Hening menyergap kabin. Nathaniel menatap layar ponselnya yang kini meredup, menyisakan bayangan wajahnya yang kuyu dan tak dikenali. Pesan video singkat dari Vivian—yang entah bagaimana bisa selamat—terus berputar di benaknya seperti piringan hitam yang rusak. Ayahmu tidak ada di dalam peti itu bukan karena dia sudah jadi kerangka, tapi karena dia tidak pernah benar-benar mati malam itu.
Kalimat itu bukan sekadar informasi—itu adalah racun yang merusak sistem logika Nathaniel. Selama lima belas tahun, ia telah membangun seluruh identitasnya di atas fondasi duka seorang anak yatim. Ia telah memaafkan kekejaman ibunya dengan dalih kesedihan yang ekstrem akibat kehilangan suami. Namun, jika Adrian Wiraatmaja masih bernapas, maka setiap air mata yang jatuh di Nekropolis pagi tadi hanyalah sisa pembuangan dari sandiwara yang paling menjijikkan dalam sejarah keluarga mereka.
“Kau memercayainya?” suara Hanaelle memecah keheningan, dingin dan setajam silet.
Nathaniel menoleh. Hanaelle sedang mengikat rambut pendeknya yang berantakan dengan secarik kain hitam. Tidak ada lagi sisa-sisa air mata di pipinya. Matanya kini menyerupai telaga gelap yang tak terduga kedalamannya.
“Vivian tidak punya alasan untuk berbohong di saat dia sendiri sedang sekarat,” jawab Nathaniel parau. “Dan jika benar ayahku masih hidup, itu menjelaskan mengapa Rosalind begitu terobsesi membongkar makam itu. Dia bukan mencari chip, Hana. Dia sedang memastikan bahwa rahasianya tetap terkubur, atau setidaknya... tidak ada orang lain yang menemukan jejak kaki di tempat yang seharusnya hanya berisi debu.”
Hanaelle menggenggam liontin kunci di telapak tangannya. “Jika dia masih hidup, dia bukan lagi ayah yang kau ingat, Nathan. Lima belas tahun di bawah kendali Rosalind... dia mungkin hanya tersisa sebagai cangkang yang bernapas.”
“Aku tidak peduli,” desis Nathaniel, ia menginjak pedal gas lebih dalam, memacu sedan hitam itu menuju jantung kota, ke tempat di mana naga itu bersemayam—Kediaman Utama Wiraatmaja. ”Aku ingin melihat wajahnya. Aku ingin dia mengatakannya langsung di depan wajahku bahwa semua ini nyata.”
Kediaman Utama Wiraatmaja berdiri kokoh di puncak bukit elit, sebuah mahakarya arsitektur yang tampak seperti kuil modern. Namun bagi Nathaniel, rumah itu selalu terasa seperti penjara berlapis emas yang dilengkapi dengan sensor gerak dan sistem pengawasan biometrik yang lebih canggih daripada bank sentral.
Mereka tidak bisa masuk lewat gerbang utama. Nathaniel mengarahkan mobil ke arah hutan di sisi timur properti, tempat sebuah terowongan drainase tua berada—jalur yang dulu ia gunakan untuk melarikan diri saat masih remaja ketika muak dengan pesta-pesta topeng ibunya.
“Kau yakin sistem keamanannya tidak mendeteksi jalur ini?” tanya Hanaelle saat mereka mulai merangkak di dalam lorong beton yang lembap.
“Jalur ini sudah dihapus dari cetak biru resmi sejak sepuluh tahun lalu. Ibumu mengira ini sudah ditutup dengan beton, tapi aku pernah menyuap kontraktornya untuk membiarkannya terbuka,” Nathaniel menyalakan senter kecil, cahayanya memantul di dinding yang berlumut.
Mereka bergerak dalam senyap. Hanaelle terus menekan pelipisnya, serangan sakit kepala mulai menyerang lagi—efek samping dari pemaksaan memori oleh mesin Gabriel sebelumnya. Namun, ia menolak untuk berhenti.
Setelah hampir tiga puluh menit merayap, mereka sampai di sebuah pintu baja kecil yang tersembunyi di balik panel kayu di ruang bawah tanah—bekas gudang anggur. Nathaniel memasukkan kode manual yang masih ia ingat.
Pintu terbuka, memperlihatkan lorong steril yang dialiri cahaya lampu neon pucat. Ini adalah bagian dari rumah yang tidak pernah diketahui oleh pelayan atau tamu manapun. Di sinilah Rosalind menyimpan arsip-arsip aslinya.
“Vivian bilang ada ruang kedap suara di bawah ruang kerja Rosalind,” bisik Nathaniel. “Kita harus melewati area kontrol utama.”
Mereka menyelinap di antara bayang-bayang. Rumah itu terasa asing. Tiba-tiba, suara langkah kaki yang terukur terdengar dari arah koridor depan. Mereka segera bersembunyi di balik pilar besar.
Sesosok pria berpakaian medis lengkap, lengkap dengan masker dan pelindung wajah, berjalan terburu-buru sambil membawa sebuah nampan berisi botol-botol cairan bening dan jarum suntik. Pria itu tidak melihat mereka, ia masuk ke dalam sebuah lift pribadi yang hanya bisa diakses dengan pemindaian retina.
“Itu dokter pribadi Rosalind,” Hanaelle berbisik, matanya berkilat. “Lihat apa yang dia bawa. Itu bukan vitamin biasa. Itu sedatif dosis tinggi.”
“Dia menuju ke bawah,” Nathaniel menatap angka digital di atas lift yang menunjukkan arah 'B3'. “Lantai tiga di bawah tanah. Itu dia. Tempatnya.”
Namun, saat mereka hendak mendekati lift, lampu di seluruh koridor mendadak berubah menjadi merah. Suara alarm yang tidak melengking, melainkan berupa dengungan frekuensi rendah yang menyakitkan telinga, mulai bergetar.
“Penyusup terdeteksi di Sektor Gamma. Protokol Isolasi diaktifkan,” suara otomatis Rosalind bergema.
“Sial! Dia tahu!” Nathaniel menarik tangan Hanaelle. “Lari, Hana! Kita harus mencapai tangga darurat sebelum pintu hidroliknya terkunci!”
Mereka berlari sekuat tenaga. Hanaelle merasakan kakinya mulai berat, pandangannya sesekali berbayang, namun ia memaksakan diri. Di ujung koridor, sebuah pintu baja raksasa mulai meluncur turun dari langit-langit. Nathaniel melompat, menarik Hanaelle melewati celah yang tersisa beberapa inci saja sebelum pintu itu menghantam lantai dengan dentuman yang menggetarkan fondasi rumah.
Mereka kini berada di tangga darurat yang gelap. Hanya ada cahaya darurat yang berkedip-kedip.
“Nathan... aku tidak bisa...” Hanaelle jatuh terduduk, napasnya memburu. Wajahnya pucat pasi, peluh dingin membanjiri dahinya. “Kepalaku... rasanya seperti ditarik keluar.”
Nathaniel berlutut, memeluk kepala Hanaelle. “Tahan, Hana. Sedikit lagi. Kita hampir sampai.”
“Tidak, Nathan. Mesin itu... mesin Gabriel... dia tidak hanya mengambil memori. Dia meninggalkan sesuatu,” Hanaelle menatap Nathaniel dengan mata yang mulai tidak fokus. “Angka itu... 3651... itu bukan cuma kode. Itu adalah trigger. Setiap kali aku mendekati sumber frekuensi yang sama, otakku bereaksi.”
Hanaelle menunjuk ke arah bawah tangga. “Ayahmu... atau apapun yang ada di bawah sana... dia memancarkan frekuensi yang sama. Itulah sebabnya ibumu bisa mengendalikannya. Dia menggunakan teknologi pemancar gelombang otak untuk membuat ayahmu tetap dalam kondisi vegetatif.”
Nathaniel tertegun. Jadi ayahnya bukan sekadar dipenjara secara fisik, tapi juga secara mental. Rosalind telah mengubah suaminya menjadi pemancar sinyal hidup untuk menyimpan data korporat yang paling rahasia. Sebuah kekejaman yang melampaui imajinasi manusia paling sakit sekalipun.
“Aku harus mematikan pemancarnya,” Nathaniel berdiri, tekadnya kini sudah bulat. “Tetap di sini, Hana. Aku akan kembali.”
“Jangan bodoh,” Hanaelle menarik ujung jaket Nathaniel, perlahan berdiri meski tubuhnya limbung. “Hanya aku yang tahu bagaimana cara memutus frekuensi itu tanpa membunuh subjeknya. Ayahku yang merancang dasarnya, ingat? Aku harus ikut.”
Lantai B3 adalah sebuah anomali. Tidak ada kemewahan di sini. Hanya dinding beton tebal dan deretan tabung oksigen yang berjejer di sepanjang dinding. Di ujung lorong, terdapat sebuah ruangan dengan pintu kaca satu arah.
Nathaniel mendekat, tangannya menempel pada kaca yang dingin. Di dalamnya, seorang pria paruh baya duduk di sebuah kursi medis yang dikelilingi oleh monitor-monitor yang menampilkan aktivitas otak yang sangat sibuk. Pria itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Nathaniel, namun tampak lebih tua dan rapuh. Adrian Wiraatmaja.
Dia tidak diikat, tidak pula dirantai. Namun ia tampak tidak mampu menggerakkan seujung jari pun. Matanya terbuka lebar, menatap kosong ke sebuah layar besar yang menampilkan kode-kode biner yang terus berjalan dengan kecepatan cahaya.
“Ayah...” Nathaniel berbisik, suaranya hancur.
Hanaelle mendekati panel kontrol di samping pintu. Jemarinya yang gemetar mulai mengetik di atas keyboard virtual. “Dia dijadikan server biologis, Nathan. Otaknya digunakan untuk memproses enkripsi data Wiraatmaja Group yang tidak bisa ditembus oleh komputer manapun. Ini... ini adalah p********n saraf.”
Tiba-tiba, suara tepuk tangan bergema dari belakang mereka.
“Sangat impresif. Aku selalu tahu kau memiliki bakat teknis dari ayahmu, Hanaelle,” Rosalind melangkah keluar dari kegelapan lorong, diikuti oleh empat orang pengawal bersenjata lengkap.
Rosalind tidak tampak terkejut. Ia justru tersenyum puas, seolah kehadiran mereka adalah bagian dari adegan yang memang ia harapkan. “Selamat datang di jantung kekaisaranku. Tempat di mana kebenaran disimpan di dalam napas dan darah.”
“Kau monster, Ibu,” Nathaniel berbalik, matanya berkilat penuh kebencian. “Kau memperlakukan ayah seperti mesin.”
“Aku memberinya kegunaan, Nathaniel!” suara Rosalind meninggi, pertama kalinya ia kehilangan ketenangannya. “Ayahmu ingin menghancurkan segalanya dengan idealisme sampahnya. Dia ingin menyerahkan kita ke polisi karena skandal pajak kecil. Aku menyelamatkannya! Aku memberinya keabadian di dalam sistem ini!”
“Kau membunuhnya perlahan, Rosalind!” Hanaelle menyela, jemarinya diam-diam terus menekan tombol di panel kontrol, mencoba mencari celah untuk mematikan sistem.
“Oh, Sayang, kau tidak tahu apa-apa,” Rosalind mendekati kaca, menatap suaminya dengan pandangan yang aneh—campuran antara obsesi dan kebencian. “Adrian sangat menyukai angka. Sekarang, dia menjadi angka. Bukankah itu romantis?”
Rosalind berpaling pada Nathaniel. “Dan sekarang, kau di sini. Sempurna. Aku butuh penerus. Saraf Adrian mulai melemah. Dia tidak akan bertahan lebih dari empat puluh delapan jam lagi. Tapi kau... kau memiliki gen yang sama. Kau adalah server pengganti yang sempurna, Nathaniel.”
Nathaniel mundur selangkah, ngeri menyadari rencana ibunya. “Kau ingin aku menggantikannya?”
“Itu adalah tugasmu sebagai seorang Wiraatmaja,” Rosalind memberi isyarat pada pengawalnya. “Tangkap mereka! Pastikan Hanaelle tidak merusak sistemnya. Dia akan menjadi asistenmu untuk memastikan transisinya berjalan lancar. Sebuah akhir yang manis bagi pasangan terbaik kita, bukan?”
Para pengawal maju. Nathaniel bersiap untuk melawan, namun Hanaelle tiba-tiba berteriak.
“SUDAH!”
Tiba-tiba, layar-layar di dalam ruangan medis itu berkedip liar. Kode biner yang tadinya berjalan lancar kini berubah menjadi merah. Suara dengung frekuensi tinggi meledak dari speaker, membuat para pengawal dan Rosalind menutup telinga karena kesakitan.
Hanaelle telah memicu protokol Overload.
“Apa yang kau lakukan, jalang?!” jerit Rosalind, wajahnya memerah karena amarah.
“Aku membebaskannya,” Hanaelle menatap Rosalind dengan senyum kemenangan di tengah rasa sakit kepalanya. “Dan aku menghapus semua datamu. Kekaisaranmu runtuh sekarang juga, Rosalind.”
Adrian Wiraatmaja di dalam ruangan itu mendadak tersentak. Matanya yang tadinya kosong kini mulai bergerak. Ia melihat Nathaniel melalui kaca. Sebuah air mata jatuh dari sudut matanya yang cekung.
Namun, di saat yang sama, sistem keamanan cadangan rumah itu bereaksi. Pintu-pintu darurat di lantai B3 mulai menutup secara otomatis, mengunci semua orang di dalam ruangan yang mulai kekurangan oksigen karena sistem ventilasi dimatikan oleh protokol Overload.
“Jika aku hancur, kalian semua tidak akan pernah keluar dari sini hidup-hidup!” Rosalind tertawa histeris di tengah kegelapan yang mulai menyergap.
Tepat di saat oksigen menipis, sebuah suara maskulin terdengar dari balik dinding beton—suara yang berasal dari saluran komunikasi darurat yang disabotase.
“Nathaniel, ini Gabriel. Aku sudah berada di ruang mesin utama. Jika kau ingin ayahmu selamat, kau harus mengorbankan satu hal yang paling berharga di tangan Hanaelle sekarang juga.”