Dinding logam pangkalan bawah laut itu berderit, merintih di bawah tekanan air yang terus merangsek masuk melalui celah ledakan. Suara alarm yang meraung-raung kini terdengar seperti jeritan panjang yang putus asa. Nathaniel berdiri mematung di koridor yang mulai dibanjiri air setinggi mata kaki. Rasa dingin yang menusuk kulitnya tidak sebanding dengan rasa beku yang menjalar di sumsum tulang saat ia menatap layar monitor di ruang medis. Di balik kaca tebal yang kedap suara, Rosalind Wiraatmaja berdiri dengan keanggunan yang mengerikan. Ia mengenakan setelan jas putih tulang, tampak begitu kontras di tengah ruangan yang dipenuhi kabel-kabel hitam menyerupai tentakel yang menempel di kepala Hanaelle. “Ibu...” desis Nathaniel. Suaranya tenggelam oleh gemuruh air, namun amarah di matanya me

