Bau bensin itu tidak lagi samar—ia tajam, menyengat, dan mulai menguasai setiap jengkal oksigen di dalam studio bunker.
glug-glug-glug
Terdengar suara gelegak cairan yang tertahan di balik dinding pipa ventilasi, kini terdengar seperti tawa iblis yang sedang menuangkan minuman maut. Rosalind Wiraatmaja tidak sedang menggertak. Baginya, melenyapkan satu putra dan satu menantu adalah kerugian kecil dibandingkan hancurnya imperium bisnis yang ia bangun di atas tumpukan mayat.
“Buka pintunya, Cassian! Kau punya kode aksesnya, bukan?!” teriak Nathaniel sambil menarik kerah jaket sang sutradara.
Cassian hanya menatap monitor CCTV dengan pandangan kosong, “Sistemnya dikunci dari pusat, Nathaniel. Ibumu... dia sudah mengganti seluruh protokol keamanan digital sejak kita meninggalkan vila. Kita tidak berada di set film sekarang. Kita berada di dalam peti mati.”
Hanaelle berdiri di tengah ruangan, tangannya merentang seolah sedang menikmati aroma bensin yang memenuhi udara. Wajahnya yang pucat pasi terlihat menyeramkan di bawah lampu studio yang berkedip-kedip. “Lihatlah, Nathan... bahkan ibumu tahu bahwa sebuah mahakarya butuh api untuk menjadi abadi. Bukankah ini akhir yang puitis?”
“Diam, Hana! Ini bukan saatnya berakting!” bentak Nathaniel. Ia merogoh saku, mengambil buku catatan hitam milik ayah Hanaelle yang sempat terjatuh.
Tangannya yang gemetar membuka lembar demi lembar dengan panik, hingga ia sampai pada halaman terakhir yang terasa lebih tebal dari yang lain. Ia menyadari ada dua lembar kertas yang sengaja dilem menjadi satu. Dengan menggunakan kuku jarinya, Nathaniel mengelupas kertas itu sekuat tenaga.
Di sana, tersembunyi di balik lapisan kertas, tertulis sebuah nomor telepon internasional dan sebuah pesan singkat: “Jika kau membaca ini, artinya aku sudah gagal. Hubungi nomor ini. Dia adalah orang yang memiliki Cermin Asli itu. Namanya, Gabriel Velaede.”
Nathaniel tersentak. Ia menatap Cassian. “Velaede? Cassian, siapa Gabriel?”
Cassian menoleh mendadak, matanya melebar saat melihat nama itu, “Gabriel? Itu... itu kakakku. Tapi dia sudah dinyatakan tewas dalam kecelakaan di lokasi syuting sepuluh tahun lalu. Ibumu yang mengurus pemakamannya!”
“Ibumu memalsukan kematiannya, Cassian!” teriah Nathaniel. “Cepat, gunakan ponsel satelitmu! Di sini tidak ada sinyal seluler, tapi alatmu pasti bisa!”
Cassian dengan tangan gemetar mengeluarkan ponsel satelit dari dalam tas kameranya. Ia menekan nomor yang tertera di buku itu. Suara sambungan internasional terdengar datar... satu kali... dua kali...
Sementara itu, di luar pintu baja, suara Vivian terdengar semakin histeris, “Nathaniel! Maafkan aku! Aku tidak punya pilihan! Nyonya Rosalind memegang nyawa adikku!” Suara Vivian diikuti oleh denting tajam yang mengerikan—pemantik api yang dinyalakan di depan pipa bensin.
“Halo?” Sebuah suara pria yang berat dan penuh wibawa menjawab dari seberang telepon.
“Gabriel? Ini Cassian...” suara Cassian nyaris menghilang.
“Cassian? Kenapa kau menghubungi nomor ini? Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak pernah berurusan dengan keluarga Wiraatmaja lagi,” jawab suara di seberang sana.
“Kami terjebak di bunker kaki gunung. Rosalind akan membakar tempat ini. Dia punya Cermin Asli itu, Gabriel! Nathaniel Chandra menemukannya!”
Hening sejenak di seberang telepon, “Cermin Asli... rekaman sabotase yang sebenarnya? Nathaniel, jika kau mendengarku, dengarkan baik-baik. Di bawah konsol mixing di ruangan itu, ada panel manual berwarna merah. Masukkan kode: 11-01-98. Itu adalah tanggal lahir Hanaelle yang asli. Ayahnya yang memasang sistem darurat itu tanpa sepengetahuan Rosalind.”
Nathaniel tidak membuang waktu. Ia merangkak di bawah meja konsol mixing yang penuh dengan kabel. Tangannya meraba-raba dalam kegelapan hingga ia menemukan panel besi kecil. Ia menekannya, dan sebuah tombol angka muncul.
“Sebelas... nol satu... sembilan delapan...”
KLIK.
Pintu baja bunker itu terbuka sedikit, cukup untuk udara luar masuk, namun bensin yang sudah menggenang di depan pintu mulai mengalir masuk ke dalam studio.
“Hana, ayo!” Nathaniel menarik tangan Hanaelle.
Namun Hanaelle menepisnya. Ia menatap ke arah kamera Cassian yang masih menyala, “Tidak. Elara tidak akan pergi. Jika aku pergi, aku akan kembali menjadi Hanaelle yang lemah. Aku lebih baik mati sebagai Elara yang tahu kebenaran.”
“HANAELLE CHANDRA!” Nathaniel berteriak dengan suara yang menggelegar, lebih keras dari suara bensin yang mengalir. Ia mencengkeram wajah Hanaelle dengan kedua tangannya. “Lihat aku! Bukan sebagai Julian, bukan sebagai aktor. Lihat aku sebagai pria yang sudah menghancurkan hidupmu dan sekarang ingin menebusnya! Ayahmu tidak mati agar kau menjadi monster seperti ibuku! Dia mati agar kau bisa bebas!”
Untuk sesaat, sorot mata tajam Elara meredup. Mata itu mulai berair, kerapuhan Hanaelle yang asli muncul kembali ke permukaan seperti seseorang yang baru saja muncul dari dalam air untuk mengambil napas.
“Nathan...?” bisiknya lirih.
“Ayo, Hana. Kita hancurkan panggung ini bersama.”
Nathaniel memapah Hanaelle di bahunya, sementara Cassian menyambar tas kameranya yang berisi rekaman mentah tadi. Mereka menerjang pintu baja yang terbuka sedikit. Di luar, koridor sudah dipenuhi bensin yang mulai memercikkan api karena korsleting listrik.
Mereka berlari menembus api yang mulai menjilat dinding. Di ujung koridor, mereka melihat Vivian berdiri mematung, memegang pemantik api yang sudah menyala. Wajahnya dipenuhi air mata.
“Vivian, lari!” teriak Nathaniel.
Vivian menatap mereka, lalu menatap ke arah pintu keluar di mana truk tangki bahan bakar masih terparkir. “Aku tidak bisa, Nathan. Jika aku lari, dia akan membunuh adikku. Tapi jika aku melakukan ini... setidaknya drama ini berakhir.”
Vivian melemparkan pemantik api itu ke arah genangan bensin di bawah truk tangki.
“TIDAK!”
BOOOOOMMMM!
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh kaki gunung. Nathaniel terlempar keluar dari pintu darurat, tubuhnya menghantam tanah berbatu dengan keras. Ia merasakan telinganya berdenging, pandangannya kabur oleh asap hitam yang membubung tinggi ke langit malam.
Ia berbalik, melihat bunker itu sudah dilalap api raksasa. Truk tangki itu meledak, menciptakan kawah api yang mengerikan.
“Hana? Hana!” Nathaniel merangkak di atas tanah, mencari sosok istrinya.
Ia menemukan Hanaelle beberapa meter darinya, terbaring tak bergerak. Gaunnya sebagian hangus, namun ia masih bernapas. Di sampingnya, Cassian terkapar dengan kamera yang hancur berkeping-keping, namun pria itu masih mendekap kartu memori—memory card di dalam kepalan tangannya yang berdarah.
Di kejauhan, sirine polisi dan ambulans mulai terdengar mendekat. Namun, Nathaniel menyadari sesuatu yang aneh. Dari balik pepohonan, sebuah mobil hitam mewah—bukan mobil polisi—berhenti.
Pintu mobil terbuka. Seorang pria tinggi dengan setelan jas rapi keluar. Ia tidak terlihat seperti polisi. Ia berjalan mendekati Nathaniel dengan tenang, mengabaikan api yang berkobar di belakangnya. Pria itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Cassian, namun lebih tua dan memiliki bekas luka bakar di tangan kanannya.
Gabriel Velaede.
“Kau memiliki Cermin itu, Nathaniel?” tanya Gabriel dengan suara yang dingin.
Nathaniel mengangkat buku catatan itu dengan tangan gemetar. “Bawa dia pergi dari sini. Selamatkan Hanaelle. Aku tidak peduli apa yang terjadi padaku.”
Gabriel menatap Hanaelle, lalu menatap buku itu. “Rosalind pikir dia bisa membakar masa lalu. Dia lupa bahwa api hanya akan membuat kebenaran menjadi lebih murni.”
Tiba-tiba, ponsel satelit yang masih dipegang Cassian bergetar. Sebuah panggilan video masuk. Nathaniel melihat layar ponsel yang tergeletak di tanah.
Itu adalah Rosalind. Wajahnya terlihat di layar, latar belakangnya adalah ruang kendali agensi yang mewah. Ia sedang menyesap anggur merah.
“Adegan penutup yang sangat indah, Nathaniel,” kata Rosalind melalui layar ponsel. “Tapi kau lupa satu hal. Aku tidak pernah melakukan pembersihan tanpa menyisakan satu saksi. Dan saksi itu adalah kau. Polisi akan menemukan sidik jarimu di pemantik api itu. Kau akan menjadi suami yang gila, yang membakar istrinya karena cemburu pada asistennya. Sebuah skandal yang akan menutup semua jejakku selamanya.”
Rosalind tersenyum sinis, lalu mematikan sambungan.
Nathaniel menatap tangannya. Ia menyadari bahwa saat ia mencoba menahan Vivian tadi, Vivian sengaja menempelkan pemantik api itu ke telapak tangannya.
Ia telah dijebak di dalam naskah yang bahkan lebih kejam dari yang ia bayangkan.
Nathaniel selamat dari ledakan namun kini ia menjadi tersangka utama pembunuhan dan pembakaran, dengan bukti sidik jari yang sudah direkayasa oleh Rosalind. Gabriel Velaede berdiri di depannya dengan agenda yang belum jelas, sementara Hanaelle terbangun dan menatap Nathaniel dengan tatapan yang sangat asing—ia tidak mengingat siapa Nathaniel. Ia baru saja mengalami Total Amnesia Retrogard.
“Siapa kau?” tanya Hanaelle dengan suara polos yang menghancurkan hati Nathaniel lebih dari ledakan manapun. “Dan kenapa tanganmu berbau bensin?”