Nekropolis Cinta dan Rahasia Tanah Merah

2016 Words
Dunia seolah berhenti berputar di dalam gua karang yang lembap itu. Suara deburan ombak yang menghantam dinding batu terdengar seperti detak jam raksasa yang menghitung sisa kewarasan mereka. Nathaniel berlutut di atas pasir basah, tatapannya terpaku pada layar jam tangan digital di pergelangan tangan Hanaelle. Video itu singkat, namun setiap detiknya terasa seperti belati yang mengiris ulu hati. Di sana, di bawah langit kelabu kompleks pemakaman elit keluarga Wiraatmaja, Rosalind berdiri tegak. Ia tidak menangis. Ia tidak menunjukkan duka. Di belakangnya, alat berat mulai mengangkat peti mati perunggu milik mendiang ayah Nathaniel—Hendra Wiraatmaja. “Dia gila..” bisik Nathaniel, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin gua. “Dia membongkar makam ayahnya sendiri. Untuk apa, Hana? Apa lagi yang dia cari dari orang mati?” Hanaelle tidak langsung menjawab. Ia berdiri mematung, menatap laut lepas dengan pandangan yang kosong. Rambutnya yang kini pendek dan berantakan karena guntingan paksa semalam, membuat wajahnya tampak lebih tegas, dari yang biasanya. Kesadaran yang ia peroleh dari mesin Neural-Mapping tadi bukan sekadar data; itu adalah beban sejarah yang tidak seharusnya dipikul oleh satu manusia. “Dia tidak mencari benda, Nathan,” Hanaelle akhirnya bersuara. Suaranya terdengar sangat tenang, sebuah ketenangan yang justru membuat Nathaniel merinding. “Dia mencari bukti bahwa ayahku tidak gagal. Dia ingin memastikan bahwa virus informasi yang ditanamkan ayahku di dalam jantung ayahmu benar-benar sudah menyebar ke seluruh infrastruktur Wiraatmaja.” Nathaniel mendongak, mencoba mencerna kalimat Hanaelle yang terasa seperti teka-teki. “Virus informasi? Apa maksudmu?” Hanaelle berbalik, menatap Nathaniel dengan sorot mata yang penuh duka sekaligus kemarahan yang membara. “Ayahku, Pak Chandra, bukan sekadar pemilik pabrik yang bangkrut. Dia adalah arsitek sistem keamanan digital Wiraatmaja. Dia dipaksa oleh Rosalind untuk menciptakan gerbang belakang agar Rosalind bisa mengontrol seluruh aset perusahaan tanpa sepengetahuan ayahmu. Tapi ayahku tahu, jika dia melakukannya, dia akan dibunuh. Maka, dia menciptakan sebuah kegagalan sistem yang hanya bisa diaktifkan oleh detak jantung terakhir seseorang.” Hanaelle mencengkeram liontin kunci di tangannya. “Pada malam itu, Rosalind memberikan senjata kepada ayahku. Dia mengancam akan membunuhku jika ayahku tidak menembak Hendra Wiraatmaja. Rosalind ingin suaminya mati, tapi dia ingin tangan orang lain yang berlumuran darah.” Nathaniel merasakan dunianya runtuh untuk kesekian kalinya. “Jadi... ayahmu membunuh ayahku atas perintah ibuku?” “Ya. Tapi ayahku melakukan sesuatu yang lebih cerdas,” Hanaelle mendekat, suaranya merendah menjadi bisikan. “Dia menembak ayahmu dengan peluru yang berisi mikrokapsul data terenkripsi. Dia menanamkan bukti kejahatan Rosalind di dalam tubuh ayahmu. Satu-satunya cara untuk mengambil data itu adalah dengan menunggu tubuh itu terurai sempurna hingga mikrokapsul itu jatuh ke dasar peti. Itulah sebabnya Rosalind menunggu sepuluh tahun. Dia menunggu tanah melakukan tugasnya.” Nathaniel bangkit dengan mendadak, rasa mual yang hebat mengaduk perutnya. “Semua pernikahan kita... semua akting kita selama dua tahun ini... hanya untuk mengalihkan perhatian publik sementara dia menunggu makam itu matang?” “Kita adalah pengalihan isu terbesar dalam sejarah bisnis mereka, Nathan. Kita adalah tirai beludru indah yang menutupi nekropolis yang mereka bangun,” Hanaelle menatap tangannya yang gemetar. “Dan sekarang, dia sudah memilikinya. Dia sedang berada di pemakaman itu untuk mengambil kunci final yang akan membuatnya tak tersentuh oleh hukum mana pun di dunia ini.” Fajar mulai pecah, mengubah warna langit menjadi merah jingga yang tampak seperti luka yang meradang. Nathaniel dan Hanaelle berhasil keluar dari gua karang dan menemukan sebuah mobil tua yang ditinggalkan Vivian di pinggir dermaga kecil—sebuah bagian dari rencana pelarian terakhir asisten itu sebelum ia menghilang kembali ke bayang-bayang. Nathaniel memacu mobil itu menuju kompleks pemakaman Wiraatmaja yang terletak di perbukitan sunyi. Perjalanan itu terasa seperti perjalanan menuju kematian. Tidak ada musik, tidak ada percakapan. Hanya ada suara deru mesin dan napas mereka yang berat. Di sepanjang jalan, Nathaniel mencuri pandang ke arah Hanaelle. Wanita itu tampak sedang bergelut dengan badai di dalam kepalanya. Sesekali ia menggumamkan angka, sesekali ia mencengkeram kepalanya seolah ada ribuan suara yang berteriak di sana. Efek Neural-Mapping itu permanen—kepribadiannya kini adalah perpaduan antara Hanaelle yang lembut, Elara yang dingin, dan seorang analis data yang haus darah. “Kenapa kau tidak melompat saja tadi di pangkalan?” tanya Nathaniel tiba-tiba. Hanaelle menoleh perlahan. “Karena aku ingin melihat wajahnya saat panggungnya runtuh, Nathan. Aku ingin melihat Rosalind menyadari bahwa anak yang ia besarkan sebagai alat bisnis adalah orang yang akan memasangkan borgol di tangannya.” “Dan jika aku tidak bisa melakukannya?” Nathaniel mencengkeram kemudi hingga kuku jarinya memutih. “Jika aku masih memiliki keraguan karena dia adalah darah dagingku?” “Maka kau hanyalah penonton dalam tragedimu sendiri,” jawab Hanaelle tanpa ampun. Mereka sampai di gerbang makam saat matahari sudah sepenuhnya menggantung di langit. Tempat itu sudah dijaga ketat oleh unit keamanan swasta yang mengenakan seragam hitam. Tidak ada polisi. Rosalind ingin pembongkaran makam ini tetap menjadi urusan keluarga yang sangat privat. Nathaniel menghentikan mobilnya beberapa ratus meter dari gerbang. “Kita tidak bisa masuk lewat depan. Ada jalan setapak dari arah hutan belakang tempat aku sering bersembunyi saat kecil.” Mereka menyelinap menembus pepohonan, bergerak seperti dua bayangan yang tidak diinginkan. Nathaniel merasakan setiap jengkal tanah ini adalah memori. Di sini ia pernah bermain bola bersama ayahnya, di sana ia pernah menangis saat ayahnya dinyatakan tewas dalam perampokan pabrik yang ternyata adalah eksekusi terencana. Saat mereka mencapai puncak bukit yang menghadap langsung ke makam utama, mereka melihatnya. Rosalind berdiri di depan peti perunggu yang sudah terbuka. Ia memegang sebuah kotak perak kecil berisi cairan kimia untuk membersihkan mikrokapsul yang ia temukan di antara tulang belulang suaminya. Ekspresinya adalah kegembiraan yang murni, sebuah euforia kemenangan yang membuatnya tampak lebih muda sekaligus lebih mengerikan. “Ibu!” teriak Nathaniel, suaranya membelah keheningan makam. Rosalind menoleh perlahan. Ia tidak tampak terkejut. Ia tersenyum, seolah ia memang sudah mengatur waktu kedatangan mereka dalam naskahnya. “Ah, Nathaniel. Kau selalu memiliki waktu yang sempurna untuk adegan klimaks. Dan Hanaelle... kau terlihat jauh lebih segar dengan ingatan yang utuh. Apakah mesin itu membantumu mengingat betapa pengecutnya ayahmu?” Hanaelle melangkah maju, melewati Nathaniel. Ia mengangkat liontin kunci di tangannya. “Ayahku tidak pengecut, Rosalind. Dia memberimu apa yang kau inginkan agar aku bisa hidup. Tapi dia juga memberiku kunci untuk menghancurkanmu.” “Kunci itu?” Rosalind tertawa meremehkan. “Kunci itu hanya berfungsi jika kau memiliki kode aksesnya. Dan kode 3651 yang kau gumamkan terus-menerus itu? Itu adalah kode pengalihan. Aku yang menanamkannya di bawah sadarmu melalui Vivian selama bertahun-tahun.” Hanaelle berhenti melangkah. Wajahnya memucat. “Apa?” “Kau pikir aku sebodoh itu membiarkan ayahmu menyimpan kunci asli di dalam memori anak perempuannya?” Rosalind mendekati peti mati itu, mengambil sebuah chip kecil dari dasar perunggu. “Kunci aslinya selalu ada di sini, di dalam tubuh suamiku. 3651 adalah tanggal kelahiran Nathaniel yang salah, sebuah umpan agar kau terjebak dalam disosiasi tanpa akhir.” Rosalind mengangkat chip itu tinggi-tinggi. “Dengan ini, aku bisa menghapus seluruh catatan digital tentang keterlibatanku dalam kasus-kasus lama. Besok, aku akan menjadi wanita paling bersih di negeri ini, dan kalian berdua... kalian akan menjadi narasi tragis tentang pasangan gila yang melakukan bunuh diri massal di makam keluarga.” Unit keamanan di sekitar Rosalind mulai mengeluarkan senjata mereka. Nathaniel menarik Hanaelle ke belakang tubuhnya. “Kau tidak akan bisa melakukannya, Ibu. Dunia sudah mulai curiga. Ledakan bunker itu tidak bisa kau tutupi selamanya.” “Dunia hanya melihat apa yang aku tunjukkan di layar, Nathan,” Rosalind memberi isyarat kepada anak buahnya. “Dan hari ini, layar akan menunjukkan kematian kalian.” Tiba-tiba, suara getaran hebat mengguncang tanah makam tersebut. Bukan gempa bumi, melainkan suara ribuan notifikasi yang masuk secara bersamaan ke ponsel setiap pengawal di sana. Rosalind mengernyit, ia meraba ponsel di sakunya. Layarnya menyala merah. Bukan hanya ponsel mereka. Di langit-langit makam, sebuah drone besar melayang, memproyeksikan sebuah gambar ke arah dinding batu nisman yang besar. Itu adalah rekaman langsung dari apa yang sedang terjadi di sana, lengkap dengan audio percakapan mereka sejak awal. “Apa ini?!” jerit Rosalind. Sesosok pria muncul dari balik bayangan monumen keluarga yang besar. Ia tidak mengenakan seragam keamanan. Ia mengenakan jaket kulit kusam dan memegang sebuah remote control transmisi satelit. Gabriel Velaede. “Kau lupa satu hal, Rosalind,” suara Gabriel terdengar sangat puas. “Aku bukan hanya seorang sutradara. Aku adalah seorang hacker yang menghabiskan sepuluh tahun di penjara hanya untuk mempelajari cara meretas sistemmu.” Gabriel menunjuk ke arah drone itu. “Seluruh dunia sedang menonton ini. Bukan sebagai film, tapi sebagai berita utama di setiap stasiun televisi yang tidak kau miliki. Kau baru saja mengakui pembunuhan suamimu dan ayah Hanaelle di depan jutaan pasang mata.” Wajah Rosalind yang tadi penuh kemenangan kini berubah menjadi topeng kemarahan yang hancur. Ia menatap chip di tangannya, lalu menatap Nathaniel dan Hanaelle. “Kalian pikir kalian menang?! Aku akan menghancurkan segalanya sebelum kalian menyentuhku!” Rosalind mengeluarkan sebuah detonator kecil dari sakunya. “Makam ini... seluruh kompleks ini... sudah kupasangi bahan peledak. Jika aku tidak bisa memiliki masa depan, maka tidak ada yang bisa!” Nathaniel melihat ke bawah kakinya. Di antara sela-sela rumput makam, ia melihat kabel-kabel kecil yang tertanam rapi. Rosalind benar-benar sudah merencanakan pembersihan total. “Ibu, jangan!” teriak Nathaniel. Hanaelle, yang sejak tadi diam, tiba-tiba berlari kencang ke arah Rosalind. Ia tidak takut pada senjata para pengawal. Di matanya hanya ada api pembalasan yang sudah membara selama sepuluh tahun. “Hana, kembali!” Nathaniel mencoba mengejar. Hanaelle menerjang Rosalind tepat saat wanita itu hendak menekan tombol detonator. Mereka berdua berguling di tanah, tepat di pinggir peti mati perunggu yang terbuka. Chip di tangan Rosalind terlempar, jatuh ke dalam liang lahat yang gelap. Duar! Ledakan pertama terjadi di gerbang makam, meruntuhkan pilar-pilar batu besar. Asap hitam mulai membubung. Seluruh kompleks makam mulai bergetar hebat. Di tengah kekacauan itu, Hanaelle berhasil merebut detonator dari tangan Rosalind. Namun, unit keamanan Rosalind mulai menembak secara membabi buta. Gabriel terkena tembakan di bahu dan jatuh terguling. Nathaniel sampai ke sisi Hanaelle, menariknya menjauh dari liang lahat tepat saat ledakan kedua meruntuhkan nisan besar keluarga Wiraatmaja. Rosalind, yang mencoba meraih chip di dalam liang lahat, tertimbun oleh reruntuhan batu marmer seberat satu ton. “Ibu!” Nathaniel ingin maju, namun Hanaelle menahannya. “Sudah terlambat, Nathan! Tempat ini akan meledak seluruhnya!” Mereka berlari menembus asap dan reruntuhan batu nisan. Nathaniel merasakan air mata mengalir di pipinya—bukan karena duka atas kematian ibunya, tapi karena kepedihan atas seluruh hidupnya yang ternyata hanyalah sebuah panggung sandiwara berdarah. Saat mereka mencapai batas luar kompleks pemakaman, sebuah ledakan dahsyat terjadi di pusat makam, mengirimkan gelombang panas yang melemparkan mereka ke padang rumput. Nathaniel terengah-engah, menatap ke arah makam yang kini hanya berupa kawah api dan asap. Panggungnya telah hancur. Rosalind, rahasia-rahasianya, dan kebohongan sepuluh tahun itu terkubur bersama di sana. Hanaelle duduk di sampingnya, tubuhnya penuh dengan abu dan luka gores. Ia membuka telapak tangannya. Di sana, bukan chip yang ia pegang, melainkan liontin kunci miliknya sendiri yang sudah hancur. "Ini sudah selesai, Nathan," bisik Hanaelle. Nathaniel menatap langit fajar yang kini bersih dari helikopter maupun drone. “Benarkah ini sudah selesai, Hana? Atau kita baru saja memulai babak baru tanpa naskah?” Tiba-tiba, Hanaelle berdiri. Ia menatap ke arah jalan raya di bawah bukit, di mana sirine polisi dan ambulans yang nyata mulai berdatangan. Namun, di antara kerumunan kendaraan itu, ada sebuah mobil hitam yang tidak bergerak. Seorang pria keluar dari mobil itu, menatap ke arah mereka melalui teropong, lalu masuk kembali dan pergi dengan cepat. Hanaelle menyipitkan matanya. “Nathan... kau ingat siapa yang memberikan kunci itu kepada ayahku sepuluh tahun lalu?” Nathaniel mengerutkan kening. “Bukankah kau bilang Rosalind?” “Bukan,” suara Hanaelle bergetar. “Ayahku bilang... itu diberikan oleh seorang pria yang memiliki tahi lalat di bawah matanya. Persis seperti pria di mobil itu.” Nathaniel teringat sosok Hendra Wiraatmaja—ayahnya. Ayahnya tidak memiliki tahi lalat di bawah mata. Tapi pamannya, adik kandung ayahnya yang dinyatakan hilang dalam kecelakaan pesawat lima belas tahun lalu, memilikinya. “Nathan,” Hanaelle menatap Nathaniel dengan tatapan yang sangat serius. “Panggung ini tidak pernah runtuh. Penontonnya saja yang berganti.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD