DURI DI BALIK GAUN

1457 Words
Aroma parfum mawar begitu menyengat di ruang ganti utama Kediaman Wiraatmaja. Di sekelilingnya, tiga orang penjahit terbaik di kota itu sibuk memperbaiki detail pada gaun haute couture berwarna abu-abu mutiara yang akan Hanaelle kenakan di malam Premiere nanti. Gaun itu indah, ditaburi ribuan kristal yang menangkap cahaya lampu plafon. “Nyonya Hanaelle, harap berdiri lebih tegak! Bagian pinggangnya perlu sedikit disesuaikan,” salah seorang penjahit bergumam sambil menyematkan jarum pentul. Hanaelle hanya mengangguk kecil, mempertahankan topeng amnesianya dengan sempurna. Tatapannya hampa, tertuju pada pantulan dirinya di cermin besar setinggi tiga meter di hadapannya. Cermin itu adalah mahakarya antik, namun ia tahu—sepertinya di balik bingkai emasnya, terdapat pemancar frekuensi yang terhubung langsung ke sistem pusat Rosalind. Saat para penjahit beralih ke bagian belakang gaun, untuk merapikan ekor gaunnya, ujung jemari Hanaelle kembali meraba lapisan dalam korsetnya—kaku dan tajam, tidak seperti serat sutra atau tulang penyangga gaun pada umumnya. Hanaelle hanya ingin memastikan benda itu masih di sana—catatan yang ia temukan sesaat lalu. Dengan gerakan yang sangat halus, hampir menyerupai gerakan seorang pesulap, ia memastikan letak lipatan kertas perkamen itu sekali lagi. Ia akan berpura-pura tidak mengetahuinya. Ini bukan tengang kode rahasia, atau teknologi canggih. Ia adalah aktris yang sedang dihancurkan mentalnya agar tetap bisa dijual sebagai produk yang menguntungkan. Dan jika Hanaelle terus melawan secara emosional, Rosalind akan menganggap Hanaelle produk rusak dan akan memberikan hukuman yang lebih berat—memutus oksigen ibunya. “Nyonya? Anda baik-baik saja? Wajah Anda mendadak sangat pucat,” penjahit itu bertanya dengan nada khawatir. Membuat Hanaelle tersentak. Hanaelle memaksakan senyum. “Hanya sedikit pening. Efek obat dari dokter tadi pagi sepertinya mulai bekerja.” Sementara itu, di perpustakaan pribadi yang minim cahaya, Nathaniel sedang bertarung dengan pikirannya sendiri. Ia duduk di depan laptop Gabriel yang telah ia sabotase, menatap rekaman ayahnya yang terus-menerus menuliskan nama GABRIEL di atas sprei rumah sakit. Mengapa Gabriel? Jika Gabriel adalah sosok yang menyelamatkan mereka dari laut, mengapa ayahnya justru tampak ketakutan menyebut namanya? Suara pintu yang berderit membuat Nathaniel segera menutup layar laptopnya. Gabriel Velaede melangkah masuk dengan langkah santai, memegang segelas wiski di tangannya. “Kau terlihat sangat sibuk untuk seseorang yang seharusnya sedang berduka secara publik, Nathaniel,” ujar Gabriel. Nadanya halus namun mengandung ancaman yang tersirat. Nathaniel menatap pria yang telah memberinya identitas Caleb Thorne itu dengan tatapan baru—tatapan penuh curiga. “Aku hanya sedang memastikan tidak ada jejak digital yang tersisa di rumah ini yang bisa menghubungkan kita.” Gabriel tertawa. “Jangan khawatir. Rosalind terlalu sombong untuk memeriksa setiap detail. Dia berpikir dia sudah menang karena dia memegang kendali atas Adrian. Tapi besok, di malam Premiere, dunia akan melihat akhir dari kekuasaannya.” Gabriel mendekati Nathaniel, meletakkan tangannya di bahu pria muda itu. “Ingat kesepakatan kita. Begitu Hanaelle memasukkan kode di depan cermin itu, seluruh data korporat Rosalind akan berpindah ke server-ku. Setelah itu, aku akan membebaskan ayahmu. Kau akan memiliki keluargamu kembali, dan aku akan memiliki industri ini.” Nathaniel merasakan dorongan kuat untuk menghantamkan tinjunya ke wajah Gabriel. “Berapa lama kau sudah bekerja sama dengan Rosalind sebelum kau memutuskan untuk mengkhianatinya?” tanya Nathaniel dalam hatinya. Namun, yang keluar dari mulutnya hanyalah. “Aku tidak akan melupakannya, Gabriel.” Begitu Gabriel meninggalkan ruangan, Nathaniel segera mengambil ponselnya. Sebuah pesan masuk dari Hanaelle. Pendek dan mendesak. “Taman mawar. Sekarang! Tanpa kamera.” Taman mawar Kediaman Wiraatmaja adalah satu-satunya tempat di mana Rosalind jarang memasang mikrofon, karena ia benci bau tanah basah yang menurutnya merusak estetika rumahnya. Di sana, di bawah naungan pohon willow yang rimbun, Hanaelle sudah menunggu. “Nathan,” Hanaelle berbisik saat Nathaniel mendekat. Ia menyerahkan secarik kertas lusuh yang ia temukan di gaunnya. Nathaniel membacanya dengan cepat. Matanya membelalak. “Penghancuran diri? Maksudmu... jika kau memasukkan kode itu besok, seluruh tempat ini akan meledak?” “Bukan meledak secara fisik seperti bom dinamit,” Hanaelle menjelaskan dengan suara gemetar. “Tapi ayahku menanamkan algoritma untuk menghapus seluruh autentikasi sarafnya dari sistem ini. Jika kode itu dimasukkan, identitas Adrian Wiraatmaja sebagai pemilik tunggal industri ini akan terhapus selamanya. Semua aset akan terkunci, tidak bisa diakses oleh siapa pun—termasuk Rosalind. Tapi itu juga berarti... memutuskan sisa-sisa kesadaran ayahmu yang masih terjepit di dalam server itu.” “Ayah...” Nathaniel mendesis. “Ayahmu sedang terhubung dengan sistem itu sekarang.” “Tepat sekali. Ayahku memberikan pilihan terakhir yang sangat kejam, Nathan. Dia ingin aku mengakhiri penderitaannya dengan cara membakar semua yang dibangun Rosalind, meski itu berarti nyawanya—dan nyawa kita—akan menjadi tumbalnya.” Nathaniel meremas kertas itu hingga hancur. “Ayahmu tidak tahu bahwa aku dan kau akan berada di sini. Dia menulis ini bertahun-tahun lalu sebagai rencana darurat terakhirnya.” “Tapi Rosalind ingin aku melakukannya besok sebagai bagian dari pertunjukan,” Hanaelle menatap Nathaniel dengan putus asa. “Dia ingin aku membuka brankas itu di depan ribuan penonton live streaming. Dia pikir itu adalah kunci kekayaannya. Jika aku melakukannya, kita semua akan mati di depan kamera dunia.” Mereka terdiam, hanya suara gemericik air mancur yang mengisi keheningan yang menyesakkan itu. “Kita tidak akan memasukkan kode itu,” ujar Nathaniel. “Lalu bagaimana dengan ayahmu? Jika kode itu tidak dimasukkan, Rosalind akan membunuhnya karena dianggap tidak berguna lagi.” “Kita akan melakukan satu hal yang tidak pernah Rosalind bayangkan,” Nathaniel menggenggam tangan Hanaelle. “Kita akan mengganti frekuensinya. Cassian punya rekaman mentah dari bunker, bukan? Kita akan menukar file film Premiere itu dengan bukti kejahatannya. Saat semua orang fokus pada layar, aku akan menyelinap ke sayap timur dan mencabut ayahku secara manual.” “Itu bunuh diri, Nathan! Sistem keamanannya akan membunuhmu sebelum kau menyentuh pintu ICU!” “Tidak jika kau memberikan pengalihan yang cukup besar di atas panggung,” Nathaniel menatap mata Hanaelle. “Kau adalah aktris terbaik di dunia ini, Hana. Buatlah mereka terpesona. Buatlah Rosalind merasa dia berada di puncak dunia. Gunakan kode itu bukan untuk menghancurkan gedung, tapi untuk meretas sistem komunikasi publik.” Hanaelle menarik napas dalam-dalam. “Artinya aku harus berdiri di sana, menatap wajah pembunuh ayahku, dan tersenyum seolah aku mencintainya.” “Bisakah kau melakukannya? Sekali lagi? Untuk terakhir kalinya?” Hanaelle terdiam cukup lama. Ia menatap ke arah balkon tempat Rosalind biasanya berdiri untuk mengawasi mereka. “Untukmu, dan untuk kebenaran... aku akan memberikan penampilan yang tidak akan pernah dilupakan sejarah.” Malam fajar sebelum hari Premiere. Rosalind berdiri di ruang kendali pusatnya, menatap monitor yang menampilkan aktivitas otak Adrian. Grafiknya menunjukkan penurunan drastis, namun ia tidak peduli. Ia hanya butuh pria itu bertahan dua puluh empat jam lagi. Selama frekuensi otak Adrian terpancar di sistem rumah ini, dunia akan menganggap sang pemilik sah masih hidup dan memberikan instruksi transaksi. Ini bukan kecerdasan buatan, ini adalah pencurian identitas biologis demi menguasai seluruh aset Wiraatmaja secara hukum. “Gabriel,” panggil Rosalind tanpa menoleh ke arah pintu. Gabriel Velaede masuk dengan langkah perlahan. “Ya, Rosalind?” “Pastikan Nathaniel tidak lepas dari pengawasanmu. Aku tahu dia mulai mencurigai sesuatu. Dia terlalu mirip dengan ayahnya—punya hati yang terlalu besar untuk kepalanya yang kecil.” Gabriel tersenyum tipis, menyesap wiskinya. “Nathaniel hanyalah anak kecil yang mencari pelukan. Dia pikir dia sedang bermain detektif dengan catatan ayahnya. Aku sudah mengendalikannya.” “Bagus. Dan Hanaelle?” “Dia sudah sepenuhnya di bawah kendali memorinya yang rusak. Besok dia akan memberikan kunci itu padamu di depan dunia. Dan setelah itu... kau tahu apa yang harus dilakukan pada barang bukti yang tidak berguna lagi.” Rosalind mengangguk. “Tenggelamkan mereka kembali ke laut. Kali ini, pastikan tidak ada Gabriel lain yang menyelamatkan mereka.” Mereka berdua tertawa. Di balik bayangan, Vivian merekam percakapan itu melalui mikrofon tersembunyi di kerah bajunya. Ia tahu waktunya tinggal sedikit. Kembali ke kamar, Hanaelle sedang duduk di depan cermin, memegang liontin kunci itu. Ia tidak lagi melihat bayangan yang rapuh. Ia melihat seorang wanita yang siap membakar seluruh panggung yang telah memenjarakannya. Ia mengambil lipstik merah darah, lalu menuliskan angka angka di permukaan cermin. “Panggungmu sudah siap, Ibu,” bisiknya pada bayangannya sendiri. “Tapi kali ini, aku yang menulis naskah akhirnya.” Tiba-tiba, lampu di kamarnya berkedip. Suara musik klasik dari ruang tamu terdengar mengalun—lagu favorit Adrian. Nathaniel masuk dengan wajah pucat. “Hana... ada yang salah.” “Ada apa?” “Ayah... denyut jantungnya berhenti di monitor medis, tapi Rosalind tidak bereaksi.” Hanaelle tersentak. Jika denyut jantung Adrian berhenti namun alarm tidak berbunyi, artinya satu hal—Rosalind sudah tidak membutuhkan tubuh Adrian lagi. Rosalind telah berhasil menyalin seluruh data ke dalam sistem rumah itu sepenuhnya. “Nathan,” Hanaelle bergetar saat menyadari hal itu. “Rumah ini... rumah ini adalah rumah ayahmu. Berani kau menarik pelatuknya?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD