Tersangka

849 Words
Doni kembali ke TKP siang hari itu. Dia tak menemukan rekaman CCTV lain yang menampakan sosok Lucky selain pada tangga darurat menuju lantai atas. Bagaimana mungkin sosok wanita yang mirip Lucky bisa keluar dan masuk dari gedung apartemen tanpa terekam CCTV sama sekali? Untuk memastikan hal itu Doni akhirnya memasuki mencoba melihat-lihat letak kamera CCTV pada setiap sudut apartemen. Terutama pada jalur tercepat menuju pintu atap gedung yaitu dari pintu darurat di belakang. Selain itu jika lewat tangga darurat si pembunuh tentunya tak perlu memiliki kartu elektrik yang menjadi akses masuk ke dalam gedung. Tetapi ada banyak CCTV di sana. Tak mungkin ada orang yang bisa lewat sana tanpa tertangkap kamera. Doni melangkah menuju pintu darurat kemudan berdiri di bawah CCTV posisi benda itu yang agak miring. Polisi itu terpaku menyadari kamera pengawas yang posisinya agak condong ke kanan itu. Dia melihat jam tangannya. Pukul 13.07 dia mencoba keluar dari pintu darurat itu lalu masuk kembali dengan menggeser pintu sedikit dan merapatkan diri di dinding tembok sebelah kanan. Seperti cicak Doni merayap masuk sampai ke bawah tangga. Dia lalu melangkah ke depan lift persis. Di sana ada si manajer apatemen yang menyapanya. "Oh, Anda datang lagi, Pak? Ada yang bisa saya bantu lagi?" sapa pria itu. Doni menyengih. "Boleh saya lihat rekaman CCTV lagi di control room?" tanya Doni. "Bukankah sudah saya berikan semuanya? Apakah masih ada yang kurang lagi?" tanya Pak Andrik. "Ya," tegas Doni. Pak Andrik tampak tak terlalu senang, tapi dia masih mencoba bersikap ramah. Manajer itu pun mengantarkan Doni ke control room kembali. Di sana Doni meminta rekaman pada pukul 13.07 di pintu darurat di ulang. Si security berbadan besar menurutinya. Doni melihat dirinya melangkah keluar tapi ternyata sosoknya yang masuk kembali tidak terekam. Ini dia, blind spot! Kini Doni paham bagaimana cara wanita itu masuk ke dalam apartemen itu tanpa ketahuan siapa pun. "Sudah, Pak, terima kasih, saya mau berkeliling sebentar di sekitar kamar. Korban untuk memeriksa. Bolehkah saya meminjam kartu untuk akses masuk?" tanya Doni. Pak Andrik mengangguk lalu meminjamkan sebuah kartu elektrik pada Doni. Doni mulai berjalan berkeliling apartemen. Dia mengamati keseluruhan letak CCTV menuju kamar korban. Semuanya kamera yang terletak di jalur itu posisinya agak miring sehingga menyisakan blind spot sesuai dugaan Doni. Itu artinya mudah saja bagi gadis itu untuk masuk tanpa tertangkap kamera. Tapi bagaimana gadis itu bisa mengetahui titik blind spot itu dengan sangat detail? *** Lucky menatap baju-baju yang ada di depannya. Dia ingin berdandan tapi nggak ingin kelihatan seperti berdandan. Bagaimana caranya tampil menawan dengan gaya yang kasual? Setelah berpikir lama, Lucky akhirnya meraih satu kaus ketat dan celana jeans. Dia mengambil jaket bertudung hijau serta tak luma masker dan kacamata. Setelah menyapukan sedikit make up pada wajahnya. Gadis itu lalu mengendap-endap keluar dari kamarnya. Dia sudah menulis tulisan besar di depan pintu. "Sedang menulis lagu! Please don't disturb!" Tulisan itu cukup efektif membuat orang segan mengetuk atau bahkan sekedar lewat di depan kamarnya. Bella juga tak akan tahu dia pergi. Gadis itu selalu tidur tepat pukul sembilan malam seperti robot yang kehabisan baterai. Pekerjaan sebagai asisten artis memang sangat berat, serta menguras emosi dan tenaga. Lucky beberapa kali mengatakan pada Bella bahwa adiknya itu tidak harus bekerja menjadi asistennya. Ada banyak pekerjaan lain yang bisa dikerjakan Bella dengan gelar S1 IT-nya. Akan tetapi Bella menolak, gadis itu selalu mengatakan bahwa dia senang dan menikmati pekerjaan untuk mendukung kakaknya. "Aku ini bayanganmu, Kak, bisa apa Kakak tanpa aku?" Lucky selalu tersenyum mendengar ucapan adiknya itu. Memang benar, dirinya ini hanya bisa bernyanyi atau berpose di depan kamera. Tanpa Bella Lucky tidak akan pernah bisa seperti sekarang. Mereka bisa sukses karena saling mendukung. Setelah berhasil kabur dari rumah, Lucky menghampiri taman di dekat komplek perumahannya. Di sana Lucky melihat sosok Doni yang duduk sambil meminum kopi. Doni mengenakan jaket tebal biru dongker dan menutupi wajahnya dengan tudung. Cowok itu menengadah ketika melihat kehadran Lucky. "Ada apa kok kamu mau ketemu aku lagi?" tegur Lucky berusaha menyembunyikan rasa senangnya. Doni terdiam kemudian bangkit berdiri. Dia menatap Lucky dengan mata elangnya yang memikat itu. Lucky berupaya mengalihkan fokus untuk meredam debaran jantungnya yang meningkat tatkala memandang mata indah itu. "Ada yang mau kutanyakan padamu," kata pria itu, "tentang Stalker yang membuntutimu dua hari yang lalu. Kamu masih ingat orang itu, kan?" Lucky mengerutkan keningnya. Kenapa Doni tiba-tiba membahas tentang hal itu? Lucky sama sekali tak mengerti. "Nggak terlalu ingat sama wajahnya, sih, kenapa?" "Dia meninggal." Wajah Lucky tampak terkejut lalu mengangguk-angguk. "Innalillah." Lucky mengucap belasungkawa. "Lalu, apa hubungannya dengan kamu memanggilku ke sini?" Doni memerhatikan wajah Lucky. Gadis itu tak tampak ketakutan atau gugup. Wajahnya datar biasa saja. Apa itu karena dia pandai menyembunyikan emosinya? Lucky pernah satu kali mendapat piala citra tahun lalu sebagai aktres pendatang baru terbaik. Berakting bukan hal yang baru baginya. "Dia meninggal pada malam setelah dia mengejarmu waktu itu," lanjut Doni. "Oh, astaga." Lucky menutup mulutnya. "Aku merasa bersalah, harusnya waktu itu aku memperlakukannya lebih baik ya. Kenapa dia meninggal?" tanya Lucky. Doni menghela napas. Dia tak tahu apakah emosi yang ditunjukkan Lucky di depannya sekarang ini palsu atau bukan dan itu membuatnya merasa frutrasi. "Kamu sungguh tak tahu kenapa?" tanya Doni. Nadanya sedikit mengintimidasi. Lucky mengerutkan keningnya semakin bingung. "Bagaimana aku bisa tahu!" tegurnya kesal karena Doni terus berputar-putar. "Aku melihatmu di sana, Lucky. Bayanganmu tertangkap kamera CCTV. Katakan padaku, apa sebenarnya hubunganmu dengan Charlie." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD