REKAYASA DI BALIK TIRAI

1505 Words
Rosalind Wiraatmaja sedang digiring oleh petugas kepolisian menuju panggung. Tidak ada isak tangis, perlawanan fisik pun tidak. Wanita itu tidak tampak pasrah, ia berjalan seperti biasa—tegak dengan dagu terangkat, seolah-olah borgol baja di pergelangan tangannya hanyalah aksesori mahal yang salah tempat. Lalu langkahnya melambat saat melewati Hanaelle. Rosalind berhenti, menatap Hanaelle dengan pandangan yang tidak menunjukkan kekalahan. “Kau merasa sudah menjadi pemenang, Hanaelle?” ujar Rosalind. “Di dunia ini, tidak ada protagonis yang benar-benar bersih. Kau hanya pion yang baru saja berganti warna.” Hanaelle tidak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Nathaniel melangkah mendekat, mencoba meraih bahu Hanaelle. “Hanaelle, semua sudah berakhir, kita bisa pergi sekarang.” “Pergi ke mana, Nathaniel?” Hanaelle bertanya bingung. “Ke rumah yang bukan milik kita?” “Luar biasa. Benar-benar klimaks yang dramatis,” Cassian menimbrung. Nathaniel menatap Cassian dengan penuh kebencian. “Kau harusnya sudah pergi dari sini bersama Gabriel, Cassian. Tugasmu sebagai provokator sudah selesai.” Cassian tertawa. Ia melompat naik ke panggung dengan lincah, mengabaikan polisi yang sedang bekerja di sekitar mereka. Ia berjalan mengelilingi Hanaelle, seolah sedang menginspeksi sebuah barang pameran. “Aku bukan provokator, Nathaniel. Aku sutradara. Dan seorang sutradara tidak akan meninggalkan kursinya sebelum melihat seluruh plot twist terungkap,” Cassian berhenti tepat di depan Hanaelle, menatap pandangannya yang hampa. “Hanaelle, kau tahu kenapa kau terasa palsu di mataku? Karena kau masih menjadi b***k. Kau pikir kau menyelamatkan ibumu dari naga, padahal kau hanya sedang menjaga hartanya agar tetap utuh.” Hanaelle mengernyit. “Apa maksudmu?” “Tanya pada wanita itu,” Cassian menunjuk ke arah Rosalind dengan dagu. “Tanya padanya, siapa pemegang saham pengendali di Wiraatmaja Group yang menggunakan nama samaran Diana. Tanya padanya, kenapa ibumu tidak pernah benar-benar mencoba melarikan diri dari Sanatorium selama sepuluh tahun ini.” Hanaelle merasakan kepalanya mendadak berdenyut hebat. “Diana? Itu nama ibuku.” Rosalind terkekeh. “Diana bukan sekadar pasien yang sakit, Hanaelle. Dia adalah mitraku. Dia adalah alasan kenapa aku bisa mengakuisisi perusahaan ayahmu dengan begitu mudah. Dia yang memberikan kunci brankasnya padaku, dengan syarat aku harus menjadikanmu bintang terbesar agar nilai sahamnya terus meroket.” Dunia di sekitar Hanaelle runtuh. Ia melihat ke arah layar monitor, mencoba mencari nama itu di antara ribuan baris data digital yang Gabriel bocorkan. Tangannya yang gemetar menyentuh layar ipad yang tersambung dengan layar interaktif di belakangnya. Di sana, tersembunyi di bawah lapisan perusahaan cangkang di Swiss, nama itu muncul. Diana Chandra dengan kepemilikan dua puluh persen. Setiap sen rupiah yang Hanaelle hasilkan dari iklan, setiap tetes keringatnya di lokasi syuting, setiap pil penenang yang ia telan untuk menahan rasa sakit sarafnya—semuanya mengalir ke rekening wanita yang selama ini ia kira sedang menderita di atas ranjang medis. “Diana..” Ponsel rahasia di saku gaunnya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak ia kenal. Hanaelle mengangkat ponsel itu dengan gemetar. Ia menekan tombol hijau dan menempelkannya ke telinga. Tidak ada suara isak tangis di seberang sana. Bahkan nada lemah dari seorang wanita yang ia pikir linglung. Suara itu terdengar sangat bugar. “Hanaelle, pertunjukanmu di panggung tadi sedikit berlebihan. Kau hampir merusak valuasi saham kita dengan menghancurkan server utama. Untungnya, aku sudah memindahkan aset likuid kita ke rekening baru sepuluh menit yang lalu.” Hanaelle merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. “Diana... kau... kau benar-benar sadar selama ini?” “Sadar? Sayang, akulah yang menulis naskahnya. Rosalind hanyalah pemeran pembantu yang terlalu ambisius. Sekarang, pulanglah! Jangan bicara pada polisi atau media. Kita punya kontrak baru yang harus ditandatangani besok pagi.” Sambungan terputus. Hanaelle menatap ponsel di tangannya, lalu menatap Nathaniel yang tampak sama terkejutnya. Di sudut panggung, Cassian Velaede menyalakan rokoknya, membiarkan asapnya membubung di antara mereka. “Selamat datang di realitas yang sebenarnya, Hanaelle,” gumam Cassian. “Sekarang, beritahu aku... siapa yang sedang berdiri di depanku sekarang? Hanaelle sang Sweetheart, atau kau hanyalah wadah kosong yang sudah habis dijual oleh ibumu sendiri?” Hanaelle masih menempelkan ponsel itu di telinganya, meski sambungan sudah lama terputus. Ia tidak merasakan dinginnya lantai panggung, tidak juga mendengar derap sepatu bot polisi yang sibuk mengangkut barang bukti di latar belakang. Semua suara di sekelilingnya teredam, menyisakan gema suara Dianayang baru saja meruntuhkan sisa-sisa kewarasannya. “Hana?” Nathaniel menyentuh lengannya. Kali ini Hanaelle tidak menghindar. “Apa yang terjadi? Apa yang Diana katakan? Hanaelle, bicaralah padaku!” Hanaelle perlahan menurunkan tangannya. Ia menatap layar ponsel yang kini gelap. “Dia tidak sedang sakit, Nathan.” “Dia tidak pernah linglung. Dia tidak pernah merindukan Ayah. Dia hanya... sedang menunggu dividen.” Nathaniel tertegun. Ia merampas ponsel itu dari tangan Hanaelle, melihat log panggilan terakhir yang hanya berdurasi empat puluh detik—yang cukup untuk membunuh jiwa seseorang. Nathaniel menatap ke arah Rosalind yang kini sudah berada di tepi panggung, siap dibawa keluar. Rosalind membalas tatapan itu dengan senyum kemenangan yang paling menyakitkan yang pernah Nathaniel lihat. “Ibu mertuamu adalah negosiator yang hebat, Nathaniel,” ucap Rosalind dari kejauhan. “Dia yang menyarankan agar Hanaelle dibuat menderita. Katanya, Aktris terbaik lahir dari tragedi yang nyata. Dan lihat hasilnya? Dia menjadi mesin pencetak uang paling sempurna di industri ini!” “Tutup mulutmu!” Nathaniel meraung, suaranya bergema di seluruh teater. Ia ingin menerjang ibunya sendiri, namun dua petugas polisi segera menahannya. Di tengah kekacauan itu, Cassian Velaede melangkah pelan mendekati Hanaelle. Ia tidak menunjukkan simpati. Baginya, penderitaan Hanaelle adalah sebuah karya seni yang sedang mencapai puncaknya. Ia berhenti tepat di samping Hanaelle, bahu mereka hampir bersentuhan. “Kau tahu apa yang paling lucu dari cermin, Hanaelle?” tanya Cassian tanpa menoleh padanya. “Cermin tidak pernah berbohong, tapi dia juga tidak pernah memberikan seluruh kebenaran. Dia hanya memantulkan apa yang ingin kau lihat. Selama sepuluh tahun, kau memilih untuk melihat dirimu sebagai pahlawan yang menyelamatkan ibu yang malang. Padahal, kau hanyalah produk yang sedang dipoles oleh dua orang wanita rakus.” Hanaelle memejamkan matanya rapat-rapat. Di balik kelopak matanya, ingatan-ingatan di sanatorium berputar seperti potongan film rusak. Setiap kali ia menyuapi ibunya, setiap kali ia menangis di pangkuan ibunya yang pura-pura tidak mengenalinya, bahkan saat setiap kali ia memohon pada Rosalind untuk menambah dosis obat ibunya—semuanya adalah adegan yang disutradarai dengan sangat rapi. Tiba-tiba, rasa sakit di saraf kepalanya meledak. Visual di depannya mulai terpecah. Ia melihat bayangan dirinya di cermin raksasa panggung mulai bergerak sendiri. Sosok di cermin itu tidak lagi mengenakan gaun abu-abu mutiara yang elegan. Sosok itu mengenakan gaun merah tua yang tercabik, dengan mata yang merah dan senyum yang buas. Kepribadian itu mulai menggedor dinding kesadarannya. Hanaelle merasakan otot-otot wajahnya menegang, sudut bibirnya tertarik ke atas secara paksa dalam sebuah tawa yang tidak bersuara. “Tidak sekarang... kumohon, tidak sekarang,” rintih Hanaelle, mencengkeram kepalanya sendiri. “Ku mohon jangan kambuh sekarang!” “Hanaelle! Ada apa?” Nathaniel melepaskan diri dari polisi dan memeluk bahu Hanaelle. Ia melihat mata Hanaelle yang mulai berputar, pupilnya melebar secara tidak wajar. “Cassian, apa yang kau lakukan padanya?!” Cassian hanya mengangkat bahu, menyesap rokoknya dalam-dalam. “Aku tidak melakukan apa pun. Aku hanya memberikan naskah yang asli. Jika mentalnya tidak cukup kuat untuk membacanya, itu bukan salahku.” Di saat yang sama, Inspektur Aris berlari menaiki panggung dengan wajah panik. Ia memegang sebuah radio panggil yang berderit nyaring. “Nathaniel! Kita punya masalah besar di Rumah Sakit Pusat!” Nathaniel menoleh dengan cepat. “Ada apa lagi dengan Ayahku?” “Bukan ayahmu,” Aris mengatur napasnya. “Unit medis yang membawa Ibu Hanaelle... mereka tidak sampai ke ruang evakuasi. Sebuah mobil van hitam mencegat mereka di jalur bawah tanah teater ini lima menit yang lalu. Mereka melumpuhkan petugas kami dan membawa wanita itu pergi.” Hanaelle mendadak berhenti merintih. Ia menurunkan tangannya dari kepala, menatap Aris dengan tatapan yang sangat tajam dan dingin—tatapan yang bukan milik Hanaelle yang rapuh. “Siapa yang membawa dia?” tanya Hanaelle suaranya berubah. Aris mengerutkan kening, merasa ada yang aneh dengan nada bicara Hanaelle. “Kami sedang melacaknya, tapi mereka sangat profesional. Mereka meninggalkan sebuah pesan di dasbor ambulans.” Aris menunjukkan sebuah foto di ponsel dinasnya. Di sana, di atas kursi medis yang kosong, tergeletak sebuah kartu saham berwarna emas dengan logo Wiraatmaja Group yang dicoret dengan tinta merah. Hanaelle—atau entitas yang sedang menguasai tubuhnya—tertawa kecil. Tawa itu begitu dingin hingga membuat Nathaniel melepaskan pelukannya secara tidak sadar. “Dia tidak diculik, Inspektur,” ujar Hanaelle sambil berjalan perlahan menuju tepi panggung. “Dia sedang melakukan pelarian modal. Dan dia baru saja meninggalkan aku untuk membayar seluruh utang dosanya.” Tiba-tiba, seluruh layar raksasa di belakang panggung yang tadinya menampilkan data korporasi, mendadak berubah menjadi satu warna. Sebuah penghitung waktu mundur muncul di tengah layar. “Apa itu?” tanya Nathaniel panik. “Hana, apa yang terjadi pada sistemnya?” Hanaelle tidak menjawab. Ia hanya menatap angka-angka yang terus berkurang itu dengan senyuman miring. “Rosalind menginginkan, panggung ini harus dibakar, bukan? Aku hanya memastikan apinya tidak menyisakan apa pun. Termasuk kita.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD