Tidak terasa pernikahan keduanya berjalan sudah satu bulan lamanya, seiring terbunuhnya waktu tinggal dalam seatap membuat keduanya mulai terbiasa dengan hari-hari yang dijalani. Terkadang saling memberikan perhatian satu sama lain tanpa mereka sadari, saling berdiskusi untuk memecahkan suatu masalah, dan kompak dalam melakukan berbagai hal, terlihat sederhana memang, tetapi sungguh berdampak pada perasaan Arimbi yang pada akhirnya membiarkan hatinya jatuh sedikit demi sedikit pada Faron.
Lupakan soal sumpah yang pernah dia ikrarkan untuk membuat Faron tergila-gila padanya, karena pada hakikatnya Arimbi lah yang lebih dulu terbelenggu dalam cinta.
"Honey, tolong ambilin tepung serbaguna di kabinet, ya." Faron yang sedang memisahkan kepala udang dari tubuhnya lantas mengangguk, laki-laki itu menyempatkan diri untuk melakukan permintaan Arimbi.
"Yang ini kan?" tunjuk Faron pada salah satu toples diantara lima toples serupa yang bersejajar.
"Iya yang itu." Faron mengangguk lalu membawa toples berisi penuh oleh tepung itu pada Arimbi.
"Oke, makasih, Honey." Faron tersenyum lalu mengangguk. Untuk panggilan honey, Faron sudah terbiasa mendengarnya, jadi dia tidak lagi merasa risih atau geli dengan panggilan yang sedikit lebay itu.
Dengan sigap Faron membalik badan untuk menyelesaikan tugasnya menyisihkan kepala udang. Tuntas dengan pekerjaannya, Faron mencuci tangannya hingga bersih agar bau amis pada tangannya hilang.
Laki-laki itu pun mendekati Arimbi yang masih sibuk mengadon tepung untuk menjadi bahan balutan tempe mendoan. Yang sebagian sudah digoreng di minyak panas.
"Pipi kamu banyak tepungnya, tuh." Faron sengaja mengusap pipi Arimbi menggunakan ibu jarinya, tanpa Arimbi tahu, sebelumnya Faron sudah lebih dulu meneteskan tepung basah pada ibu jarinya. Alih-alih bersih, justru pipi Arimbi memiliki noda tepung.
"Tapi, kok lengket?" Arimbi melayangkan protes lalu menyentuh pipinya sendiri untuk melihat apa yang membuat permukaan pipinya itu basah dan lengket.
"Honey! Ih, kamu oles tepung di pipiku?" Faron tergelak seraya memegang perut.
"kamu jahil. Sini, aku oles juga pipinya." Arimbi mencolek tepung menggunakan jari telunjuknya untuk dioles pada Faron, tetapi hal itu rupanya tidak mudah bagi Arimbi karena Faron pandai menghindar.
Aksi kejar-kejaran di dapur pun tidak bisa terelakkan. Hingga Faron maupun Arimbi menghentikan aksinya usai menyadari sesuatu. Buru-buru Arimbi mendekat dan lekas mematikan kompor yang sudah mengeluarkan banyak asap.
"Nasib tempeku ... yah, gosong." Bibir manis itu mencebik membuat Faron terkekeh melihat Arimbi yang tampak kecewa dengan hasil masakannya.
"Ini gara-gara ulah kamu, ya." Arimbi mengarahkan tatapan pada Faron sembari mendelik, hal yang membuat Faron kembali tertawa melihat wajah Arimbi yang semakin menggemaskan karena kesal.
"Hei, kok jadi salahin saya? Salah kamu yang lupa matikan kompor." Arimbi tidak mau tahu, dia kembali mengejar Faron sampai laki-laki itu masuk kamarnya, tetapi, belum sempat menutup rapat pintu kamar, Arimbi sudah lebih dulu berhasil mendorong pintu itu.
"Mau lari kemana kamu!" Dengan semangat, Arimbi mendekati sosok Faron yang tidak bisa kemana-mana lagi, tetapi sayangnya karena tersandung, tubuh Arimbi malah terhuyung hingga jatuh ke arah Faron, Faron yang tidak siap dengan apa yang terjadi pun ikut terjengkang ke belakang.
Posisi keduanya saling tumpang tindih, membuat keduanya sama-sama terkejut.
"Maaf, maaf." Saat Arimbi hendak beranjak, lebih dulu lengan Faron menahan pinggang Arimbi, membuatnya terkesiap dan menatap lamat-lamat wajah laki-laki yang juga menatap cukup intens.
"Mau kemana?" tanya Faron dengan suara rendah.
"Mau– Akh" Arimbi menjerit kecil ketika Faron membalik posisi membuat tubuh Arimbi berada dibawahnya sekarang.
"Hon–"
"Jangan pergi sebelum saya selesai!"
"M-memangnya k-kamu ma-mau apa?"
Faron menyeringai kala membingkai wajah Arimbi yang terlihat panik, hingga terbata-bata saat berbicara.
Tak lama kemudian, Faron mendekatkan wajahnya pada wajah Arimbi sehingga membuat Arimbi memejamkan mata secara impulsif.
Sesuatu terjadi, hingga tangan Arimbi bergerak meremas kemeja yang dikenakan Faron.
***
Arimbi meraba bibirnya tatkala berada di depan cermin. Kejadian siang tadi masih terngiang jelas di kepala, membuat Arimbi pening jika harus mengingatnya.
"Astaga, apa yang aku lakukan? Itu kan tindakan melanggar kontrak?" Arimbi menggigit bibir bawahnya. Dia menggeleng cepat lalu meniupkan napas ke udara.
Arimbi memang telah menjatuhkan hati pada Faron, tetapi, dia tidak boleh membuat Faron menyentuhnya sebelum laki-laki mengatakan kata cinta. Arimbi tidak mau menyesal dikemudian hari. Biar saja hati mengembangkan rasa cinta, tetapi, jangan sampai dia bertindak bodoh atas nama cinta.
"Kamu kenapa lama, Rimbi!" Arimbi menoleh kearah pintu yang tertutup rapat. Lalu, kembali mengarahkan atensi pada cermin.
Sekali lagi, dia mengembuskan napasnya lalu kemudian berdiri dari posisinya.
Klek!
"Apa sih?"
"Mama sama Papa udah sampai. Buruan!"
"Mereka telepon kamu?"
"Hmmm..." sahut Faron singkat.
"O-oh, ya udah, ayo, berangkat!" Arimbi menarik handle pintu kamarnya lalu mengekor pada Faron yang lebih dulu melangkah.
Sembari terus mengikuti jejak langkah itu, Arimbi tersenyum miris.
Lihat! Bahkan usai kejadian singkat tetapi begitu manis siang tadi, tidak membuat Faron berkesan. Pria itu justru kembali ke setelan awal yakni dingin seperti es di Kutub Utara.
Dalam perjalanan menuju restoran, keduanya tidak saling bicara, memilih tenggelam pada pikiran masing-masing.
"Rimbi!"
"Ya?"
Arimbi mengalihkan atensi ke samping.
"Untuk kejadian siang tadi, saya mau minta maaf. Saya harap kamu tidak terus memikirkan apa yang terjadi sehingga membuat klausa kita kacau balau."
Arimbi diam! Dalam diamnya, ada sebelah hati yang terasa teriris pedih mendapati ucapan itu.
"Arimbi!"
"Ya, aku paham, Om. Aku juga udah lupain kejadian itu." Arimbi tersenyum pada Faron, berbeda dengan respon hati yang sangat bersedih.
Bahkan saking pedihnya, Arimbi tidak berminat memanggil Honey seperti biasa. Hatinya takut semakin merangsek masuk lalu memaksa agar Faron membalas rasanya.
Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Dia tidak mau kehilangan keseharian mereka yang mulai membaik ini dengan sebuah fakta jika Arimbi mulai mencinta.
Sesampai di restoran. Keduanya tampak merenggang, Arimbi memilih menghindari Faron, untung saja hal itu tidak disadari oleh Naya maupun Arya.
"Makasih, Sayang. Kamu udah mau memenuhi undangan makan malam Mama." Arimbi tersenyum. Tersenyum di balik luka yang masih baru.
"Sama-sama, Ma, Pa. Makasih juga udah menjamu Arimbi sedemikan rupa."
Naya tersenyum, lalu meraih tangan Arimbi yang tersimpan diatas meja.
"Mama hitung pernikahan kalian sudah berjalan lebih dari satu bulan. Bagaimana dengan progresnya?"
"Progres apa, Ma?"
"Tentu saja perasaan kalian. Mama tahu tindakan kami dulu terkesan egois karena memaksa kalian menikah dengan cara yang aneh pula. Untuk itu, Mama tidak pernah mematok kapan kalian akan memberikan seorang penerus, karena Mama tahu kalian butuh waktu untuk saling dekat. Sekarang Mama tanya, bagaimana dengan perasaan kalian yang selama satu bulan lebih tinggal dalam satu atap yang sama?"
Arimbi bingung hendak menjawab apa. Dia sempat menoleh pada Faron yang sedang menyandarkan punggung sembari melipat kedua tangan di d**a.
"Kami berdua sudah saling ada rasa kok, ya kan, Sayang?" Arimbi menundukkan kepala sejenak untuk menyapu bulir bening yang tiba-tiba menetes tanpa sadar. Kenapa sesakit ini mendengar Faron menjajakan sandiwara dengan berkarta seperti itu. Seharusnya Arimbi tidak boleh begini. Ya kan?
"I-ya, Ma. Kamu berdua sudah mulai saling membuka hati."
"Ah, baguslah. Jadi, kapan kira-kira kapan kalian berdua mulai melakukan program hamil?"
Baik Faron maupun Arimbi sama-sama gelagapan.
"Sudahlah, Ma. Kita bicarakan hal lain saja dulu. Lihat! Mereka kelihatan belum siap membahas tentang anak. Mungkin masih butuh waktu lagi untuk siap mengatakan ini." Arya turut menyahut, karena cukup peka membaca situasi ekspresi dari wajah keduanya.
"Ah, baiklah!" ucap Naya dengan nada kecewa.