Bab 1– Perkenalan mengejutkan
"Masih sendiri aja, nih?"
"Kok nggak kelihatan gandengannya?"
"Kapan mau nikah? Anak Tante yang kecil aja udah punya dua anak lho."
"Makin cantik aja? Mana pacarnya?"
Kalimat-kalimat sumbang itu cukup menggelikan ketika didengar telinganya, dan akan menjadi mengerikan kalau sampai didengar Ibunya.
Untung saja saat ini Arimbi pergi ke kondangan dalam keadaan sendiri tanpa sang Ibu. Jadi, aman meski mendengar omongan kurang mengenakkan. Biar saja dia telan sendiri rasa sakit sebab sindiran pedas tersebut, asal jangan ketika ada Sahira– Ibunya. Kemungkinan besarnya jika Sahira ikut mendampingi, dijamin, wanita berpenampilan modis di usia yang tidak muda lagi itu akan memberi banyak petuah panjang lebar seketika itu juga apabila mendengar pertanyaan dari mereka, mengoceh tanpa henti bahkan sampai pulang ke rumah. Ya, beginilah nasib menjadi anak satu-satunya, meski baru saja menginjak usia dua puluh empat tahun, tetapi, target menikah harus segera terpenuhi. Miris sekali bukan?
Arimbi hanya tersenyum kecil merespon pertanyaan-pertanyaan itu dan segera memilih berlalu ke meja bulat yang baginya cukup jauh dari jangkauan pada emak-emak rumpita. Dia terlalu malas jika harus menanggapi pertanyaan tentang pernikahan lagi. Baru saja duduk, tiba-tiba saja seorang laki-laki tampan, dewasa, berwibawa ikut serta duduk di depannya.
"Maaf. Ini meja saya," ujar Arimbi dengan nada bicara yang dibuat sesopan mungkin. Karena menurut prespektif Arimbi laki-laki parlente yang hendak menyerobot kursi sambil membawa piring berisi rendang itu sudah memiliki usai matang dan jelas lebih tua darinya, maka, dari itu diubahnya gaya bahasa yang biasa ngawur.
"Mejamu? Meja bawa dari rumah?" Laki-laki berpostur gagah itu menaikkan sebelah alis.
"Bukan. Bukan begitu, maksudnya saya sudah lebih dulu duduk disini."
"Oh." Alih-alih pergi, laki-laki yang diperkirakan usianya sudah mencapai kepala tiga itu justru tetap menduduki kursi.
"Sorry."
"Ada apa lagi?" tanyanya seakan tidak peka dengan apa yang dimaksud Arimbi.
Arimbi jadi bingung bagaimana cara mengutarakan niatnya untuk mengusir secara halus orang itu.
"Jadi, begini, Om. Saya kan sudah lebih dulu duduk di sini, nah, jadi alangkah lebih baik kalau Om cari tempat lain."
"Om katamu? Kamu terlalu dewasa untuk memanggil saya Om."
"Maaf sekali lagi, tapi, saya bingung harus panggil apa. Bisa tolong pindah sekarang, Pak? Rasanya saya kurang leluasa kalau semeja dengan orang asing."
"Kamu ngusir saya? Emangnya kamu siapa di sini? Tamu kan? Saya juga tamu lho. Nggak sopan sesama tamu saling mengusir."
Arimbi membasahi bibir bawahnya, merasa menyesal karena telah berurusan dengan laki-laki didepannya ini. Lihat, dia jadi pusat perhatian sekarang. Astaga! semoga saja tidak ada yang merekam insiden ini. Tidak hanya para tamu undangan, ternyata Kegaduhan itu juga didengar oleh salah satu seksi konsumsi yang bertugas mengurus makanan dan minuman untuk tamu.
"Permisi, ini ada apa ya, Pak, Bu?" Arimbi langsung mendelik ketika dirinya dipanggil "Bu" oleh laki-laki berpeci dan berbaju batik itu.
"Oh, begini, si Mbak-mbak ini ngusir saya. Saya disuruh pindah padahal nggak ada kursi kosong selain di meja ini."
Arimbi langsung merutuki kebodohannya karena sempat meminta laki-laki itu pindah meja, kalau tahu semua meja penuh mungkin dia tidak bertindak impulsif seperti barusan.
"Maaf, Bu. Ibu ini tamunya pengantin pria atau wanita, ya?" tanya pria berpeci.
"Wanita. Kenapa emangnya?"
"Mari, ikut saya ke belakang. Tamu dari mempelai wanita punya tempat khusus di belakang. Dan untuk Bapaknya silahkan duduk kembali! Maaf, ya , sempat membuat Anda tidak nyaman." Beberapa tamu undangan tertawa melihat kejadian itu, membuat Arimbi sangat malu karena pada akhirnya dia yang tersingkirkan.
Selagi Arimbi digiring ke belakang, laki-laki itu sempat tersenyum miring penuh kemenangan pada sosok Arimbi.
'Awas aja' ancam Arimbi dalam hati.
***
"Bi, jangan gila! Please ... udah mending lupain kejadian itu! Nggak baik diinget lagi. Tenang ya, jangan gegabah! Yuk, minum lagi, yuk!"
"Nggak bisa! Gue kudu kasih perhitungan sama itu orang."
"Bi ... aduh, sumpah gue ikut gemeter sama niat lo ini. Terlalu berisiko. Lo nggak mikirin perasaan gue apa?"
Arimbi mengabaikan tatapan penuh memohon dari kedua sorot netra milik Ayla. Gila saja kalau harus menyia-nyiakan kesempatan emas yang mungkin bisa jadi tidak kan datang dua kali.
Arimbi tetap nekat mendatangi meja yang tidak jauh dari tempatnya duduk. Sembari membawa segelas penuh wine di tangannya, gadis berpostur tubuh tinggi itu berjalan santai melintasi meja demi meja bar yang berbaris rapi.
Byur ...
Semua manusia yang berada di sana sontak menarik atensi pada sosok Arimbi yang baru saja melakukan tindakan cukup memacu adrenalin. Ya, Arimbi baru saja menyiram kepala seseorang dengan wine yang dia bawa dalam genggamannya.
"Apa-apaan ini?" Pria itu langsung berdiri lantas memutar tubuh ke arah Arimbi.
"Kamu?" Untuk beberapa saat, Faron tertegun melihat figur cewek yang pernah dia temui dua Minggu lalu di resepsi salah satu teman kuliahnya.
"Wow, Bro! Apa dia salah satu koleksimu yang datang minta tanggung jawab?" Satya terkekeh setelah mencibir Faron.
"Cantik juga, bodynya yahut, Coy," timpal Matias lalu bersiul.
"Sttts ... kalian diam!" Faron mengultimatum kedua sahabatnya lalu menyeret paksa tangan Arimbi.
"Kamu ikut saya sekarang!"
"Hei, lepasin? Mau dibawa kemana aku?"
Faron sengaja menulikan telinga, dia juga mengabaikan tatapan para pengunjung bar yang menatapnya penuh tanda tanya.
Sesampainya di dalam toilet, barulah Arimbi di hempas sampai punggungnya terbentur pada dinding berbahan marmer.
"Apa maksud kamu siram kepala saya? Nggak sopan."
"Nggak sopan mana sama kamu yang udah serobot meja aku dua Minggu lalu? Tahu nggak kalau hal itu bikin aku malu bukan main? Jadi, kalau kamu tanya alasan kenapa aku siram kamu. Jawabannya adalah aku mau balas dendam atas perbuatan kamu tempo lalu."
"Dasar sinting," ujar Faron kemudian lekas melepas jas yang melekat pada tubuh liatnya. Keadaan jas itu basah kuyup sebab air wine yang dituang sudah menyerap sempura pada serat kain.
"Eh, eh, mau apa? Ngapain buka-buka jas segala!" Arimbi mendadak diserang panik. Pikirannya tentang hal yang iya-iya mulai timbul dan berserabut di sana. Tidak mungkin kan kalau di dalam toilet ini akan ada adegan tidak senonoh?
"Jas saya basah karena ulahmu. Apa salahnya kalau saya buka? Memang apa yang kamu pikirkan gadis kecil? Masih bocah tapi punya pikiran kotor. Seharusnya kamu nggak di sini, tapi, tidur di rumah."
"Enak aja ngatain bocah! Kalau mau tahu, usia aku udah dua puluh satu plus ya. Bukan bocah kayak yang Om bilang. Enak aja!"
Faron lantas mengangkat sebelah alis kemudian tersenyum miring.
"Udah dua puluh satu plus, ya?" Tangan kekar Faron lantas di letakkan pada sisi kepala Arimbi, membuat Arimbi kembali ketar-ketir.
"Kebetulan banget, saya butuh–" Arimbi kontan menyilangkan kedua tangannya didepan d**a saat mata Farin mulai bergerilya.
"Jangan m***m! Awas macam-macam!"
Seketika Faron tertawa hingga membuat jakunnya naik turun. Raut ketakutan yang di tunjukkan oleh Arimbi sukses membuat laki-laki itu terhibur.
"Siapa nama kamu?"
"Ngapain nanya-nanya?" tanya Arimbi keki.
"Saya mau minta pertanggung jawaban atas apa yang kamu lakukan sama saya. Jadi, saya mau tahu siapa nama kamu."
"Nggak usah playing victim! Semua yang terjadi bermula dari kesalahan kamu, ya. Kalau aja dua Minggu itu nggak kejadian juga aku nggak bakal siram kepala kamu."
"Oh, begitu, ya?" Faron mengangguk sambil mengusap jambangnya yang baru saja dicukur.
"Oke, nggak masalah kalau emang nggak mau sebut nama. Saya aja yang perkenalkan nama saya. Kenalin– Faron Arkananta."
"Ap-apa?" Seketika Arimbi menganga saat mendengar nama pria didepannya.
Faron Arkananta? Laki-laki yang hendak dijodohkan dengannya?
Ya Lord, Damn it!
"Ja–jadi kamu?"
"Yes, nice to meet you, my future wife."
"Aaaaa ... Mamaaaaaa!"