Lampu sorot dari barisan mobil ambulans dan kendaraan taktis keamanan menyapu halaman depan Kediaman Utama Wiraatmaja. Malam itu, udaraj terasa lebih menggigit dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaan Nathaniel saat ia melangkah keluar dari mobil medis, dibantu oleh dua orang perawat yang gerakannya kaku seperti robot.
Di atas sana, di puncak tangga megah rumahnya, Rosalind berdiri.
Wanita itu mengenakan gaun beludru hitam panjang, tampak seperti seorang ratu yang sedang berduka, namun tidak ada jejak kesedihan di wajahnya. Tidak ada sisa kemarahan atau kegilaan yang Nathaniel lihat di layar monitor lantai B3 beberapa jam lalu. Di depan puluhan staf rumah tangga dan beberapa fotografer paparazzi yang sengaja diizinkan masuk ke area gerbang, Rosalind adalah gambaran seorang ibu yang hancur sekaligus bersyukur.
“Nathaniel! Hanaelle!” Rosalind berlari kecil menuruni tangga, gaunnya terseret di lantai batu.
Nathaniel merasakan perutnya melilit karena muak. Ia melirik Hanaelle yang berada di kursi roda di sampingnya. Hanaelle menatap kosong ke depan, wajahnya pucat pasi, akting amnesianya dimulai detik ini. Tangannya yang mungil menggenggam pinggiran kursi roda begitu erat hingga kuku jarinya memutih, namun ekspresinya tetap hampa—kosong, seolah seluruh jiwanya telah hanyut terbawa banjir di bawah tanah.
Rosalind menerjang mereka, memeluk Nathaniel dengan kekuatan yang mencekik, lalu beralih mencium kening Hanaelle. “Tuhan... terima kasih. Aku mengira ledakan di sistem pusat itu akan merenggut kalian. Gabriel Velaede akan membayar mahal atas sabotase biadab ini!”
Nathaniel merasakan napas ibunya di telinganya. Aroma parfum sandalwood yang tajam menyerang indra penciumannya. Saat pelukan itu mengerat, suara Rosalind berubah menjadi desisan halus yang hanya bisa didengar oleh Nathaniel.
“Tersenyumlah untuk kamera, Putraku! Dan pastikan istrimu tetap dalam kondisi bingung itu. Ayahmu sudah berada di unit ICU pribadi di sayap timur. Satu kesalahan langkah darimu, dan aku akan memastikan dia berhenti bernapas sebelum fajar.”
Nathaniel memaksakan sudut bibirnya terangkat. Ia menatap salah satu kamera paparazzi di kejauhan dengan tatapan lega yang dibuat-buat. “Terima kasih, Ibu. Kami... kami hanya ingin istirahat.”
Alih-alih menuju kamar, langkah kaki mereka justru digiring menuju ruang makan. Meja panjang itu dipenuhi makanan mewah—lobster, truffle, dan anggur vintage seharga ribuan dolar.
Hanaelle duduk di hadapan Rosalind. Ia memainkan garpunya, menatap piringnya dengan pandangan linglung.
“Hanaelle, Sayang,” Rosalind memecah keheningan, suaranya lembut dan penuh kepalsuan. “Apa kau ingat siapa aku? Dokter bilang trauma akibat banjir itu mungkin mengganggu ingatan jangka pendekmu.”
Hanaelle mendongak perlahan. Matanya yang biasanya tajam dan penuh perhitungan kini terlihat berkabut. Ia menatap Rosalind selama beberapa detik, seolah sedang mencoba memproses sebuah teka-teki yang sulit.
“Kau... ibu?” ucqp Hanaelle bergetar, dan terdengar sangat polos. “Nathan bilang kau ibunya. Jadi kau ibuku juga, bukan?”
Nathaniel hampir tersedak anggurnya. Akting Hanaelle sangat sempurna. Ia tidak memberikan kesan bahwa dia tahu tentang kejahatan Rosalind sama sekali. Ia kembali menjadi Hanaelle, boneka cantik yang patuh.
Rosalind menyipitkan mata, mencari retakan kecil di topeng Hanaelle. “Benar. Aku ibumu. Dan kau adalah bintang tercinta di rumah ini. Apakah kau ingat apa yang terjadi di lantai bawah tanah tadi? Tentang... angka-angka?”
Hanaelle mengerutkan kening, wajahnya tampak kesakitan sejenak. Ia memegang kepalanya. “Angka? Tidak... aku hanya ingat air. Airnya sangat banyak dan dingin. Aku... aku takut, Nathan.”
Hanaelle meraih tangan Nathaniel di atas meja. Nathaniel menggenggamnya, memberikan dukungan yang kali ini terasa sangat nyata di balik sandiwara mereka.
“Ibu, jangan menekannya,” tegur Nathaniel. ”Dokter bilang dia butuh ketenangan. Jika Ibu terus menanyakan tentang insiden itu, dia akan mengalami serangan panik lagi."
Rosalind bersandar di kursinya, menyesap anggurnya dengan elegan. Matanya terus mengawasi Hanaelle. “Tentu saja. Kita punya banyak waktu untuk memulihkan ingatannya. Besok, tim humas agensi akan merilis pernyataan bahwa kalian selamat dari serangan pengkhianat Gabriel Velaede. Kita akan menggunakan narasi ini untuk menaikkan antusiasme Premiere film The Mirror minggu depan.”
“Apa film itu tetap akan ditayangkan?” tanya Nathaniel.
“Tentu saja!” Rosalind tertawa kecil. “Tragedi ini adalah pemasaran gratis terbaik yang pernah ada. Publik akan menangis melihat akting kalian di layar, mengetahui bahwa kalian hampir mati sungguhan saat membuatnya. Kalian akan menjadi legenda hidup.”
Setelah makan malam, Rosalind mengizinkan mereka kembali ke kamar utama—kamar yang dulu terasa seperti penjara, namun kini menjadi pusat komando rahasia mereka. Begitu pintu dikunci secara otomatis dan mereka memastikan tidak ada pelayan yang mendengarkan, Nathaniel segera memeriksa setiap sudut ruangan untuk mencari alat penyadap baru.
Ia menemukan dua buah di balik bingkai lukisan dan satu di bawah meja rias. Ia tidak mencabutnya; ia hanya menyalakan musik klasik dengan volume sedang untuk mengaburkan suara bisikan mereka.
Hanaelle berdiri dari kursi rodanya, kelumpuhan palsunya hilang seketika. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah kota yang gemerlap.
“Dia benar-benar percaya?” bisik Nathaniel, mendekati Hanaelle.
“Dia tidak pernah percaya pada siapa pun, Nathan,” jawab Hanaelle tanpa menoleh. Suaranya kembali ke nada aslinya—dingin, cerdas, dan penuh perhitungan. “Dia hanya sedang menikmati permainan ini. Dia pikir dia memiliki kita kembali di dalam sangkarnya. Dia pikir dia menang karena dia memegang ayahmu sebagai sandera.”
Hanaelle berbalik, menatap Nathaniel. Cahaya bulan dari jendela membuat wajahnya tampak seperti patung pualam yang keras. “Tapi dia lupa satu hal. Di dalam mesin Neural-Mapping tadi, aku bukan hanya melihat memori ayahku. Aku menyerap seluruh struktur data keamanan rumah ini yang terhubung ke otak ayahmu.”
Nathaniel tertegun. “Maksudmu... kau tahu cara menembus sistemnya?”
“Aku adalah kunci berjalan, Nathan. Angka 3651 itu... itu adalah bagian dari algoritma enkripsi dinamis. Setiap tengah malam, kodenya berubah, tapi pola perubahannya ada di kepalaku. Kita bisa masuk ke ruang ICU ayahmu tanpa memicu alarm.”
Nathaniel merasakan harapan membuncah di dadanya. “Kapan kita bergerak?”
“Tidak malam ini. Kita harus membuatnya merasa sangat aman terlebih dahulu. Kita harus membiarkan dia menyiapkan panggung Premiere itu. Itulah saat di mana penjagaannya akan paling lemah, karena seluruh fokusnya adalah pada citra publiknya.”
Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu. Bukan ketukan pelayan. Itu adalah ketukan yang berirama—kode yang mereka kenal.
Nathaniel membuka pintu sedikit. Vivian berdiri di sana, mengenakan seragam pelayan biasa, wajahnya tertutup sebagian oleh masker medis. Ia menyelipkan sebuah flashdisk kecil ke tangan Nathaniel sebelum berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Nathaniel segera menyambungkan flashdisk itu ke laptop yang sudah ia lindungi dengan sistem enkripsi Gabriel. Sebuah video muncul.
Bukan video Rosalind. Melainkan rekaman CCTV tersembunyi dari kamar ICU Adrian di sayap timur. Di dalam video itu, terlihat Adrian sedang terbaring lemah, namun jarinya bergerak-gerak di atas sprei, menuliskan sesuatu berulang kali.
Nathaniel memperbesar gambar itu. Matanya melebar saat menyadari apa yang ditulis ayahnya.
Bukan angka. Melainkan satu nama: GABRIEL.
“Hana, lihat ini,” Nathaniel menunjukkan layar itu. “Kenapa ayah menulis nama Gabriel? Bukankah Gabriel bilang dia baru tahu ayah hidup saat kita di makam?”
Hanaelle menyipitkan mata. “Atau mungkin... Gabriel bukan sekutu kita sejak awal. Mungkin dia adalah alasan mengapa ayahmu tidak pernah bisa melarikan diri selama lima belas tahun ini.”
Sebuah lapisan pengkhianatan baru terkuak. Jika Gabriel dan Rosalind sebenarnya bekerja sama untuk membagi kekuasaan, maka Nathaniel dan Hanaelle benar-benar sendirian di tengah lautan hiu.
Keesokan paginya, Rosalind memanggil mereka ke ruang kerjanya. Di sana sudah berdiri Cassian Velaede, yang tampak rapi namun tatapannya terlihat sangat gelisah.
“Cassian telah menyelesaikan final cut dari film The Mirror,” ujar Rosalind dengan bangga. “Tapi ada satu adegan yang kurang. Adegan penutup di mana kalian berdua berdiri di depan cermin besar dan mengakui bahwa cinta kalian adalah satu-satunya hal yang nyata di dunia ini.”
Rosalind menatap Hanaelle. “Hanaelle, kau bisa melakukannya, bukan? Meskipun kau amnesia, naskahnya sangat mudah. Kau hanya perlu menatap Nathaniel dengan penuh kasih dan mengatakan. Aku ingat sekarang, hanya kaulah rumahku.”
Hanaelle tersenyum, sebuah senyuman yang begitu manis hingga membuat Nathaniel merinding. “Tentu saja, Ibu. Itu adalah kalimat yang sangat indah. Aku akan memerankannya dengan sangat... tulus.”
Cassian melirik Nathaniel, sebuah kode rahasia terpancar dari matanya—peringatan bahwa naskah yang akan diputar di malam Premiere nanti bukanlah naskah yang diinginkan Rosalind.
Persiapan untuk malam Premiere dimulai. Namun, saat Hanaelle sedang mencoba gaun untuk acara tersebut, ia menemukan sebuah jahitan rahasia di dalam gaunnya yang berisi sebuah catatan kecil dari mendiang ayahnya.
“Hana, jika kau memakai gaun ini, artinya kau sudah kembali ke rumah itu. Jangan pernah buka kuncinya di depan cermin utama. Itu bukan kunci keselamatan, itu adalah kunci penghancuran diri.”