Korban

1125 Words
Doni dan Erin tiba di apartemen X, yang telah menjadi TKP pembunuhan. Bau yang cukup tajam tercium ketika Doni dan rekannya menuju celah sempit di antara apartemen itu dengan apartemen di sebelahnya. Doni sampai mengeluarkan masker karena tidak tahan dengan bau tersebut. Di samping bak sampah terlihat sosok manusia yang tergelak dengan jas hitam dengan kepala yang remuk sehingga tak dapat dikenali lagi. Doni menempelkan kedua telapak tangannya dan mulai berdoa untuk sang korban. Entah apa yang terjadi pada pria itu sehingga dia bisa bernasib naas seperti itu. "Hei, kencannya sudah selesai?" tegur Fadli ketika melihat kedua rekannya itu tiba. Doni mengerutkan keningnya. "Kencan apaan?" Fadli mengeluarkan ponsel dan menunjukkan fotonya bersama Erin yang tertangkap kamera sedang makan siang di Kafe tadi. Doni berdecak-decak sementara Erin terkejut. Gadis itu lalu merogoh sakunya dan melihat ada ribuan notif yang masuk ke sana. Beberapa dari teman-teman dari grup chat SMA-nya yang menanyakan tentang kedekatannya dengan Iptu Doni. Erin juga melihat jumlah followers-nya bertambah dalam waktu singkat. "Wuah! Ada apa ini? Apakah debutku sebagai artis telah dimulai?" Erin tersenyum lebar membuat Doni ingin menjitak kepala gadis itu. Cewek itu malah senang-senang saja hidupnya jadi konsumsi publik. Doni mendengus kesal. Para nettizen itu benar-benar luar biasa. Kenapa sih mereka perlu menggosipkan dirinya? Dia ini bukan artis, hanya aparat penegak hukum biasa. Tidak bisakah mereka membiarkan dirinya hidup dengan tenang? "Bisa serius sedikit nggak, kalau lagi di TKP!" tegur Doni kesal. Cowok itu lalu melangkah mendekati jenazah korban yang sedang diperiksa oleh seorang dokter forensik. "Bagaimana, Dok?" tanya Doni pada dokter yang seusia dengan ayahnya itu. "Perkiraan kematian kira-kira dua hari berdasarkan larva lalat yang ada di sekitar permukaan kulitnya, tapi untuk tahu waktu pastinya butuh autopsi. Penyebab kematiannya kurasa karena dia jatuh dari atas." Dokter itu menengadahkan kepala lalu menunjuk tembok pada dua titik. Doni memicingkan matanya. Ada darah kering yang terlihat di dua tempat itu. "Kepalanya, terbentur dua kali, di situ dan di situ dan yang terakhir mendarat di sini. Akibatnya tengkoraknya hancur. Petugas yang biasa memungut sampah kemarin tidak masuk karena sakit. Hari ini ketika dia hendak bekerja, dia terkejut karena menemukan jenazah ini." Dokter Suyono menunjuk petugas pemungut sampah yang berdiri di pojok ruangan dengan tubuh gemetaran. Wanita berusia setengah baya itu tampak ketakutan. Doni mengampirinya kemudian menyapanya. "Selamat siang, Ibu, pukul berapa Anda menemukan jenazah korban?" tanya Doni. "Pukul 12.30, Pak, saya segera menghubungi polisi," jawab wanita itu dengan suara yang kaku. "Kapan terakhir kali Anda mengambil sampah?" "Sore dua hari lalu, Pak, kemarin saya tidak mengambil sampah karena tidak enak badan. Saya sudah lapor pada Bapak manajer, beliau bilang sampah bisa saya ambil hari ini saja dan beliau menyuruh saya istirahat." Ibu itu mengamati Doni dengan seksama kemudian bertanya. "Ngomong-ngomong, Bapak selebgram yang terkenal itu ya? Saya juga follow Bapak loh, boleh nggak saya minta foto bareng?" Doni tertawa kering. Lagi-lagi begini. Daripada ribut, akhirnya Doni mau saja berfoto dengan ibu-ibu gaul itu. Ternyata ibu itu usianya belum empat puluh, cuman karena badannya yang gembrot dan beban hidupnya yang berat, wajahnya jadi terlihat boros. "Ehem! Katanya kalau di TKP harus serius, malah jumpa fans!" tegur Fadli. Doni menggeram kesal pada cowok itu. Memangnya siapa yang selama ini membuat dirinya jadi selebgram? Gara-gara Fadlilah followers intagramnya itu kian hari makin bertambah. "Kita ke Control room saja, aku mau lihat rekaman CCTV di sekitar gedung." Doni mengalihkan perhatian. Doni diantar oleh seorang petugas security menuju control room yang berada di basement. Fadli dan Erin mengikutinya dari belakang. Di sana ada sang manajer apartemen yang ternyata masih muda. Pria yang seumuran dengan Doni itu menjabat tangannya dengan ramah. "Perkenalkan saya Iptu Doni," sapa Doni. Sang manajer balas tersenyum. "Saya tahu, Bapak selebgram yang terkenal itu, kan? Saya Andrik." Doni menyungging jengah. Apakah semua orang di sini mengenal dirinya hanya karena instragram s****n itu? "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya pria itu ramah. "Ya, saya ingin mendapatkan rekaman CCTV dari sore kemarin sampai tadi siang di setiap sudut apertemen," terang Doni. "Setiap sudut? Bukan di sekitar tempat sampah saja?" tawar manajer itu. "Setiap sudut tidak boleh terlewat, Pak." Manajer itu tampak menimbang-nimbang kemudian mengangguk. "Baiklah, saya akan berikan keseluruhan rekamana CCTV pada jam-jam tersebut. Tapi bolehkah saya minta agar peristiwa ini jangan sampai tersebar ke media? Kami tidak ingin citra apartemen kami menjadi buruk karena peristiwa ini. Selain itu saya khawatir pengunjung yang lain juga menjadi resah." Doni mengangguk setuju. "Apa Anda sudah mengetahui identitas korban?" Andrik bertanya. Doni menoleh pada Erin. Cewek itu sedang sibuk membalas pesan dari ponselnya sambil senyam-senyum sendiri. Sungguh aparat yang kurang bertanggungjawab. "Rin." Setelah Doni menegurnya, barulah cewek itu tersadar. Dia cengar-cengir lalu mengeluarkan buku catatannya. "Oh iya, ada kartu di saku korban. Saya rasa ini kunci kamarnya. Mungkin dia penghuni apartemen ini." Erin menyerahkan kartu berwarna putih polos yang dibungkus dengan plastik. Andrik membentulkan letak kacamatanya dan memandang kartu itu. "Ya, saya rasa Anda benar. Sebentar saya periksa. Kami akan tahu itu kartu untuk penghuni nomor berapa." Andrik meminta kartu itu dari Erin kemudian menempelkannya pada alat pemindai dari layar monitornya muncul angka dua puluh enam berserta foto seorang pria yang membuat Doni tertegun sejenak. "Pak Charlie Ananto? Saya tidak percaya. Dia salah satu penghuni favorit saya," keluh sang manajer. Nama yang disebutkan oleh Andrik itu memperjelas ingatan Doni. Orang itu adalah stalker yang membuntuti Lucky dua hari yang lalu. Bukankah pemuda itu masih segar bugar hari itu? Doni mengerutkan dahinya. Perkiraan kematian dua hari lalu, artinya Lucky dan dirinya adalah salah satu orang yang terakhir ditemui korban sebelum ajalnya. Ini sungguh benar-benar di luar dugaannya. "Bisa saja itu orang lain, Pak," elak si security yang berbadan bak raksasa. "Anda ingat, kan? Pak Charlie sempat melapor kehilangan kartunya sekitar tahun lalu." "Oh ya, semoga saja," ujar Andrik. "Kita tunggu saja hasil autopsy," jelas Doni. Cowok itu menghela napas. Entah mengapa dia merasakan gemuruh yang tidak enak di dadanya. Sepertinya kasus ini akan menjadi runtutan panjang kasus terpelik sepanjang sejarah karirnya. "Ngomong-ngomong apa penjagaan di apartemen ini cukup ketat? Bagaimana dengan sistem keamanan selain kartu elektrik ini?" tanya Fadli. "Kami rasa sistem keamanan kami yang terbaik di kota ini, Pak, atau kalau saya boleh sombong kami yang terbaik di Indonesia. Security berjaga di sini 24 jam. Kamera mengawas ada di setiap sudut. Untuk menaiki lift dan masuk ke kamar dibutuhkan kartu elektrik ini. Jadi pengunjung dari luar tidak akan bisa masuk ke dalam dengan mudah," jelas Andrik. "Artinya mungkin saja si pembunuh masih berkeliaran di apartemen ini." Perkataan Fadli itu membuat bulu kuduk Andrik meremang. "Saya harap tidak, mungkin saja korban tewas bunuh diri barangkali." Fadli mengangkat bahu. "Bisa jadi, tapi selama tim forensik belum mengeluarkan hasil autopsy yang resmi, kami tetap memperlakukan kasus ini sebagai kasus pembunuhan. Saya rasa saya perlu berbicara dengan tetangga korban." Fadli lalu menoleh pada Erin dan Doni. "Kita bagi tugas aja, gue akan intrograsi tetangga korban, lo yang periksa CCTV ya, Don." Temannya itu langsung menghibahkan pekerjaan paling membosankan pada Doni. Cowok itu mengangguk saja pasrah. "Aku yang akan menyelidiki jadwal terakhir korban dari kantornya," putus Erin. "Oke. Let's move!" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD