Anatomi Pengkhianatan

1179 Words
Udara di dalam pangkalan bawah tanah itu mendadak terasa lebih tipis daripada saat Nathaniel tenggelam di kedalaman laut. Pesan di layar ponsel barunya—benda kecil yang seharusnya menjadi alat komunikasinya sebagai Caleb Thorne—berpendar seperti mata predator dalam kegelapan. “Jangan percaya pada Velaede mana pun. Mereka tidak menyelamatkan istrimu, mereka membedahnya. Temui aku di sisa reruntuhan gudang ayahmu jika kau ingin dia tetap hidup.” Dada Nathaniel bergemuruh. Ia menatap punggung Gabriel Velaede yang sedang sibuk memantau monitor radar di ujung ruangan. Pria yang tadi ia anggap sebagai juru selamat, kini tampak seperti bayangan hitam yang menyimpan ribuan rahasia. Apakah Gabriel benar-benar berniat menghancurkan Rosalind, ataukah dia hanya ingin merebut harta yang dimiliki Hanaelle untuk kepentingannya sendiri? “Caleb? Kau sudah siap?” suara Gabriel memecah keheningan. Ia berbalik, menatap Nathaniel dengan tatapan tajam yang seolah bisa menembus penyamaran barunya. Nathaniel segera mematikan layar ponselnya. Ia memaksakan sebuah senyuman dingin—akting terbaiknya sejauh ini. “Aku butuh udara segar sebelum memulai misi ini. Aku akan memeriksa perimeter luar pangkalan.” Gabriel menyipitkan mata, ada jeda beberapa detik. “Jangan terlalu lama. Polisi masih berpatroli di sekitar pesisir. Ingat, identitasmu sebagai Caleb Thorne sangat tipis. Satu kesalahan kecil, dan kau akan berakhir di meja otopsi.” “Aku tahu,” jawab Nathaniel singkat sebelum melangkah pergi. Perjalanan menuju reruntuhan gudang itu dilakukan Nathaniel dalam kesunyian yang mencekam. Ia mencuri satu motor trail dari galangan kapal dan memacu mesinnya menembus hutan pinus yang masih berbau sisa kebakaran. Cahaya bulan tanggal dua belas Januari ini sangat pucat, seolah enggan menerangi bumi yang sudah dikotori darah dan kebohongan. Begitu sampai di lokasi, bau bensin dan kayu hangus langsung menusuk indra penciumannya—sebuah pemicu trauma yang membuat kepalanya berdenyut. Garis polisi berwarna kuning yang sudah koyak melambai ditiup angin malam, tampak seperti tangan hantu yang melarangnya masuk. Nathaniel melangkah masuk ke dalam sisa-sisa bangunan yang kini hanya berupa kerangka hitam. Sepatunya menginjak abu dan pecahan kaca yang berderit nyaring di tengah keheningan hutan. “Aku sudah di sini! Keluar!” teriak Nathaniel, suaranya menggema di antara pilar-pilar yang hangus. Tidak ada jawaban. Hanya suara dahan pohon yang bergesekan di luar. Nathaniel menggenggam pisau komando yang diberikan Gabriel, jantungnya berdegup kencang. Ia merasa diawasi dari setiap sudut gelap. Tiba-tiba, sebuah suara rendah terdengar dari arah sudut meja kerja yang dulu menjadi tempat ia menemukan kotak besi rahasia. “Kau datang lebih cepat dari yang kuduga, Nathaniel. Ternyata cinta memang membuat manusia menjadi sangat ceroboh.” Seorang pria muncul dari balik bayangan sebuah tangki air yang sudah meledak. Ia mengenakan mantel panjang hitam dan topi yang menutupi sebagian wajahnya. Namun, yang membuat Nathaniel terpaku bukanlah pakaiannya, melainkan tangannya yang terbalut perban tebal, memegang sebuah pemantik api yang sangat familiar. “Vivian?” Nathaniel terengah, suaranya nyaris hilang. “Kau... kau masih hidup?” Sosok itu maju perlahan ke arah cahaya remang. Di bawah topi itu, terlihat wajah yang hancur sebagian karena luka bakar, namun matanya masih memancarkan kebencian yang sama. Bukan Vivian. Itu adalah seorang pria paruh baya yang memiliki struktur wajah yang sangat mirip dengan... Inspektur Aris? “Aris sudah mati di dalam ledakan itu, Nathaniel. Aku adalah apa yang tersisa dari kegagalan hukum,” pria itu berbisik, suaranya serak akibat asap. “Dengar baik-baik. Gabriel dan Arthur Velaede bukan sedang melindungimu. Mereka sedang melakukan Neural-Mapping pada Hanaelle. Mereka memaksa masuk ke dalam ingatannya untuk mengambil kode 3651 itu menggunakan teknologi yang dilarang.” “Kenapa aku harus mempercayaimu?” tantang Nathaniel, meski hatinya mulai goyah. “Karena aku punya ini,” pria itu melemparkan sebuah benda kecil ke arah Nathaniel. Nathaniel menangkapnya. Itu adalah sebuah kalung emas dengan liontin kecil berbentuk kunci. Jantung Nathaniel seolah berhenti. Itu adalah kalung yang dipakai Hanaelle saat mereka melompat ke laut. Kalung yang seharusnya hilang di dasar samudera. “Kalung ini dilepaskan dari lehernya oleh tim medis Arthur sebelum mereka menyuntikkan serum penghancur memori. Jika kau tidak menyelamatkannya dalam dua puluh empat jam ke depan, Hanaelle tidak akan hanya kehilangan ingatannya—dia akan kehilangan jiwanya. Dia akan menjadi cangkang kosong yang hanya bisa mengulang angka-angka itu.” Tiba-tiba, suara sirine polisi terdengar mendekat dari arah jalan utama. Pria itu mundur kembali ke dalam kegelapan. “Pilihan ada di tanganmu, Aktor. Teruslah bermain peran dalam sandiwara Gabriel, atau hancurkan panggungnya sekarang juga. Jika kau butuh bantuan, cari Cermin yang Tak Pernah Retak di kantor lama ayahmu.” Dalam sekejap, pria itu menghilang ke dalam lebatnya hutan, meninggalkan Nathaniel sendirian di tengah reruntuhan yang mulai dikepung cahaya biru lampu polisi. Kembali di pangkalan, Nathaniel melihat Gabriel sedang menelepon seseorang dengan nada bicara yang sangat rahasia. Nathaniel bersembunyi di balik pilar logam, menajamkan pendengarannya. “Ya, Arthur. Bagaimana progresnya? Apakah dia sudah bicara? ... Bagus. Lanjutkan dosisnya. Kita tidak butuh kewarasannya, kita hanya butuh digit terakhir itu. Setelah itu, kita bisa membuangnya ke lokasi pencarian polisi agar ini terlihat seperti penemuan mayat yang terlambat.” Dunia Nathaniel berputar. Ucapan pria di gudang tadi benar. Gabriel benar-benar menggunakan Hanaelle sebagai alat pemeras. Air mata kemarahan mulai menggenang di mata Nathaniel. Ia baru menyadari bahwa ia telah berpindah dari satu monster—Rosalind ke monster lain yang lebih halus—Velaede. Ia harus bergerak. Sekarang. Nathaniel menyelinap ke ruang peralatan, mengambil beberapa granat asap dan peralatan komunikasi satelit. Ia tidak akan menjadi Caleb Thorne yang patuh. Ia akan menjadi mimpi buruk bagi siapa pun yang menyentuh Hanaelle. Namun, saat ia hendak keluar melalui pintu darurat, lampu pangkalan mendadak menyala merah. Suara alarm meraung-raung. Suara otomatis sistem keamanan bergema. Gabriel muncul di ujung koridor dengan pistol di tangan. Wajah ramahnya kini telah lenyap, digantikan oleh ekspresi predator yang dingin. “Kau memang aktor yang hebat, Nathaniel. Tapi kau payah dalam menyembunyikan detak jantungmu. Berikan kalung itu padaku.” Nathaniel berdiri tegak, memegang kalung kunci Hanaelle erat-erat. “Kalian tidak akan pernah mendapatkan kode itu. Tidak selama aku masih bernapas.” “Oh, kau akan tetap bernapas,” ujar Gabriel sambil mengarahkan senjatanya ke kaki Nathaniel. “Tapi kau akan melihat bagaimana istrimu hancur dari balik monitor ini.” Tepat saat Gabriel hendak menarik pelatuk, pintu pangkalan bawah air itu meledak dari luar. Bukan oleh polisi, melainkan oleh sebuah torpedo kecil yang meluncur dari arah laut. Air mulai masuk dengan deras ke dalam ruangan. Di tengah kekacauan itu, Nathaniel melihat sebuah tim penyelam taktis lain masuk melalui lubang ledakan. Mereka tidak mengenakan seragam Velaede ataupun Wiraatmaja. Di bahu mereka terdapat logo yang membuat Nathaniel teringat akan ucapan ayahnya dulu: sebuah cermin yang dibelah oleh sebilah pedang. Faksi baru telah menyerbu pangkalan Velaede. Di tengah banjir air laut yang mulai menenggelamkan ruangan, Nathaniel terseret arus menuju bagian dalam pangkalan di mana server data disimpan. Saat ia mencoba berpegangan pada sebuah pipa, ia melihat melalui jendela kaca ruang medis di bawah air: Hanaelle sedang terikat di kursi dengan kabel-kabel di kepalanya, dan di belakangnya, berdiri sosok yang seharusnya tidak mungkin ada di sana. Rosalind Wiraatmaja sedang memegang kendali mesin Neural-Mapping tersebut. “Halo, Putraku,” suara Rosalind terdengar melalui intercom kedap air. “Terima kasih sudah membawakan kuncinya secara langsung.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD