"Om udah selesai?" Arimbi menyambut manis suaminya yang baru saja membuka pintu ruang pribadinya.
"Hmm-m. Maaf udah bikin kamu menunggu lama." Faron melangkah masuk sembari melonggarkan dasi yang mengikat erat kerah kemeja. Meeting telah usai, artinya waktu senggang akan lebih banyak sebab pekerjaan yang lain sudah diambil alih oleh sekretaris. Paling-paling dia hanya melanjutkan pekerjaan mengecek berkas yang menggunung untuk segera ditandatangani.
"Kamu mau pulang atau masih di sini dulu?" Faron menarik atensi ke arah Arimbi yang berdiri di belakangnya. Pertanyaan yang manis menurut Arimbi, karena biasanya Faron tidak pernah menawarkan sesuatu kecuali hanya memerintah seenaknya.
"Di sini dulu boleh?" Entah bagaimana awalnya sehingga bibir itu berkata demikian, padahal sebenarnya Arimbi harus pulang dan mengerjakan tulisannya untuk di publish hari ini. Tetapi, niatnya tampak mengendur setelah kenyamanan yang ditawarkan oleh ruangan ini lebih mendominasi.
Pikir Arimbi, dia bisa mengerjakannya nanti malam karena batas waktu untuk mengupdate tulisannya masih lama.
"Oh, oke! Nggak masalah, sekalian makan siang sama-sama." Arimbi mengangguk setuju, kebetulan sekali dia belum makan di rumah, hanya ngemil keripik dan beberapa cemilan lainnya saja tadi dan itu belum dapat membuat perut ratanya merasa kenyang.
"Biasanya Om makan siang di mana?" Faron menarik kursi kebesarannya lalu menduduki kursi tersebut.
Tanpa menatap Arimbi, Faron menjawab." Saya biasanya menyuruh OB untuk membelinya di kantin."
Sepersekian detik Arimbi terdiam sembari menatap intens Faron yang sibuk dengan berkas di mejanya.
Tidak lama kemudian lengkungan tipis tercipta dari kedua sudut bibir.
"Aku pikir Om nggak berselera makanan kaki lima. Dan akan melakukan makan siang di luar kantor."
Faron tersenyum, hal yang tidak pernah diduga jika Faron akan tersenyum seperti ini.
Ada angin apa?
"Saya tidak pernah pilih-pilih makanan selagi sehat dan mengenyangkan, why not? Lagipula saya malas buang-buang waktu pergi keluar hanya untuk sekadar makan siang."
Arimbi mengangguk setuju, dia sangat sependapat. Tak lama, Arimbi mendekat pada Faron yang masih menyibukkan diri.
"Kenapa kamu panggil saya Om lagi setelah pernah beberapa kali manggil Mas?" Pertanyaan random yang tiba-tiba mengudara, rasanya Faron ingin mengajak Arimbi banyak mengobrol hari ini guna membuat gadis itu lupa dengan insiden pertengkaran antara dirinya dengan Sahira.
Masih ingat bagaimana semalam Arimbi tidak berhenti menangis sampai ketiduran karena merasa sedih.
Arimbi mengerucutkan bibir seraya mengetuk dagu dengan ujung telunjuk.
Dia berpikir sejenak. " Mungkin karena lebih nyaman aku manggil Om."
"Tapi, saya nggak suka dipanggil Om."
"Jadi, minta dipanggil apa?"
"Apa saja asal jangan Om."
"Oke, Honey." Hal itu berhasil membuat Faron terbatuk-batuk. Sungguh dia merasa geli dengan panggilan itu, tapi, ada boleh buat ketika dirinya yang memberi pilihan kata 'terserah' pada Arimbi.
Malam harinya
Arimbi kembali membuka buku diary yang sengaja disembunyikan di dalam tasnya tadi. Seperti seorang pencuri handal, dia tidak tampakkan gerak-gerik mencurigakan saat telah berhasil mengambil d sesuatu yang bukan miliknya. Arimbi membuka bagian yang belum sempat terbaca tetapi sudah lebih dulu terdistraksi oleh kedatangan Faron.
Dia baru saja menyelesaikan tugasnya menulis dan sempat memeriksa kembali hasil tulisannya takut barangkali ada beberapa kata yang mengalami typo sebelum di publish.
Setelah meng-upload, Arimbi juga menyempatkan diri memberikan tanggapan- tanggapan pada beberapa komentar dari para readers di bab sebelumnya.
Kembali kepada kegiatan Arimbi saat ini, dia menghela napas usai membaca tulisan panjang yang mengeluhkan banyak hal.
Hubungan tanpa restu? Apa yang membuat mereka tidak direstui? Apakah perbedaan strata sosial? Tetapi, tidak mungkin jika itu merupakan pemicunya begitu Arimbi tahu latar belakang seorang Hanara Delicia yang adalah model ternama.
Arimbi menutup rapat buku pastel itu, lalu menyandarkan punggung pada kepala ranjang.
Pikirannya mulai menerawang, Naya pernah bilang jika setuju dengan perjodohan ini– Arimbi dan Faron, karena memiliki alasan kuat yakni Faron tidak memberikan tanda-tanda kedekatannya dengan seorang wanita manapun, lalu ini buktinya?
'Sebenarnya ada apa ini? Apakah aku harus cari tahu?' gegas Arimbi menyimpan buku dalam laci nakas, dia tidak berminat melanjutkan bacaannya karena tiba-tiba saja rasa kantuk menyergap.
***
"Lo punya hutang penjelasan sama gue."
Arimbi membasahi bibir bawahnya, dia baru saja menerima panggilan dari Ayla. Semenjak kemarin malam, Arimbi belum menghubungi Ayla sama sekali, sebab sibuk meratapi kesedihan pasca Ibunya marah besar.
"Penjelasan tentang apa?"
"Pura-pura nggak tahu lagi, jangan lo pikir gue nggak lihat ya adegan perdebatan kalian berdua dia parking lot."
Arimbi melipat bibirnya ke dalam. Dia tidak menyangka jika keputusan untuk merahasiakan ini dari Ayla tidak terealisasi dengan baik.
"Hei, jangan diem aja, Sist! Gue butuh penjelasan."
Arimbi memejamkan mata sejenak untuk mengambil napas dalam-dalam.
"Okay, sorry sebelumnya, honestly, gue dan dia udah nikah baru beberapa hari yang lalu dan ya, pernikahan kami dilakukan secara mendadak."
"What? Nikah mendadak? Why? Bukan karena lo terjebak one night stand dan akhirnya hamil anak dia kan, makanya mendadak menikah?"
"Ngawur!" sahut Arimbi kesal.
Suara kekehan terdengar dari seberang sana.
"Jadi, apa penyebab kalian berdua akhirnya menikah? Apa karena Falling in love first sight. Tapi, kalau dipikir-pikir nggak mungkin sih, karena pas itu lo kelihatan banget sebelnya sama si Om itu."
"Emang bukan, kami berdua itu dijodohin."
"What the hell, Beibe?"
Mungkin apabila Ayla beraa di depannya sekarang, mungkin gadis itu akan menjatuhkan rahangnya akibat terkejut oleh fakta mengejutkan ini.
"Ceritanya panjang dan butuh ketemu untuk bahas ini."
"Its okay, kalau gue udah balik dari Bandung, gue kabarin lo."
"Lo di Bandung, Ay?"
"Yups, lagi tadi gue berangkat. Ya udah, gue tutup dulu ya."
"Oke, see you, Beb. Bye!"
Baru saja menutup panggilan telepon, tiba-tiba Faron menghampiri Arimbi yang duduk santai.
"Saya pergi dulu, kalau misal Papa dan Mama telepon atau mungkin mampir kemari, bilang saja saya ada meeting dengan klien."
Arimbi spontan menatap jam berukuran sedang yang bertengger di dinding.
"Meeting jam sembilan malam? Kenapa jadi sangat sulit dipercaya? Serius kamu meeting?"
"Nggak usah kepo. Kamu hanya perlu menyampaikan apa yang saya katakan. Paham! Dan satu lagi nggak perlu banyak protes." Faron meninggalkan Arimbi yang mematung di tempat. Rasanya begitu aneh ketika Faron kembali ke setelan pabrik. Padahal siang tadi dia sempat senang karena Faron mulai mengakrabkan diri dns banyak berinteraksi sampai melakukan lunch bersama.
Kenapa setelah Faron berubah pada sikapnya yang acuh tidak acuh rasanya ada yang beda?
Arimbi lekas menggeleng lemah, untuk apa memikirkan perubahan sikap yang dilakukan oleh Faron. Dia tidak akan terpengaruh oleh bagaimana Faron berlaku bukan?