Dini hari pukul 03.14. Angka itu menyala merah di jam digital nakas, membuat Nathaniel merasa semakin muak pada dirinya sendiri.
Di sampingnya, Hanaelle masih terlelap, namun tidurnya tidak tenang. Jemari wanita itu terus bergerak-gerak di atas sprei, seolah sedang menuliskan sesuatu di udara yang kosong. Setiap beberapa menit, bibirnya bergumam—bukan kata-kata, melainkan angka.
“Dua... satu... sembilan... delapan... nol...”
Nathaniel terduduk di lantai, punggungnya bersandar pada pintu kamar yang masih terkunci rapat. Lampu meja yang ia pegang sebagai senjata sudah diletakkan di samping kaki. Ia mengambil secarik kertas dan pulpen, mencatat setiap angka yang keluar dari bibir istrinya. Ia teringat apa yang dikatakan kepribadian Elara semalam—itu adalah nomor seri brankas milik ibunya, Rosalind.
Namun, angka-angka itu mulai berubah.
“Empat puluh dua... titik... tujuh ratus... empat belas...”
Nathaniel tersentak, itu bukan lagi nomor seri. Itu adalah koordinat. Ia segera mencocokkan angka-angka itu dengan draf pesan di ponsel rahasia yang ia temukan, jantungnya berdegup kencang saat menyadari bahwa angka yang digumamkan Hanaelle dalam tidurnya adalah lokasi presisi dari Gudang Tua yang disebutkan dalam pesan misterius itu.
Bagaimana mungkin Hanaelle tahu koordinat itu dalam tidurnya? Ataukah Elara bukan sekadar gangguan jiwa, melainkan bagian dari otak Hanaelle yang selama ini merekam semua rahasia yang sengaja ia lupakan demi kewarasan?
Srak... srak... srak...
Tiba-tiba, suara seretan benda berat di luar pintu—yang tadi malam sempat berhenti—kembali terdengar.
Kali ini, suara itu berhenti tepat di depan pintu. Nathaniel menahan napas, tangannya kembali menyambar lampu meja. Melalui lubang kunci, ia melihat seberkas cahaya senter yang menyapu celah bawah pintu.
“Julian... kau belum tidur?” Suara Cassian terdengar parau, namun ada nada kegembiraan yang mengerikan di sana. “Seorang aktor hebat harus menjaga staminanya. Adegan fajar ini akan sangat menguras tenaga.”
“Pergi dari sini, Cassian! Atau aku akan mendobrak pintu ini dan menghancurkan kameramu!” teriak Nathaniel.
Tawa Cassian pecah, menggema di koridor yang sunyi, “Oh, kau bisa mencoba. Tapi ingat, Nathaniel... setiap gerakanmu di dalam sana direkam oleh ibumu. Jangan merusak set film yang sudah dibayar mahal ini. Manekin itu... aku meninggalkannya di depan pintu sebagai hadiah. Anggap saja itu pratinjau untuk masa depan istrimu jika kau tidak bekerja sama.”
Suara langkah kaki Cassian perlahan menjauh, menghilang di ujung lorong.
Nathaniel menunggu beberapa menit sebelum memberanikan diri membuka pintu. Saat pintu terbuka, ia hampir saja berteriak. Manekin tanpa kepala yang mengenakan gaun pengantin Hanaelle berdiri tegak, bersandar pada dinding. Di leher manekin yang terpotong itu, sebuah foto ayah Hanaelle yang terbakar setengah ditempelkan dengan selotip hitam.
Namun, ada sesuatu yang baru—di bagian d**a gaun putih itu, tertulis angka besar dengan tinta merah yang masih basah: 12-01-2022.
Tanggal kematian ayah Hanaelle.
Nathaniel merobek foto itu dan menyembunyikannya di saku celana. Ia tidak ingin Hanaelle melihatnya. Ia harus membawa Hanaelle pergi dari vila ini, secara sembunyi-sembunyi, sebelum Cassian memulai syuting fajar.
“Hana, bangun. Kita harus pergi,” Nathaniel mengguncang bahu Hanaelle dengan lembut namun mendesak.
Hanaelle membuka matanya. Ia tampak linglung, matanya bengkak karena menangis semalam. “Nathan? Jam berapa sekarang? Kenapa lampunya mati?”
“Jangan banyak tanya. Pakai jaketmu. Kita pergi lewat jendela belakang,” bisik Nathaniel.
“Tapi... filmnya? Rosalind akan marah,” Hanaelle gemetar, ketakutan pada ibu mertuanya masih tertanam dalam di bawah sadarnya.
Nathaniel mencengkeram kedua bahu Hanaelle, menatap matanya dalam-dalam, “Persetan dengan film itu, Hana. Persetan dengan saham. Aku tahu tentang obatnya. Aku tahu mereka sengaja membuatmu gila. Kita akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ayahmu.”
Mendengar kata ayah, mata Hanaelle sedikit fokus. Ada kilatan tekad yang muncul di balik kerapuhannya, “Gudang itu... aku memimpikannya semalam, Nathan. Ada api... dan banyak angka.”
Mereka merangkak keluar melalui jendela lantai satu yang menghadap ke arah hutan. Udara pagi yang membeku langsung menyergap mereka. Kabut masih sangat tebal, jarak pandang tidak lebih dari tiga meter. Nathaniel memegang erat tangan Hanaelle, memimpin jalan menembus pepohonan pinus yang menjulang tinggi, hanya berbekal koordinat di ponselnya.
Mereka berjalan selama hampir satu jam, mendaki lereng yang licin dan berbatu. Setiap kali ranting kering patah di bawah kaki mereka, Hanaelle akan tersentak, mengira itu adalah langkah kaki Cassian yang mengejar mereka dengan kamera setannya.
“Sedikit lagi,” bisik Nathaniel, menatap layar ponsel yang menunjukkan titik merah semakin mendekat ke tujuan.
Tiba-tiba, kabut tersingkap sedikit, menampakkan sebuah bangunan tua yang nyaris runtuh di tengah lembah kecil yang tersembunyi. Gudang itu terbuat dari seng berkarat dan kayu yang sudah lapuk. Bau bensin dan kayu terbakar sisa masa lalu masih terasa samar di udara.
Inilah tempatnya, gudang tua di belakang bekas pabrik ayah Hanaelle.
Hanaelle mendadak berhenti. Tubuhnya mulai bergetar hebat, “Aku... aku ingat tempat ini. Ayah membawaku ke sini... dia bilang ada dokumen yang harus disembunyikan dari Rosalind.”
“Ayo, Hana. Kita harus cepat sebelum matahari terbit,” ajak Nathaniel.
Mereka mendekati pintu gudang yang dirantai berat. Nathaniel mengambil sebuah batu besar dan mulai menghantam gembok berkarat itu dengan tenaga penuh.
Duar! Duar!
Suara hantaman itu terdengar sangat keras di kesunyian hutan, memicu rasa takut bahwa seseorang akan mendengar mereka.
Setelah hantaman kelima, gembok itu hancur.
Nathaniel mendorong pintu seng yang berderit nyaring. Di dalam, ruangan itu dipenuhi debu dan sarang laba-laba. Cahaya senter Nathaniel menyapu ruangan, menemukan tumpukan peti kayu tua dan mesin-mesin pabrik yang sudah rusak.
Di sudut ruangan, ada sebuah meja kerja kayu yang sudah miring. Hanaelle berjalan ke sana seperti orang yang sedang berjalan dalam tidur—sleepwalking. Ia meraba bagian bawah laci meja tersebut.
“Ada di sini...” gumam Hanaelle. Suaranya mulai berubah lagi. Dingin dan datar. Elara kembali.
Ia menarik sebuah kotak besi kecil yang disembunyikan di balik panel rahasia. Kotak itu dikunci dengan kombinasi angka.
“Hana? Apa kodenya?” tanya Nathaniel.
Hanaelle tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mulai memutar dial pada kotak besi itu dengan gerakan cepat dan pasti.
“Tujuh... empat belas... dua puluh dua... nol...”
Klik.
Kotak itu terbuka. Di dalamnya terdapat sebuah flashdisk tua dan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam. Nathaniel mengambil buku itu dan membukanya secara acak. Isinya adalah catatan keuangan rahasia tentang bagaimana Rosalind Wiraatmaja melakukan sabotase pada sistem keamanan pabrik untuk memicu kebakaran, agar ia bisa mengklaim asuransi dan membeli lahan itu dengan harga sampah.
Namun, di halaman terakhir, ada sebuah catatan tangan yang ditulis dengan tinta yang sudah pudar: “Nathaniel tahu. Dia melihatku menyabotase kabel itu, tapi dia diam saja demi ibunya. Anak itu adalah kaki tangannya.”
Dunia seolah berhenti berputar bagi Hanaelle. Ia menatap tulisan itu, lalu menatap Nathaniel yang berdiri di sampingnya dengan wajah pucat pasi.
“Kau...” suara Hanaelle pecah. “Kau ada di sana, Nathan? Pada malam ayahku meninggal?”
Nathaniel mundur selangkah, tangannya gemetar hebat hingga senternya jatuh ke lantai, membiarkan ruangan itu kembali ke dalam remang-remang yang menyeramkan, “Hana... aku... aku saat itu masih remaja... aku tidak tahu apa yang dilakukan ibuku...”
“KAU ADA DI SANA!” teriak Hanaelle, kali ini suaranya meledak dengan kemarahan yang begitu murni hingga menggetarkan dinding seng gudang tersebut. “Selama dua tahun pernikahan ini, kau menatapku, menciumku, memelukku... sambil tahu bahwa ibumu membunuh ayahku?”
“Hana, dengarkan aku dulu—”
“Jangan panggil namaku!” Hanaelle merangsek maju, mencengkeram kerah baju Nathaniel. “Siapa kau sebenarnya? Suamiku, atau algojoku?”
Tiba-tiba, lampu gudang yang harusnya mati total karena tidak ada listrik, mendadak menyala dengan sangat terang. Lampu-lampu sorot film yang dibawa entah dari mana.
“Cut! Cut! Cut!”
Cassian Velaede melangkah masuk dari pintu belakang gudang yang tersembunyi, diikuti oleh beberapa orang kru yang mengenakan masker hitam. Ia bertepuk tangan dengan sangat lambat.
“Konfrontasi yang luar biasa! Nathaniel, ekspresi bersalahmu itu... benar-benar kelas Oscar. Dan Hanaelle, transformasi dendammu sangat organik,” Cassian tersenyum lebar. “Inilah adegan klimaks yang aku tunggu-tunggu.”
Nathaniel menatap sekeliling dengan panik. “Cassian? Bagaimana kau bisa ada di sini?”
“Ibumu yang memberitahu koordinat ini, Nathaniel,” sahut Cassian sambil menunjuk ke arah kamera yang kini dipasang di atas crane kecil. “Dia ingin adegan ini menjadi penutup yang sempurna untuk film The Mirror. Kebenaran yang terungkap di tengah reruntuhan.”
Namun, di belakang Cassian, muncul sosok wanita lain. Vivian. Ia berdiri dengan tenang, memegang sebuah alat kendali jarak jauh di tangannya.
“Nyonya Rosalind merasa dokumen di dalam kotak itu sudah terlalu lama disimpan,” kata Vivian dengan kesantunan yang dingin, dan nadanya sedatar garis kematian. “Dia ingin dokumen itu... dan orang yang menemukannya... musnah dalam satu adegan dramatis.”
Vivian menekan sebuah tombol.
Bip.. bip.. bip..
Terdengar suara denyut elektronik cepat dari bawah meja kerja. Nathaniel melihat ke bawah dan menemukan sebuah perangkat peledak kecil yang dipasang di kaki meja.
“Hana, lari!” teriak Nathaniel sambil mencoba menarik tangan Hanaelle.
Namun Hanaelle tidak bergerak. Ia justru melepaskan tangan Nathaniel dan menatap ke arah kamera dengan senyum yang paling mengerikan yang pernah Nathaniel lihat.
“Kenapa harus lari, Nathan?” bisik Hanaelle. “Bukankah kau bilang pernikahan ini adalah sebuah panggung? Mari kita berikan mereka akhir yang tidak akan pernah mereka lupakan.”
Hanaelle justru mendekat ke arah bom tersebut, duduk di samping meja kayu itu, dan mulai menghitung mundur bersamaan dengan bunyi berkala tersebut.
“Lima... empat...”
Nathaniel terjepit dalam pilihan paling mustahil dalam hidupnya—lari menyelamatkan diri dan membiarkan kebenaran terbakar bersama Hanaelle, atau mati bersama wanita yang baru saja menyadari bahwa suaminya adalah bagian dari pembunuh ayahnya.
“Tiga... dua...”
Bom akan meledak dalam satu detik. Nathaniel berdiri di depan Hanaelle yang sudah menyerah pada kegilaan, sementara Vivian dan Cassian menonton dari jarak aman di balik layar monitor. Namun, tepat di angka satu, pintu gudang kembali tertendang terbuka dari arah luar, dan sebuah suara pria yang sangat berwibawa—yang bukan merupakan bagian dari kru film—berteriak.
“Hentikan rekamannya! Polisi sudah mengepung lokasi ini!”