Doni duduk di ruangannya sembari menonton seluruh rekaman CCTV di apertemen X satu-persatu. Tak ada yang tampak mencurigakan. Charlie terlihat turun dari taksi lalu memasuki lobby hotel pukul sebelas malam. Itu artinya pria itu segera pulang setelah dari kantor polisi. Charlie lalu memasuki lobi dan naik lift sendirian. Setelah itu dia masuk ke kamar. Pukul satu kurang seperempat dia keluar dari kamar lalu naik ke lantai atap dari tangga darurat tak pernah turun lagi. Security mengatakan dia tidak pernah mencurigai tindakan Chalie malam itu karena Charlie memang senang merokok di atap apartemen pada jam-jam sekian.
Di bagian atap gedung CCTV tidak terpasang CCTV di setiap sudut. Ada beberapa titik blind spot dan Charlie diperkirakan terjatuh dari sana. Menurut manajer apartemen mereka memang sengaja tidak memasang CCTV di sana karena yakin tidak ada orang yang bisa naik ke atas kalau bukan dari lantai bawah. Mereka juga tidak menyangka akan ada orang yang tewas melompat dari sana. Doni mengerutkan kening. Hasil autopsy mengatakan bahwa Charlie tewas antara pukul satu sampai pukul tiga pagi. Apakah memang benar-benar tidak apa pun yang terjadi pada jam-jam itu?
"Menemukan sesuatu, Bang Don?" tanya Erin dari kubikel sebelah. Cewek itu sedang mengutak-atik ponsel almarhum Charlie dan meneliti seluruh pesan di sana.
Doni menggeleng putus asa. "Tidak ada apa-apa di sini? Bagaimana denganmu?"
"Aku mendapat beberapa hal. Teman kerjanya mengatakan Charlie sangat stress karena tak dapat bertemu pacarnya yang sibuk. Lalu di handphone ini aku mendapatkan beberapa percakapan yang mendukung hal itu." Erin memperlihatkan layar ponsel yang menunjukan satu kontak yang membuat mata Doni sedikit melebar. Just My Luck. "Aku rasa ini kontak pacarnya itu. Ini kontak yang paling sering dihubungi korban," jelas Erin.
Doni menggumam kecil Just My Luck dan Lucky? Kenapa kedengarannya mirip? Apakah itu cuman kebetulan? Doni berupaya mengingat-ingat bagaimana malam itu Charlie mengatakan dengan yakin bahwa Lucky adalah pacarnya.
"Bagaimana dengan foto? Pasti ada kan fotonya bersama pacarnya?" tanya Doni. Ya, foto bersama pacar pasti ada. Bahkan Doni masih menyimpan foto stiker kecilnya dengan Lucky di bagian dalam dompetnya.
"Itu juga yang bikin aku penasaran. Nggak ada foto. Beberapa teman kerjanya bilang, mereka juga sering minta Charlie menunjukan foto pacarnya tapi dia nggak punya. Katanya pacar Charlie nggak suka difoto, padahal mereka sudah pacaran setahun. Teman-teman Charlie malah curiga apa Charlie itu beneran punya pacar atau cuman jomblo ngenes yang ngaku-ngaku punya pacar."
Doni termenung. Tidak ada foto? Bagaimana bisa? "Terus bagaimana isi pesan Charlie pada pacarnya itu?"
"Ya, kayak pesan antar pasangan biasa sih. Chalie minta ketemu tapi ceweknya nggak bisa karena sibuk."
"Lo kayak tahu aja pesan antar pasangan biasa, Rin. Jones gitu," olok Fadli yang baru muncul sambil membawa segelas kopi. Erin menatap sengit seniornya itu lalu meleparinya pena karena kesal. Doni mengabaikan pertengkaran sengit Erin dan Fadli dan menanyakan tentang hasil penyelidikan Fadli. "Kalau lo gimana? Nemu sesuatu?"
Fadli yang sedang bergulat dengan Erin tampak berpikir. "Gue nemu sesuatu yang penting banget! Tetangga sebelah kanannya Charlie itu cantik banget! b**o banget si Charlie nggak ngecengin dia."
Doni mendesah, harusnya dia tidak mengharapkan apa-apa dari play boy cap sandal jepit macam Fadli. "Merina―tetangganya yang cantik itu―bilang kalau Charlie orangnya tertutup dan jarang gaul. Dia kalau pulang langsung masuk rumah gitu, di jalan ketemu juga nggak nyapa duluan kalau nggak disapa. Beberapa sih bilang si Charlie itu antisosial gitu. Diundang makan sama tetangga gitu kadang nggak dateng."
Doni memegangi dagunya, rasanya dia butuh asupan makanan untuk berpikir lebih jernih tapi gajinya bulan ini udah habis karena makan siang tadi. "Bro, ngutang dong, beliin makan gitu," pinta Doni.
"Cakep-cakep kere, hobinya ngutang!" olok Fadli.
"Sebodo amat, beliin gue Gofo*d atau apa gitu, minggu depan gue bayar. Tinggal empat hari kan gajian," kata Doni sembari melihat tanggalan.
"Harusnya kamu minta makan sama followersmu, Bang Don," nasihat Erin.
"Bener tuh, pasti bilangnya gini, 'Aku akan masakin kamu seumur hidupmu, Kang mas.'" Fadli dan Erin tertawa geli. Entah mengapa dua orang itu mendadak kompak kalau untuk menganiaya dirinya.
Doni mengalihkan perhatian pada layar laptopnya dan menatap video ke-40 di CCTV sebelum tangga darut. Mata Doni melebar ketika menyaksikan pemandangan itu. Pada kamera CCTV tidak tertangkap sosok siapapun. Tetapi pada dinding kaca terpantul bayangan seorang wanita. Doni mendekatkan wajahnya pada layar laptop. Tampaknya wanita itu berdiri di titik blind spot. Wanita itu berdiri sebentar sambil menoleh ke kanan dan kiri sebelum akhirnya menghilang. Doni menahan napas. Dia ingat kaos ketat bermotif cangkir teh itu. Itu adalah kaos yang dikenakan oleh Lucky malam itu.
"Don? Jadi makan nggak? Pumpung gue baik hati, gue bayarin makan di warteg depan," tegur Fadli.
Doni terkesiap. Dia menutup laptopnya dan segera bangkit. "Ayo." Dalam hatinya Doni merasa gelisah. Benarkah apa yang baru saja dilihatnya itu? Apakah itu memang Lucky? Sedang apa gadis itu di sana?
"Don, pesen apa?" tegur Fadli ketika mereka sudah sampai di Warung Mbak Sri. Warteg di depan Mabes yang menjadi langanan mereka.
"Ng ... kresengan," jawab Doni. Pikirannya masih berlari pada rekaman CCTV yang tadi dilihatnya itu.
"Lo pusing ya kebanyak nonton CCTV nggak jelas itu, sorry Man. Ntar gue bantuin deh sisanya."
Doni terperanjat. Secara refleks dia menggeleng cepat. "Nggak usah, Bro, lo lanjutin aja PDKT sama Me―siapa itu―tetangganya si Charlie. Kali ada yang bisa dikorek-korek lagi. Oh tanyain juga tentang pacarnya, barangkali dia pernah lihat pacarnya si Charlie itu."
Fadli mengacungkan jempolnya dengan gembira. "Lo emang paling ngerti gue, Man."
"Huh, dasar playboy cap sadal jepit!" olok Erin tidak senang.
Doni tak menggubris perseteruan kedua rekannya. Dia terus memikirkan Video itu. Dia belum tahu apakah wanita di video itu benar-benar Lucky. Sebelum Doni memastikannya dia tidak mau orang lain menghubungkan kematian Charlie ini dengan Lucky. Doni meraih ponselnya kemudian menuliskan sebuah pesan pada kakaknya.
***
Lucky baru saja selesai mengikuti pemotretan yang membosankan. Dia hanya berdiri dan berganti-ganti pose di depan kamera lalu berganti baju lainnya sampai enam atau tujuh kali pura-pura duduk mesra bersama model lainnya. Ah, menjadi artis ternyata jauh dari kata menyenangkan. Hanya ada aktivitas-aktivitas yang membosankan. Satu-satunya hiburan baginya adalah bermain i********:. Dulu, Lucky selalu merasa bahagia ketika melihat i********: dan mendapatkan suntikan semangat dari komentar para penggemarnya. Namun kini para penggemarnya menghilang, yang ada di sana hanya para haters.
Lucky mencoba menenangkan diri ketika membaca satu komentar haters yang mengatainya bodoh lagi untuk kesekian kalinya. Komentar dari akun fake yang bernama Luna. Akun yang kerjanya setiap hari hanya memancing komentar negative dari penampilan Lucky. Haters misterius itu sebegitu bencinya kepada dirinya sampai sengaja menciptakan satu akun fake hanya untuk menjelek-jelekan Lucky saja.
Lucky mengingat kembali kata-kata Kak Chaka, salah satu legenda musik Indonesia yang sempat berduet dengannya kemarin. Pria itu terpaut sepuluh tahun dari Lucky. Pria dengan pembawaan yang tenang dan sikap yang teduh. Penyanyi solo yang namanya tak pernah hilang dari deret tangga lagu meski para penyanyi baru terus bermunculan. Ketika mereka masih berada di backstage Lucky sempat mengajak pria itu mengobrol dan menanyakan apa rahasia suksesnya. Saat ditanya begitu, Kak Chaka hanya tersenyum.
"Kuncinya ada tiga Lucky. Kesabaran, keteguhan dan kerendahan hati." Ucapan Kak Chaka malam itu terngiang kembali di telinga Lucky.
"Semakin kamu berada di atas. Akan semakin banyak orang yang membencimu dan menjatuhkanmu. Sebagai seorang penyangi kamu sempurna, Lucky. Kamu masih muda dan cantik, kamu punya suara yang unik, dan teknik yang baik. Satu nilai plus lagi, kamu pandai menulis lagu. Ketika mereka tidak menemukan kekuranganmu di atas panggung, mereka akan mencari-cari kesalahanmu di luar panggung. Selalu jaga sikapmu, Lucky, karena semua orang memerhatikanmu."
"Jaga sikap! Jaga sikap!" Lucky berkomat-kamit seperti membaca mantra. Gadis itu lalu tertarik kembali untuk melihat akun intagram milik Doni. Bagaimana sih cowok itu mendapatkan seluruh komentar positif dan memuja itu? Lucky terkadang merasa iri. Saat membuka berandanya Lucky terkejut melihat foto Doni bersama dengan polwan di Kafe tadi siang. Cepat sekali para nettizen itu mendapatkan update terkini. Lucky membuka komentar dari foto itu dan membacanya satu-persatu.
@liza : Aku patah hati Kangmas @donikurniawan91 mengapa engkau tega mengkhianati diriku.
@cinta : Mungkin itu bukan pacarnya. Aku tahu dia @erinniar94 mereka cuman temen satu kantor. Lihat aja di akunnya dia. Dia sering posting foto bareng satu kantor di mabes.
@inul: tapi bisa aja mereka cinlok gitu. Kayaknya mereka cocok. Makan siang di Kafe X yang mahal gitu loh. Apa namanya kalau bukan pacar.
Lucky mendesah membaca komentar i********: itu. Benarkah cewek itu pacarnya Doni? Mengapa Doni begitu mudahnya melupakan dirinya? Padahal Lucky sampai sekarang masih saja menulis lagu tentang Doni. Lucky meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Dia harus menghentikan aktivitas stalking mantan ini segera.
"Lucky." Ami memanggil. Ibu satu anak itu menghampirinya dengan senyum riang. "Gimana kencannya tadi siang?" tegur make up artisnya itu.
"Kencan apaan?" Lucky memberengut kesal. Ami malah tertawa.
"Besok dia mau ketemu lagi tuh kalau kamu ada waktu."
Lucky yang semula bermalas-masalan segera bangkit mendengar ucapan Ami itu. "Besok?" ulangnya antusias.
***