Dunia Nathaniel runtuh bukan karena ledakan bunker itu, melainkan karena kalimat yang keluar dari bibir Hanaelle.
“Siapa... kau?”
Suaranya begitu jelas, tanpa beban kebencian Elara atau ketakutan Hanaelle yang biasanya. Mata Hanaelle menatapnya dengan rasa ingin tahu yang murni, seperti seorang anak kecil yang melihat orang asing di tengah jalan. Tidak ada getaran ketakutan, bahkan tidak ada api dendam. Hanya kekosongan yang luas dan mengerikan.
Nathaniel membeku di tanah yang berlumpur. Bau bensin yang melekat di tangannya terasa seperti layaknya dosa. Di belakang mereka, sisa-sisa bunker meletus kecil, mengirimkan bunga api ke langit malam yang pekat.
“Hana, ini aku... Nathan,” bisik Nathaniel, suaranya parau karena asap.
Hanaelle mengernyitkan dahi. Ia melihat ke sekeliling, pada api yang membubung, pada tubuh Cassian yang tak berdaya, lalu kembali ke tangan Nathaniel yang kotor. “Nathan? Nama itu... terdengar tidak enak di telingaku. Kenapa tempat ini terbakar? Kenapa aku ada di sini?”
“Waktumu habis, Nathaniel,” suara berat Gabriel Velaede memotong drama itu. Pria itu berdiri tegak, bayangannya memanjang diterpa cahaya api. “Sirine itu bukan hanya ambulan. Itu adalah unit Jatanras yang sudah diperintahkan Rosalind untuk menembak di tempat jika kau melawan. Kau sekarang adalah monster di mata hukum.”
“Dia kehilangan ingatannya, Gabriel! Bantu aku!” Nathaniel memohon, mencengkeram jas Gabriel.
Gabriel menatap Hanaelle dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada secercah rasa iba, namun tertutup oleh ketegasan yang dingin. “Amnesia adalah hadiah terbaik untuknya saat ini. Dia tidak perlu mengingat bahwa suaminya adalah saksi pembunuhan ayahnya. Sekarang, masuk ke mobil, atau kau akan menjelaskan semuanya dari balik jeruji besi.”
Nathaniel menarik Hanaelle untuk berdiri. Wanita itu sempat ragu, namun saat melihat api yang semakin membesar, ia secara naluriah mencari perlindungan dan menggenggam lengan Nathaniel. Sentuhan itu terasa sangat asing bagi Nathaniel—tidak ada penolakan, hanya kepatuhan yang hampa.
Mereka masuk ke dalam mobil hitam mewah milik Gabriel tepat saat lampu biru-merah polisi mulai membiaskan cahaya di antara pepohonan pinus. Mobil itu meluncur dengan suara mesin yang nyaris tak terdengar, membelah kabut gunung, meninggalkan panggung sandiwara yang kini menjadi tempat kejadian perkara.
Di dalam mobil, Gabriel memberikan sebuah tablet kepada Nathaniel.
“Lihat ini. Ibumu bergerak lebih cepat dari cahaya,” ujar Gabriel.
Layar tablet itu menampilkan siaran berita breaking news. Wajah Nathaniel terpampang besar dengan tajuk utama yang mengerikan: “Aktor Papan Atas Nathaniel Wiraatmaja Diduga Bakar Istri dan Kru Film dalam Keadaan Depresi.”
Foto-foto yang tersebar adalah foto-foto hasil rekayasa Vivian sebelumnya—di mana Nathaniel tampak sedang membentak Hanaelle, dan sebuah rekaman CCTV yang diedit menunjukkan Nathaniel memegang jeriken bensin di depan gudang. Narasi yang dibangun sangat rapi: Nathaniel mengalami gangguan mental akibat tekanan karier, membunuh asistennya—Vivian yang mencoba menghalangi, dan berusaha melenyapkan Hanaelle dalam ledakan cemburu.
“Dia membunuh Vivian untuk menjebakku,” Nathaniel memukul dashboard mobil. “Dia membunuh orang-orang itu hanya untuk memastikan aku diam!”
Hanaelle, yang duduk di kursi belakang di samping Cassian yang masih pingsan, menatap layar tablet itu. “Itu kau?” tanyanya sambil menunjuk wajah Nathaniel di layar. “Kenapa mereka bilang kau jahat?”
Nathaniel menoleh ke belakang, matanya berkaca-kaca. “Aku tidak jahat, Hana. Aku... aku hanya terlambat untuk menjadi baik.”
“Jangan panggil aku Hana,” sela wanita itu pelan. “Aku tidak merasa seperti Hana. Namaku... aku tidak tahu namaku, tapi itu bukan Hana.”
Nathaniel terdiam. Amnesia total, Hanaelle benar-benar menghapus seluruh identitasnya sebagai mekanisme pertahanan terakhir otaknya terhadap trauma yang terlalu besar. Baginya, Hanaelle adalah nama yang membawa luka, dan otaknya menolak nama itu.
“Kita menuju ke mana?” tanya Nathaniel pada Gabriel.
“Ke satu-satunya tempat yang tidak bisa dijangkau oleh radar Wiraatmaja Group,” jawab Gabriel. “Rumah persembunyian tua di pesisir utara. Di sana ada tim medis pribadiku. Kita harus memastikan Hanaelle stabil sebelum kita merencanakan serangan balik.”
“Kenapa kau membantuku, Gabriel? Kau kehilangan sepuluh tahun hidupmu karena ibuku. Kau harusnya membenciku juga,” tanya Nathaniel curiga.
Gabriel memutar kemudi dengan tenang, “Aku tidak membantumu, Nathaniel. Aku membantu adikku, Cassian, yang bodoh karena mengagumi bakatmu. Dan aku membantu gadis itu,” Ia melirik Hanaelle melalui spion tengah. “Karena ayahnya, Pak Chandra, adalah satu-satunya orang yang mencoba mengeluarkan aku dari penjara ibumu sepuluh tahun lalu, sebelum dia sendiri dilenyapkan.”
Nathaniel tertegun. Jadi, ayahnya Hanaelle sudah mencoba melawan Rosalind sejak lama, dan Gabriel adalah sekutunya.
Empat jam kemudian, mereka sampai di sebuah rumah tua di pinggir tebing yang menghadap laut. Angin kencang menerbangkan aroma garam yang segar, sangat berbanding terbalik dengan bau bensin yang masih menghantui indra penciuman Nathaniel.
Hanaelle langsung dibawa oleh seorang perawat ke dalam kamar untuk diperiksa. Sementara itu, Gabriel membawa Nathaniel ke sebuah ruangan yang penuh dengan monitor dan tumpukan dokumen tua.
“Dengar!” Gabriel membuka sebuah map. “Buku catatan yang kau bawa itu adalah kunci, tapi tidak cukup untuk meruntuhkan Rosalind di pengadilan. Kita butuh Cermin Asli yang disebutkan ayah Hanaelle. Itu bukan sekadar rekaman video biasa. Itu adalah server cadangan yang berisi seluruh komunikasi digital Rosalind selama dua puluh tahun terakhir.”
“Di mana benda itu?” tanya Nathaniel.
“Ayah Hanaelle menyembunyikannya di dalam benda yang paling sering kau lihat, tapi paling sering kau abaikan,” Gabriel menatap Nathaniel tajam. “Di dalam piala Best Actor pertama yang dimenangkan Hanaelle. Piala itu bukan logam padat. Di dalamnya ada hardware terenkripsi.”
Nathaniel memutar ingatan. Piala itu ada di ruang tengah rumah mereka—panggung bisnis mereka. Rumah yang kini pasti dijaga ketat oleh anak buah Rosalind.
“Aku harus kembali ke sana,” kata Nathaniel tegas.
“Kau gila? Kau adalah orang paling dicari di negara ini sekarang!”
“Hanaelle tidak akan pernah sembuh selama dia tidak tahu siapa dirinya,” Nathaniel menatap ke arah kamar Hanaelle. “Dan aku tidak bisa hidup dalam kebohongan ini lebih lama lagi. Jika aku harus mati sebagai penjahat untuk menjadikannya orang bebas, akan kulakukan.”
Tiba-tiba, terdengar teriakan dari kamar Hanaelle. Nathaniel berlari menuju sumber suara.
Ia menemukan Hanaelle sedang berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia memegang sebuah gunting kecil yang ia temukan di meja perawat. Ia tidak mencoba melukai dirinya, melainkan... ia sedang memotong rambut panjangnya yang indah secara membabi buta.
“Hana! Berhenti!” Nathaniel mencoba merebut gunting itu.
“Aku benci wajah ini!” teriak Hanaelle dengan isak tangis yang pecah. “Setiap kali aku melihat cermin, aku merasa melihat orang mati! Aku ingin wajah baru! Aku ingin hidup baru!”
Hanaelle terjatuh di lantai di antara potongan-potongan rambut hitamnya yang berserakan. Nathaniel berlutut di depannya, membiarkan Hanaelle menangis di dadanya.
“Aku akan memberimu hidup baru, aku berjanji,” bisik Nathaniel di telinga wanita yang kini sudah tidak mengenalnya itu.
Namun, di sela tangisnya, Hanaelle menggumamkan sesuatu yang membuat darah Nathaniel membeku.
“Angka itu... Nathan... angka itu muncul lagi di kepalaku.”
Nathaniel melepaskan pelukannya, “Angka apa, Hana?”
Hanaelle menatap Nathaniel dengan mata yang kosong namun fokus, “Tiga... enam... lima... satu. Dan setelah itu... suara ledakan. Kenapa ada ledakan di kepalaku?”
Nathaniel menatap Gabriel yang berdiri di ambang pintu. Gabriel mengangguk pelan, “Itu bukan amnesia biasa. Ingatannya terkunci di bawah kode-kode yang ditanamkan ayahnya. Hanaelle adalah brankas berjalan, Nathaniel. Dan ibumu menginginkan isi brankas itu sebelum dia membuangnya.”
Tiba-tiba, ponsel Nathaniel—ponsel lama yang ia bawa dari bunker—bergetar. Sebuah panggilan dari nomor rumah mereka.
Nathaniel mengangkatnya, meski Gabriel memberi isyarat untuk tidak melakukannya.
“Nathaniel, Sayang...” suara Rosalind terdengar sangat tenang, hampir seperti sedang menyanyi. “Aku baru saja menemukan piala Hanaelle yang cantik itu. Sayang sekali, isinya sudah kosong. Apa kau pikir ayah mertuamu sebodoh itu meninggalkan kuncinya di satu tempat?”
Rosalind tertawa kecil, “Kuncinya ada di dalam memori Hanaelle. Dan karena dia sekarang amnesia, sepertinya aku harus menjemput brankas kecilku itu. Aku sudah tahu di mana kalian berada, Gabriel. Sepuluh tahun tidak membuatmu lebih pintar.”
Suara helikopter mulai terdengar dari arah laut, mendekati rumah di tebing tersebut.
Rosalind sudah menemukan lokasi persembunyian mereka melalui pelacak di dalam piala yang sengaja ia biarkan ditemukan. Sementara itu, Hanaelle mulai mengalami kejang-kejang saat mencoba mengingat kode 3651. Nathaniel harus memilih—menyerahkan Hanaelle agar wanita itu mendapatkan bantuan medis dari Rosalind namun kembali menjadi boneka, atau terjun ke tebing laut bersama Hanaelle demi pelarian yang nyaris mustahil.
“Nathan!” Hanaelle mencengkeram tangan Nathaniel dengan kuku yang menusuk kulit. “Jangan biarkan wanita di helikopter itu menyentuhku! Aku ingat... aku ingat dia yang memegang korek api itu!”
Ingatan Hanaelle mulai kembali di saat yang paling tidak tepat, dan kebenaran yang ia ingat jauh lebih berbahaya daripada amnesianya.