Resusitasi di Balik Tirai Besi

1683 Words
Dingin itu terasa seperti benda tajam yang menguliti kesadaran Nathaniel satu demi satu. Di kedalaman lautan yang pekat, suara gemuruh ombak di atas sana berubah menjadi dengung rendah yang menenangkan, sebuah nina bobo bagi mereka yang sudah menyerah pada maut. Nathaniel bisa merasakan paru-parunya mengecil, memohon oksigen yang tak kunjung datang, hingga akhirnya rasa sakit itu berganti menjadi kebas yang nyaman. Dalam kegelapan itu, wajah Hanaelle muncul. Bukan wajah Hanaelle yang hancur karena trauma, bukan pula Elara yang penuh dendam. Ia melihat Hanaelle di malam pertama mereka menandatangani kontrak pernikahan—wanita itu mengenakan gaun tidur sederhana, duduk di tepi ranjang yang asing, menatapnya dengan binar harapan yang belum padam. “Nathan, apakah menurutmu kita bisa menjadi nyata di balik panggung ini?” Nathaniel ingin menjawab, tapi mulutnya hanya mengeluarkan gelembung udara terakhir. Ia merasa tubuhnya melayang, perlahan tenggelam menuju dasar samudera yang tak berdasar. Di atas sana, cahaya helikopter Rosalind perlahan memudar, seperti bintang yang padam di ujung cakrawala. Ia merasa bebas. Tidak ada lagi naskah, apalagi kamera, tidak ada lagi ibu yang memperlakukannya seperti aset saham. Tiba-tiba, sebuah sentakan keras menghantam bahunya. Sesuatu yang padat dan kuat mencengkeram kerah jaketnya. Nathaniel ingin berontak, ingin dibiarkan mati dalam kedamaian semu ini, namun tarikan itu begitu mutlak. Sesuatu yang besar, yang tadinya ia kira monster laut dalam halusinasinya, kini menyala. Lampu sorot LED biru yang menusuk penglihatan muncul dari sebuah siluet logam raksasa. Itu bukan monster. Itu adalah Mini-Submersible—kapal selam taktis yang bergerak nyaris tanpa suara. Proses penarikan tubuhnya terasa seperti siksaan. Nathaniel merasakan tekanan air yang berubah drastis saat ia ditarik masuk ke dalam ruang dekompresi darurat. Begitu pintu baja kedap air itu tertutup dan air dipompa keluar, ia jatuh tersungkur di lantai logam yang dingin, memuntahkan air asin bercampur sisa-sisa napasnya. “Resusitasi! Cepat! Detak jantungnya melemah!” Suara itu terdengar jauh, seperti berasal dari balik dinding kaca yang tebal. Nathaniel merasakan dadanya ditekan dengan keras. Satu kali. Dua kali. Rasa sakit yang luar biasa menghantam tulang rusuknya. Ia mencoba membuka mata, tapi pandangannya hanya menangkap kilatan lampu darurat berwarna merah dan sosok-sosok yang mengenakan pakaian taktis hitam. “Ayo, Nathaniel! Jangan mati sekarang atau semua ini sia-sia!” Suara Gabriel Velaede. Nathaniel mengenali nada dingin itu. Sesaat kemudian, sebuah kejutan listrik menghantam dadanya. Tubuhnya melenting ke atas, otot-ototnya menegang secara paksa sebelum kembali jatuh ke lantai. Oksigen masuk kembali ke paru-parunya dengan rasa pedih yang luar biasa, seolah ia baru saja menghirup pecahan kaca. Nathaniel terbatuk-batuk, mengeluarkan cairan dari saluran pernapasannya, sementara tangannya mencakar-cakar lantai logam. “Hana...” suaranya hanya berupa desisan serak. “Di mana... Hana?” Gabriel berlutut di sampingnya, memegang bahu Nathaniel untuk menahannya agar tidak banyak bergerak. Wajah pria itu basah oleh air dan keringat. “Tenanglah. Kau selamat. Unit penyelamatku berhasil menarikmu tepat waktu.” “Hanaelle!” Nathaniel meraih kerah baju Gabriel dengan sisa tenaganya, matanya yang memerah menatap tajam. “Jangan katakan padaku kau membiarkannya tenggelam!” Gabriel terdiam sejenak, ekspresinya sulit dibaca di bawah temaram lampu merah kapal selam. “Arus di titik lompatanmu terlalu liar, Nathaniel. Kapal selam ini hanya bisa mengunci satu target saat ombak menghantam karang. Kami menarikmu, tapi ombak raksasa itu... ia menyapu Hanaelle ke arah timur, menuju laut lepas.” Dunia Nathaniel seolah meledak kembali. Ia mencoba berdiri, namun kakinya lemas seperti jeli. “Cari dia! Kau punya teknologi ini, kau punya orang-orang ini! Cari dia sekarang!” “Kami sedang mencarinya melalui sonar!” bentak Gabriel, memaksa Nathaniel kembali berbaring. “Tapi kau harus paham satu hal, ibumu masih di atas sana. Dia sedang memantau area ini dengan radar termal. Jika kami menyalakan semua sistem pencarian, dia akan tahu kita masih hidup. Kau ingin aku menyelamatkannya untuk kemudian menyerahkannya kembali ke tangan Rosalind?” Nathaniel memejamkan mata, air mata jatuh di pipinya yang pucat. Rasa bersalah itu kini lebih mematikan daripada air laut yang tadi hampir membunuhnya. Ia membiarkan Hanaelle terlepas. Ia telah melakukan hal yang paling ia takuti—membiarkan wanita itu sendirian di kegelapan. Dua jam kemudian, kapal selam itu bersandar di sebuah pangkalan bawah air tersembunyi—bekas galangan kapal peninggalan perang yang telah dimodifikasi menjadi markas operasi Gabriel. Nathaniel, yang kini sudah mengenakan pakaian kering namun masih gemetar karena hipotermia, duduk di sebuah ruang kontrol yang dipenuhi layar monitor raksasa. Cassian berada di sana, sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Wajah sang sutradara tidak lagi menunjukkan kegilaan artistik; yang tersisa hanyalah kelelahan seorang pria yang baru saja melihat neraka. Di tangannya, ia masih memegang memory card yang ia selamatkan dari kamera yang hancur. “Rekaman itu aman,” gumam Cassian tanpa menatap Nathaniel. “Semua adegan di bunker, pengakuan ibumu, serangan bensin... semuanya ada di sini. Ini akan menjadi film paling mengerikan yang pernah dilihat dunia.” “Aku tidak peduli tentang filmmu, Cassian,” sahut Nathaniel dingin. “Aku hanya ingin tahu di mana istriku.” Gabriel masuk ke ruangan dengan langkah cepat. Ia menuju meja pusat dan menekan beberapa tombol. Sebuah peta satelit muncul, menampilkan titik koordinat di laut lepas pesisir utara. “Ada sesuatu yang aneh,” ujar Gabriel, matanya menyipit menatap monitor. ”Unit sonarku mendeteksi aktivitas di permukaan sekitar dua puluh menit setelah kau tenggelam. Sebuah perahu cepat tanpa lampu navigasi muncul dari arah yang berlawanan dengan arah helikopter Rosalind.” Nathaniel berdiri, mendekati monitor. “Maksudmu ada orang lain di sana? Polisi?” “Bukan polisi. Jika itu polisi, mereka akan menyalakan lampu suar. Perahu ini bergerak dalam senyap, sangat terlatih. Mereka memutar di area tempat Hanaelle terakhir kali terlihat, lalu bergerak menjauh dengan kecepatan tinggi menuju perbatasan laut internasional.” “Siapa mereka?” tanya Nathaniel, dadanya kembali sesak oleh harapan sekaligus ketakutan baru. Gabriel menghela napas panjang, ia membuka sebuah file intelijen di layar samping. “Ada faksi ketiga yang selama ini mengawasi pergerakan Rosalind. Sebuah konsorsium media yang menjadi rival abadi Wiraatmaja Group. Mereka menyebut diri mereka The Truth Seekers. Selama bertahun-tahun, mereka mencoba membongkar skandal pencucian uang Rosalind melalui produksi film-filmmu.” “Maksudmu mereka menculik Hanaelle?” “Atau menyelamatkannya,” ralat Gabriel. “Mereka tahu Hanaelle adalah kunci. Dia adalah brankas berjalan yang berisi kode-kode rahasia ayahnya. Jika mereka memilikinya, mereka memiliki peluru untuk menghancurkan Rosalind tanpa perlu pengadilan.” Nathaniel mengepalkan tinju hingga buku jarinya memutih. “Jadi dia pindah dari satu kandang harimau ke kandang harimau lainnya.” “Setidaknya dia hidup, Nathaniel,” Cassian menyela. “Dan itu memberimu satu keuntungan yang tidak dimiliki siapa pun; Rosalind mengira kalian berdua sudah mati. Di matanya, panggung sudah tutup. Kau sekarang adalah hantu. Dan seorang hantu bisa bergerak di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh manusia hidup.” Di belahan dunia lain, di sebuah ruang medis yang sangat steril dan mewah, cahaya lampu neon yang terang membuat Hanaelle mengerjap. Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun ia merasakan selang infus menusuk kulitnya. Suara detak jantung dari monitor medis menjadi satu-satunya musik di ruangan itu. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi. Air dingin... kegelapan... dan wajah seorang pria yang meneriakkan namanya dengan penuh kepedihan. Pintu ruangan terbuka. Bukan Rosalind yang masuk. Bukan pula Nathaniel. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu yang sangat rapi masuk. Wajahnya ramah, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak tertandingi. Ia membawa sebuah tablet dan meletakkannya di meja samping tempat tidur Hanaelle. “Selamat pagi, Nona Hanaelle. Atau haruskah saya memanggil Anda dengan identitas baru Anda?” Hanaelle menatap pria itu dengan bingung. Ingatannya masih terasa seperti potongan teka-teki yang berserakan. “Di mana aku? Siapa kau?” Pria itu tersenyum tipis. “Anda berada di tempat yang aman. Jauh dari jangkauan wanita yang mencoba membakar Anda hidup-hidup. Nama saya adalah Arthur Velaede. Saya adalah sepupu dari Gabriel dan Cassian. Dan mulai hari ini, Anda bukan lagi seorang aktris.” Arthur menekan layar tabletnya, menampilkan berita utama di televisi. “BREAKING NEWS: Aktor Nathaniel Wiraatmaja dan Istrinya, Hanaelle Chandra, Dinyatakan Tewas dalam Kecelakaan Laut Tragis. Polisi Menghentikan Pencarian.” Hanaelle menatap layar itu dengan mata berkaca-kaca. Ia melihat foto Nathaniel di sana. Rasa sakit yang tajam menghantam kepalanya. Angka-angka itu kembali muncul. 3... 6... 5... 1... “Dunia menganggap Anda sudah mati, Hanaelle,” lanjut Arthur. “Ini adalah kesempatan Anda untuk benar-benar bebas. Namun, kebebasan itu ada harganya. Kami butuh kode yang ditanamkan ayah Anda di dalam memori Anda. Kode yang akan meruntuhkan seluruh imperium Wiraatmaja.” Hanaelle memejamkan mata. Ia teringat Nathaniel yang melompat bersamanya. Ia teringat genggaman tangan pria itu yang begitu erat sebelum ombak memisahkan mereka. “Apakah dia... apakah Nathaniel benar-benar mati?” tanya Hanaelle, suaranya gemetar. Arthur terdiam sejenak. “Dalam catatan resmi pemerintah, ya. Tapi di dunia kita, kematian hanyalah pergantian peran. Pertanyaannya sekarang, peran apa yang ingin Anda mainkan untuk membalas dendam?” Kembali di pangkalan bawah air, Nathaniel menatap bayangannya di cermin yang retak di ruang ganti. Ia melihat wajah yang pucat, mata yang cekung, dan bekas luka bakar kecil di lehernya. Ia bukan lagi sang “Prince of Showbiz”. Ia adalah pria tanpa nama, tanpa rumah, dan tanpa identitas. Ia mengambil sebuah pisau cukur. Dengan gerakan pasti, ia mulai memangkas rambutnya hingga pendek, mengubah garis wajahnya. Ia mengambil sebuah lensa kontak berwarna abu-abu dan mengenakannya. “Kau siap menjadi orang lain?” Gabriel berdiri di ambang pintu, memegang sebuah paspor palsu. Nathaniel menatap paspor itu. Di sana tertera nama baru: Caleb Thorne. “Nathaniel Wiraatmaja sudah mati di laut itu,” ujar Nathaniel dengan suara yang kini terdengar lebih dalam dan dingin. “Sekarang, giliranku untuk menjadi sutradara dalam hidup Rosalind. Aku akan menghancurkan panggungnya, inci demi inci, sampai tidak ada lagi tempat baginya untuk bersembunyi.” Ia melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan identitas lamanya di lantai yang kotor. Panggung baru telah disiapkan. Namun kali ini, tidak akan ada tepuk tangan di akhir pertunjukan. Hanya ada kehancuran. Nathaniel kini memulai hidup sebagai Caleb Thorne untuk menyusup kembali ke lingkungan Rosalind. Namun, di saat Nathaniel sedang mempersiapkan penyamarannya, ia menerima sebuah pesan anonim di ponsel barunya: “Jangan percaya pada Velaede mana pun. Mereka tidak menyelamatkan istrimu, mereka membedahnya. Temui aku di sisa reruntuhan gudang ayahmu jika kau ingin dia tetap hidup.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD