RENCANA YANG TERENDUS

1154 Words
Malam Premiere film The Mirror tinggal hitungan jam. Di luar sana, di sepanjang jalan protokol menuju teater megah milik agensi, karpet merah sudah digelar, lampu-lampu sorot sudah diuji coba, dan ribuan penggemar sudah berkumpul untuk menyaksikan kembalinya Pasangan Impian Dunia. Sementara itu, di ruang makan kediaman Wiraatmaja. Rosalind duduk di kursi kepala meja, mengenakan bros berlian berbentuk merak yang berkilauan di bawah lampu. Ia menatap Hanaelle yang duduk di hadapannya. Hanaelle terlihat sempurna dalam balutan gaun abu-abu mutiaranya. “Kau tidak menyentuh makan malammu, Hanaelle,” ujar Rosalind. “Padahal ini adalah menu favorit ibumu. Sup kerang dengan sentuhan saffron.” Tangan Hanaelle yang memegang sendok membeku. Ia mendongak, matanya yang tajam menatap Rosalind, mencari celah di balik wajah yang selalu terpoles rapi itu. “Ibuku sedang berada di Sanatorium, Rosalind. Kau tahu itu.” Rosalind tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Nathaniel—yang duduk di samping Hanaelle—merinding. Rosalind tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih sebuah remote kecil di samping piringnya dan menekannya. Dinding ruang makan yang berlapis panel kayu jati terbuka perlahan, menampakkan sebuah layar monitor raksasa. Nathaniel tersedak air yang tengah diminumnya. Hanaelle melepaskan sendoknya hingga jatuh berdenting ke lantai. Di layar itu, terlihat sebuah ruangan putih steril yang sangat mereka kenal. Seorang wanita tua dengan rambut perak yang terikat rapi duduk di sana. Ia tampak linglung, memegang sebuah boneka kain tua. Itu adalah Ibu Hanaelle, Diana. “Diana..” bisik Hanaelle syok. “Kenapa dia ada di sana? Kau bilang dia aman di Sanatorium!” “Dia sangat aman di sini, Sayang,” sahut Rosalind yang tetap tenang saat memotong sepotong daging. “Sanatorium itu membosankan. Aku pikir, dia akan merasa lebih baik jika berada di dekat besannya.” Rosalind menekan tombol lain di layar. Tampilan zoom memperlihatkan sebuah perangkat kecil yang melingkar di leher ibu Hanaelle—sebuah kalung sensor yang berkedip dengan lampu merah. “Kalian tahu apa itu?” Rosalind menatap Nathaniel dan Hanaelle bergantian. "Itu adalah sensor sinkronisasi, seperti rencana kecil yang mungkin sedang kalian susun, kalung itu akan melepaskan lonjakan tegangan yang cukup untuk menghentikan jantung ibumu dalam nol koma satu detik.” Rosalind bersandar, menatap Hanaelle dengan pandangan penuh kemenangan. “Ayahmu, Pak Chandra, memang jenius karena menciptakan kunci penghancuran diri. Tapi dia lupa bahwa aku adalah seorang pengusaha. Dan seorang pengusaha selalu memiliki jaminan. Ibumu adalah jaminan agar kau tidak pernah menekan tombol itu, Hanaelle.” Nathaniel berdiri, kemarahannya meluap hingga ia menggebrak meja. “KAU IBLIS, ROSALIND! DIA WANITA TUA YANG SAKIT! BAGAIMANA BISA KAU MELAKUKAN INI PADA KELUARGA MENANTUMU SENDIRI?!” “Duduk, Nathaniel,” perintah Rosalind. “Kau bicara soal keluarga? Aku melakukan ini demi keluarga Wiraatmaja! Agar kau tetap bisa menjadi pangeran, agar istrimu tetap menjadi ratu, dan agar kita tidak berakhir di sel penjara yang kotor hanya karena idealisme sampah ayahmu!” Rosalind menunjuk ke arah layar. “Pilihannya sederhana. Di panggung Premiere nanti, Hanaelle akan berdiri di depan cermin utama. Dia akan memasukkan kode itu untuk mentransfer seluruh data ke server pribadiku secara permanen. Jika dia melakukannya dengan benar, aku akan membiarkan ibunya pulang dan aku akan mematikan sistem Adrian secara perlahan agar dia bisa mati dengan tenang.” “Tapi jika kau mencoba bermain pahlawan dengan memasukkan kode penghancuran diri...” Rosalind menjeda kalimatnya, matanya berkilat haus darah. “...ibumu akan meledak di depan matamu yang terjebak di dinding itu. Dan kau, Nathaniel, akan menonton semuanya melalui siaran langsung di jam tanganmu.” Hanaelle merasakan dunia di sekelilingnya berputar, hingga dadanya merasa sesak. Ia melihat ibunya di layar—wanita yang selama ini menjadi satu-satunya alasannya bertahan di industri yang memuakkan ini. Di sisi lain, ia tahu bahwa memasukkan kode transfer data berarti memberikan Rosalind kekuatan untuk mengontrol dunia selamanya. “Nathan...” Hanaelle memegang tangan Nathaniel yang gemetar di bawah meja. Nathaniel menatap Hanaelle, dan untuk pertama kalinya, ia melihat ketakutan yang sesungguhnya di mata wanita itu. Bukan takut akan kematian dirinya sendiri, tapi takut akan kegagalan menjadi seorang anak. “Aku akan melakukannya,” ujar Hanaelle pasrah. “Bagus!” Rosalind berdiri, merapikan gaunnya. “Mobil sudah menunggu di depan. Ingat, kalian adalah pasangan paling bahagia di dunia malam ini! Jangan biarkan satu tetes air mata pun merusak riasanmu, Hanaelle. Dunia sedang menonton.” Hanaelle hanya bisa menunduk patuh. Di perjalanan menuju teater pusat, Nathaniel dan Hanaelle duduk berdampingan. Di depan mereka, dua orang pengawal bersenjata lengkap duduk dengan waspada. Nathaniel menatap jam tangannya. Ia melihat titik-titik frekuensi yang dikirimkan oleh sistem rumah—frekuensi yang kini terikat dengan kalung Diana. “Kita tidak bisa melakukan rencana sabotase itu, Nathan,” bisik Hanaelle, kepalanya bersandar pada kaca jendela mobil yang gelap. ”Aku tidak bisa membunuh, Diana.” “Aku tahu itu,” jawab Nathaniel parau. “Tapi kita juga tidak bisa membiarkan Rosalind menang. Jika dia mendapatkan data itu, dia akan menjadi tak tersentuh. Dia akan menghapus semua bukti kematian ayah kita seolah itu tidak pernah terjadi.” Hanaelle memejamkan mata. Tiba-tiba, ia merasakan sebuah benda kecil diselipkan ke telapak tangannya oleh Nathaniel. Ia melirik sedikit—itu adalah sebuah alat kecil berbentuk kartu memori, yang dibungkus dengan logo Velaede. “Apa ini?” bisik Hanaelle nyaris tanpa suara. “Vivian memberikannya padaku sebelum kita berangkat. Dia bilang, jika ibumu menjadi sandera, gunakan ini. Ini adalah virus parasit yang akan menyalin data ke jalur ketiga yang tidak diketahui Rosalind ataupun Gabriel.” “Ke mana?” “Ke publik. Secara streaming global yang tidak bisa dihentikan. Data itu tidak akan masuk ke server Rosalind atau Gabriel. Ia akan terbuka di layar Premiere itu sendiri, di belakang kita saat kita berpidato.” Hanaelle menelan ludah. “Artinya ibumu akan tahu saat itu juga. Dia akan menekan tombol kalung Diana segera setelah dia sadar datanya bocor.” “Hanya jika dia masih memiliki akses ke pusat kendali,” Nathaniel menatap Hanaelle dengan pandangan yang penuh rahasia. “Vivian sedang menuju B3 sekarang. Dia akan mencoba memutus koneksi kalung itu secara manual.” “Itu terlalu berisiko! Jika Vivian terlambat satu detik saja... tidak mudah menyusup ke sana” “Kau tidak tahu siapa, Vivian?” ujar Nathaniel. Hannaelle memalingkan muka. Membuat Nathaniel menggenggam tangan Hanaelle erat-erat. “Panggung ini sudah terlalu lama berdiri, Hana. Sudah waktunya kita membakarnya, meski kita harus terbakar di dalamnya.” Mobil limusin itu berhenti di depan teater. Pintu dibuka. Suara riuh rendah ribuan penggemar dan kilatan lampu flash kamera langsung menyerbu mereka. Hanaelle melangkah keluar terlebih dahulu. Ia tersenyum—senyuman The Nation's Sweetheart yang paling memukau yang pernah ia tunjukkan. Ia melambaikan tangan dengan anggun. Nathaniel menyusul, merangkul pinggangnya dengan protektif, memerankan sosok suami yang baru saja melewati maut bersama istrinya. Di puncak tangga teater, Rosalind sudah menunggu, menyambut mereka dengan pelukan hangat di depan kamera dunia. “Selamat datang kembali , anak-anakku,” bisik Rosalind. Mereka berpose untuk foto keluarga di depan kamera wartawan. Namun, tatapan Hanaelle terpaku pada jam tangan yang dikenakan Rosalind.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD