Hening menguasai ruang observasi. Hanya ada bunyi mesin, detak pelan monitor, dan hembusan nafas berat dari Raka yang belum juga melepaskan genggaman tangannya dari tangan Aruna. Ia duduk di sana, diam dan cemas. Duniaku, pikirnya, seperti diambang kehilangan.
Pintu ruangan terbuka perlahan. Seorang dokter wanita masuk bersama suster, membawa berkas hasil pemeriksaan lengkap.
“Pak Raka,” ucap dokter itu lembut, “kami perlu sampaikan hasil observasi lanjutan dari pemeriksaan UGD tadi.”
Raka berdiri cepat, matanya menatap penuh harap sekaligus waspada. “Gimana keadaannya? Apa dia akan sadar?”
“Untuk sementara, kondisi Aruna stabil. Tapi...”
Dokter itu menatapnya hati-hati. “Ada satu hal yang perlu Bapak ketahui. Dari hasil pemeriksaan laboratorium, kami menemukan bahwa pasien positif hamil empat minggu.”
Raka terdiam. Dunia seperti berhenti bergerak.
“Hamil?” suaranya nyaris tak terdengar.
“Iya, Pak. Mungkin kehamilan ini baru, sehingga belum terdeteksi sebelumnya. Sayangnya, karena benturan dan trauma fisik saat kecelakaan, terjadi perdarahan hebat yang menyebabkan keguguran.”
Kata-kata itu menghantam Raka seperti palu. Ia nyaris tak bisa bernapas.
“Kami sudah lakukan tindakan medis terbaik, namun embrio tidak dapat diselamatkan.”
Dokter berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Pasien mungkin tidak menyadari kehamilannya. Jadi, kami serahkan sepenuhnya kepada Bapak, apakah informasi ini akan disampaikan nanti atau tidak.”
Raka menunduk. Tubuhnya seolah kehilangan tenaga.
“Dia... dia nggak tahu?”
“Belum sempat, Pak.”
“Dan sekarang... dia kehilangan anak kami...”
Suster menepuk bahu Raka pelan sebelum mereka meninggalkan ruangan.
Raka kembali duduk. Pandangannya kosong, lalu turun perlahan ke perut Aruna.
Ke sanalah harapan kecil tumbuh diam-diam.
Tanpa suara. Tanpa isyarat.
Dan kini... hilang bahkan sebelum mereka sempat memeluknya dalam doa.
Matanya memanas. Ia tidak ingat kapan terakhir menangis, tapi malam itu, satu tetes air mata jatuh tanpa permisi.
“Maaf... aku gak tahu.” Suaranya parau, tercekat. “Maaf, aku gak bisa jaga kalian…”
Ia menyentuh perut Aruna yang kini datar dan sunyi.
Tangannya gemetar.
“Kalau aku tahu... aku bakal jaga kamu lebih baik. Aku bakal pulang lebih cepat. Nggak akan biarin kamu jalan sendirian sore-sore kayak tadi.”
Nafasnya tersendat. “Aku kehilangan dua orang hari ini. Kamu... dan seseorang yang bahkan belum sempat aku panggil anak.”
Di luar, hujan belum berhenti.
Langit menangis lebih deras, seperti tahu bahwa ada sesuatu yang pecah di dalam d**a seseorang.
Dan di dalam ruangan itu, Raka berjanji dalam diam—jika Aruna bangun nanti, ia akan mulai dari awal. Akan menyayangi perempuan itu seolah-olah ini pertama kalinya. Akan membuat Aruna jatuh cinta lagi padanya, bahkan jika ia tidak ingat pernah mencintainya.
❤️❤️❤️
Waktu terasa berjalan lambat di dalam ruang rumah sakit yang dingin. Jam dinding berdetak pelan, seolah menyindir setiap detik yang berlalu tanpa kabar baik. Aruna masih terbaring diam. Tidak ada tanda-tanda akan membuka mata. Dan Raka, masih di sana. Duduk di kursi plastik yang terasa semakin keras dari menit ke menit.
Wajah Aruna tampak tenang, seolah sedang tidur panjang. Tapi bagi Raka, ketenangan itu menakutkan. Setiap tarikan napas istrinya yang lemah membuat dadanya sesak.
Ia menyandarkan tubuh ke sandaran kursi, menatap langit-langit sejenak.
“Selama ini aku terlalu sibuk,” gumamnya pelan, nyaris tak bersuara.
Kepalanya menunduk. Tangannya mengusap wajah sendiri dengan kasar, frustasi.
“Aku terlalu banyak kerja... pulang malam, sering lupa makan bareng, bahkan sering lupa tanya kamu capek atau nggak.”
Ia menarik napas dalam.
“Kamu sering nungguin aku di meja makan, ya? Nggak marah walau aku nggak pulang tepat waktu. Kamu tetap senyum meski aku kadang lupa ulang tahun kamu... atau hari pernikahan kita.”
Raka tertawa getir. Sakit itu sekarang terasa begitu jelas—saat semuanya mungkin sudah terlambat.
“Aku pikir... selama aku kerja keras buat masa depan kita, kamu pasti ngerti.”
Ia menoleh pada Aruna, mata yang sembab memandang wajah istrinya yang tak juga merespon.
“Tapi apa gunanya masa depan kalau kamu nggak ada di sana?”
Suara langkah kaki dari luar pintu membuatnya menoleh. Pintu diketuk ringan sebelum terbuka perlahan.
“Raka...”
Suara itu berasal dari seorang wanita paruh baya dengan kerudung krem dan mata sembap—Ibu Aruna. Di belakangnya, seorang pria lebih tua dengan rambut yang mulai memutih—Ayah Aruna. Mereka tampak lelah dan khawatir.
“Ibu... Ayah...” Raka berdiri cepat, mempersilakan mereka masuk.
Mereka menghampiri ranjang Aruna. Ibu Aruna langsung menggenggam tangan putrinya dan menahan tangisnya.
“Ya Allah, Aruna... Nak, bangun. Mama di sini...”
Ayahnya hanya menatap diam, tapi sorot matanya menahan banyak hal.
“Gimana keadaannya, Ka?” tanya Ayah Aruna.
“Dokter bilang dia stabil, tapi... masih belum sadar, Yah.”
Belum selesai Raka menjelaskan, pintu kembali terbuka. Kali ini, dua sosok lain masuk—orang tua Raka. Ibunya menangis sejak di lorong, sementara ayahnya menepuk bahu Raka pelan.
“Kami langsung ke sini setelah dapat kabar,” kata sang ibu. “Nak, kamu juga kelihatan nggak tidur.”
“Aku nggak bisa, Bu,” jawab Raka pelan.
Ruangan itu kini penuh dengan keluarga yang menahan doa dan kecemasan. Tidak ada yang berani berkata terlalu keras. Bahkan suara napas pun terdengar seperti beban.
Ibu Aruna menatap menantunya, lalu berkata pelan, “Ka, Aruna sayang sama kamu, kamu tahu itu kan?”
Raka mengangguk.
“Jaga dia baik-baik, Nak. Dia memang nggak pernah cerita banyak, tapi Ibu tahu dia selalu nunggu kamu pulang.”
Raka menunduk.
“Sekarang kamu harus lebih ada buat dia. Kalau dia bangun nanti, jangan pernah lepasin tangannya lagi, ya…”
Kata-kata itu membuat d**a Raka makin sesak.
Dan untuk pertama kalinya sejak Aruna dibawa ke rumah sakit, ia benar-benar menangis—bukan karena takut kehilangan, tapi karena sadar: ia sudah lama kehilangan banyak waktu berharga bersama perempuan yang paling mencintainya.
❤️❤️❤️
Pintu rumah terbuka pelan. Suara gemeretak kunci yang diputar di lubang pintu terdengar jauh lebih nyaring dari biasanya. Tak ada yang menyambut, tak ada suara langkah kaki kecil tergesa menuruni anak tangga, tak ada tawa lembut dari arah dapur.
Raka masuk perlahan, memandangi ruang tamu yang sunyi. Sofa tempat Aruna biasa duduk sambil menunggu kepulangannya kini kosong. Vas bunga di sudut meja belum diganti. Di atas rak, gelas favorit Aruna masih tertinggal, seperti menyimpan jejak bibir mungil yang tak sempat berpamitan.
Seketika, udara di dalam rumah itu terasa berat. Terlalu hening. Terlalu dingin.
Seakan-akan rumah itu sedang berkabung.
Langkah Raka pelan menapaki tangga menuju lantai dua. Setiap langkah mengingatkannya akan suara tawa Aruna yang sering memanggil dari lantai atas saat ia pulang kerja.
Sesampainya di kamar, ia menjatuhkan tubuh ke sofa kecil di sudut ruangan. Kepala bersandar, mata menatap langit-langit. Rasanya seperti tertindih beban berat yang tak terlihat.
Ia menutup matanya sejenak. Lelah. Tapi bukan karena tubuh. Ini bukan tentang kurang tidur atau terlalu lama duduk. Ini luka yang menganga di dalam hati—sepi yang memukul ketika seseorang yang seharusnya ada, kini terbaring tak sadar, tak tahu apa pun.
Beberapa menit berlalu. Raka bangkit, berjalan ke kamar mandi.
Suara air yang menyentuh kulit menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Ia berdiri lama di bawah pancuran, membiarkan air hangat mengguyur tubuh, berharap bisa menyapu lelah dan kepedihan yang tak kunjung reda.
Selesai mandi, Raka masuk ke ruang pakaian. Ia memilih setelan formal berwarna gelap, dasi biru gelap, dan jam tangan perak yang biasanya hanya ia kenakan untuk urusan penting.
Satu pandangan singkat ke cermin, sebelum akhirnya ia turun, menghidupkan mobil, dan melaju ke kantor.
Gedung kantor itu tampak seperti biasa—ramai, sibuk, terstruktur. Tapi bagi Raka, hari ini semuanya terasa berbeda. Ia masuk ke ruang rapat di lantai 16 dengan wajah datar, menyapa sekilas para petinggi dan kolega sebelum duduk di kursi ujung.
Presentasi dimulai. Investor asing menekan dengan pertanyaan tajam. Kepala divisi lain menyampaikan update, sementara direktur utama melirik Raka beberapa kali, berharap respons cepat dan solusi dari pria yang biasanya menjadi otak strategi mereka.
Raka menjawab satu per satu dengan tenang. Tapi dalam diam, pikirannya masih setengah tertinggal di ruang rumah sakit. Setiap kali namanya disebut, ia harus menarik kesadarannya kembali.
“Raka,” ucap Pak Darto, direktur utama, menghentikan sejenak pembahasan.
Raka menoleh. “Ya, Pak?”
“Proyek kita di Kalimantan belum stabil. Kita butuh pengawasan langsung di lapangan. Terutama karena laporan terakhir cukup mengkhawatirkan. Kami ingin kamu berangkat... maksimal dua hari dari sekarang. Tiga minggu.”
Ruangan hening beberapa detik.
“Kalau kamu butuh waktu buat pertimbangan, kami bisa—”
“Tidak perlu,” potong Raka pelan. “Saya berangkat.”
Mata-mata di ruangan itu saling bertukar pandang. Tapi tak ada yang berani membantah keputusan Raka. Ia selalu jadi orang yang paling bisa diandalkan.
Tapi kali ini, saat semua kembali menunduk pada laptop mereka dan melanjutkan diskusi, hanya Raka yang tak lagi mencatat. Hanya Raka yang duduk diam menatap ke depan, seolah pikirannya jauh… dan hatinya sudah lebih dulu tertinggal di sebuah ranjang rumah sakit, menunggu tangan kecil yang tak kunjung menggenggam balik.