Kegelapan di vila itu tidak sekadar hitam—ia terasa padat, seperti cairan kental yang menyumbat pori-pori kulit. Nathaniel berdiri mematung di samping ranjang yang kini kosong. Jantungnya berdentum begitu keras hingga ia bisa merasakannya di ujung jari yang gemetar. Senter dari ponselnya menyapu sprei putih yang kusut. Bercak darah berbentuk telapak tangan kecil itu masih di sana, basah dan berkilat, seolah-olah pemiliknya baru saja ditarik paksa ke dalam kegelapan oleh tangan tak terlihat.
“Hana?” suara Nathaniel pecah, nyaris menyerupai bisikan ketakutan.
Tidak ada jawaban. Hanya suara derit kayu tua dari langit-langit vila dan embusan angin yang menyelinap masuk melalui celah jendela, membawa aroma tanah basah dan pinus yang memuakkan.
Nathaniel berbalik, menyorotkan cahaya ke arah pintu. Cassian Velaede sudah tidak ada di sana. Sutradara gila itu menghilang bersama kameranya seolah ia hanya bayangan yang menumpang lewat. Nathaniel merasakan kemarahan yang membakar mulai mengambil alih rasa takutnya. Ia meremas botol obat palsu di tangannya—vitamin yang ditukar untuk menghancurkan kewarasan istrinya.
“Cassian! Sialan kau, keluar!” teriak Nathaniel, suaranya menggema di sepanjang koridor luar yang panjang dan sepi.
Ia melangkah keluar, langkah kakinya menciptakan bunyi gedebuk yang berat di atas lantai kayu jati. Vila ini terasa berbeda dalam kegelapan. Lorong-lorongnya seolah memanjang, pintu-pintunya tampak seperti deretan nisan yang berjajar rapi. Nathaniel memeriksa kamar demi kamar, namun yang ia temukan hanyalah ruangan-ruangan kosong dengan furnitur yang ditutupi kain putih, tampak seperti sekumpulan hantu yang sedang duduk menunggu.
Langkahnya terhenti di depan sebuah pintu ganda di ujung koridor lantai dua. Ruang musik. Dari balik pintu itu, sayup-sayup terdengar suara denting piano. Sebuah melodi klasik yang sangat dikenal Nathaniel—Nocturne in E-flat Major karya Chopin. Lagu kesukaan ayah Hanaelle.
Nathaniel mendorong pintu itu perlahan.
Ruangan itu luas, dengan jendela-jendela besar yang menghadap langsung ke arah hutan yang diselimuti kabut perak di bawah cahaya bulan. Di tengah ruangan, duduk seorang wanita di depan piano grand hitam. Ia mengenakan gaun tidur satin sampanye yang kini kotor oleh debu dan noda darah di bagian ujungnya. Rambut hitamnya tergerai menutupi sebagian wajahnya.
“Hana...” Nathaniel mendekat dengan hati-hati, senternya masih menyala namun ia arahkan ke lantai agar tidak mengejutkan wanita itu.
Musik berhenti mendadak.
Wanita itu menoleh perlahan. Namun, tatapan matanya bukan milik Hanaelle. Tidak ada ketakutan, juga tidak ada tremor, bahkan kerapuhan, pun tidak ada. Matanya tajam, berkilat dengan kecerdasan yang dingin dan sedikit... gila.
“Hanaelle sedang tidur, Julian,” katanya dengan suara yang lebih rendah, lebih tenang, dan jauh lebih berwibawa daripada suara asli Hanaelle.
Nathaniel berhenti melangkah. Bulu kuduknya berdiri, “Apa yang kau katakan? Ini aku, Nathan. Hentikan akting konyol ini.”
Wanita itu berdiri, berjalan mengitari piano dengan keanggunan seorang predator. “Nathaniel? Ah, aktor yang lebih mencintai citranya daripada istrinya sendiri. Kau salah alamat. Di sini hanya ada Elara. Dan Elara sedang tidak ingin diganggu oleh suami yang pengecut.”
“Hana, dengarkan aku!” Nathaniel mencengkeram bahu wanita itu, mencoba menyentaknya kembali ke realitas. “Kau sakit. Seseorang menukar obatmu. Kita harus pergi dari sini sekarang!”
Hanaelle—atau siapa pun yang menguasai tubuhnya saat itu—tertawa. Tawa yang kering dan menusuk. Ia melepaskan cengkeraman Nathaniel dengan kekuatan yang tidak terduga. “Sakit? Tidak, Nathaniel. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku merasa sangat sehat. Aku bisa melihat semuanya sekarang. Aku bisa melihat Vivian yang sedang menunggumu di rumah dengan laporan keuangan perusahaanmu. Aku bisa melihat ibumu, Rosalind, yang menghitung berapa harga nyawaku jika aku mati di lokasi syuting ini.”
Nathaniel terperangah. Bagaimana Hanaelle bisa tahu tentang rencana Vivian? Apakah dia sudah tahu selama ini dan hanya berpura-pura?
“Kau pikir aku boneka, bukan?” Hanaelle mendekat, wajahnya hanya terpaut beberapa inci dari wajah Nathaniel. Ia tidak lagi gemetar. Ia justru terlihat sangat berkuasa. “Boneka cantik yang bisa kau pajang di karpet merah, lalu kau simpan di lemari saat kau bosan. Tapi kau lupa satu hal, Nathaniel. Boneka yang rusak tidak bisa diperbaiki. Mereka hanya bisa... membalas.”
Tiba-tiba, lampu di ruangan itu menyala terang, menyilaukan mata.
“Cut! Sempurna!” suara tepuk tangan Cassian terdengar dari sudut ruangan. Ia keluar dari balik tirai berat, kamera masih menempel di matanya. “Transisi kepribadian yang luar biasa, Hanaelle! Atau haruskah kupanggil kau Elara?”
Nathaniel menerjang Cassian, mencengkeram kerah jaket kulitnya dan menghantamkan pria itu ke dinding, “Kau memberikan apa padanya? Kenapa dia jadi seperti ini?”
Cassian tidak melawan. Ia justru tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi yang tidak rata, “Aku tidak memberinya apa-apa, Nathaniel. Aku hanya melepaskan apa yang sudah ada di sana. Disosiasi adalah mekanisme pertahanan alami otak saat menghadapi trauma yang tak tertahankan. Kau dan keluargamu adalah trauma itu. Aku hanya menyediakan panggungnya.”
“Kau menukar obatnya dengan vitamin!” Nathaniel berteriak di depan wajah Cassian. “Kau ingin membunuhnya demi film sialan ini?”
“Membunuhnya?” Cassian terkekeh. “Tidak. Aku ingin menjadikannya abadi. Lihat dia, Nathaniel. Dia bukan lagi Hanaelle yang membosankan dan lemah. Dia adalah mahakarya. Dia adalah cermin yang akan menunjukkan betapa busuknya kau.”
Nathaniel menoleh kembali ke arah piano, namun Hanaelle sudah tidak berdiri di sana. Ia sudah kembali duduk, menatap kosong ke arah deretan tuts piano. Tubuhnya kembali gemetar. Ia tampak seperti Hanaelle yang asli lagi—rapuh dan hancur.
“Nathan...” suaranya kembali kecil dan serak. “Tolong aku... kepalaku sakit...”
Nathaniel melepaskan Cassian dan berlari ke arah istrinya. Ia memeluk Hanaelle erat-erat, “Aku di sini, Hana. Aku di sini. Kita akan pulang.”
“Tidak ada yang pulang sampai film ini selesai,” suara dingin Rosalind terdengar dari intercom vila yang tiba-tiba aktif.
Nathaniel menatap ke arah speaker di dinding dengan kemarahan yang memuncak, “Ibu? Kau memata-matai kami?”
“Vila itu dilengkapi dengan sistem keamanan paling mutakhir, Nathaniel. Aku bisa melihat setiap adegan,” suara Rosalind terdengar tanpa emosi, seperti mesin. "Hanaelle terlihat sangat hebat dalam kondisi itu. Saham kita melonjak setelah bocoran klip behind the scene yang dikirim Cassian ke media secara anonim malam ini. Publik sangat bersimpati pada penyakit demi totalitas Hanaelle."
“Kau menggunakan penyakitnya untuk bisnis?” Nathaniel tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Bisnis adalah apa yang membuatmu bisa memakai jam tangan seharga rumah di pergelangan tanganmu, Nathaniel,” sahut Rosalind. “Selesaikan syutingnya. Jika Hanaelle pulang sekarang, dia akan dicap sebagai aktris yang gagal mental. Tapi jika dia menyelesaikannya, dia akan menjadi legenda. Pilihan ada di tanganmu. Oh, dan soal Vivian... dia sedang menyiapkan dokumen perceraian yang bersahabat jika kau memang sudah tidak tahan lagi dengannya.”
Nathaniel merasakan dunianya runtuh. Ia menatap Hanaelle yang menangis di pelukannya, lalu menatap Cassian yang mulai mengatur posisi kamera lagi, dan menyadari bahwa ia hanyalah pion di panggung yang jauh lebih besar.
Tengah malam, di dalam kamar yang terkunci, Nathaniel duduk di lantai sambil mengawasi Hanaelle yang akhirnya tertidur karena kelelahan. Ia memegang ponsel rahasia yang ia temukan di laci tadi.
Ia mencoba menghubungi nomor yang mengirimkan pesan ancaman sebelumnya, namun nomor itu sudah tidak aktif. Namun, ada satu draf pesan yang belum terkirim di dalam ponsel tersebut.
Draf itu berisi koordinat GPS dan satu kalimat pendek: “Gudang Tua di belakang pabrik ayah. 12 Januari. Jangan biarkan dia tahu.”
12 Januari. Itu adalah besok.
Siapa yang menulis draf ini? Apakah Hanaelle? Ataukah seseorang yang sedang menjebaknya?
Tiba-tiba, Hanaelle yang sedang tidur bergerak gelisah. Ia mulai mengigau, namun suaranya bukan lagi suara tangisan. Ia menggumamkan angka-angka.
“7... 14... 22... 0...”
Nathaniel mengerutkan kening, “Hana? Apa itu?”
Hanaelle membuka matanya mendadak. Ia tidak bangun, hanya matanya yang terbuka lebar, menatap lurus ke arah Nathaniel dengan pupil yang mengecil.
“Itu adalah nomor seri brankas di kantor ibumu, Nathan,” bisik Hanaelle dengan nada suara Elara yang dingin dan tajam. “Tempat di mana dia menyimpan rekaman asli malam ayahku meninggal.”
Hanaelle kemudian tersenyum, sebuah senyuman yang begitu simpul namun mematikan, sebelum menutup matanya kembali dan mendengkur halus seolah tidak terjadi apa-apa.
Nathaniel terpaku. Ia menyadari bahwa di dalam tubuh Hanaelle, sebuah perang saudara sedang terjadi. Dan entitas baru yang bernama Elara ini tahu lebih banyak tentang rahasia keluarganya daripada dirinya sendiri.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang berat di luar pintu kamar. Seseorang sedang menyeret sesuatu yang berat di koridor. Srak... srak... srak...
Nathaniel berdiri, mengambil lampu meja sebagai senjata. Ia mendekati pintu dan mengintip melalui lubang kunci.
Di luar, ia melihat Cassian sedang menyeret sebuah manekin yang mengenakan gaun pengantin yang sangat mirip dengan gaun pernikahan Hanaelle dulu. Manekin itu tidak memiliki kepala, dan di bagian lehernya, terikat sebuah foto asli ayah Hanaelle yang terbakar setengah.
Cassian berhenti tepat di depan pintu kamar mereka, menatap lubang kunci seolah ia tahu Nathaniel sedang mengintip. Ia meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
“Sstt...” bisik Cassian dari balik pintu. “Adegan besok akan membutuhkan darah sungguhan, Julian.”