Bab 3– Gala dinner berujung nikah

1524 Words
Arimbi cukup takjub tatkala disuguhkan oleh eksterior cantik dari restoran bertema outdoor yang dipilih untuk gala dinner keluarga besar Faron. Ada puluhan meja berjajar rapi yang tiap-tiap mejanya memiliki empat kursi dan dibungkus kain berwarna putih serta kain pita merah yang mengikat. Semua meja terisi penuh oleh para tamu undangan yang datang. Mereka berlomba-lomba berbusana apik dan rapi seakan menunjukkan di mana jenjang strata sosial mereka berada. Benar-benar luar biasa. "Hei, ayo, jalan! Ngapain berhenti di sini?" Arimbi menoleh ke samping tepat pada sosok Faron yang baru saja menyusul langkah Arimbi. Dia sendiri tidak tahu mengapa bisa tiba-tiba saja berhenti di sini, apa karena dia cukup kaget sebab melihat banyak orang di sana? "Ini acara makan malam akbar apa gimana? Banyak banget orang kayak lagi ada di acara resepsi nikahan," tanya Arimbi dengan nada pelan seperti apa yang dilakukan oleh Faron. "Ck. Dasar gadis bodoh. Namanya juga gala dinner, berarti acaranya besar-besaran dan tentu akan diisi banyak orang. Sekarang, pegang lengan saya! Sebisa mungkin kita harus berperan cukup natural sebagai pasangan sungguhan. Paham!" Tanpa banyak cakap, Arimbi lekas menautkan tangannya pada lengan kokoh milik Faron. Mereka berjalan bersisian dengan pandangan lurus ke depan. Bukan tidak sadar jika mereka sekarang menjadi pusat perhatian, keduanya tentu saja dapat merasakan itu. Dan itu sedikit membuat Arimbi tremor. Untuk pertama kali Arimbi menjadi sorotan publik bagai seorang selebriti. Wah, senangnya. "Ingat! Bersikaplah dengan baik! Awas saja kalau sampai bikin ulah," bisik Faron tepat pada cuping telinga Arimbi. Bukan tanpa alasan laki-laki itu memperingati Arimbi, dia cukup khawatir setelah sore tadi Arimbi sempat membuat perkara di butik tempat mereka fitting baju. Apa kira-kira yang dilakukan oleh Arimbi? "Ini gaun apa baju ibu menyusui, sih? Masa turun banget belahan dadanya. Biar apa coba dibuat kaya gini? Biar mudah menyusui gitu?" "Astaga, mahal banget harganya cuma sepotong doang padahal. Ini sih di Pasar Senen banyak." Ya! Arimbi telah membuat malu dirinya sendiri di depan beberapa pegawai butik langganan Naya–Ibunda Faron dengan aneka kritik aneh yang dilontarkan. Kontan saja Faron merasa kegerahan mendengar itu, antara malu atau justru terhibur, yang jelas Faron cukup kesal. Arimbi hanya berdecak, kalau saja bukan dihadapan banyak orang, pasti dia akan memukul kepala pria didepannya ini. 'Cerewet'. "Itu siapanya Pak Faron, ya? Cantik banget sumpah." "Iya, kulitnya bagus, pasti perawatannya mahal." "Cocok banget sama Pak Faron. Kalau mereka nikah nanti pasti keturunannya cakep-cakep." Kasak-kusuk dari beberapa tamu undangan terdengar di tepi telinga Arimbi dan Faron. Membuat Arimbi yang semula duduk tenang mulia menggeser kursi untuk lebih dekat dengan posisi Faron. "Om, aku risih dijadikan bahan tontonan. Ini beneran nggak apa-apa aku pakai gaun ginian?" Sejujurnya sejak awal Arimbi kurang setuju dengan gaun yang menjadi pilihan Faron. Gaun bermodel sabrina dan memiliki panjang diatas, lutut cukup membuatnya tidak percaya diri. Tetapi, apa boleh buat? Faron terlihat sangat mengerikan kalau dalam mode dingin. Dengan sangat terpaksa dia menerima pilihan Faron. "Nggak apa-apa. Aman. Cuek aja, nggak usah digubris. Balik ke posisi semula!" Arimbi berdecak lalu setelahnya kembali menggeser kursinya seperti sedia kala. Setelah kedatangan Arimbi dan Faron, Arya– ayah Faron bergegas naik ke atas panggung mengambil alih mic di tangan seorang MC. Di sana pria berpenampilan necis tersebut mengumumkan pada seluruh tamu undangan jika sebetulnya malam ini merupakan acara pernikahan yang sengaja di siapkan tanpa sepengetahuan yang bersangkutan sebagai surprise. Sontak saja hal itu membuat Arimbi maupun Faron mendadak ling lung. Tetapi, tidak bertahan lama sebab disadarkan oleh riuhnya tepuk tangan mereka yang ada di sana. "Ma, Pa. Apa-apaan ini?" tanya Arimbi pada kedua orang tuanya. "Mama nggak bisa seenaknya gini. Astaga, kenapa nggak kasih aba-aba dulu sebelumnya." Tidak hanya Arimbi, Faron pun juga melayangkan protes. di meja yang terisi oleh dua keluarga itu lantas sedikit mengalami ketegangan. "Aku nggak mau nikah sekarang. Harus konsultasi dulu dong, Ma. Masa kayak gini konsepnya?" "Harus sekarang atau nggak usah lanjutin pendidikan ke PPDS?" Ancaman Sahira berhasil membuat Arimbi bungkam. "Nggak coba dibicarain lagi kah? Aku juga belum siap, Tan, Om." "Siap nggak siap kamu harus naik ke panggung untuk proses ijab qobul. Ingat, perusahaan anak cabang tergantung bagaimana dari keputusan kamu malam ini. Nolak berarti angkat kaki dari perusahaan!" **** Suasana di dalam mobil terasa dingin oleh embus AC seakan menusuk sampai ke tulang belulang dan terasa sunyi sebab dua orang berbeda gender itu hanya fokus pada pikiran masing-masing. Arimbi melirik sekilas pada sosok yang memusatkan pandangan pada jalanan padat merayap di malam hari. Jalanan Kota Jakarta, tidak akan pernah lengang meski tergerus waktu. "Ada apa? Ada yang mau di omongin?" tanya Faron dengan nada kaku. Arimbi menghela napas lalu menggeleng. Dia buang pandangan keluar jendela untuk mengamati kelap-kelip lampu gedung. "Rim," Faron berseru pelan, membuat netra Arimbi beralih pada Faron. "Kenapa, Om?" "Ck, bisa berhenti panggil, Om?" Arimbi terkekeh kecil mendapat permintaan seperti itu. Arimbi jadi ingat kejadian saat masih di lokasi tadi, Faron mengeruhkan wajah selama acara berlangsung. Sepertinya laki-laki itu sangat badmood karena seringnya Arimbi memanggilnya Om. Padahal status mereka adalah sepasang pengantin kan? Mana ada sepasang pengantin memiliki sebutan aneh seperti halnya keponakan memanggil paman? "Oh, iya. Sorry. Ada apa Kakanda?" "Saya serius, Arimbi." Arimbi mencebik lalu bergumam, "dipanggil Om salah, dipanggil Kakanda marah. Maunya gimana coba?" Lirikan maut Faron berhasil membuat Arimbi berhenti menggerutu. "Ada apa?" "Kamu tahu status kita sekarang apa?" "Menikah." Faron mengangguk." Terus bagaimana tanggapan kamu?" Arimbi mengerucutkan bibir sekejap lalu membuang napasnya. "Tanggapan apa?" "Terkait pernikahan dadakan ini." Arimbi menghela napas lalu menyandarkan tubuh di punggung mobil. "Honestly, awalnya aku shock banget, sumpah. Aku nggak nyangka bakal kayak gini endingnya. Tapi, setelah aku pikir-pikir lagi kita ini dijodohkan udah lama, yang mana lambat launnya juga pasti akan berakhir pada meja pernikahan. Ya kan? Makanya itu, aku pasrah lah. Jalani aja daripada aku kehilangan cita-cita. Hah, mereka paling bisa nekan aku dengan kelemahanku." Faron mengangguk setuju, tidak hanya Arimbi, dia pun hanya bisa pasrah melewati ini semua semenjak tidak lagi memiliki hak prerogatif untuk menentukan masa depannya sendiri. "Bagaimana dengan klausa?" "Maksudnya?" Arimbi mengerutkan keningnya hingga menjadi beberapa lipatan. "Jadi, gini. Pada dasarnya kita sama-sama nggak pernah menginginkan pernikahan ini. Kita terikat seperti ini hanya karena demi memenuhi perintah mereka. Karena itu, saya menawarkan kontrak perjanjian, yang mana isi dalam kontrak itu kita memiliki hak penuh atas hidup masing-masing." "Jadi, maksudnya meski kita udah menikah, tapi, itu hanya formalitas aja? Kita nggak ada kewajiban untuk memerankan tugas sebagai suami istri pada umumnya?" Faron mengangguk singkat. "Ah, i see, aku setuju," sahut Arimbi setelahnya. "Kita akan bahas setelah di rumah." Dalam keadaan diam, Arimbi jadi penasaran seperti apa sesungguhnya karakteristik seorang Faron Arkananta ini? Apakah kepribadian laki-laki itu menyebalkan atau justru tidak? Bagaimana jika menyebalkan, apakah dia sanggup menghadapi kelakuan Faron nanti? Mengingat mereka akan tinggal dalam satu atap yang sama meski menjalani kehidupan pribadi masing-masing. *** "Kamu bisa pakai kamar ini dan saya pakai kamar sendiri." Untuk hari pertama mereka menikah, Faron mengajak Arimbi untuk tinggal di rumah pribadinya. Rumah yang jarang di tempati sebab seringnya Faron menginap di rumah orang tuanya. Bukan tanpa alasan, mereka sengaja diminta oleh keluarganya untuk belajar tinggal berdua. Ya, hitung-hitung supaya lebih leluasa dalam berinteraksi. "Makasih, banyak. Tapi, harus banget gitu sebelahan? Kenapa aku nggak di lantai bawah aja?" tunjuk Arimbi pada lantai dasar. "Di bawah itu kamar tamu. Nggak mungkin saya menempatkan kamu di sana. Bagaimana kalau Mama dan Papa atau orang tua kamu datang secara tiba-tiba? Udah, mending bersebelahan itu akan lebih aman." Arimbi mengangguk paham, cemerlang juga ide Faron, pikirnya. "Sekarang cepat masuk kamar dan kunci kamarnya. Saya juga mau istirahat. Soal klausa kita bahas besok aja. Oh ya, di dalam kamar itu ada piyama perempuan. Kamu bisa pakai untuk malam." Arimbi mengangguk lalu membawa langkahnya memijaki lantai vinyl yang ada di kamar itu. Untuk sepersekian detiknya, Arimbi mengamati seluruh sudut kamar. Dia bertanya-tanya dalam hati, kamar siapa ini? Kenapa harus warna pastel sebagai cat dindingnya? Sangat girly sekali. Tidak mau pusing memikirkan sesuatu yang rumit untuk ditemui jawabannya. Arimbi lekas membawa pakaian ganti ke kamar mandi untuk segera berganti dan mengistirahatkan tubuhnya. Pukul 01.00 Wib. Haus mendera kerongkongan, Arimbi terganggu oleh rasa aneh yang mencekik lehernya. Dia lekas bangun untuk segera menuntaskan rasa haus itu. Arimbi berjalan keluar dari kamar, tetapi begitu sampai diluar, samar-samar dia mendengar suara lenguhan dari dalam kamar Faron yang tertutup, tetapi tidak rapat. Arimbi lantas dilanda rasa ragu apakah lebih baik dia masuk untuk mengetahui apa yang terjadi atau lebih baik tidak usah? Setelah berpikir cukup lama, Arimbi mengambil keputusan untuk menjauh dari daun pintu yang hendak dihampiri, dalam pikirannya dia meras tidak berhak mengulik apa yang menjadi rasa penasarannya. Tetapi, belum lama dia melangkah, intuisi hati memintanya untuk berbalik badan dan melihat kondisi di dalam kamar itu. Pada akhirnya logika kalah dengan keinginan hati yang menggebu-gebu dalam mendorongnya, Arimbi melangkah masuk ke kamar Faron. Di sana dia melihat bagaikan Faron yang tengah gelisah dalam tidurnya. "Om, bangun! Kamu kenapa?" Faron tidak kunjung sadar membuat Arimbi semakin meningkatkan tepukan di pipi Faron, jujur gadis itu merasa sangat cemas karena pernah dulu sekali melihat temannya mengigau parah lalu berujung pada maut. Tepukan keras itu sampai pada akhirnya membuat laki-laki itu terbangun dan spontanitas menepis tangan Arimbi. "Ngapain kamu di kamar saya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD