Haters

939 Words
"Kontraknya tidak diperpanjang!" geram Anggun ketika mendengar penjelasan dari manajernya Lisa. "Bagaimana bisa? Aku sudah menjadi brand ambassador produk itu lebih dari lima tahun, apa alasannya tiba-tiba tidak mau memperpanjang kontrak?" Lisa berusaha tersenyum kecil. Melayani gadis kecil yang manja seperti Anggun sungguh sangat-sangat melelahkan. Seandainya dia bisa mendapatkan pekerjaan lain, Lisa tak akan ragu untuk mengundurkan diri. Sayangnya, wanita beranak dua itu belum dapat menemukan pekerjaan yang gajinya sepadan. "Kalau begitu, siapa yang yang jadi brand ambassador mereka selanjutnya?" Lisa menelan ludah. Apakah dia harus menjelaskan hal ini? Jika ya, sudah pasti Anggun semakin gusar. Namun hanya dengan melihat kegelisahan sang manajer, Anggun sudah bisa menebak siapa dalangnya. "Lucky? Jangan bilang itu Lucky!" Anggun menggemertakkan giginya. "Mereka bilang untuk produk yang baru, mereka memiliki konsep yang sedikit berbeda dengan Nona, album baru Lucky juga cukup sesuai untuk menjadi sound track-nya." Lisa dengan takut-takut menjelaskan duduk perkaranya. Anggun memegangi kepalanya yang serasa mau pecah. Lucky! Lucky! Dan Lucky! Kenapa gadis itu selalu saja mengusiknya. "Nona, saya pikir ada baiknya jika Nona mencoba melebarkan sayap ke bidang lain. Bagaimana dengan tawaran main drama yang kemarin?" tanya Lisa. Sejujurnya manajer itu tidak mengerti mengapa anak bosnya yang bahkan tidak bisa bernyanyi itu bersikeras ingin menjadi penyanyi. Lucky memang cantik, punya suara merdu dan pandai mengarang lagu sendiri. Wajar saja jika namanya terus meroket. Anggun memelototi Lisa dengan garang. "Hanya menjadi pemeran pembantu? Aku tidak mau kalau tidak menjadi tokoh utamanya!" tegas gadis itu. Lisa diam saja. Sejujurnya dia merasa Anggun lebih cocok menjadi pemeran antagonisnya. Anggun memegangi kepalanya yang terasa nyeri. Dia lalu mengibaskan tangannya untuk mengusir si manajer. "Aku mau istirahat sebentar, kamu boleh keluar." Setelah Lisa pergi, Anggun menyandarkan tubuhnya di kursi sembari merenung. Apa sesungguhnya yang membuat Lucky menjadi lebih tenar ketimbang dirinya? Wajah? Jelas wajah Anggun jauh lebih cantik. Berapa milyar yang sudah dihabiskannya untuk mendapatkan wajah seperti ini di negeri Ginseng? Bahkan Anggun harus rela menderita wajahnya bengkak hingga dua bulan pasca operasi yang menyakitkan itu. Suara? Okelah Lucky punya suara yang unik. Tapi Ani, yang biasa menjadi pengisi suaranya pun suara yang tak kalah bagus. Ayahnya juga mampu membayar pengarang lagu manapun untuk menulis lagu yang lebih bagus dari lagu Lucky. Anggun menggemertakkan giginya. Dia bahkan sudah membayar mahal para troll untuk menyebarkan komentar-komentar negatif di akun i********: milik Lucky. Kenapa popularitas gadis itu tak juga turun meski dia punya banyak skandal? Anggun tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Dia harus melakukan sesuatu. Gadis itu bangkit dan mengganti bajunya dengan kaus, jaket dan topi. Dia mengambil tas ranselnya lalu menyelinap lewat pintu belakang. Dia harus menemukan sendiri bukti-bukti kejelekan Lucky yang membuat netizen benar-benar membenci gadis busuk yang beruntung itu. Anggun tak pernah menyangka bahwa hari itu dia mendapatkan apa yang sangat impikannya selama ini. Ketika dia mengamati rumah Lucky selama beberapa saat, akhirnya dia melihat gadis itu keluar dengan penampilan yang tak jauh berbeda dengannya. Penyamaran, dengan kata lain, Lucky mungkin pergi demi urusan pribadinya. Gadis itu menghampiri taman dan bertemu dengan seorang lelaki berjaket abu-abu. Anggun mengerutkan keningnya. Dia yakin pernah melihat pria itu, tapi di mana? Setelah memikirkan beberapa saat akhirnya Anggun tahu bahwa orang itu adalah Iptu Doni. Selebgram yang terkenal itu. Apa hubungannya dengan Lucky? Anggun mencoba mendekatkan diri agar dapat mendengarkan obrolan mereka dengan lebih jelas. "Aku melihatmu di sana, Lucky. Bayanganmu tertangkap kamera CCTV. Katakan padaku, apa sebenarnya hubunganmu dengan Charlie." Charlie? Siapa itu Charlie? Anggun memerhatikan wajah Lucky, gadis itu memucat. Seketika Anggun merasa senang. Ini pasti rahasia besar yang bisa membinasakan gadis itu. Anggun bergumam yakin. Namun perlahan rona wajah Lucky kembali, hanya beberapa detik saja sampai rasanya orang tidak akan sadar bahwa gadis itu ketakutan. Anggun mendengus kesal. Dasar artis! "Apa maksudmu? Aku tidak kenal dengan dengan orang itu. Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan dia!" tegas Lucky. Iptu Doni tersenyum. "Kamu pikir bisa menipuku, rekaman CCTV itu sudah cukup jelas. Kamu bahkan tidak bersusah payah mengganti bajumu sebelum pergi ke apartemen itu." "Memangnya kenapa kalau memang aku ada di sana? Kamu pikir aku yang membunuhnya?" Lucky menatap Doni dengan nanar. Cowok itu tak berkutik tak dapat menjawab pertanyaan Lucky. Keberadaan Lucky pada rekaman CCTV itu memang suatu fakta, tapi apakah dia mendorong Charlie hingga jatuh dari atap gedung itu belum dapat dipastikan. "Kamu pikir aku tega melakukannya? Membunuh orang?" tanya Lucky. Doni tercegung. Tentu saja dia tidak bisa membayangkan Lucky melakukan hal itu. Lucky bahkan tidak bisa membunuh seekor kecoa. Doni melihat mata Lucky yang mulai berkaca-kaca. "Sudahlah, percuma saja kita bicara." Lucky melangkah pergi meninggalkan Doni yang masih terpaku. Setelah gadis itu menjauh barulah polisi itu angkat bicara. "Aku pikir kamu tahu kenapa dia mati, barangkali kamu adalah saksi. Tapi kenapa kamu tak mau mengakui hal itu?" kata Doni akhirnya. Langkah Lucky terhenti. Dia membalikkan badan dan menatap Doni. "Kalau aku bilang aku tidak tahu apa kamu akan percaya?" Melihat wajah Doni yang hanya diam terpaku, air mata Lucky menetes. "Kamu tidak akan percaya. Bagimu apapun yang kukatakan itu bohong. Aku sudah tahu itu." Lucky melangkah cepat meninggalkan Doni yang masih berdiri gamang. Cowok itu kembali duduk ke bangku dan termenung. Sungguh dia tidak pernah bermaksud menuduh Lucky sebagai pembunuh. Dia hanya ingin tahu alasan Lucky berada di sana malam itu. Apakah Lucky mengetahui apa yang terjadi? Tapi sekarang saat Lucky tidak mau mengakui keberadaannya di sana, serta kata-katanya barusan, pemikiran itu justru muncul dalam benak Doni. Mungkinkah jika Lucky yang melakukannya? Sementara itu Anggun yang masih berada di persembunyian juga tercengang. Mati? Bunuh? Dia sungguh tak mengerti apa yang sedang dibicarakan dua orang itu. Akhirnya dia memilih mengambil kamera dan mengabadikan foto saja. Setidaknya dia sudah memilik beberapa foto yang bagus. Dia akan menyebarkan foto ini besok dengan akun instagramnya yang bernama Luna, si hater sejati Lucky. Sementara itu cukup, lalu dia akan menyelidiki siapa Charlie yang disebut-sebut oleh kedua orang itu tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD