3. Labirin Kabut

1325 Words
Mobil hitam itu mendaki tanjakan curam yang seakan tidak berujung. Di kanan-kiri mereka, ada hutan pinus yang rapat diselimuti kabut tebal—menyembunyikan jurang yang menganga seperti mulut monster. Semakin tinggi mereka mendaki, semakin tipis oksigen yang terasa di paru-paru Hanaelle. Atau mungkin, itu hanya efek dari kecemasan yang kian mencekik? Nathaniel duduk di sampingnya, tubuhnya kaku, matanya menatap ke depan seolah sedang mencoba fokus menghitung setiap batang pohon yang mereka lewati. Sejak ancaman di kamar semalam, mereka tidak bertukar sepatah kata pun. Kehadiran Cassian di kursi kemudi, yang sesekali bersiul mengikuti irama lagu klasik yang melankolis dari radio, hanya menambah kesan sureal pada perjalanan ini. “Kita sampai,” ujar Cassian tiba-tiba. Vila itu muncul dari balik kabut, bangunan bergaya kolonial dengan dinding batu yang ditumbuhi lumut, jendela-jendela besar tampak seperti mata yang sedang mengawasi. Suasananya begitu sunyi, hingga suara detak jantung Hanaelle terdengar memekakkan telinga. “Selamat datang di The Mirror,” Cassian turun dan membuka pintu untuk Hanaelle sambil tersenyum. “Di sini, tidak ada pelayan, tidak ada sinyal ponsel, dan yang paling penting, tidak ada The Nation's Sweetheart. Hanya ada kau, Nathaniel, dan kebenaran yang kalian sembunyikan.” Hanaelle turun dengan langkah gontai. Udara dingin pegunungan langsung menusuk kulitnya, menembus jaket wol yang ia kenakan. Nathaniel menyusul, membawa koper mereka sendiri—pemandangan yang sangat langka bagi aktor sekelas dia. Begitu mereka masuk, pintu besar di belakang mereka tertutup dengan dentuman berat yang menggema di seluruh aula. “Aturan pertama,” Cassian berdiri di tengah ruangan yang hanya diterangi cahaya remang-remang dari perapian. “Mulai detik ini, kalian adalah Elara dan Julian. Pasangan yang sudah menikah sepuluh tahun, yang saling membenci karena sebuah pengkhianatan yang tak pernah termaafkan. Jika aku mendengar kalian berbicara sebagai Hanaelle atau Nathaniel, kalian kehilangan jatah makan malam.” Nathaniel mendengus, “Kami tahu cara bekerja! Jangan berlebihan.” “Oh, Julian...” Cassian mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Nathaniel. “Ini bukan bekerja. Ini adalah pembedahan. Dan aku adalah dokternya.” Sore itu, syuting dimulai tanpa persiapan. Tidak ada makeup artist, tidak ada penata cahaya. Cassian hanya memegang kamera kecil di bahunya, mengikuti mereka berkeliling vila yang luas dan menyeramkan itu. “Adegan satu: Makan siang dalam keheningan,” instruksi Cassian. Hanaelle duduk di meja makan kayu yang panjang. Di depannya ada sepiring sup dingin. Nathaniel duduk di ujung meja yang lain. Jarak di antara mereka terasa seperti samudera. “Mulai!” Hanaelle mencoba memasukkan sendok ke mulutnya, tapi tangannya kembali tremor. Getarannya kali ini lebih hebat dari biasanya. Sendok perak itu berdenting pelan saat beradu dengan porselen. Ia melirik Nathaniel, berharap pria itu setidaknya menunjukkan sedikit empati dalam karakter Julian, namun Nathaniel hanya menatapnya dengan pandangan muak yang begitu alami. “Kau bergetar lagi, Elara,” kata Nathaniel, suaranya dingin, masuk ke dalam karakter Julian dengan sangat mulus. “Apa kau takut aku meracuni supmu? Seperti kau meracuni hidupku selama sepuluh tahun ini?” Hanaelle tertegun. Dialog itu tidak ada di naskah awal yang ia baca, Nathaniel melakukan improvisasi yang sangat personal. “Aku tidak meracuni hidupmu,” sahut Hanaelle, mencoba menenangkan tangannya. “Kau yang memilih untuk tinggal di penjara ini bersamaku karena kau terlalu pengecut untuk kehilangan hartamu, Julian.” “Hartaku?” Nathaniel tertawa sinis, berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Hanaelle. Langkah kakinya terdengar seperti detak jam kematian. “Satu-satunya hartaku yang hilang adalah waktuku yang terbuang bersamamu. Kau hanyalah pajangan yang retak, Elara. Dan setiap kali aku melihatmu, aku diingatkan betapa palsunya setiap inci dari kulitmu.” Nathaniel kini berdiri tepat di belakang Hanaelle, tangannya perlahan membelai leher Hanaelle. Namun, itu bukan belaan kasih sayang. Jemarinya menekan urat nadi di leher Hanaelle, cukup kuat untuk membuat Hanaelle merasa tercekik. “Cut!” teriak Cassian. “Luar biasa! Tensi itu... itu yang aku mau. Nathaniel, kau sungguh membencinya, bukan? Dan Hanaelle, matamu menunjukkan ketakutan yang sangat nyata. Teruskan!” Begitu kamera mati, Nathaniel melepaskan tangannya seolah baru saja menyentuh bara api. Ia berpaling tanpa kata. Hanaelle terengah-engah. Ia merasa dunia di sekitarnya mulai berputar, ia butuh obatnya sekarang. Malam harinya, Hanaelle mengunci diri di kamar mandi. Ia merogoh saku jaketnya, mencari botol obat penenang yang semalam ia ambil. Namun, saat jemarinya meraba dasar saku, ia hanya menemukan kekosongan. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia merogoh saku lainnya. Tetap kosong. “Tidak, tidak, tidak...” bisiknya panik. Ia mulai membongkar seluruh isi kopernya. Baju-baju mahal berserakan di lantai, namun botol kecil itu tidak ada. “Apakah jatuh di mobil? Atau... apakah Nathaniel mengambilnya?” Tiba-tiba, penglihatannya mulai kabur. Garis-garis di dinding kamar mandi seolah mulai bergerak, meliuk-liuk seperti ular. Ia melihat ke cermin, dan untuk sesaat, ia tidak melihat wajahnya sendiri. Ia melihat wajah wanita lain—Elara, karakter dalam film itu—yang sedang tersenyum padanya dengan ekspresi yang sangat jahat. “Hanaelle?” Suara Nathaniel terdengar, di susul dengan sebuah ketukan di pintu. “Kau di dalam?” Hanaelle tidak bisa menjawab, lidahnya terasa kelu. Ia mencoba meraih wastafel, tapi tangannya justru menyenggol gelas kaca hingga jatuh hancur berkeping-keping. Pintu didobrak dari luar. Nathaniel muncul dengan wajah yang awalnya tampak kesal, namun ekspresinya berubah menjadi horor saat melihat Hanaelle. Hanaelle terduduk di lantai di tengah pecahan kaca. Matanya terbuka lebar, namun pupilnya tidak fokus. Ia mulai mencakar lengannya sendiri hingga meninggalkan bekas merah yang perih. “Hana! Berhenti!” Nathaniel menerjang maju, menangkap tangan Hanaelle. “Apa yang kau lakukan? Mana obatmu?” Hanaelle menatap Nathaniel, tapi ia tidak melihat suaminya. Ia melihat bayangan gelap yang mencoba menariknya ke dalam jurang. “Jangan sentuh aku, Julian! Kau membunuh ayahku! Kalian semua membunuhnya!” Nathaniel membeku, “Ini aku, Nathaniel. Bukan Julian. Hana, sadarlah!” Namun, disosiasi itu sudah menguasai sepenuhnya. Hanaelle tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat asing dan menyeramkan. “Panggungnya sudah siap, Nathan. Lihat... ayah sedang menonton di sudut ruangan.” Nathaniel menoleh ke sudut kamar mandi yang kosong, merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia segera menggendong Hanaelle yang mulai meronta, membawanya ke tempat tidur. Tubuh Hanaelle mulai dingin, dan napasnya pendek-pendek. Ini bukan sekadar akting—sarafnya sedang mengalami breakdown total. Tiba-tiba, Cassian muncul di ambang pintu, masih memegang kameranya, merekam setiap detik penderitaan itu dengan ekspresi puas yang gila. “Keluar dari sini, Cassian! Dia sakit!” teriak Nathaniel marah. “Ini adalah seni, Nathaniel,” sahut Cassian tenang. “Jangan ganggu prosesnya.” Nathaniel mengabaikan Cassian dan mencoba mencari tas medis di laci, namun ia menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan. Di bawah tumpukan naskah milik Cassian, ada sebuah botol obat yang sangat familiar—itu adalah botol obat milik Hanaelle. Nathaniel mengambilnya, namun ia menyadari labelnya telah diganti. Di sana tertulis: Placebo - Vitamin B12. Seseorang telah menukar obat penenang dosis tinggi milik Hanaelle dengan vitamin biasa sejak mereka masih di rumah. Inilah mengapa kondisi Hanaelle memburuk dengan sangat cepat, dan inilah alasan di balik kegilaannya yang mendadak. Hanaelle tiba-tiba berhenti meronta. Tubuhnya mendadak kaku, matanya terbelalak menatap langit-langit, dan cairan putih mulai keluar dari sudut bibirnya. “Hana! Hana, jangan tutup matamu!” Nathaniel mengguncang bahu Hanaelle, namun istrinya itu tidak merespons. Di saat yang sama, ponsel lama yang tersembunyi di dalam laci—ponsel yang harusnya tidak memiliki sinyal—bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Nathaniel meraih ponsel itu dengan tangan gemetar. Pesan itu berbunyi: “Peran Istri Mati akan memberikan kita rating tertinggi, bukan? Selesaikan aktingmu, Nathaniel. Vivian sedang menunggu di rumah.” Nathaniel menatap layar ponsel, lalu menatap Hanaelle yang sudah tidak bernapas di pelukannya, dan kemudian menatap Cassian yang masih terus merekam dengan senyum kemenangan. Tiba-tiba, lampu di seluruh vila padam total. Dalam kegelapan yang pekat, suara bisikan Hanaelle terdengar sangat dekat di telinga Nathaniel, padahal wanita itu seharusnya sudah tak sadarkan diri: “Nathan... apakah ini bagian dari naskahmu juga?” Dan saat Nathaniel menyalakan senter ponselnya ke arah tempat tidur, Hanaelle sudah menghilang. Hanya ada pecahan kaca yang berceceran di atas sprei putih yang kini ternoda oleh noda darah berbentuk telapak tangan kecil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD