Bunyi alarm keamanan gedung mulai meraung memekakkan telinga. Lampu-lampu kristal di langit bangunan mulai bergetar hebat.
“Hana, kita harus keluar dari sini! Sekarang!” Nathaniel mencoba menarik tangan Hanaelle, namun Hanaelle tetap bergeming di tengah panggung.
Di saat yang paling kritis itu, Cassian Velaede justru duduk dengan santai di tepi panggung, menatap jam tangannya—menunggu adegan penutup yang paling ia nantikan.
“Tiga menit, Hanaelle,” bisik Cassian. “Apakah kau akan mati sebagai aktris, atau kau akan hidup sebagai iblis yang mengejar ibunya sampai ke ujung dunia?”
Nathaniel mencengkeram lengan Hanaelle, tenaganya cukup kuat untuk meninggalkan bekas merah di kulit putih wanita itu. “Hana, lupakan sistemnya! Kita harus keluar sekarang!” teriaknya, suaranya bersaing dengan gemuruh mesin dari lantai bawah tanah yang mulai bekerja melampaui batas panas.
Hanaelle tidak bergerak. Ia menatap ke arah sebuah kamera drone kecil yang masih melayang stabil di udara, merekam setiap detik untuk jutaan penonton di luar sana—live streaming.
“Dunia ingin melihat akhir yang indah, Nathan,” bisik Hanaelle. “Mereka tidak ingin melihat kita lari seperti tikus. Mereka ingin melihat kita terbakar bersama kebohongan ini.”
Hanaelle melepaskan diri dari cengkeraman Nathaniel dengan satu sentakan halus. Ia melangkah ke tengah panggung, tepat di titik pusat sorotan lampu yang kini berkedip liar. Di bawah kakinya, asap putih mulai merayap keluar dari celah-celah panggung, membawa aroma logam terbakar dan belerang yang menyengat.
Nathaniel merasakan ponsel di saku celananya bergetar hebat. Ia merogohnya dengan gemetar. Satu pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal muncul di layar. “Jika kau ingin ibunya tetap hidup, jangan biarkan Hanaelle keluar dari gedung itu.”
Darah Nathaniel seolah berhenti mengalir. Ia menatap Hanaelle, lalu menatap pintu keluar darurat di kejauhan di mana Inspektur Aris dan beberapa polisi sedang berusaha mengevakuasi barang bukti terakhir.
“Hana, ibumu...” Nathaniel menggantung kalimatnya. Lidahnya terasa kelu. Jika ia memberitahu Hanaelle sekarang, disosiasi wanita itu akan semakin parah. Namun jika ia diam, mereka berdua akan mati dalam hitungan detik.
Di sudut panggung, Cassian Velaede masih berdiri dengan tenang. Ia mengangkat kamera genggamnya, membidik wajah Hanaelle yang tampak. Cassian tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat kontras dengan situasi maut di sekeliling mereka.
“Lihat dia, Nathaniel!” seru Cassian tanpa menurunkan kameranya. “Ini bukan lagi akting. Ini adalah perwujudan dari rasa sakit yang selama ini kau coba tutupi dengan kontrak-kontrak sampahmu. Jangan ganggu dia. Biarkan dia menyelesaikan monolog terakhirnya.”
“Kau gila, Cassian! Kita akan meledak!” Nathaniel menerjang Cassian, mencoba merampas kamera itu, namun Cassian menghindar dengan gerakan yang sangat tenang.
“Kematian adalah penyunting terbaik, Nathan. Ia membuang semua adegan yang tidak perlu,” sahut Cassian. Matanya berkilat dengan kegilaan seorang kreator yang sudah kehilangan akal sehatnya.
00.30
Layar di belakang mereka kini menyentuh angka hitung mundur.
Suara dentuman pertama terdengar dari arah sayap panggung sebelah kiri. Ledakan kecil dari panel listrik mengirimkan percikan api yang menyambar tirai beludru besar. Api mulai merayap naik, melahap kain mahal itu dengan kecepatan yang mengerikan. Reruntuhan plafon mulai berjatuhan, potongan-potongan gips dan kayu menghantam lantai panggung dengan bunyi berdebam yang berat.
Seorang pengawal berseragam hitam tiba-tiba muncul dari balik bayang-bayang pintu keluar darurat. Ia tidak mengenakan atribut polisi. Tangannya memegang sebuah batang besi panjang, dan dengan gerakan cepat, ia memalangi pintu keluar dari luar.
Nathaniel melihat itu. Ia menyadari bahwa pelarian mereka sudah ditutup. Diana tidak membiarkan ada celah untuk kegagalan.
Hanaelle berbalik perlahan menghadap Nathaniel. Di tengah hujan abu dan asap yang kian pekat, ia tampak sangat tenang. Ia berjalan mendekati Nathaniel, langkahnya stabil seolah ia sedang berjalan di atas karpet merah penganugerahan. Ia meraih kerah jas Nathaniel, menarik pria itu mendekat hingga dahi mereka bersentuhan.
“Kenapa kau tidak lari, Nathan?” tanya Hanaelle.
“Aku tidak akan meninggalkanmu di sini,” jawab Nathaniel parau karena menghirup asap. “Meskipun ibumu menginginkan kita mati, aku tidak akan membiarkan dia menulis akhir ceritanya.”
Hanaelle tersenyum pahit. Ia melirik ke arah jam tangan Nathaniel yang masih terhubung dengan sistem detak jantung yang kini sudah mati di B3. “Skenario aslinya bukan kita yang mati bersama, Nathan. Ibumu, ibuku... mereka hanya ingin satu orang yang bertahan sebagai korban untuk mendapatkan simpati publik.”
Hanaelle merapatkan tubuhnya ke arah Nathaniel. Di layar live streaming yang masih berfungsi, adegan ini tampak seperti puncak romansa tragis yang memilukan. Jutaan penonton di seluruh dunia menahan napas, menyaksikan pasangan impian mereka berpelukan di tengah kobaran api.
“Skenarionya adalah...” Hanaelle berbisik tepat di telinga Nathaniel, napasnya terasa hangat di kulit leher pria itu. “Aku... harus membunuhmu agar aku bisa hidup sebagai korban tunggal yang malang. Itulah yang ibuku inginkan. Itulah kontrak terakhir yang ia kirimkan lewat pesan tadi.”
Nathaniel membeku. Ia merasakan sesuatu yang keras dan dingin menyentuh perutnya.
Hanaelle telah mengeluarkan sebuah belati kecil dari balik lipatan gaunnya—sebuah properti dari film The Mirror yang secara teknis seharusnya tumpul, namun kini berkilau tajam mencerminkan cahaya api di sekeliling mereka.
“Lakukan!” bisik Nathaniel, menatap dalam ke arah mata Hanaelle yang mulai digenangi air mata. “Jika itu satu-satunya cara agar kau tetap hidup, lakukan sekarang!”
Hanaelle menggelengkan kepalanya perlahan, tangannya yang memegang belati bergetar hebat. “Aku tidak bisa... aku bukan aktris sehebat itu.”
Lampu kristal raksasa di atas mereka mulai berderit nyaring. Rantai pengikatnya putus satu demi satu.
“Nathaniel,” bisik Hanaelle. “Dunia sedang menonton. Berikan mereka apa yang mereka inginkan.”
Hanaelle menjatuhkan belatinya ke lantai panggung. Suara logam beradu dengan kayu terdengar nyaring di tengah raungan alarm. Ia merangkul leher Nathaniel, menarik pria itu masuk ke dalam ruang pribadinya. Nathaniel, yang menyadari isyarat itu, melingkarkan lengannya di pinggang Hanaelle.
Di bawah cahaya api yang mulai melahap tirai beludru, mereka berciuman.
Di layar live streaming global, adegan ini tampak sangat tragis—sepasang kekasih yang memilih untuk menghabiskan detik terakhir mereka dalam dekapan satu sama lain. Namun, di balik keintiman itu, Hanaelle berbisik dengan bibir yang hampir tak bergerak, “Di bawah panggung, di sisi kanan... ada lubang pembuangan dekorasi. Itu langsung menuju saluran air bawah tanah. Lompat saat aku memberimu tanda.”
Nathaniel tertegun, namun ia tidak melepaskan ciumannya. Ia membalas tekanan bibir Hanaelle, memastikan akting ini terlihat sempurna bagi siapa pun yang menonton dari balik layar monitor—termasuk Diana dan para pemegang saham yang menginginkan kematian mereka.
“Bagaimana denganmu?” bisik Nathaniel di sela napas mereka yang memburu.
“Aku akan mengikuti naskah ibuku sebentar lagi,” sahut Hanaelle. “Aku harus terlihat seperti aku menghujamkan sesuatu padamu agar mereka mengira misi selesai. Itu satu-satunya cara agar pengejaran ini berhenti, Nathan.”
Hanaelle mendorong Nathaniel menjauh dengan kasar—persis seperti adegan klimaks dalam film The Mirror. Ia memungut kembali belati di lantai. Di layar dunia, Hanaelle tampak seperti wanita yang baru saja kehilangan akal sehatnya akibat pengkhianatan. Ia mengangkat belati itu tinggi-tinggi, matanya membelalak lebar dengan ekspresi kegilaan yang murni—hasil latihan bertahun-tahun di bawah tekanan Rosalind.
“Kau menghancurkan segalanya, Nathaniel!” teriak Hanaelle ke arah kamera, suaranya melengking penuh dendam yang dibuat terasa sangat nyata.
Nathaniel mundur selangkah, berakting seolah ia ketakutan, tepat di atas titik lantai panggung yang merupakan pintu jebakan dekorasi. Ia menatap Hanaelle untuk terakhir kalinya sebelum kegelapan.
Hanaelle menghujamkan belati itu ke arah d**a Nathaniel. Bersamaan dengan itu, lantai di bawah kaki Nathaniel terbuka. Nathaniel jatuh menghilang ke dalam kegelapan lubang pembuangan tepat saat cahaya putih dari ledakan utama menghantam panggung.
Duar!
Langit teater runtuh total. Lampu kristal raksasa jatuh menghantam pusat panggung, mengirimkan ribuan serpihan kaca yang terbang ke segala arah. Api besar menyambar sisa-sisa oksigen di ruangan itu, menciptakan bola api yang melahap kamera drone dan memutuskan seluruh sambungan live streaming di seluruh dunia.
Layar jutaan seluruh penonton mendadak berubah menjadi statis. Gambar terakhir yang tertangkap adalah bayangan Hanaelle yang sedang menghujamkan senjata ke arah suaminya di tengah kobaran api yang membubung tinggi.
Di dalam gedung yang kini menjadi neraka itu, Hanaelle terlempar oleh gelombang kejut ledakan. Tubuhnya menghantam dinding sayap panggung yang keras. Ia terbatuk, darah segar mengalir dari pelipisnya. Di tengah pandangannya yang mulai kabur, ia melihat Cassian Velaede masih berdiri di sana, di tengah api, tetap memegang kameranya seolah ia kebal terhadap maut.
“Potongan yang bagus, Hanaelle,” gumam Cassian, suaranya hampir tak terdengar di tengah suara reruntuhan gedung. “Tapi kau lupa satu hal dalam naskahmu.”
Hanaelle mencoba merangkak, namun kakinya tertindih potongan kayu yang terbakar. Ia menatap pintu keluar yang kini tertutup rapat oleh kobaran api. Dari balik kepulan asap tebal, sebuah sosok muncul.
Itu adalah seorang pria dengan setelan jas hitam yang rapi, mengenakan masker gas, memegang sebuah alat suntik berisi cairan bening.
“Ibumu tidak ingin kau mati, Hanaelle,” ujar pria itu melalui alat pengeras suara di maskernya. “Dia hanya ingin kau dihapus dari ingatan publik. Saatnya pulang ke lab, Nona Chandra.”
Hanaelle mencoba berteriak, namun asap menyumbat tenggorokannya. Kesadarannya mulai memudar saat jarum suntik itu mendekati lehernya. Di sisa-sisa pandangannya, ia melihat Cassian Velaede tersenyum ke arah kamera genggamnya, lalu mematikan lampu rekaman.
Kegelapan total menyergap.