Bab 5 – Menemukan sesuatu

1120 Words
"Maaf, Ma, Pa, aku baru pulang." Arimbi menundukkan kepala di hadapan kedua orang tuanya, sungguh, dia merasa sangat tidak enak sebab tidak ada di rumah pada saat suami pulang kerja. Dan hal itu akan menjadi dampak terbesar baginya setelah kedua orang tuanya mengetahui hal ini. "Dari mana aja kamu?" Sahira melayangkan pertanyaan cukup tegas membuat Arimbi memejamkan mata saat itu juga. "Jawab pertanyaan Mama, Bi!" "Da-dari main–" "Ke bar lagi?" Arimbi mengatupkan mulutnya rapat, pertanyaan yang terlontar dari bibir ibunya tidak mampu membuatnya menjawab apa-apa lagi. Untung saja Arya dan Naya lebih dulu pulang karena mendadak ada urusan penting, jika tidak, apa yang akan dikatakan melihat penampilan Arimbi yang acak adul seperti ini. Mereka pasti menilai yang tidak-tidak pada menantu kesayangannya itu. "Maaf, Ma." "Maaf, kamu bilang? Sudah berapa kali minta maaf tapi mengulangi lagi? Kamu tahu? Mama sangat kecewa sama kamu, Rimbi! Itu sebabnya Mama merasa lebih baik kamu nggak usah kejar progam pendidikan PPDS, karena apa? Pola hidup kamu nggak sehat! Bukan karena Mama jahat melarang kamu kejar cita-cita, tapi, itu karena kamu sendiri." Faron yang menyaksikan dengan mata kepala bagaimana Sahira memarahi Arimbi, membuat hatinya tidak tega. Meski Arimbi tipikal cewek menyebalkan di matanya tetap saja ada sisi manusiawi yang terpatri dari hati Faron. "Ma, sudah! Jangan marah-marah! Nanti darah tinggi kumat lagi. Tenang, ya! Udah." Rahardian menyentuh kedua pundak istrinya, mengusap pelan supaya emosi Sahira mereda. "Gimana mau udah, Pa. Mama selalu wanti-wanti supaya Arimbi berubah dan nggak pergi ke tempat seperti itu lagi, tapi, apa nyatanya? Lihat! Bahkan di hari pertama menikah, dia melupakan tugasnya sebagai seorang istri. Mama bener-bener kecewa." Usai mengatakan hal demikian, Sahira alihkan atensi pada sosok menantunya. "Faron, Mama minta maaf atas kesalahan Arimbi. Di hari pertama kalian menikah, Rimbi berlaku yang tidak semestinya sebagai seorang istri." Faron mengangguk singkat. Dia sempat melirik sekilas sosok Arimbi yang sedang menyusut air matanya lalu membuang napasnya pelan. "Nggak apa-apa, Ma. Saya paham." "Lain kali kasih hukuman sama Rimbi kalau dia mengulangi kesalahan yang sama!" Faron mengangguk lagi, meski sebetulnya tidak pernah terbesit memberikan hukuman apa pun meski Arimbi membuat kesalahan untuk kedepannya. "Ya sudah, Mama sama Papa pulang dulu!" Tidak seperti biasa, Sahira membawa langkahnya begitu cepat melewati Arimbi yang masih mematung sembari tundukkan kepala. Tanpa pamit dan bersalaman seperti biasa. Sepeninggal orang tua Arimbi, Faron mulai memberanikan diri mendekati sosok tersebut. Langsung mendekap erat seakan menunjukkan afeksi padanya. Setahunya, apabila wanita sedang bersedih, maka, sebuah pelukan adalah cara paling ampuh untuk mengurangi rasa sedih itu. Mengusap punggung gadis itu secara konstan sehingga Arimbi langsung meluapkan isak tangisnya di sana. "Jujur, ini pertama kali Mama kayak gini, Om. Rasanya sakit banget, sumpah," ucap Arimbi terbata-bata. "Saya paham perasaan kamu. Lain kali, jangan seperti ini! Kasian orang tua kamu, ya." Arimbi mengangguk semakin menyusupkan kepalanya pada d**a bidang dan kokoh milik suaminya dan menghidu dalam-dalam aroma maskulin yang begitu menenangkan jiwa. **** "Kamu di mana, Rimbi?" Arimbi yang sejak tadi sibuk mengisi kekosongan dengan menulis novel di salah satu platform menggunakan laptopnya, lantas memutar bola mata jengah. Keripik yang masih terjepit di antara dua jarinya gagal ia masukkan ke dalam mulut, karena lebih mendahulukan mengangkat telepon dari suaminya itu. "Di rumah, Om. Astaga! Ada apa? Dikiranya aku keluyuran lagi tanpa pamit gitu?" "Bisa nggak untuk nggak negatif thinking terus jadi orang? Saya telepon kamu karena butuh bantuan," ujar suara yang terdengar jengah. "Bantuan apa?" "Tolong kamu ke kantor saya sekarang, dan bawa berkas yang ada di meja kerja! Secepatnya ya! Karena saya ada meeting sebentar lagi. Saya share lokasi setelah ini." "Hmmm, boleh. Perkara gampang sih itu, paling cuma lima menit doangan sampai. Eh, tapi, ada fee nya nggak?" Faron yang berada di seberang sana pasti sedang memutar bola matanya sekarang. Pikir Arimbi. "Ya ampun. Isi pikiran kamu emang nggak pernah bener, ya. Heran saya. Nanti saya kasih fee sebanyak yang kamu mau asal bawakan dulu berkas penting saya itu." Arimbi berdiri dari kursi yang sejak tadi dia duduki. "Siap, komandan. Aku berangkat." Sepuluh menit kemudian, Arimbi tiba di kantor milik Faron Arkananta. Begitu ia tiba di lobby, ia disambut oleh wangi yang berasal dari pengharum ruangan. Gold A Corp. Sempat Arimbi mengeja huruf bold yang tersemat di dinding, sebelum akhirnya mendekati meja resepsionis. "Mbak, saya mau mengantar berkas untuk pak Faron." "Bisa, Bu. Silahkan Anda bisa langsung ke ruangannya." Arimbi mengangguk, kemudian melangkah cepat menuju eskalator khusus yang langsung menuju ke lantai empat, di mana lantai itu merupakan ruangan direktur utama. "Om, maaf, maaf, aku terlambat." Arimbi terengah-engah saat baru saja tiba di ruangan besar milik Faron. Napasnya memburu seperti habis di kejar hantu siang bolong. Faron beranjak dari kursinya lalu mengambil alih benda yang ada di tangan Arimbi. "Makasih. Kamu boleh tinggal di sini dulu, saya rapat sebentar. Ingat, jangan pulang sebelum saya kembali!" Arimbi mengangguk, dia pun menuju sofa panjang berwarna cream yang berada di sudut ruang. Ini merupakan pertama kali Arimbi datang ke kantor Faron, dan terasa berbeda daripada kantor ayahnya sendiri. Arimbi bosan menunggu tanpa berbuat apa-apa, jadilah dia berkeliling di dalam ruangan tersebut. Melihat-lihat dekorasi yang tertata rapi dan terkesan elegan. Ah, Arimbi akhirnya mengerti apa yang menjadi perbedaan antara ruang milik Faron dan ruangan milik ayahnya. Ternyata banyak sekali yang menjadi penunjang perbedaan itu. Tangannya terulur menyentuh buku yang berbaris rapi pada sebuah ambalan rak. Ada satu buku yang cukup menarik baginya yang terselip di antara buku-buku lain. Arimbi menarik buku tersebut. Satu kerutan lantas tercipta begitu buku itu berhasil berada dalam invasinya. Buku diary? Nggak mungkin kan Faron menulis kisah hidupnya di buku ini? It is impossible. Karena cukup penasaran dan dorongan untuk mengetahui isi buku sangat besar, Arimbi membuka lembaran buku berwarna pastel tersebut. Halaman pertama pada buku itu terdapat foto dua orang yang berlainan jenis saling berpelukan, keduanya tampak bahagia dalam foto itu. Arimbi sampai ikut tersenyum melihat senyum yang menghiasi bibir keduanya. Foto siapa itu? Tentu saja Faron dengan wanitanya. Tangan Arimbi menyentuh permukaan foto itu lalu mengusapnya perlahan. 'Kenapa kalian sangat manis?' 'Apa kehadiran perjodohan ini adalah penghalang untuk kalian?' 'Maafkan aku jika seperti itu.' Puas menatap foto romantis itu, barulah Arimbi membuka lembar kedua yang di sana tertulis sebuah kisah perjalanan mereka. Arimbi membaca kata demi kata yang tersusun rapi menggunakan majas, sangat menyentuh hati. Kalimat yang dibacanya mampu membuat Arimbi menempatkan posisi sebagai penulis kisah itu. Apa yang menulis ini adalah wanita pemilik foto? Arimbi bertanya-tanya pada diri sendiri. Usai membaca lembar kedua, Arimbi membuka lembar ketiga, di sana tersemat foto wanita itu sendirian berserta nama lengkap wanita itu. "Hanara Delicia." Namanya cantik sekali. Hendak membuka halaman keempat, tuas pintu yang tertutup rapat bergerak ke bawah menandakan jika ada seseorang yang akan masuk ke ruangan itu. Arimbi menatap daun pintu dengan keadaan jantung berdebar kencang. "Arimbi?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD