1
Rifka melambaikan tangan dengan begitu senang saat melihat Topan yang berjalan dari pintu keluar bandara sambil mendorong kopernya. Topan tersenyum menatap kekasihnya itu, lalu dengan langkah cepat, ia mendekati Rifka dan menarik gadis itu masuk ke dalam pelukannya.
"I miss you." ujar Topan.
Topan mendorong pelan bahu Rifka, lalu menunduk dan mengecup bibir Rifka, bahkan melumatnya sebentar itupun karena Rifka langsung mendorong d**a Topan, kalau tidak Topan mungkin akan melumatnya habis-habisan.
Rifka melotot dan melihat sekitarnya dengan malu, lalu melangkah menjauh dari sana. Topan mengejar gadis itu, lalu merangkul pinggang Rifka, "Masih belum terbiasa juga?" godanya.
"Ini tuh tempat umum." protes Rifka.
"Jadi cuma boleh di kamar?" tanya Topan.
"Ya bukan gitu, tapi seenggaknya jangan di tempat ramai begitu."
"Aku nggak biasa ciuman sembunyi-sembunyi kayak mantanmu." Ujar Topan sambil tertawa.
"Ihh, tapi itu terlalu brutal. Nggak tau tempat namanya." desis Rifka terus terang.
"Ya emangnya kenapa? Mereka juga wajar kali."
"Wajar apanya? Mereka nganggapnya norak kali."
"Ya terus aku harus gimana? Aku nggak terbiasa menyembunyikan perasaanku yang terlalu menggebu-gebu." jelas Topan.
"Kayak remaja baru puber aja." ejek Rifka sambil berdecih sinis dan meninggalkan Topan dengan langkah cepat.
Topan terkekeh dan merangkul gadis itu dengan cepat, "Ini namanya efek jatuh cinta." ujarnya membuat Rifka meliriknya sinis, kemudian bergidik geli.
Mereka berjalan menuju mobil Rifka yang terparkir. Topan tersenyum saat Rifka membukakan pintu mobil untuknya. Gadis itu kemudian menyusul, masuk dan duduk di kursi kemudi. Dengan keadaan Topan yang lelah, jadi Rifka lah yang akan menyupiri pria itu.
"Kita ke apartemen aku ya?" Topan mengatakannya tanpa menatap Rifka sama sekali karena ia sibuk dengan hpnya.
"Hah? Ngapain?" tanya Rifka terkejut dan sedikit panik hingga ia tanpa sengaja menginjak rem.
"Bahaya ihh kamu ngerem mendadak begitu." Topan reflek menegur Rifka, lalu menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada kendaraan yang dekat dengan mereka.
"Ya kamu sih nggak pakai aba-aba ngajak ke apartemen. Jadi aku reflek nanya karena terkejut."
"Ya ngapain lagi? Aku perlu istirahat, sayang."
"Ya tapi aku nggak usah ikut lah. Kamu kan mau istirahat. Aku pulang aja abis ini." ujar Rifka berusaha menghindar.
"Kenapa? Ada kerjaan penting?"
"Ya enggak sih, tapi tetap aja...."
"Takut sama aku?" tanya Topan dengan senyum kecilnya.
"Hah? Takut apa?" tanya Rifka sambil melirik sebentar-sebentar pada Topan. Ia gugup. Nada bicaranya terdengar berbeda dari biasanya dan Topan menyadari itu.
"Kamu pasti lebih tau maksud aku." ujar pria itu yakin. Senyum miring terlihat jelas di wajahnya meskipun Rifka sedang tidak menatap pria itu, tapi nada kalimatnya yang usil terdengar jelas.
"Enggak kok. Ngapain juga aku takut." ujar Rifka menyembunyikan kegugupannya.
***
Rifka menatap apartemen Topan dengan perasaan dag-dig-dug melihat setiap sudutnya. Ia berusaha menenangkan pikirannya dengan meremas tali tasnya sambil berjalan mengikuti pria itu. Tidak ada pikiran positif dalam kepalanya saat ini. Ini pertama kalinya ia masuk apartemen pria itu.
"Mau minum apa, Ka?" Tanya Topan sambil meletakkan tasnya di sofa.
"Ya??" tanya Rifka terkejut.
Topan tersenyum melihat wajah pucat gadis itu. Ia lalu mendekati Rifka dan menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya, "Kamu baik-baik aja? Wajah kamu pucat loh." tanyanya, jelas tau kenapa Rifka seperti itu.
"Hah? Aku nggak apa-apa kok. Tadi kamu nanya apa?" Rifka menatap Topan dengan gugup.
"Kamu mau minum apa?"
"Eh, aku...aku nanti bikin sendiri aja." ujar Rifka yakin.
"Takut dikasih obat tidur atau obat perangsang?" tanya Topan.
"Hah?" tanya Rifka terkejut karena Topan seperti membaca isi pikirannya. Ia lalu menjauh dari pria itu dan duduk di sofa dengan nafas memburu karena takut.
Topan tersenyum geli dan menghampiri gadis itu, "Susah ya berpikiran positif kalau sama aku." duga Topan mengerti, "Nggak apa-apa. Aku ngerti." katanya sambil mengacak rambut gadis itu gemas.
"Mbak, bikinin jus jeruk 2 gelas ya." ujar Topan membuat Rifka menoleh pada pria itu karena bingung Topan sedang bicara dengan siapa.
Seorang wanita muncul dari kamar Topan sambil membawa alat kebersihannya. "Mandi dulu mas, udah saya siapin air sama handuknya. Saya buatin jusnya ya mas, non. Tunggu sebentar."
"Aku mandi bentar ya. Kamu nonton aja biar nggak bosan." ujar Topan setelah menghidupkan televisinya dan memberi remot kepada Rifka untuk memilih siarannya sendiri.
Rifka menutup wajahnya yang malu setelah Topan pergi. Dengan semua pemikiran kotor tadi, ia jadi merasa bersalah pada Topan, terlebih karena reaksi pria itu biasa saja ketika ia curigai, disaat Topan seharusnya marah atau kesal dengan tuduhannya.
Gadis itu menggigit bibirnya dengan resah. Bingung bagaimana caranya ia harus minta maaf pada Topan untuk semua kecurigaannya tadi. Seharusnya ia bisa menahan diri untuk pikiran buruk seperti itu. Padahal Topan sepertinya tak ada niat buruk sama sekali kepadanya. Atau belum??
"Ini minumnya, non." Rifka tersadar dengan mbak pekerja di apartemen Topan.
"Makasih mbak. Oh iya mbak, boleh nanya nggak?"
"Nanya apa non?"
"Duduk sini dulu." ujar Rifka menepuk sofa di sampingnya.
"Kenapa non?"
"Mbak siapa namanya? Udah lama kerja di sini?"
"Saya Ani, non. Saya kerja di rumah keluarganya mas Topan, tapi karena katanya mas Topan pulang hari ini, saya disuruh bebersih di sini dari pagi tadi."
"Oo.." Rifka mengangguk mengerti, "Pulang jam berapa?"
"Biasanya saya diusir mas Topan sih kalau mas Topan mau istirahat."
"Oh begitu, makasih ya."
"Iya non."
***
Topan kembali muncul dengan penampilan yang berbeda. Pria itu tampak segar dengan rambut basahnya, dan juga pakaian rumahannya membuat penampilan yang amat berbeda dengan sehari-hari saat bekerja.
"Bosan nggak nungguin aku?" tanya Topan.
"Enggak kok."
"Aku lumayan ngantuk juga beres mandi gini."
"Ya udah tidur aja."
"Nggak enak aku ninggalin kamu tidur. Aku yang ngajak ke sini tadi."
"Aku nggak masalah kok. Atau aku pulang aja."
"Jangan, sayang. Aku kangen."
"Ya terus gimana? Kamu kan ngantuk."
"Kalo aku ajak ke kamar, kamu pasti nolak."
"Ya udah pastilah." jawab Rifka judes.
"Anak sofanya aku tarik ya biar bisa tiduran. Seenggaknya di sini kamu nggak mikir macem-macem kan?" ujar Topan sambil menunduk dan menarik anak sofa untuk tempatnya tidur.
Pria itu masuk sebentar ke kamarnya dan keluar dengan membawa dua bantal. Ia meletakkan salah satunya di anak sofa yang baru ia tarik, dan satu lagi ia berikan pada Rifka untuk digunakan gadis itu.
"Kalau nanti aku ketiduran, kamu tidur juga ya, jangan langsung pulang."
"Iya."
"Mbak, jangan pulang sampai aku suruh ya. Awasin aja aku biar nggak mesumin anak gadis orang." ujar Topan membuat Rifka menutup mulutnya dengan panik.
Topan terkekeh lalu melepaskan tangan gadis itu dari bibirnya, lalu mengecup tangan Rifka sambil mengedipkan mata pada gadis itu. Rifka segera menarik tangannya saat mendengar suara batuk dari mbak Ani.
Topan membaringkan kepalanya ke bantal dan memutar tubuhnya menghadap Rifka, lalu menarik tangan gadis itu untuk ia genggam. Topan menarik tangan Rifka ke dadanya sendiri, lalu memejamkan matanya yang terasa berat.
Setelah melihat Topan terlelap dan nafas pria itu cukup teratur dalam tidurnya, Rifka menurunkan kewaspadaan dan ikut berbaring karena rasa kantuk juga menyerangnya.
***
Rifka terbangun lebih dulu dan melotot saat menyadari bahwa ia sudah berada di sofa yang sama dengan Topan. Tangan pria itu melingkari perutnya dan tubuhnya terasa menempel erat di belakang Rifka. Rifka berusaha menggeser dirinya untuk memberi jarak karena terasa ada sesuatu yang tak nyaman di belakangnya.
"Udah bangun?" tanya Topan sambil merapatkan dirinya kembali. Ia sedikit terganggu dengan gerakan Rifka sehingga ia jadi terbangun. Ia mengecup rambut gadis itu.
"Topan, ini nggak nyaman." ujar Rifka.
"Nyaman kok." ujar Topan sambil menyembunyikan senyum gelinya.
"Kamu...ihhh, ini beneran nggak nyaman."
"Ternyata pacaran tanpa s*x itu mendebarkan ya." ujar Topan sambil mengecup bahu Rifka dengan lembut.
"Tapi kamu selalu menjurus ke sana." Rifka menggeliat karena perasaan waspada untuk setiap tindakan Topan.
"Tapi kan nggak sampai bikin kamu basah."
"Ihh, ini udah basah bego. Burung kamu nempel di b****g aku."
"Astaga." Topan terkejut dengan kalimat Rifka barusan dan segera melepaskan dirinya dari gadis itu sambil tertawa.
Rifka menggigit bibirnya dan menutup wajahnya yang merah karena malu. Ia sendiri tidak menduga bahwa ia berani mengatakan kalimat sevulgar itu. Dan mendengar tawa Topan justru membuatnya semakin malu.
"Sayang, kamu lucu banget." tanggapan Topan yang seperti itu membuat Rifka segera mengubah posisinya menjadi duduk.
"Nggak lucu tau nggak. Diem ihhh, jangan ketawa lagi.
"Kamu makin berani. Aku makin suka."
"Bodoamat."
"Nikah yuk."
"Nggak usah bercanda. Kita baru pacaran 3 bulan."
"Ya emang kenapa? Kita memang pacaran tiga bulan, tapi kita udah kenal selama setahun lebih."
"Kamu belum kenal aku semuanya. Aku juga belum kenal kamu sedalam itu."
"Nggak apa-apa. Kita saling mengenal sebagai suami istri."
"Kamu nggak takut kalau tiba-tiba ada cewek yang bilang dia hamil anak kamu atau dia melahirkan anak kamu? Aku takut."
"Aku rasa nggak ada deh. Selama ini aku pakai pengaman dan rutin periksa sama mereka. Lagipula kalau tiba-tiba mereka ngaku hamil sekarang, udah pasti bukan anak aku. Sejak aku bikin komitmen sama kamu, aku beneran nggak pernah nakal lagi."
"Aku nggak mau bilang ini karena takut kamu akan manfaatin setelah tau, tapi aku mau jujur saat ini, aku juga bukan cewek baik-baik. Aku udah nggak suci lagi." aku Rifka.
"Dengan perilaku aku yang liar, rasanya juga nggak pantas kalau aku berharap dapat yang belum pernah ngapa-ngapain. Jadi, it's okay lah. Kamu nerima aku aja, aku udah bahagia banget." tanggapan Topan sesantai itu.
"Aku nerima kamu karena kamu kaya." ujar Rifka judes. Topan tertawa gemas dan menarik gadis itu ke pelukannya, "Seenggaknya aku punya nilai jual."
"Ya siapa coba yang nggak mau sama anak dari keluarga kaya raya?" tanggap Rifka sewot.
"Jadi mau nikah apa enggak?"
"Kamu cuma bercanda, Topan. Kamu seriusin dulu niat kamu."
"Aku serius, Ka."
"Kalau niat kamu cuma mau hohohiho, itu namanya nggak serius."
"Niat aku ya membina bahtera rumah tangga sama kamu. Kalo cuma hohohiho, ngapain ngajak nikah. Nanti juga kalo lama-lama dibujuk kamu pasti mau."
Rifka membulatkan matanya, lalu memukul lengan Topan, "Ihhh, dasar kurang ajar." ujarnya kesal.
"Aku serius. Aku udah kenal banyak cewek sebelum kamu, jadi aku tau betul cara meluluhkan cewek. Aku cuma nggak mau bersikap kurang ajar ke kamu karena aku udah janji, itu aja."
"Bisa nggak sih sehari aja nggak usah bahas cewek-cewek lain. Aku enek tau nggak kamu pamerin semua keahlian yang udah kamu coba ke cewek lain."
"Aku cuma bersikap realistis aja. Belajar dari pengalaman."
"Pengalaman kamu liar semua, aku males dengarnya."
"Ya mau ceritain pengalaman liar sama kamu, belum ada. Kita bikin dulu deh yuk." Topan menaik turunkan alisnya menggoda wanita itu.
"Topaaannn. Kamu mau kurang ajar." Rifka memukul Topan dengan sebal.
"Aku ada satu hal yang belum kulakuin sama cewek lain."
"Apa?"
"Siap-siap yuk. Aku tunjukin nanti." Ajak pria itu.
"Nggak di sini?" tanya Rifka heran.
"Enggak. Siap-siap aja dulu. Mandi sana."
"Aku mana punya baju di sini."
"Gampang. Aku bisa tanganin ."
***
Rifka keluar dari kamar mandi dengan bathrobe milik Topan, lalu menghampiri pria itu, "Mana yang mau dipakai?"
"Kayaknya aku salah kasih deh. Harusnya tadi kasih handuk aja, biar kamu kelihatan hot."
"Mesummm." Teriak Rifka.
"Nanti kalau ada yang nelpon dari resepsionis, minta tolong mbak Ani yang ambil ya. Kamu jangan keluar begini."
"Iya." angguk Rifka, lalu duduk kembali di sofa dan menonton siaran menarik di televisi.
Sepuluh menit kemudian ada panggilan masuk di telepon rumah milik Topan. Rifka meminta mbak Ani untuk mengambilkan pesanan pria itu untuk dibawa naik. Rifka memakai pakaian yang dipesan Topan.
***
"Sebenarnya kita mau ke mana sih?" Rifka menoleh untuk menatap wajah Topan. Merapikan dress putihnya yang berlipat ketika ia masuk ke mobil.
"Kita mau izin untuk hohohiho." jawab Topan setengah bercanda dan membuat ia mendapat geplakan dari Rifka.
"Kalo mau itu kan kamu butuh izin dari aku."
"Ya ini lagi mau meyakinkan kamu."
Rifka mengernyit tak mengerti maksud dan tujuan Topan, tapi ia memilih diam sambil bertanya-tanya dalam hatinya selagi melewati jalanan asing baginya.
"Rumah siapa ini? Kamu mau jual aku?" tanya Rifka begitu mereka tiba di depan sebuah rumah mewah.
Topan menoyor kepala gadis itu, "Enak aja mau dijual, aku aja belum nyicipin."
"Ya siapa tau, abis aku bilang nggak suci, kamu ada niatan jelek."
"Susstt, berisik sayang. Bawel banget sih."
Rifka ikut turun dari mobil begitu Topan membuka pintu dan turun. Rifka sibuk memperhatikan sekitarnya ketika Topan menggenggam tangannya dan menariknya melangkah ke pintu utama.
Mereka disambut oleh dua orang berseragam pelayan di pintu utama. Rifka ikut menunduk saat kedua wanita di pintu itu menunduk.
"Mas Topan pulang tumben nggak bilang?" tanya wanita berpakaian rapi seperti pelayan restoran mendekati mereka.
"Emang niat dadakan. Mama sama papa di rumah, bu?"
"Di rumah, mas."
"Siapa?" tanya Rifka.
"Bu Jena, kepala ART di rumah."
"Rumah? Ini rumah orang tua kamu?" tanya Rifka terkejut dan membulatkan matanya.
"Iya, sayang."
"Hah?" Rifka melepaskan tangan Topan segera dan menatap pria itu sambil menggelengkan kepalanya. Ia masih tak percaya. Saat ini jantungnya berdetak begitu kuat. Bagaimana tidak. Rumah sebesar ini saja berhasil mengintimidasinya, apalagi orang tua Topan nanti.
"Kenapa? Ayo." ajak Topan. Sekali lagi menarik tangan Rifka.
"Ahh, kita putus aja." ujar Rifka tiba-tiba membuat Topan melotot heran.
"Kenapa? Kamu aneh."
"Nanti juga bakal disuruh putus, mending putus dari sekarang."
"Ya seenggaknya kalau nanti disuruh putus, kamu dapet uang, bego. Jangan diputusin duluan." ujar Topan sambil menggelengkan kepalanya yang pusing dengan pikiran drama Rifka.
"Oh iya juga ya." Rifka kemudian mengakui kebodohannya, lalu menyambut tangan Topan.
Rifka meremas tangan Topan saat pria itu membawanya ke ruang keluarga, tapi beruntungnya di sana tidak ada orang. "Aku panggil mama sama papa dulu."
"Pulang aja deh yuk." ajak Rifka cemas.
"Kita udah datang, masa pulang tanpa ketemu. Aku panggil dulu ya."
Begitu Topan pergi, bu Jena melayani Rifka dengan menghidupkan televisi dan menyuruh pelayan lain untuk membawakan minuman dan juga makanan ringan. Padahal dalam situasi seperti ini, Rifka tidak yakin ia bisa makan dan minum dengan nyaman.
"Ada siapa ini?" tanya seorang wanita dengan penampilan elegan dan sedang menatap Rifka.
"Sa..ya.. siapa?" tanggapan Rifka jelas diluar kendalinya sendiri hingga ia malu pada dirinya sendiri.