Suara baling-baling helikopter Rosalind memekakkan telinga, memotong udara malam seperti pisau baja. Cahaya sorot yang brutal menyapu rumah di tebing itu, mengubah setiap sudut menjadi panggung pertunjukan horor.
“Nathan! Jangan biarkan wanita di helikopter itu menyentuhku!” jerit Hanaelle, tubuhnya bergetar hebat, kejang-kejangnya semakin menjadi saat kilatan ingatan tentang api dan Rosalind kembali menghantamnya. “Aku ingat... aku ingat dia yang memegang korek api itu!”
Rosalind tidak hanya membakar gudang, dia juga yang menyalakan api di pabrik ayah Hanaelle empat tahun lalu. Ingatan itu, yang terkunci rapat selama bertahun-tahun di dalam labirin pikiran Hanaelle, kini kembali menghantamnya tanpa ampun. Angka 3651—kode rahasia yang berisi lokasi server cadangan—masih berputar liar di kepalanya, namun kini disertai visual mengerikan dari api yang melahap bangunan, dan seringai dingin Rosalind di tengah asap.
“Hana, tenang!” Nathaniel berlutut di depannya, menahan tubuh Hanaelle yang meronta dan mencakar udara kosong. Ia menahan isak tangisnya sendiri. Ia adalah suami yang terlambat, pahlawan yang pengecut, yang baru menemukan keberaniannya di ambang kehancuran.
Di belakang mereka, Gabriel dan perawatnya juga diserang panik. Monitor di ruangan itu mulai berbunyi nyaring, menandakan perimeter keamanan rumah telah ditembus. “Helikopternya akan mendarat di halaman belakang! Kita tidak bisa keluar lewat darat!” teriak Gabriel, suaranya nyaris hilang ditelan bising.
Nathaniel menatap ke luar jendela. Di bawah mereka terbentang jurang tebing yang curam, diakhiri dengan lautan gelap yang bergemuruh di batu karang di bawah sana. Ketinggiannya setidaknya empat puluh meter. Sebuah lompatan bunuh diri. Kematian instan lebih mungkin terjadi daripada keselamatan.
Namun, tidak ada pilihan lain. Rosalind tidak hanya ingin menangkap mereka; dia ingin mereka mati dalam kecelakaan dramatis lainnya. Dia ingin mengontrol narasi, mengontrol babak terakhir dari drama busuk ini.
“Cassian! Kau sadar?” Nathaniel mengguncang bahu sutradara gila itu, yang masih terhuyung-huyung akibat benturan di bunker.
Cassian tersadar, matanya linglung, namun kembali tajam saat melihat helikopter itu. “Filmnya... rekaman klimaksnya...”
“Persetan dengan filmmu!” Nathaniel mengangkat tubuh Hanaelle yang lemas di bahunya, seperti karung beras. Hanaelle kini sudah pingsan lagi, kelelahan mental dan fisik telah menguasai raganya. “Kita lompat dari tebing! Gabriel, bantu Cassian!”
Mereka berlari menembus rumah menuju balkon belakang yang menghadap langsung ke laut. Cahaya sorot helikopter sudah menyapu area itu, lampu yang menyilaukan mata. Klakson mobil van milik anak buah Rosalind terdengar nyaring dari halaman belakang, dan semakin mendekat. Waktu mereka habis. Hitungan mundur nyata, bukan lagi gimmick Cassian.
“Nathaniel! Jangan lakukan hal bodoh!” Suara Rosalind terdengar melengking melalui loudspeaker helikopter, dipenuhi nada perintah yang sama saat ia meminta jadwal pemotretan palsu. “Menyerah sekarang, dan aku jamin kau akan mendapatkan pengadilan yang adil! Aku punya bukti bahwa kau tidak bersalah!”
Nathaniel berhenti di tepi tebing. Angin laut menerpa wajahnya, rambutnya berkibar liar, seolah alam semesta sendiri sedang mencoba menghentikan langkahnya. Ia menatap ke bawah. Lautan di bawah sana tampak seperti mulut hitam raksasa yang siap menelan mereka bulat-bulat. Ombak berdebur keras, memercikkan buih putih ke udara, suaranya memekakkan telinga. Nathaniel tidak tahu berenang sebaik aktor stuntman. Tapi dia tidak punya pilihan.
“Kau pembohong! Kau membunuh ayah Hanaelle dan sekarang kau membunuh putramu sendiri demi uang!” Nathaniel berteriak ke udara, tahu persis Rosalind bisa mendengarnya.
Ia menatap ke bawah jurang. Tidak ada jalan kembali. Panggung sudah diatur, dan kini ia harus berimprovisasi.
“Ini bukan akting lagi, Ibu,” bisik Nathaniel, sebuah kepuasan dingin menjalari nadinya—kepuasan dari seseorang yang akhirnya mengambil kendali atas hidupnya sendiri. “Ini adalah akhir dari babakmu. Dan kali ini, naskahnya kutulis sendiri.”
Dengan Hanaelle yang tak sadarkan diri di pelukannya, Nathaniel mengambil napas dalam-dalam, memejamkan mata, dan melompat.
Udara terasa menampar wajah mereka dengan kekuatan brutal saat tubuh mereka meluncur bebas di udara. Gravitasi adalah sutradara terbaik, dan adegan ini adalah klimaks yang sesungguhnya. Suara jeritan Nathaniel tertahan bercampur dengan deru angin dan gemuruh helikopter yang mengawasi. Di atas sana, helikopter Rosalind berhenti melayang, cahayanya menyilaukan saat mereka jatuh, merekam setiap detik kejatuhan mereka.
Byurrrr!
Mereka menghantam air dingin dengan kekuatan brutal yang meremas napas dari paru-paru Nathaniel. Air laut yang dinginnya menusuk tulang langsung menyergap, membuat Nathaniel megap-megap mencari udara. Berat badan Hanaelle, ditambah pakaian mereka yang basah kuyup, menariknya ke bawah, semakin dalam ke dalam kegelapan laut.
Nathaniel, meski panik, berusaha mempertahankan kesadarannya. Ia berjuang melawan insting yang menyuruhnya untuk panik. Ia melepaskan pelukan dari Hanaelle sejenak agar bisa berenang ke permukaan. Setelah berhasil mengambil napas, dengan kepala penuh air asin dan pandangan kabur, ia kembali menyelam untuk mencari Hanaelle.
Cahaya bulan dan sorot helikopter membantu sedikit penerangan di bawah permukaan air. Ia melihat gaun Hanaelle yang berwarna terang melayang di bawah permukaan air seperti hantu, bergerak bersama arus laut. Ia berenang sekuat tenaga, meski paru-parunya menjerit minta udara, mencengkeram lengan Hanaelle.
Namun, ombak di sini sangat ganas. Arus bawah laut terlalu kuat, pusaran air dingin terbentuk di sekitar batu karang yang tajam. Setiap kali Nathaniel mencoba berenang ke arah tebing, ombak akan menariknya kembali ke tengah laut. Napasnya mulai tersengal-sengal, otot-ototnya menjerit kelelahan dan kedinginan.
Ia melirik ke arah pantai. Sosok Gabriel dan Cassian tampak di atas batu karang, berteriak-teriak, melambaikan tangan, namun suara mereka hilang ditelan deru ombak yang memekakkan telinga. Mereka tidak bisa membantu.
Tiba-tiba, sebuah ombak raksasa, monster dari lautan gelap, menghantam mereka dengan kekuatan penuh. Hanaelle terlepas dari genggaman Nathaniel.
“Hana!” Nathaniel menjerit. Ia mencoba meraihnya, mencoba berenang ke arahnya, namun Hanaelle terseret arus menjauh darinya, menuju kegelapan lautan yang lebih pekat, ke arah laut lepas.
Air mulai masuk ke paru-paru Nathaniel. Tubuhnya mulai mati rasa kedinginan. Hipotermia mulai menyerang. Ia melihat ke atas, ke arah cahaya helikopter. Dari sana, ia bisa melihat bayangan Rosalind yang sedang mencondongkan tubuh ke luar, menatap ke arah mereka, seperti dewi yang sedang menyaksikan tragedi Yunani dari Olympus.
Rosalind tersenyum, penuh kemenangan, senyuman yang sama saat saham perusahaannya naik dua poin di karpet merah.
Nathaniel mencoba berteriak, mencoba berenang, namun tenaganya habis. Ia melihat Hanaelle yang semakin jauh, semakin kecil, ditelan ombak, menghilang ke dalam kegelapan. Ingatan tentang panggung, tentang kontrak, tentang kebohongan, berkelebat di benaknya, menghukumnya di detik-detik terakhir hidupnya.
Ia gagal. Gagal menyelamatkan wanita yang ia cintai. Dan yang lebih buruk, ia gagal menebus dosanya di depan mata ibunya yang sedang menonton.
Air laut yang dingin dan gelap mulai memasuki matanya. Pandangannya mulai buram. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, Nathaniel melihat sekelebat bayangan hitam yang sangat besar melintas di bawah permukaan air di dekat Hanaelle yang terseret arus. Bukan perahu karet atau perahu penyelamat. Sesuatu yang lebih besar, cepat, dan mungkin lebih mengancam. Bentuknya aerodinamis, seolah makhluk laut raksasa.
Tapi bisa jadi itu hanya halusinasi terakhirnya, otak yang putus asa menciptakan penyelamat palsu di ambang kematian.
Nathaniel menyerah pada kegelapan.
Di atas sana, Rosalind memerintahkan pilotnya untuk kembali. Panggung telah runtuh, dan pemeran utamanya sudah mati ditelan lautan. Semuanya berakhir seperti yang ia inginkan, tragedi yang akan menjadi berita utama besok pagi, dengan narasi yang sepenuhnya ia kontrol.
Namun, di dalam air, bayangan besar itu berbalik arah, dan bergerak cepat menuju tubuh Hanaelle yang tak berdaya.