Bab 8– Kembali

1179 Words
Makan malam berakhir dengan sempurna, selagi menikmati makan malamnya meja tersebut diisi oleh canda dan tawa yang mengudara. Faron mengamati sejenak eksistensi istrinya yang cukup bisa menghibur orang tuanya. Dia lantas tersenyum kecil melihat interaksi mereka. Hal yang saat ini diperhatikan, membuatnya lantas teringat pada kehidupan asmaranya dengan Hanara yang dulu. Menjalin hubungan selama dua tahun, rupanya belum tentu dapat membuat keluarga Rahardja menerima kehadiran gadis itu dengan baik. Alih-alih bersikap ramah dan menyenangkan, mereka justru melakukan hal kontradiksi, memperlihatkan rasa tidak sukanya pada Hanara. Entah apa yang menjadi alasan mereka tidak menyukai Hanara, padahal wanita itu sudah berusaha bersikap baik pada keluarga Rahardja. Berkali-kali berusaha untuk mendobrak pintu restu yang terkunci rapat, tetap saja semua tidak membuahkan hasil baik. Karena merasa hubungannya tidak memiliki harapan, dan terlihat kelabu, Hanara memilih untuk menyerah dan mengakhiri hubungan dengan Faron. Ya, mereka kandas karena terhalang restu orang tua. Setelah lima belas menit berlalu usai makan malam, Naya dan Arya beranjak lebih dulu, meninggalkan dua orang yang masih betah berada di meja itu. "Kita pulang sekarang aja bagaimana, Om?" "Kamu sudah selesai atau ada yang mau kamu pesan lagi?" Arimbi menggeleng. "Oke, kita pulang sekarang." "Tapi, aku ke toilet dulu sebentar." "Hmm, saya tunggu di parkiran." Arimbi bangkit dari posisinya lalu pergi ke toilet untuk menuntaskan hajatnya. Sedari tadi dia ingin sekali pergi ke toilet, tetapi tidak enak pada Naya dan Arya, itu sebabnya Arimbi memilih untuk menahan. Dan sekarang dia sudah tidak dapat menahan lagi cairan yang berada di dalam kantung kemihnya. Setelah selesai ke toilet, Arimbi berjalan keluar di mana Faron telah menunggu. Melintasi koridor yang kanan kirinya terdapat back painted glass sebagai aksen ikonik pada restoran itu. Setelah sampai di pintu keluar, Arimbi memaku langkah. Memperhatikan dengan seksama dari jarak jauh jika saat ini Faron tengah berbincang dengan seorang wanita? Dari mana asalnya wanita itu datang? Arimbi terus menatap tanpa berkedip wanita bergaun Hitam dengan model bodycon itu, wajahnya tampak terlihat familiar dari sudut pandang Arimbi. Siapa dia? Arimbi lantas menyipitkan mata mencoba menajamkan penglihatan, hingga pada akhirnya dia berhasil mengarahkan titik fokus meski keadaan parkiran temaram. "Oh, My God..." Kontan saja dia membekap mulutnya sendiri lalu tak lama setelahnya menggeleng pelan. Arimbi memilih untuk memalingkan wajah dan pergi dari sana. Hatinya terluka, melihat apa yang dia lihat barusan. Ya, Arimbi dapat mengingat siapa wanita itu. 'Wanita masa lalu Faron kembali dan mereka ...' Arimbi menghentikan langkahnya di kesunyian untuk menyusut air mata sejenak yang sejak tadi meleleh dari pelupuk mata. Usia menyapu bersih jejak air mata dia bergegas mengambil ponsel dari clutch bag dan mengirim pesan pada Faron. Jari-jarinya bergetar hebat tatkala mengetik pesan pada pria berusia tiga puluh tahun tersebut. Arimbi: Om, maaf tiba-tiba aku ada urusan. Om bisa pulang duluan. Aku pergi ke rumah Ayla. Damn! You're lying, Arimbi. Its okay, tidak masalah! Ini hanya demi kebaikan, afirmasi pada dirinya sendiri. Pesan itu sudah terkirim dan memiliki tanda ceklis dua abu-abu. Arimbi tersenyum getir memperhatikan layar ponselnya. Mana mungkin Faron akan membuka pesannya dengan cepat, pria itu sedang ber-efuoria dengan wanita masa lalunya kan? Arimbi kembali memasukkan ponsel melanjutkan langkahnya lagi menyusuri jalan untuk menghentikan sebuah taksi. Untung saja tidak lama kemudian sebuah taksi melintas membuat tangan Arimbi lekas terulur untuk menghentikannya. "Ke Taman Kota ya, Pak." Seorang supir taksi itu mengangguk. Mulai mengendarai kendaraan roda empatnya setelah Arimbi masuk ke dalam. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di Taman Kota. Arimbi segera turun dan membayar tarif sesuai argo yang tertera. "Makasih, Pak." "Sama-sama, Neng." Arimbi menatap kepergian taksi itu lalu menghela napas. Dia mengamati setiap penjuru taman. Memperhatikan outfit yang dikenakan oleh pada pengunjung taman, lalu setelahnya menatap tubuhnya sendiri. Dia terkekeh geli menertawai dirinya sendiri persis seperti orang tidak waras. Bagaimana tidak? Outfit yang dikenakan begitu kontradiksi dengan tempat tujuannya– gaun dan heels, dua benda yang sangat tidak cocok apabila dipakai pergi ke taman. Arimbi mengedikkan bahu setelah berkecamuk dengan pikirannya, masa bodo, pikirnya. Dia berbalik badan dan tidak sengaja bertubrukan dengan seorang gadis berusia sekitar empat tahun. Gadis itu tidak dengan telah menjatuhkan eskrim pada gaun berwarna benhur miliknya. Keduanya sama-sama terkejut sebelum pada akhirnya, bibir mungil dari gadis kecil itu mengeluarkan suara. "Iam sorry, Aunty, Elice tidak sengaja." Raut bersalah dari wajah Elice membuat Arimbi kontan tersenyum lalu melipat kaki guna menyamai postur tubuh bocah kecil itu. "Nggak apa-apa. Cuma ketumphan eskrim. Its okay." "Astaga Elice, Papa cari kamu–" Seorang pria mengenakan kaos oblong press body mendekat ke arah Arimbi dan Elice, dua perempuan itu kompak mengarahkan tatapan pada pria tersebut. "Papa?" Elice berlari kearah Matias. "Papa, Elice udah numpahin eskrim ke gaun Aunty ini. Elice minta maaf, Papa. Elice nggak sengaja," ujar Elice seraya memeluk erat paha ayahnya. pandangan Matias jatuh pada noda pada gaun Arimbi. "Gaun kamu jadi sangat kotor. Sorry, Arimbi." "Nggak apa-apa, Om. Toh sebentar lagi aku juga mau pulang," ujar Arimbi lalu melayangkan senyum. "Papa kenal Aunty ini?" Satya menunduk menatap putri kecilnya yang masih memeluk pahanya. "Kenal, dia istrinya Uncle Faron. Kenalin, namanya Aunty Arimbi." "Halo, Aunty." "Halo juga, Sayang." Tangan Arimbi terulur menyentuh pipi lembut Elice. "Kamu sendirian ke sini? Mana Faron?" Matias bertanya. "Dia lagi sibuk, Om. Jadi aku sendiri." "Darimana sebelumnya? Kok pakai gaun? Sorry banyak tanya." "Nggak apa-apa. Aku baru selesai makan malam sama keluarga. Dan berakhir di sini." "Oh i see. Bagaimana kalau kita beli baju buat kamu?" "Nggak usah. Aku mau langsung pulang aja." "Lah, kenapa? Kan aku belikan kamu pakaian karena sebagai bentuk tanggung jawab karena Elice udah mengotorinya." "Iya, aku tahu. Tapi, lebih baik nggak usah. Toh, nggak akan ada yang lihat juga noda ini di gaunku. Jadi, dont worry." "Oh, okey! Kalau begitu gimana dengan tanggung jawab dalam bentuk lain." "Apa itu?" "Kuantar pulang?" "Nggak usah, aku bisa naik taksi kok." "Ck, kenapa? Takut Faron marah? Faron nggak mungkin marah percayalah!" Arimbi mengangguk membenarkan. Ya, Faron tidak akan marah karena laki-laki itu tidak pernah peduli kemana dan dengan siapa Arimbi pergi. **** Arimbi membuka pintu rumah yang ternyata masih sepi. Kenapa belum pulang? Kemana perginya? Apa mereka masih bersama? Arimbi membasahi bibir bawahnya kemudian menghela napas panjang. Dia membawa langkahnya menuju kamar tamu dan lekas membersihkan tubuh untuk kemudian berganti pakaian. Sebelum tidur, Arimbi sempat memeriksa ponselnya sebentar lalu tersenyum kecut karena belum juga mendapat balasan dari Faron. Apa Faron sangat menikmati kebersamaan dengan mantannya? Pukul 00.00 Faron membuka pintu kamar tamu untuk melihat keadaan Arimbi yang ternyata tertidur pulas. Dia baru saja pulang setelah bertemu dengan Matias. Matias menceritakan jika sempat bertemu dengan Arimbi di taman dalam posisi sendirian, Faron bertanya untuk apa gadis itu pergi ke taman. Matias menjelaskan jika sebetulnya Arimbi sedang jenuh. Arimbi sendiri yang mengatakan itu saat mereka dalam satu mobil yang sama. "Kenapa kamu bohong? Kenapa bilang sama saya kamu ada urusan sama Ayla? Kamu kenapa sebenarnya?" Dalam hati Faron bertanya-tanya sebelum pada akhirnya dia kembali menutup pintu kamar. Laki-laki itu berjalan gontai menuju kamarnya sendiri, juga berganti pakaian. Dia sedang diambang dilema sekarang. Bagaimana mungkin sosok yang telah lama menghilang dari hidupnya kini kembali datang menawarkan sebuah hubungan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD