Bab 2– Mengingat

1112 Words
Arimbi memberengut sepanjang perjalanan pulang, kesal sekali, pikirnya. Mood-nya mendadak anjlok karena niat untuk mempermalukan Faron di muka umum tadi justru berbalik seratus delapan puluh derajat mengenai dirinya. "Udah, nggak usah disesali. Gue juga udah bilang apa tadi? Nggak usah sok balas dendam segala. Nggak baik. Nah, akhirnya kacau kan lo?" Ayla bersuara sembari mengendalikan kendaraan roda empatnya melintasi jalanan yang sepi karena sudah melewati waktu tengah malam. Arimbi enggan menanggapi ucapan Ayla yang dipikir-pikir memang benar. Seandainya saja dia tidak gegabah mengambil keputusan itu, mungkin dia tidak akan diseret ke kamar mandi dan mengalami kejadian memalukan ini. Kalian ngapain berduaan di kamar mandi? Mau m***m? Room masih banyak kali di lantai atas. Jangan BPJS dong! Bar elit nih! Ya, Arimbi malu karena di tuding hendak berbuat m***m di toilet oleh salah costumer dan parahnya lagi ada beberapa orang yang melihat kejadian itu. Ah, sialan! Pria macam apa sih dia? Kenapa juga Ibunya menjodohkan Arimbi dengan pria itu? Tiga hari lalu! "Undangan lagi, Bi?" Arimbi yang tengah sibuk membaca undangan lantas mendongak menatap ibunya yang datang hampiri sembari membawa teh. Sepertinya teh itu baru saja dibuat karena asap masih mengepul ke udara. "Heem, dari temen SD." Dalam waktu satu bulan, tidak bisa dihitung sudah berapa banyak dia menghadiri acara resepsi teman-temannya, mulai dari teman Mengaji, sekolah SD, SMP, SMA, bahkan ada juga mantan teman TK yang mengundangnya untuk hadir keacara pernikahan. "Keren ya udah pada nikah. Padahal beberapa usai dari mereka tuh ada yang lebih muda dari kamu lho," ucapan Sahira terdengar implisit, tetapi, begitu menohok di telinga. Arimbi memutar bola matanya malas. "Iya, sih, keren. Tapi, banyak juga lho, Ma, yang belum nikah, padahal usai mereka jauh lebih tua dibanding aku. Kayaknya mereka type independen woman yang udah memperhitungkan segalanya sebelum menikah. Gimana menurut mama? Jauh lebih keren kan?" Arimbi membalas telak ucapan sang Ibu mumpung belum terlanjur melebar. Kemudian ia melipat kembali undangan dan memasukkan kedalam plastik seperti sedia kala. "Independen woman? Semandiri apa pun wanita, pasti juga butuh pria untuk bisa menghasilkan anak. Sok-sokan jadi wanita mandiri segala. Lagian, sekarang zaman udah makin tua, umur dunia makin berkurang, nggak takut gitu jadi perawan tua karena nggak nikah-nikah?" "Ma, jodoh itu kan nggak ada yang tahu kapan datangnya." Sebetulnya Arimbi bosan duduk bersanding dengan Ibunya, kalau saja punya jurus seribu bayangan, dia pasti akan segera hengkang dari kursi panas yang sejak tadi membelenggu dengan cara tak terduga. "Eh, iya juga ya, kayak kamu ini contohnya," ujar Sahira sembari menyimpan cangkirnya diatas meja. "Kenapa jadi aku?" Tunjuknya pada diri sendiri. "Ya bener, kan? Nggak pacaran, tapi punya calon suami." Sontak saja Arimbi terbatuk-batuk mendengar penuturan Sahira. "Maksudnya apa, ya?" "Bi, kayaknya udah waktunya Mama bicara hal penting ini sama kamu. Entah mengapa perasaan Arimbi menjadi tidak enak ketika Ibunya mulai berekspresi serius. "Ada apa emangnya, Ma. Kok perasaan aku nggak enak, ya." "Jangan kaget, ya! Sebetulnya, Mama udah jodohin kamu sama anak temen Mama dan Papa." "What the–" Arimbi menghentikan ucapannya yang nyaris saja mengumpat di depan orang tua. "Mama serius?" "Apa kamu pikir Mama bohong? Kurang kerjaan amat kalau bohong." 'Astaga Mama. Kenapa sih?' "Ma, aku bikin Siti Nurbaya yang seenaknya mama jodohin sama siapa aja yang Mama mau. Aku punya hak untuk memilih sendiri siapa yang akan aku jadikan imam." "Heleh ... ngomongin hak, tapi, sampai sekarang mana? Nggak ada tuh kamu ngenalin satu aja temen cowok kamu ke Mama." "Oh, yaampun, jadi, itu alasannya Mama jodohin aku seenak Mama? Iya?" "Nggak juga, Mama jodohin kamu sama anak temen Mama udah lumayan lama tau. Tapi, ya nggak terlalu dibuat serius gitu. Lama-lama kami sepakat niat nerusin perjodohan ini soalnya gimana ya ... kalian kok terkesan nggak laku-laku gitu." "Astaga, Mama. Ya Tuhan. Baik sekali Mamaku ini." Arimbi ingin sekali menangis saat itu juga. Pantas saja permintaan untuk segera menikah selalu saja terlontar, jadi, ibunya memang sudah menyiapkan calon untuknya? Apa katanya tadi? Tidak laku? Arimbi masih laku kali. "Kasih tau, siapa yang Mama jodohin sama aku itu, Ma, siapa?" "Namanya Faron. Faron Arkananta." *** "Sayang, nanti malam kita di undang acara makan malam lho sama keluarga besar Faron." Nama itu lagi? Arimbi hanya dapat menghela napas tatkala nama laki-laki menyebalkan itu kembali harus menepi di telinganya. "Rimbi!" "Iya, Ma. Iya!" sahut Arimbi seraya memutar jengah bola matanya. "Jangan iya, iya aja. Kamu buruan siap-siap. Bentar lagi Faron datang." "Apa korelasinya?" "Ada. Dia ke sini niat jemput kamu." "Hah? Mau ngapain pakai jemput segala. Acaranya kan nanti malam. MAKAN MALAM, kan?" "Ya mama paham kalau yang namanya makan malam itu waktu malam hari bukan sore begini. Tapi, masalahnya kamu harus fitting baju dulu." "Hadeh, ribet. Ngapain sih, pakai acara fitting cuma buat makan malam doangan?" "Eh, jangan salah! Makan malam bukan sembarang makan malam, ya. Makan malam yang akan digelar nanti malam punya tujuan spesial." Arimbi memejamkan matanya sekejap lalu meniup napas ke udara. "Tujuan spesial apalagi, Mama?" "Udah mending nggak usah tanya apalagi, apalagi. Nanti juga bakal tahu. Sekarang lebih baik masuk kamar dan siap-siap. Dandan yang cantik biar calon suami makin terpesona dan lengket kayak perangko." Sahira mendorong punggung anaknya untuk segera masuk ke dalam kamar. Arimbi keluar kamar setelah menyelesaikan ritualnya, hanya perlu menghabiskan waktu lima menit untuk ber-make up dan berganti pakaian. Jika sebelumnya Sahira meminta Arimbi berdandan yang cantik, maka, Arimbi melakukan hal sebaliknya. Hanya memoles wajah gandengan bedak bayi tanpa polesan apa-apa. Lalu outfit nya jauh dari kesan modis yang mana hanya celana panjang dengan potongan cutbray dan atasan putih t-shirt, tidak lupa rambutnya dicepol asal. "Astaga anak manusia, apa-apaan kamu ini? Lihat! Kayak gembel gini penampilan kamu." Arimbi jengah ketika Sahira menyuarakan protesnya. "Ganti nggak? Malu sama Faron, lihat! Penampilan dia aja modis banget lho. Punya effort gitu buat kencan sama kamu." Sahira menunjuk pada sosok yang sedang duduk sembari meminjam ponsel di ruang utama. "Udah deh, ginian doang juga cantik. Aku berangkat." Arimbi meraih punggung tangan Sahira untuk dicium lalu berlalu setelah mengucapkan salam. "Udah siap?" "Udah." Faron mengangguk lalu beranjak lebih dulu keluar dari ruang tamu meninggalkan Arimbi di belakang, hal yang membuat Arimbi menganga karenanya. Kayak gini yang katanya punya effort? Siwer kali ya mata nyokap gue? Dalam mode kesal, Arimbi masih menatap sosok Faron Arkananta yang saat berprofesi sebagai seorang CEO di perusahaan Ekstraktif milik keluarganya itu. Dia tidak mengerti, apa yang dilihat dari orang tuanya sehingga sangat tertarik menjodohkan dirinya dengan Faron. Apa karena tampan dan mapan? Banyak laki-laki yang memiliki kriteria seperti itu, tetapi kenapa justru Faron? "Kenapa malah diam?" "Kenapa ditinggalin?" Arimbi bertanya balik, Faron yang hendak menekan handle mobil pun akhirnya mengalah dan kembali mundur untuk menghampiri Arimbi. "Ayo, berangkat!" Faron menggandeng erat tangan Arimbi lalu membawanya melangkah bersama menuju mobil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD