Bagian 3

1274 Words
Raka duduk di balik meja besar kayu mahoni di ruang kerjanya. Lampu gantung menyala hangat, menyoroti tumpukan dokumen proyek dan laptop yang masih terbuka. Namun, tak satu pun dari itu menarik perhatiannya. Tangannya mengepal di atas meja, lalu perlahan mengendur. Ia bersandar di kursi kulit hitam, menatap kosong ke langit-langit, seakan berharap jawaban bisa jatuh dari sana. Pikirannya gaduh. Tiga minggu. Tiga minggu jauh dari Aruna yang masih terbaring lemah. Tiga minggu tanpa tahu apakah ingatannya akan kembali, apakah luka batin dan fisiknya akan membaik, atau justru memburuk. Tapi proyek di Kalimantan bukan sembarang proyek. Itu adalah rencana perluasan besar yang ia sendiri teken izinnya. Tim di lapangan belum stabil. Investor meminta pengawasan langsung. Dan jika ada satu orang yang bisa menyelamatkan proyek itu, maka hanya dia. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya pelan. Wajah Aruna melintas di benaknya—senyum tipisnya saat mengantar kopi, caranya merengek manja setiap kali Raka pulang telat, suara tawanya yang kadang mengisi lorong rumah mereka. “Aku suami... sebelum aku CEO,” gumamnya lirih, seperti mengingatkan dirinya sendiri. Namun, suara lain membalas di kepalanya. “Tapi kalau kamu gagal sebagai CEO, semua orang yang bergantung pada perusahaanmu juga jatuh. Termasuk Aruna.” Ia bangkit dari kursi, berjalan ke jendela besar yang menghadap kota. Di bawah sana, mobil-mobil terlihat kecil seperti semut yang sibuk. Dunia tak berhenti hanya karena satu orang terluka. Kehidupan terus berjalan. Ia menyandarkan dahinya di kaca dingin. Matanya terpejam. “Harusnya aku lebih peka,” ucapnya pada dirinya sendiri. “Harusnya aku pulang lebih cepat malam itu. Harusnya aku dengerin dia…” Hening lagi. Perang batin itu tak menghasilkan pemenang. Hanya kelelahan yang makin dalam, menyesakkan d**a. Pintu diketuk. Sekretarisnya masuk sebentar, meletakkan map berisi itinerary perjalanan Kalimantan. Raka hanya mengangguk tanpa suara, lalu kembali duduk. Map itu masih tergeletak di atas meja. Ia belum menyentuhnya. Sebab, satu bagian dari dirinya masih menolak pergi. Dan bagian itu... adalah sisi yang paling manusiawi dalam dirinya: seorang suami, yang takut kehilangan sebelum sempat benar-benar memperbaiki segalanya. ❤️❤️❤️ Langit malam mulai meredup, menumpahkan warna kelabu di antara kelap-kelip kota. Raka menyetir perlahan kembali ke rumah sakit. Jam tangannya menunjukkan pukul 21.45. Lampu lorong menyala redup saat ia melangkah masuk ke ruang rawat Aruna. Ibunya duduk di kursi dekat jendela, merajut sesuatu yang sudah kusut bentuknya. Ayah Aruna tampak tertidur di sofa kecil. Sementara ibu Aruna sedang memandangi wajah Aruna dari sisi ranjang, sesekali menyeka kening putrinya dengan handuk basah. Melihat Raka datang, semua menoleh. Tak ada suara, hanya sapaan hangat lewat tatapan. Raka meletakkan jasnya di gantungan, lalu duduk di kursi kosong di sisi Aruna. Ia menggenggam tangan istrinya yang masih lemah, sejenak menatap wajah pucat itu. “Ayah, Ibu,” katanya akhirnya, memecah sunyi. “Saya... mau bicara sedikit.” Ayah Aruna terbangun dan mendekat. Ibu Raka menurunkan rajutannya, menatap putranya penuh perhatian. Semua menunggu. “Ada proyek di Kalimantan,” ujar Raka perlahan. “Aku harus ke sana. Pengawasan langsung. Tiga minggu.” Keheningan turun lagi. Lalu, ibu Aruna menatapnya tajam. “Kamu yakin mau ninggalin dia dalam keadaan begini, Nak?” Nada suaranya tak menghakimi. Tapi jujur. Dan menyakitkan. Raka menunduk. “Itu bagian dari tanggung jawabku juga. Tapi aku... aku ragu. Setiap jam aku di sini, aku ingin tetap ada di sisinya. Tapi setiap jam aku di kantor, mereka butuh keputusan dariku. Butuh aku untuk jaga agar semua tetap jalan. Aku… terbelah.” Ayah Aruna menepuk pundaknya pelan. “Nak, kamu suami Aruna. Tapi kamu juga kepala perusahaan. Dua-duanya penting.” Ibu Raka ikut bicara, lembut. “Kalau kamu memutuskan pergi, kami semua akan gantian jaga. Aruna nggak akan sendiri. Kami tahu kamu sayang dia.” Raka mengangguk pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan gejolak emosi yang mendesak di d**a. “Aku takut, Bu… Kalau aku pergi, dia sadar dan aku nggak ada. Aku takut melewatkan momen pertama dia bangun, atau... dia lupa segalanya, dan aku nggak di sini.” Ibu Aruna menggenggam tangannya. “Kalau kamu tinggal terus tapi hati kamu gelisah, Aruna juga bisa merasakannya. Pergilah. Lakukan apa yang kamu harus lakukan. Tapi jaga hati kamu tetap di sini.” Raka mengangguk pelan. “Aku akan minta bantuan Saka buat handle sebagian tanggung jawab selama aku pergi. Dan aku akan bolak-balik kalau bisa. Nggak akan benar-benar ninggalin dia.” Ibu Raka mengelus punggungnya. “Kamu udah ambil keputusan yang berat. Tapi kamu nggak sendiri, Nak. Kita semua akan jaga Aruna.” Malam itu, Raka tidur sebentar di kursi sisi ranjang Aruna. Tangannya tak lepas dari genggaman tangan istrinya. Dalam diam, ia berjanji... tiga minggu bukanlah waktu untuk melarikan diri. Tapi untuk menata ulang, menebus, dan kembali menjadi suami yang pantas ditunggu. ❤️❤️❤️ Hari keberangkatan tiba dengan langit yang kelabu. Awan-awan menggantung berat seperti d**a Raka yang sesak menahan perasaan. Ia berdiri di depan pintu kamar rumah sakit, mengenakan kemeja biru tua dan celana panjang abu. Tidak dengan jas kerjanya, tidak dengan raut percaya diri seperti biasanya. Hari ini, ia hanya seorang pria yang meninggalkan istrinya dalam keadaan koma. Satu koper besar terletak di dekat pintu. Saka, tangan kanannya di perusahaan, menunggu di mobil di bawah. Segala sesuatu sudah diatur, tapi hatinya tetap kacau. Raka menatap Aruna yang masih terbaring lemah. Rambutnya disisir rapi oleh ibu Aruna pagi tadi. Selang infus masih menempel di tangan kiri, dan pelindung oksigen menyelimuti hidung mungilnya. Ia duduk pelan di sisi ranjang. Mengelus tangan Aruna yang dingin. “Aku berangkat dulu, Na…” bisiknya. Tidak ada jawaban, hanya bunyi detak mesin dan ritme napas yang teratur. “Kalau kamu bangun, aku harap kamu ingat… aku orang yang paling mencintaimu.” Ia berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa pahit. “Maaf... karena dulu terlalu sibuk. Terlalu cuek. Terlalu percaya bahwa waktu kita masih panjang.” Kepalanya menunduk, menggenggam tangan itu lebih erat. “Aku janji akan pulang. Tiga minggu aja. Bertahanlah… tunggulah aku.” Setelah beberapa menit, Raka berdiri. Ia menunduk dalam ke arah ibu dan ayah Aruna yang sudah menunggu di lorong, lalu berjalan tanpa menoleh kembali. Sebab ia tahu, jika ia menoleh, mungkin ia takkan sanggup melangkah. ❤️❤️❤️ Di pesawat menuju Kalimantan, Raka hanya memandang kosong ke luar jendela. Pramugari menawarkan minuman, ia menolak dengan anggukan lelah. Kepala bersandar ke sandaran kursi, tapi pikirannya tak bisa tenang. Ia melihat kembali foto Aruna di ponselnya. Senyum perempuan itu, tawa, bahkan keluh kesalnya yang dulu sering ia anggap remeh... kini terasa sangat dirindukan. ❤️❤️❤️ Dua Hari Kemudian – Rumah Sakit Pagi itu, suster masuk ke kamar Aruna dengan rutinitas seperti biasa. Namun, saat ia mendekati tempat tidur untuk memeriksa tekanan darah, mata Aruna bergerak. Kelopak matanya berkedut… lalu perlahan terbuka. Suster hampir menjatuhkan clipboard-nya. Ia buru-buru memencet tombol darurat. Dokter dan keluarga datang tak lama kemudian. Aruna masih lemah, hanya bisa melirik ke sekeliling dengan tatapan bingung. “A… Aruna?” bisik ibu Aruna, matanya berkaca-kaca. Aruna mencoba bicara, tapi suaranya serak. “Siapa… kalian…?” Semua terdiam. Dokter segera mengambil alih, menenangkan suasana. Pemeriksaan ringan dilakukan. Aruna masih bisa merespon dengan baik, tapi kebingungan tetap terpancar jelas di matanya. Saat diperlihatkan foto Raka di ponsel, Aruna hanya menatap lama… lalu menggeleng perlahan. “Aku nggak kenal dia.” Ibu Raka menahan napas, sementara ibu Aruna menitikkan air mata. “Apa kamu tahu siapa kamu?” Aruna mengangguk pelan. “Aruna. Aku kerja di agensi kreatif. Aku suka kopi, suka kerja. Dan... aku anti banget sama cowok-cowok pengganggu. Aku masih gadis. Aku bahkan belum pernah jatuh cinta.” Hening menggantung di ruangan itu. Kata-kata Aruna menusuk, bukan karena niatnya, tapi karena kebenaran yang kini tak dikenalnya lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD