Ruangan rumah sakit pagi itu diselimuti keheningan yang lebih menusuk dari biasanya. Dokter Marcell, spesialis neurologi senior dari rumah sakit swasta ternama di Jakarta, sedang berbincang serius dengan keluarga besar Aruna dan Raka di ruang konsultasi.
Aruna telah sadar selama hampir 24 jam. Namun, semua upaya memperlihatkan foto, benda-benda kenangan, bahkan nama-nama yang dulu dekat dengannya, tak berhasil mengembalikan ingatannya. Terutama, tentang Raka—suaminya.
“Ada beberapa jenis amnesia,” jelas Dokter Marcell, sambil membuka grafik otak di layar tablet miliknya. “Dan berdasarkan gejala yang Aruna tunjukkan, kita mengarah pada retrograde amnesia—kehilangan memori jangka panjang yang terjadi sebelum kecelakaan.”
“Apa itu artinya… dia benar-benar lupa segalanya tentang masa lalunya?” tanya Ibu Aruna pelan, air mata masih membekas di pipinya.
“Tidak seluruhnya. Amnesia retrograde bisa terbagi menjadi dua tipe besar: global dan temporer. Dalam kasus Aruna, kita curiga ini termasuk focal retrograde amnesia, di mana kehilangan ingatan terfokus pada momen-momen atau orang-orang tertentu dalam hidupnya. Ia masih mengingat pekerjaannya, hobinya, bahkan rekan kerja lamanya, tapi…” Dokter Marcell menarik napas. “…tidak dengan masa pernikahannya. Tidak dengan suaminya.”
Ayah Raka mengepalkan tangan di pangkuan. “Tapi dia terlihat sehat… Dia bicara lancar, tertawa, bisa merespons semua dengan logis.”
“Itu wajar. Kemampuan kognitif Aruna tidak terganggu. Ingatannya seperti sebuah buku besar yang halamannya tersobek hanya pada bagian tertentu—bagian yang berisi kisah hidup bersama Raka.”
Keheningan kembali merebak. Mata semua orang tertuju ke layar, ke citra otak yang tak bisa mereka pahami, tapi kini terasa begitu menentukan arah hidup mereka.
Ibu Raka memejamkan mata. “Dan kita harus bilang ke Raka?”
“Segera,” bisik ayah Aruna. “Jangan sampai dia dengar dari orang lain. Dia harus tahu… sekarang istrinya sudah sadar, tapi tidak mengenalinya lagi.”
Kalimantan – Proyek Pembangunan
Langit berwarna abu keemasan ketika suara mesin-mesin berat menggelegar di kejauhan. Debu-debu beterbangan, mengguyur baju kerja para teknisi dan mandor yang sibuk memeriksa fondasi jembatan baja yang akan menghubungkan dua sisi sungai kecil.
Di antara mereka, berdiri seorang pria berperawakan tegap, mengenakan helm putih bertuliskan “CEO – Raka Mahendra”.
Namun, sorot matanya tak setajam biasanya. Ia terlihat menyendiri, hanya sesekali menanggapi laporan teknis dengan anggukan singkat. Sesekali ia melirik ponselnya, seolah menunggu sesuatu. Ia gelisah—seperti ada bagian dalam dirinya yang mengusik.
Saat ia kembali ke kontainer khusus manajemen proyek, ponselnya bergetar. Panggilan dari Mama.
Raka mengangkatnya cepat.
“Halo, Ma? Ada apa?”
Suara di ujung sana terdengar gemetar. “Nak… Aruna sudah sadar.”
Dunia di sekelilingnya seolah membeku.
Raka langsung berdiri, kursi besi di belakangnya bergeser keras. “Apa? Kapan? Bagaimana—”
“Tapi, Nak… dengarkan dulu.” Suara ibunya mulai pecah. “Dia sadar. Tapi dia lupa.”
“Lupa?” bisik Raka, nyaris tak terdengar.
“Dia… tidak ingat kamu. Tidak tahu siapa kamu. Dia pikir dirinya masih gadis, belum menikah, belum pernah jatuh cinta. Semua tentang kamu... hilang.”
Raka terdiam. Nafasnya tercekat, tubuhnya kaku. Bunyi denting ponsel yang disandarkan ke meja terdengar saat ia perlahan meletakkannya. Ia tak sanggup bicara. Tak sanggup bertanya lebih jauh.
Suara dari luar kontainer tak lagi terdengar, berganti dengan gema dari kenangan-kenangan yang mendadak terasa jauh dan asing. Tawa Aruna, tatapannya yang manja, keluhannya saat dia merasa Raka terlalu sibuk, semua berputar seperti potongan film hitam putih yang robek di tengah.
Ia ingin marah. Pada siapa? Tak tahu.
Ia ingin pulang. Tapi sekaligus takut.
Tak ada yang lebih menyesakkan dibanding mengetahui bahwa orang yang kamu cintai tidak mengingatmu sama sekali.
Raka berdiri kaku. Tak tahu harus melangkah ke mana. Tak tahu apakah hatinya cukup kuat untuk menghadapi kenyataan.
Tiba-tiba pintu kontainer terbuka. Asisten proyek berlari masuk sambil membawa tablet.
“Pak Raka, maaf mengganggu, tapi Anda harus lihat ini. Ada masalah besar dengan kontraktor lokal. Mereka mundur. Kita terancam gagal bangun jembatan dalam tenggat waktu.”
Raka menatapnya kosong. Dua dunia berperang di kepalanya: dunia tempat ia seorang CEO dengan tanggung jawab besar… dan dunia lain tempat ia seorang suami yang baru saja kehilangan istrinya—bukan secara fisik, tapi dalam ingatan.
❤️❤️❤️
Udara Kalimantan pagi itu masih menyisakan embun tipis, tapi di d**a Raka, semua terasa gersang. Ia berdiri di atas tangga kontainer utama yang difungsikan sebagai pos pengawasan proyek. Matanya menyapu area kerja yang belum rapi, dengan tumpukan baja, semen, dan alat berat yang terus berdengung bagai nyanyian logam tak kenal lelah.
Di bawah sana, para pekerja mulai berdatangan. Wajah-wajah itu bukan sekadar staf proyek. Mereka adalah kepala keluarga. Para pencari nafkah. Wajah-wajah yang mengandalkan keberhasilan proyek ini agar dapur mereka tetap mengepul.
Raka menatap mereka lama. Mengingat kalimat ibunya semalam.
> “Dia… tidak ingat kamu. Tidak tahu siapa kamu.”
Tangannya mengepal. Ada rasa sesak, tetapi juga kesadaran yang tak bisa ia abaikan.
Sebagai suami, ia ingin pulang. Ingin duduk di sisi ranjang Aruna dan membisikkan kisah mereka berdua, berharap ingatan itu kembali sedikit demi sedikit. Tapi sebagai CEO, ia tahu—jika proyek ini gagal, ratusan orang akan kehilangan pekerjaan. Anak-anak mereka kehilangan biaya sekolah. Istri-istri mereka mungkin harus mencari pinjaman demi beli beras bulan depan.
Dan Raka tak bisa membiarkan itu terjadi. Bukan hanya karena reputasinya sebagai pemimpin, tapi karena ia tahu: Aruna pun tak akan membiarkan dia pulang dengan tangan kosong dan hati penuh sesal. Wanita itu selalu menyemangatinya, bahkan ketika Raka terlalu sibuk untuk menyadarinya.
Dengan langkah berat, ia masuk ke dalam ruang rapat mini. Asisten dan dua manajer lapangan sudah menunggu. Di meja terdapat laporan kerusakan peralatan, pergeseran jadwal kerja, dan surat pengunduran diri sepihak dari kontraktor lokal.
“Pak Raka,” ucap Adwin, kepala teknik, dengan nada khawatir. “Kita harus ganti vendor baja dalam waktu tiga hari atau struktur jembatan tak akan selesai.”
Raka duduk perlahan. Menyandarkan tubuhnya, mengusap wajahnya yang lelah.
“Panggil semua vendor alternatif. Minta mereka siapkan simulasi struktur dan tawaran harga hari ini juga. Kita selesaikan ini.” Suaranya datar, tapi tegas.
Asisten mencatat cepat. “Kalau begitu, berarti Bapak tetap memimpin proyek ini dari lapangan?”
Raka mengangguk. “Iya. Sampai struktur utama selesai. Setelah itu, aku akan ke Jakarta.”
Hening sesaat mengisi ruangan, sebelum Adwin mengangguk mantap. “Baik, Pak. Kami ikut arahan.”
Di luar jendela kaca, matahari mulai meninggi. Tapi hati Raka tetap mendung. Ia tahu, keputusan ini akan menyakitkan—bukan hanya bagi dirinya, tapi juga bagi Aruna, jika kelak ingatannya pulih dan tahu suaminya tak ada saat ia bangun.
Namun, bagi Raka, ini bukan sekadar tentang proyek. Ini tentang tanggung jawab. Tentang menyelamatkan banyak "rumah tangga" meski rumah tangganya sendiri sedang remuk.
❤️❤️❤️
Jakarta – Rumah Sakit
Di sisi lain kota, Aruna menatap keluar jendela kamar rumah sakit. Rambutnya telah disisir rapi oleh perawat. Ia mengenakan hoodie lembut warna biru pastel yang dibawakan ibunya.
“Tante, aku bisa minta ponsel nggak?” tanyanya pelan.
Ibu Raka tersenyum kaku. “Mau hubungi siapa, Sayang?”
Aruna meringis kecil. “Nggak tahu. Kayaknya ada yang hilang dari hidupku, tapi aku juga nggak tahu apa.”
Hati sang mertua mencelos. Ia menoleh ke arah dokter yang berdiri di balik pintu, menggeleng perlahan. Belum saatnya Aruna tahu. Belum sekarang.
❤️❤️❤️
Malam itu, Raka duduk sendirian di ujung dermaga proyek. Laut tenang. Angin lembut. Tapi pikirannya seperti badai.
Ia membuka galeri foto. Membuka video terakhir Aruna—yang merekam dirinya sedang tertawa di dapur, mengaduk telur dengan gaya lucu.
Tiba-tiba, ada notifikasi masuk.
Pesan dari Adwin: “Pak, kami dapat laporan... Aruna mulai bertanya soal dirinya. Dia mulai curiga dia sedang disembunyikan dari sesuatu. Dokter minta Bapak segera pulang...”
Raka menggenggam ponsel itu erat.
Antara hati yang ingin pulang, dan janji yang harus ia tepati pada ratusan keluarga yang menggantungkan hidup pada proyek ini.
Ia menatap laut jauh di sana, dan bertanya dalam hati:
Kalau orang yang kamu cintai tidak ingat kamu, masihkah kamu punya alasan untuk tetap bertahan…?”