Luna Selepas Sakti pergi, aku langsung melompat-lompat kegirangan. Aku senang bukan main, mendapatkan kenikmatan dunia sebagai manusia baru. Punya identitas, punya uang, dan juga tempat tinggal sendiri. Sekarang aku bisa hidup seperti manusia pada umumnya. Tanpa perlu cemas identitas asliku akan ketahuan. Hal itu lantas membuat diriku menari-nari penuh ekspresi. Aku merasa bebas dan bisa tertawa lepas. Aku menghempaskan diri ke atas kasur yang paling empuk selama aku hidup. Menggulingkan tubuhku ke berbagai sisi, dan mengacak selimut lembut yang ada di atasnya. Aku sangat nyaman dengan tempat tidur ini. Ini lebih nyaman dari tempat tidur di rumah Sakti yang ada di desa. Aku benar-benar bersyukur, bisa mendapat fasilitas mewah dengan harga gratisan. Kalau boleh jujur, aku juga sangat be

