dan dua orang asisten yang membawa deretan gaun tidur sutra seharga mobil kelas menengah. Hanaelle masih terduduk di tepi ranjang, jari-jarinya meremas amplop cokelat yang ia temukan semalam. Dengan gerakan kilat, ia menyelipkan dokumen itu di bawah bantal tepat saat lampu kamar dinyalakan secara paksa oleh Vivian. “Satu jam untuk skin preparation, Nyonya! Fotografer untuk kampanye Home Sanctuary sudah tiba di lantai bawah,” ucap Vivian datar, tanpa intonasi emosi. “Tuan Nathaniel sudah berada di pusat kebugaran sejak pukul empat. Dia mengharapkan Anda tampil segar, bukan dengan kantung mata seperti itu.” Hanaelle mendongak, menatap bayangan dirinya di cermin besar di hadapannya. Rambutnya berantakan, matanya merah karena kurang tidur, dan kulitnya pucat pasi. Ia tampak seperti hantu yang terjebak di dalam istana kaca, “Apa Nathaniel tahu kau selalu masuk ke kamarku tanpa izin, Vivian?” Vivian berhenti menggeser layar tabletnya. Ia menatap Hanaelle melalui pantulan cermin, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang menghina, “Tuan Nathaniel yang memberikan kode akses kamar ini padaku, Nyonya. Di rumah ini, tidak ada rahasia bagi manajemen. Sekarang, silakan mandi. Kita tidak punya waktu untuk drama pagi hari.” Hanaelle mengepalkan tinjuannya di balik selimut. “Tidak ada rahasia,” Kalimat itu terngiang seperti ancaman. Jika tidak ada rahasia, apakah mereka tahu tentang dokumen kematian ayahnya? Apakah pernikahan ini benar-benar sebuah jeratan untuk membungkamnya selamanya? Dua jam kemudian, ruang makan utama berubah menjadi set film. Pencahayaan buatan dipasang di sudut-sudut ruangan untuk menciptakan kesan cahaya matahari pagi yang hangat dan alami. Nathaniel duduk di kursi kepala meja, mengenakan kemeja linen putih yang kancing atasnya dibuka, memamerkan citra suami yang santai namun berkelas. Di depannya tersedia kopi hitam dan roti panggang yang tidak akan pernah ia makan—semuanya hanya properti. Hanaelle datang mengenakan gaun tidur satin berwarna sampanye, dipadukan dengan outer transparan yang senada. Ia berjalan mendekat, dan sesuai naskah yang diberikan Vivian sepuluh menit lalu, ia harus mengecup dahi Nathaniel sebelum duduk di sampingnya. Cup. Kulit Nathaniel terasa panas, berbanding terbalik dengan tatapan matanya yang sedingin es saat mereka bertatapan di sela-sela jepretan kamera. “Bagus! Sekarang, Tuan Nathaniel, tolong genggam tangan Nyonya Hanaelle dan tertawalah seolah dia baru saja menceritakan lelucon lucu,” Instruksi fotografer itu dengan antusias. Nathaniel meraih jemari Hanaelle. Saat itulah, tremor itu kembali, tangan Hanaelle bergetar halus—Nathaniel merasakannya. Alih-alih memberikan simpati, Nathaniel justru mempererat genggamannya dengan kasar, memaksa tangan Hanaelle untuk diam agar tidak merusak fokus kamera. “Tersenyum, Hana!” bisik Nathaniel di balik giginya yang terkatup rapat dalam tawa palsu. “Kau gemetar seperti amatiran. Ingat berapa nilai kontrak iklan ini.” “Tanganku sakit, Nathan!” desis Hanaelle, sambil tetap mempertahankan senyum manis di wajahnya untuk kamera. Siang harinya, ketenangan rumah itu pecah oleh kedatangan tamu yang tidak diundang. Rosalind Wiraatmaja masuk ke ruang kerja dengan langkah yang mengintimidasi, diikuti oleh seorang pria pria berambut gondrong berantakan dengan jaket kulit kusam yang tampak sangat berbanding terbalik dengan kemewahan kantor tersebut. “Hanaelle, Nathaniel, duduk!” perintah Rosalind. Suaranya adalah hukum. Nathaniel yang sedang menyesap wiski di siang hari langsung meletakkan gelasnya. Hanaelle, yang baru saja selesai mengganti pakaian, duduk di sofa seberang suaminya. “Ini Cassian Velaede!” Rosalind memperkenalkan pria itu dengan nada yang hampir menyerupai peringatan. “Dia akan menyutradarai proyek film besar agensi kita tahun ini, The Mirror. Dan kalian berdua adalah pemeran utamanya.” Hanaelle tersentak. Cassian Velaede, dia adalah sutradara jenius yang dikenal karena metode penghancuran karakter. Dia tidak pernah membuat film romantis biasa—setiap karyanya adalah otopsi psikologis terhadap para aktornya. Cassian tidak duduk, dia berjalan mengelilingi ruangan, menyentuh barang-barang mahal di sana dengan ekspresi jijik, lalu berhenti tepat di depan Hanaelle. Ia menatap Hanaelle begitu lama hingga Hanaelle merasa seolah pria itu sedang membedah lapisan kulitnya. “The Nation's Sweetheart,” gumam Cassian dengan suaranya serak dan berat. “Wajah yang sangat cantik. Tapi aku tidak butuh wajah cantik. Aku butuh jiwa yang rusak.” Nathaniel mendengus, “Kau mendapatkan aktor terbaik di negeri ini! Jangan bicara soal jiwa. Berikan naskahnya, dan kami akan memerankannya.” Cassian tertawa, tawa yang terdengar mengejek. “Kau pikir ini akting, Nathaniel? Film ini tentang sepasang suami istri yang saling membenci di balik pintu tertutup, namun harus berpura-pura bahagia di depan dunia. Kedengarannya familiar?” Keheningan seketika mencekik ruangan itu. Hanaelle merasakan jantungnya berdegup kencang. Apakah Cassian tahu? Ataukah Rosalind yang sengaja memilih tema ini untuk menguji mereka? “Aku tahu kalian sudah menikah selama dua tahun,” lanjut Cassian sambil menyalakan rokok di dalam ruangan ber-AC, mengabaikan tatapan tajam Rosalind. “Tapi di mataku, kalian tidak terlihat seperti pasangan. Kalian terlihat seperti dua orang yang sedang menunggu giliran untuk saling menikam dari belakang. Dan itulah yang aku inginkan di layar.” “Cassian akan membawa kalian ke sebuah lokasi syuting terisolasi di pegunungan selama tiga bulan,” Rosalind memotong, suaranya dingin dan mutlak. “Tanpa kru pribadi, anpa manajer, dan tanpa asisten. Termasuk kau, Vivian.” Vivian, yang berdiri di pojok ruangan, tampak terkejut, “Tapi Nyonya, jadwal mereka—” “Jadwal mereka adalah milik Cassian selama tiga bulan ke depan,” tegas Rosalind. “Saham kita sedang goyah karena rumor keretakan rumah tangga kalian mulai tercium media. Film ini akan menjadi jawaban sekaligus bukti bahwa kalian adalah pasangan paling solid. Jika kalian gagal memerankan peran ini dengan jujur, kontrak kalian berakhir, dan kalian tahu konsekuensinya.” Hanaelle menelan ludah. Konsekuensinya berarti kehilangan akses ke pengobatan ibunya yang berada di panti jompo eksklusif, dan mungkin, keselamatannya sendiri. Malam itu, setelah pertemuan yang menegangkan, Hanaelle sedang mengemas barang-barangnya saat Nathaniel masuk ke kamarnya. Ini adalah pertama kalinya dalam berbulan-bulan Nathaniel masuk tanpa alasan pekerjaan. “Jangan berpikir ini adalah kesempatan untuk mendekatiku,” kata Nathaniel sambil bersandar di pintu. “Lokasi syuting itu akan menjadi neraka. Cassian bukan sutradara biasa. Dia akan mencoba memancing emosi kita.” Hanaelle berhenti melipat pakaiannya. Ia menatap suaminya dengan berani, “Kenapa kau begitu takut? Bukankah kau aktor hebat? Kau hanya perlu berpura-pura membenciku. Itu harusnya mudah bagimu, karena kau memang membenciku di dunia nyata.” Nathaniel mendekat, langkahnya pelan dan mengancam. Ia mencengkeram dagu Hanaelle, memaksanya menatap mata gelapnya, “Kau tidak mengerti, Cassian tidak menginginkan kepura-puraan. Dia menginginkan darah. Dan dia akan menggali rahasia yang paling ingin kau sembunyikan. Jadi, pastikan mulutmu tetap terkunci tentang apa pun yang terjadi di rumah ini.” Hanaelle melepaskan cengkeraman Nathaniel, “Rahasia apa? Tentang bagaimana kau lebih memilih asistenmu? Atau tentang bagaimana ibumu memanipulasi kematian ayahku?” Plak! Nathaniel tidak memukulnya, tapi ia menghantamkan tangannya ke lemari di samping kepala Hanaelle dengan keras hingga kayu jati itu berderit. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Hanaelle. “Jangan pernah sebut soal ayahmu lagi jika kau ingin melihat ibumu tetap hidup,” desis Nathaniel dengan intonasi yang begitu rendah hingga terasa seperti getaran maut. Hanaelle terpaku, oksigen di sekitarnya seolah menghilang. Ancaman itu nyata, Nathaniel tahu tentang dokumen itu? Ataukah dia bagian dari konspirasi itu sejak awal? Nathaniel berbalik dan keluar dari kamar, lalu membanting pintu dengan keras. Hanaelle terduduk lemas di lantai. Tremor di tangannya semakin hebat sekarang, ia merasa kepalanya berdenyut seolah akan pecah. Hanaelle merangkak menuju laci nakas, mencari botol obat penenang yang disembunyikannya. Dengan tangan gemetar, ia menelan dua butir sekaligus tanpa air. Saat ia mencoba mengatur napas, matanya menangkap sesuatu di bawah ranjangnya. Sebuah benda kecil berwarna hitam, kamera pengintai. Jantung Hanaelle hampir berhenti. Ia menatap kamera kecil yang tersembunyi dengan sangat rapi itu. Siapa yang memasangnya? Rosalind? Vivian? Atau Nathaniel? Ia menyadari satu hal—rumah ini bukan hanya panggung, tapi penjara dengan ribuan mata. Dan besok, ia akan dibawa ke penjara yang lebih terisolasi lagi bersama pria yang mungkin adalah musuh terbesarnya. Hanaelle merangkak kembali ke tempat tidur, meringkuk seperti janin. Di dalam kegelapan, ia mulai berbisik pada dirinya sendiri—sebuah mantra yang diajarkan ayahnya dulu agar ia tetap kuat. Namun, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. “Aku adalah Hanaelle... Aku adalah Hanaelle...” Namun, bayangan di cermin kamarnya seakan sedang tersenyum miring—seolah identitas itu bukan lagi miliknya. Esok paginya, sebuah mobil jemputan hitam tanpa logo perusahaan tiba. Cassian Velaede sendiri yang menyetir. Hanaelle dan Nathaniel masuk ke dalam mobil dalam diam. Tidak ada lambaian tangan untuk media, atau pun senyum untuk penggemar, yang ada hanya mereka bertiga. Saat mobil mulai bergerak meninggalkan gerbang besar kediaman Wiraatmaja, Cassian melirik melalui kaca spion tengah. Matanya bertemu dengan mata Hanaelle yang tampak hampa. “Kalian tahu apa hal terbaik dari cermin yang retak?” tanya Cassian tiba-tiba, memecah keheningan yang menyesakkan. Tidak ada yang menjawab. “Cermin yang retak menunjukkan banyak versi dari dirimu,” lanjut Cassian dengan nada riang yang mengerikan. “Dan aku tidak sabar untuk melihat versi mana yang akan hancur lebih dulu di antara kalian berdua.” Mobil terus melaju menuju pegunungan yang diselimuti kabut tebal. Di belakang mereka, Vivian berdiri di depan gerbang, menatap mobil itu menghilang dengan senyum yang tidak bisa diartikan. Di tangannya, ia memegang ponsel yang menampilkan siaran langsung dari kamera pengintai di kamar Hanaelle—menampilkan rekaman semalam saat Hanaelle menemukan kamera itu. Vivian menekan tombol hapus pada rekaman tersebut, lalu bergumam pelan, “Selamat datang di babak kedua, Hanaelle. Semoga kau tidak gila sebelum filmnya selesai.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD