Protagonis Ketiga

1649 Words
“Satu!” Suara Hanaelle yang dingin beradu dengan bunyi denyut terakhir membuat Nathaniel memejamkan mata, melempar tubuhnya ke depan untuk melindungi Hanaelle, menunggu panas api yang akan menghanguskan kulit mereka. Ia bersiap untuk kegelapan abadi. DUARR! Bukan ledakan api yang mengguncang gudang itu, melainkan letupan gas yang memekakkan telinga. Dalam sekejap, ruangan itu dipenuhi oleh asap merah pekat yang menyesakkan. Bau belerang dan kimia menyengat hidung, membuat Nathaniel terbatuk hebat. Ia tidak mati. Mereka pun tidak mati. “Akting yang luar biasa, Nathaniel! Benar-benar naluri pelindung yang organik!” Suara tawa Cassian menggema di balik kabut asap merah, terdengar distorsi melalui pengeras suara. Nathaniel membuka mata, paru-parunya terasa terbakar. Di bawahnya, Hanaelle masih terduduk kaku. Wanita itu tidak bernapas, matanya melotot menatap awan merah di sekeliling mereka. Ia tidak tampak lega karena selamat—ia tampak kecewa karena kematian tidak menjemputnya. “Kau gila, Cassian!” teriak Nathaniel sambil berusaha berdiri, meskipun lututnya terasa lemas seperti jeli. “Kau hampir membunuh kami karena serangan jantung!” “Itu hanya efek spesial, Nathaniel. Bom asap dengan sensor tekanan. Seni membutuhkan tekanan, bukan?” Cassian melangkah keluar dari balik kepulan asap, masih dengan kamera di bahunya. Ia tampak seperti iblis yang menari di tengah neraka merah. “Tapi, sepertinya kita kedatangan tamu yang tidak ada dalam daftar kru.” Di ambang pintu gudang yang remang, berdiri seorang pria paruh baya dengan mantel panjang berwarna kelabu yang basah oleh embun hutan. Tangannya memegang lencana perak yang berkilat tertimpa cahaya lampu sorot. Di belakangnya, beberapa pria berseragam taktis bergerak cepat mengepung pintu keluar. “Inspektur Aris?” Suara Nathaniel bergetar. Ia mengenali pria itu. Aris adalah detektif yang menangani kasus kebakaran pabrik ayah Hanaelle empat tahun lalu—kasus yang ditutup secara prematur karena kurangnya bukti. “Tuan Wiraatmaja,” Aris melangkah maju, sepatunya berderit di atas lantai kayu yang rapuh. Matanya yang tajam beralih ke arah Hanaelle yang masih mematung. “Saya tidak menyangka akan menemukan The Nation’s Sweetheart dalam kondisi seperti ini di tengah hutan.” Vivian, yang tadi berdiri di samping Cassian, tampak gelisah. Ia mencoba menyembunyikan alat kendali jarak jauh di balik saku roknya. “Inspektur, ini adalah lokasi syuting pribadi. Anda tidak punya hak—” “Saya punya hak atas setiap jengkal tanah yang mengandung bukti tindak pidana, Nona Vivian,” potong Aris dengan nada yang tidak bisa dibantah. “Kami menerima laporan anonim tentang penyekapan dan manipulasi medis di lokasi ini. Dan melihat kondisi Nyonya Hanaelle, sepertinya laporan itu akurat.” Hanaelle tiba-tiba berdiri. Gerakannya patah-patah, seperti boneka kayu yang ditarik oleh benang yang kusut. Ia mendekati Inspektur Aris, mengabaikan Nathaniel yang mencoba menahannya. “Bukti itu...” Hanaelle menunjuk ke arah kotak besi yang masih terbuka di atas meja. “Ayah... dia tidak mati karena kecelakaan. Dia dibunuh oleh angka-angka ini.” Aris melihat ke dalam kotak, lalu ke arah buku catatan kulit hitam yang kini berada di tangan Nathaniel, “Serahkan buku itu, Nathaniel. Sekarang!” Nathaniel ragu. Di dalam buku itu ada bukti yang bisa menjebloskan ibunya ke penjara seumur hidup—dan mungkin dirinya juga, sebagai saksi yang membisu. Namun, saat ia menatap mata Hanaelle yang hampa, ia melihat pantulan dirinya sendiri—seorang pengecut yang bersembunyi di balik kemewahan. “Jangan, Nathan!” teriak sebuah suara dari intercom gudang, suara Rosalind. “Jika kau menyerahkan buku itu, kau menghancurkan segala yang kita bangun! Ingat siapa yang memberimu segalanya!” “Diam, Ibu!” Nathaniel berteriak ke arah kamera pengintai di sudut langit-langit. Tiba-tiba, Cassian tertawa lagi, “Ini benar-benar klimaks yang sempurna! Konflik moral, hukum, dan pengkhianatan keluarga! Aris, kau masuk ke dalam frame dengan sangat pas. Jangan berhenti sekarang!” “Matikan kameranya, Cassian! Ini bukan film lagi!” bentak Aris sambil memberi isyarat kepada anak buahnya untuk maju. Namun, sebelum polisi bisa menyentuh kotak itu, Vivian melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia melemparkan sebuah tabung kecil ke lantai. Krak! Gas air mata yang sesungguhnya meledak di tengah ruangan. Keadaan menjadi kacau balau. Teriakan, suara batuk, dan deru langkah kaki memenuhi gudang yang gelap dan penuh asap. Nathaniel mencoba menggapai tangan Hanaelle, namun ia hanya menyentuh udara kosong. “Hana! Hana!” Dalam kebutaan karena gas air mata, Nathaniel merasakan seseorang menarik lengannya dengan kasar. “Ikut aku jika kau ingin dia selamat!” bisik Cassian. Nathaniel terpaksa mengikuti tarikan itu. Mereka berlari menembus pintu belakang yang tersembunyi, keluar menuju kegelapan hutan yang dingin. Di sana, sebuah jip hitam sudah menunggu dengan mesin menyala. “Di mana Hanaelle?” Nathaniel terengah-engah saat mereka sampai di samping jip. Cassian menunjuk ke kursi belakang. Di sana, Hanaelle duduk tak sadarkan diri, kepalanya bersandar pada kaca jendela. Ada bekas suntikan baru di lengannya. “Apa yang kau lakukan padanya?!” Nathaniel menyerang Cassian, namun salah satu kru bertubuh besar menahan lengannya. “Dia histeris, Nathaniel. Aku hanya memberinya ketenangan sedikit agar kita bisa keluar dari sini,” sahut Cassian sambil masuk ke kursi kemudi. “Polisi itu... dia tidak bekerja untuk keadilan. Aris dibayar oleh rival ibumu untuk mendapatkan buku itu. Jika kau menyerahkannya pada dia, Hanaelle akan mati di tangan orang yang berbeda. Sekarang masuk, atau kau tertangkap!” Nathaniel terpojok. Ia melihat ke arah gudang yang kini dikepung polisi, lalu ke arah istrinya yang tidak berdaya. Ia masuk ke dalam jip, dan kendaraan itu meluncur menembus semak belukar, meninggalkan gudang tua yang menyimpan abu rahasia masa lalunya. Perjalanan itu berlangsung dalam keheningan yang mencekam. Jip itu tidak kembali ke vila utama, melainkan menuju ke sebuah bangunan beton tua di kaki gunung—sebuah bunker yang dulunya digunakan sebagai studio rekaman kedap suara. Cassian membawa Hanaelle masuk ke dalam. Nathaniel mengikutinya, tangannya masih mencengkeram erat buku catatan milik ayah Hanaelle. “Kenapa kita ke sini?” tanya Nathaniel saat pintu baja bunker itu tertutup rapat. “Ini adalah Stage 2,” jawab Cassian sambil meletakkan kameranya di atas tripod. “Di vila itu, terlalu banyak gangguan. Di sini, tidak ada polisi, tidak ada Rosalind, tidak ada Vivian. Hanya kita. Dan kebenaran yang harus diakui di depan kamera.” Cassian menyalakan lampu studio yang sangat terang, menyorot langsung ke arah kursi kayu di tengah ruangan. Ia mendudukkan Hanaelle di sana. Wanita itu mulai sadar, matanya mengerjap-ngerjap terkena cahaya yang menyilaukan. “Hanaelle... atau Elara... siapapun kau sekarang,” Cassian berlutut di depannya. “Ayahmu tidak ingin kau hanya memiliki bukti. Dia ingin kau memiliki pengakuan. Dan suamimu... dia punya banyak hal untuk diakui, bukan?” Nathaniel berdiri di kegelapan, di luar jangkauan cahaya lampu sorot. Ia menatap Hanaelle yang kini menatapnya dengan pandangan yang perlahan kembali tajam. Disosiasinya belum hilang. Kepribadian Elara masih memegang kendali. “Dua tahun,” bisik Hanaelle, suaranya menggema di ruang kedap suara itu. “Dua tahun aku tidur di samping seorang pria yang melihat kabel-kabel itu diputus. Dua tahun aku mencintai pria yang membiarkan ayahku terbakar demi saham perusahaan.” “Hana, aku tidak tahu ibuku akan bertindak sejauh itu...” Nathaniel mencoba mendekat, namun ia berhenti saat melihat Hanaelle mengambil sepotong kaca tajam dari saku jaketnya—mungkin sisa dari gelas yang ia hancurkan di vila. Hanaelle mengarahkan kaca itu ke lehernya sendiri. “Hana, jangan!” teriak Nathaniel. “Jangan panggil aku Hana!” jeritnya. “Hana sudah mati di gudang itu! Aku adalah Elara, dan Elara tidak akan membiarkan boneka ini hidup dalam kebohongan lagi!” Hanaelle menatap langsung ke arah lensa kamera Cassian, “Rekam ini, Cassian. Rekam bagaimana keluarga Wiraatmaja menghancurkan manusia demi angka-angka di bursa efek.” Tiba-tiba, suara tepuk tangan terdengar dari speaker studio. Namun kali ini, bukan suara Rosalind. Itu adalah suara rekaman audio yang diputar otomatis. “Jangan khawatir, Sayang. Jika kau diam, kau akan mendapatkan Hanaelle sebagai istrimu. Dia akan menjadi milikmu selamanya, dan rahasia ini akan ikut terkubur bersama ayahnya.” Itu adalah suara Rosalind, saat berbicara kepada Nathaniel yang masih remaja di malam kebakaran. Nathaniel jatuh berlutut. Rekaman itu... dia tidak tahu rekaman itu ada. Nathaniel merasa seluruh dunianya runtuh. Selama ini, ibunya memiliki bukti pengkhianatannya sendiri untuk menjeratnya agar terus patuh. “Kau melihatnya, Nathan?” Hanaelle tertawa, air mata mengalir di pipinya namun ekspresinya tetap dingin. “Bahkan cinta yang kau tawarkan padaku adalah upah dari sebuah kejahatan.” Tiba-tiba, pintu baja studio digedor dari luar dengan sangat keras. Bukan oleh polisi, melainkan oleh sesuatu yang terdengar seperti mesin penghancur. “Nathaniel! Buka pintunya!” Itu suara Vivian, namun terdengar panik. “Nyonya Rosalind telah mengaktifkan protokol pembersihan! Dia akan meratakan tempat ini!” Nathaniel menatap Cassian, “Apa maksudnya protokol pembersihan?” Cassian terdiam, wajahnya yang biasanya gila kini berubah pucat. Ia melihat ke arah monitor CCTV di sudut ruangan. Beberapa truk tangki bahan bakar terlihat mendekati bunker tersebut. “Dia tidak ingin film ini berakhir di bioskop,” gumam Cassian. “Dia ingin film ini berakhir dengan kecelakaan tragis yang akan melenyapkan semua bukti... termasuk kita.” Hanaelle justru menurunkan kacanya dan tersenyum lebar. Ia bangkit dari kursi, berjalan menuju Nathaniel yang masih berlutut. Ia mengelus rambut suaminya dengan lembut, namun sentuhannya terasa seperti maut. “Panggungnya sudah hampir runtuh, Sayang,” bisik Hanaelle tepat di telinga Nathaniel. “Dan kau tahu apa yang terjadi pada pemeran utama di akhir tragedi? Mereka tidak pernah keluar hidup-hidup.” Di luar, terdengar suara bahan bakar yang mulai dipompa masuk melalui ventilasi udara studio. Bau bensin mulai memenuhi ruangan kedap suara itu. Rosalind memutuskan untuk melenyapkan semua orang—Hanaelle, Nathaniel, Cassian, dan Vivian—dengan membakar studio bunker tersebut untuk menghapus bukti selamanya. Di tengah bau bensin yang kian menyengat, Hanaelle justru tampak tenang dan menikmati kehancuran tersebut, sementara Nathaniel harus memutuskan—apakah ia akan mati sebagai pemeran utama dalam skenario ibunya, atau melakukan satu tindakan nyata terakhir yang bukan merupakan bagian dari akting? Tepat saat itu, Nathaniel menyadari bahwa buku catatan di tangannya memiliki satu halaman rahasia yang terlekat—yang berisi nomor telepon seseorang yang selama ini dianggap sudah mati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD